
Hari yang dinantikan oleh Sinta dan juga Radit telah tiba. Sinta dan Radit kini telah menjadi Raja dan Ratu dalam acara pesta pernikahan itu. Acara akad nikah yang sudah dilaksanakan pada pagi hari tadi berjalan dengan khidmat. Kini acara pesta pernikahan itu akhirnya digelar. Dengan jasa wedding organizer pesta pernikahan itu dibuat semeriah mungkin dengan adat Jawa Timur ciri kota Malang. Mama Maimunah sendiri adalah asli orang Malang, Jawa Timur. Sedangkan mama Delima, mama Radit pun juga sama orang asli dari kota Malang. Kedua keluarga ikut berbahagia dan gembira di acara pesta pernikahan itu. Sampai acara itu selesai dan berjalan dengan tertib dan lancar.
@@@@@@@
Di kamar lain di mana ada Maimunah dengan Mukid. Mukid masih termenung di dalam kamar itu, sedangkan Maimunah sudah tertidur lantaran seharian mengikuti acara pesta pernikahan putri nya. Maimunah kecapean. Kini Mukid masih menikmati tiap hisapan rokok nya dan pikiran nya dalam sepi.
Jika masa bisa mengembalikan semua. Mungkin saja keresahan tidak se sesak ini. Jika waktu bisa kembali berputar ke lampau. Mungkin aku masih bersamamu menapaki jalan ini dengan kebahagiaan bersama mu. Tidak akan kubiarkan air matamu terjatuh dari kelopak matamu. Tidak akan kubiarkan raut kesedihan itu terlihat di wajah Ayumu. Akan ku buat dirimu merasakan kebahagiaan hidup tanpa ada kesedihan dan kecemasan dalam hatimu. Seandainya saja. Dan sekarang semuanya sudah terjadi. Kamu sudah pergi menjauh dan sangat jauh dariku. Meninggalkan kegundahan ku di sini. Meratapi penyesalan karena telah meninggalkan mu.
Masih menatap dari kejauhan kebahagiaan mu bersama laki - laki yang sudah kau puja sedari dulu. Bukankah aku yang sempat mengisi hari - hari mu bersama mu. Sekarang aku hanya bisa menyaksikan kamu duduk bersama dengan manja dengan laki-laki tambatan hatimu. Sedang aku hanya bisa menggigit jariku karena api cemburu yang tidak bisa aku kuasai karena melihat itu. Tanganku pun sangat sulit untuk menggapai mu lagi. Karena aku sudah berlaku tidak adil padamu karena men sia - sia kan mu.
$$$$$$$
Di malam pertama pasangan pengantin baru itu. Sinta dan Radit sudah bersiap-siap melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak lagi perdana bagi mereka. Namun Sinta terlihat sangat malu- malu keduanya di ruangan khusus milik mereka yang dihias banyak bunga- bunga di sana. Bunga sedap malam menyeruak di ruangan itu. Wangi nya sangat mendominasi ruangan itu bahkan kalah dengan bunga melati serta mawar yang ada juga di ruangan pengantin baru itu.
Radit dan Sinta sudah membersihkan dirinya setelah seharian berkutat dengan proses pernikahannya, baik dari akad nikah kemudian dilanjutkan dengan pesta pernikahan sampai malam. Hari itu benar-benar pasangan pengantin baru itu merasakan kelelahan.
Namun mengingat malam hari nya ada acara buka buka duren sambil bermain odong-odong, Radit menjadi bersemangat. Sinta sudah mengenakan lingerie berwarna putih yang sudah disiapkan nya. Tentu saja Sinta belum terbiasa mengenakan pakaian yang menggoda itu, apalagi dihadapan Radit Dengan malu- malu, Sinta menutupi bagian dadanya dengan bantal yang berbentuk love. Radit mendekati dengan penuh keberanian dimana Sinta bersandar di tempat tidur ruangan itu.
" Sinta, apakah kamu capek?" tanya Radit. Kali ini Radit menjadi kaku dan terlihat canggung tidak seperti biasanya yang suka ceplas-ceplos. Sinta menjadi cekikikan.
