
Ratna benar-benar dibuat jantungan lantaran Sinta mengatakan kalau dirinya lah yang hamil dan hendak menggugurkan kandungan nya. Ratna tidak pernah menyangka jika Sinta yang di pandang nya seorang gadis lugu dan juga polos, ternyata sudah sejauh itu model berpacaran nya. Ratna mengambil botol yang berisi air mineral lalu meminumnya karena kerongkongan nya tiba-tiba saja serasa haus dan tercekik.
" Ratna, betapa berat masalah yang saat aku hadapi. Laki-laki yang sudah tidur bersama dengan aku bukan tidak mau bertanggungjawab terhadap aku. Namun akulah yang memilih menjauh dari nya. Aku sudah tidak mau berhubungan dengan laki-laki itu. Walaupun aku masih mencintai nya. Sulit untuk melupakan dia, Ratna. Aku memilih pindah dan kuliah di Malang ini supaya aku bisa menjauh dan melupakan dirinya." cerita Sinta.
" Tetapi kenapa? Kalau kalian sama-sama mencintai kenapa harus berpisah? Dan kalian pun sudah melakukan hubungan badan itu. Laki-laki itu harus bertanggung jawab atas semua nya Sinta. Bukan lantas kamu ingin menggugurkan janin buah cinta kalian." protes Ratna.
" Tidak bisa, Ratna! Laki-laki itu saat ini sudah menikah dengan wanita lain. Dan kamu tahu, wanita yang dinikahi olehnya adalah mama aku sendiri." jelas Sinta. Ratna melebar matanya. Mulutnya melongo.
" What??? Dia sudah menjadi ayah tiri kamu? Kenapa bisa seperti itu?" sahut Ratna benar-benar dikejutkan oleh Sinta. Kembali Ratna meminum air mineral di dalam botolnya. Ratna mencoba mengatur jantungnya supaya tidak lepas dari sana.
Sinta menghela nafasnya. Ratna pun ikut menarik nafasnya dalam- dalam. Ratna menatap tajam mata temannya itu. Sinta sangat terlihat bingung.
__ADS_1
" Aku tidak tahu kalau selama ini kekasihku juga kekasih mama aku. Hingga aku mengetahui nya ketika mama mempertemukan kami dan mengenalkan kami. Kami berdua sama-sama terkejut dan tidak mengira. Akhirnya akulah yang ingin menyudahinya hubungi kami. Walaupun berat, aku tidak ingin mama bersedia dan kecewa jika pernikahan dengan Mukid gagal." cerita Sinta.
" Oh, laki-laki itu bernama Mukid?" sahut Ratna. Sinta menganggukkan kepalanya pelan.
" Ratna, kamu harus membantu aku. Tolong aku." rengek Sinta.
" Lalu, kamu ingin menggugurkan kandungan kamu?" tanya Ratna. Sinta kembali mengangguk pelan.
Untuk beberapa lama Sinta dan Ratna diam. Ratna merebahkan tubuh nya dan tidur telentang di atas kasurnya. Ratna memikirkan semuanya. Sinta pun ikut larut dalam kegalauan nya.
" Oke, besok pagi usai kuliah aku antar kamu ke dukun bayi itu. Sekarang kamu tidur lah." ucap Ratna kemudian. Sinta menghambur memeluk Ratna.
__ADS_1
" Terimakasih banyak, Ratna! Kamu membantu meringankan beban masalah aku." ucap Sinta.
" Mukid... Mukid.. aku tidak menyangka jika dia laki-laki yang jahat. Dia seorang penjahat kel@min yang telah mempermainkan hati dan perasaan seorang ibu dan anak gadisnya sekaligus." umpat Ratna.
" Ratna, bukan Mukid yang salah atas semua ini. Akulah yang Bersalah dan harusnya disalahkan." kata Sinta.
" Bela terus laki-laki itu! Sudah menghamili kamu, tidak tanggungjawab, malah menikah dengan mama kamu." umpat Ratna lagi.
" Aku ingin tahu, sekeren dan seganteng siapa sih, Mukid itu? Paling juga ganteng pak Chandra ku." ucap Ratna. Sinta menarik nafasnya dalam- dalam. Sinta menunjukkan foto Mukid yang masih tertinggal di galeri ponselnya.
" Ini Mukid!" kata Sinta seraya memperlihatkan foto Mukid kepada Ratna. Ratna melongo dan matanya melebar. Air liurnya menetes banjir melihat foto Mukid yang keren dan tampan mengalah kan idolanya, Pak Chandra.
__ADS_1