__ADS_1
" Iya, capek banget tetapi senang dan sangat lega. Karena acara pesta pernikahan kita berjalan lancar dan tidak ada kendala." ucap Sinta yang terlihat begitu tenang. Lain halnya dengan Radit bingung harus memulainya dari mana untuk mengajak Sinta menuju jalan surga itu.
" Kalau kamu capek, lebih baik kita istirahat dulu." kata Radit seraya membaringkan tubuhnya ke samping Sinta. Sinta terlihat jengah melihat Radit kurang agresif dan tidak memulai duluan. Akhirnya Sinta ikut berbaring di dekat Radit. Mereka satu bedcover yang sama. Ruangan yang ber AC itu mulai membuat tubuh keduanya menjadi dingin. Apalagi Sinta yang mengenakan pakaian yang terbuka.
Sampai beberapa lama, entah siapa yang memulainya akhirnya mereka saling berhadapan. Kedua mata mereka saling bersi tatap dan saling berpandangan. Kedua nya seolah-olah memberikan magnet. Sampai akhirnya keduanya saling mendekat dan terjadi lah sentuhan. Berikut nya malam itu terjadilah malam pergumulan bagi mereka. Awalnya sama-sama ragu dan sok malu- malu akhirnya tanpa malu lagi keduanya saling menuntut lebih dan lebih. Pasangan baru itu mulai memporak-porandakan sprei di peraduan mereka.
"Sinta! Sinta!" ucap Radit seraya menunjukkan bagaimana perkasanya ia menjadi seorang laki-laki.
"Radit! Radit! Lakukan lah malam ini sesukamu! Kamu tidak perlu ragu lagi." sahut Sinta yang mulai menggigit bibir bawahnya menikmati segala sesuatu yang mengantarkan pada kenikmatan surga dunia.
Sampai beberapa waktu lamanya keduanya telah menuntaskan semua hasrat dan gejolak mereka yang membuncah. Kedua nya melemparkan senyuman dan kini terkekeh bersama.
"Kenapa kamu menertawai aku, sayang?" tanya Radit.
"Hayo, katakan ada apa kamu menertawai aku, sayang?" tanya Radit lagi.
"Tidak ada kok! Beneran! Hanya saja tadi kamu itu gayanya sok malu-malu gitu, eh giliran sudah bermain, liar dan membabi buta." ucap Sinta.
"Terimakasih banyak, sayang! Pokoknya kamu is the best!" ucap Radit.
"Mau tambah lagi?" tawar Sinta menggoda. Radit hanya tersenyum menyeringai dengan tantangan dari Sinta. Radit kembali mengungkung Sinta tanpa ampun.
"Hai, abang! Tunggu dulu sayang!" tolak Sinta.
__ADS_1
"Ada apa lagi sayang? Bukannya kamu yang tadi menawarkan diri?" sahut Radit.
"Aku lapar!" ucap Sinta.
"Kamu lapar yah sayang? Ih kasihan sekali! Kamu mau makan apa, ayo kita delivery." ucap Radit.
"Mau iga bakar dan ayam bakar madu." jawab Sinta.
"Oke, aku akan memesankan semuanya untuk kamu." kata Radit sambil menyambar ponsel dan mulai memesan makanan sesuai permintaan istrinya itu.
Kini Sinta memeluk Radit dengan manja. Radit membelai rambut Sinta dengan lembut.
"Akhirnya kita menikah dan menjadi suami istri. Setelah itu aku ingin punya anak yang banyak, satu lusin." ucap Radit sambil mengecup lembut kening Sinta.
"Kamu yang hamil yah, bang! Selusin? Enak saja kamu ngomongnya." protes Sinta. Radit terkekeh mendengar omelan Sinta.
"Kamu kan tahu sayang? Kita sama-sama anak pertama dan rasanya sangat sepi jika tidak memiliki saudara." ucap Radit.
"Benar juga yah!" sahut Sinta.
"Makanya aku ingin kita punya anak yang banyak. Oke?" kata Radit.
"Aamiin! Semoga Tuhan mengabulkan keinginan kita bang." sahut Sinta. Radit mengecup kembali kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1