MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
KEPERGIAN RADIT


__ADS_3


Hembusan angin membawa kesejukan. Alam menawarkan kedamaian hati. Keceriaan dari sekumpulan burung- burung yang membawa kabar gembira. Tetapi tidak untuk orang yang merasakan kehilangan. Saat ini, wanita yang masih muda dan segar itu diliputi kedukaan dan kehilangan. Separuh jiwa nya telah lebih dahulu pergi meninggalkan nya. Dengan penuh paksa, Wanita itu harus menjalani hari- harinya tanpa laki- laki yang sudah sekian lama bersama dengan nya. Dia harus mulai terbiasa lagi tanpa ada hadir dan sosoknya. Hanya waktu yang akan menyembuhkan segala sepi dan kehilangan itu. Karena semua berawal dari biasa dan terbiasa dan kembali kepada yang baru yang akan membiasakan nya. Sendiri kuat tanpa perhatian dan dekapan hangat suaminya yang tercinta. Status nya saat ini adalah janda ditinggal mati suaminya.


Perjalanan hidup ini siapa yang berhak mengaturnya? Semua rencana manusia sering kali luput dari kenyataan. Apakah kamu akan kuasa memprotes segala derita, kekecewaan dan kesedihan yang kau rasa? Bukankah hidup hanyalah sebentar dan sementara saja. Kita hanya berusaha mencari nilai di dalamnya untuk ditukar dengan kebahagiaan yang sejati kelak akhirnya. Mampu tidak mampu, mau tidak mau, kita harus melalui semuanya. Kebahagiaan, kesedihan, tertawa dan tangis sebagai harmoni alur cerita hidup di dunia ini. Siapa yang menduga jika besok kita tak lagi sempat bernafas. Siapa yang mengira kalau esok hari kita tidak bisa melihat lagi mentari.


Deburan ombak yang meninggalkan buih putih. Di telan pasir di pantai. Sedihnya saat kenangan masih bergelayut di mata. Ingatan kata- kata rayunya yang membuat melayang jiwa. Aku terlena tatkala bahasa itu membuat hanyut Sukma. Menenggelamkan perasaan yang akhirnya berpadu dalam hati kita bersama. Cintamu dan cintaku akan menjadi cerita manusia. Di dunia ini tidak selalu indah. Ada duka lara dan senang saling bergantian. Yang terpenting aku adalah wanita setia yang patut kamu banggakan. Sampai ajal mu tiba, aku masih menjaga namamu terukir jelas tertanam di jantungku yang berdetak. Apakah aku sanggup sendiri sampai kau datang menjemput ku kembali disini?

__ADS_1


@@@@@@@


Di depan batu nisan yang bertuliskan nama Raditya Aditama Husada, ada Bana, Sinta dan juga Mukid. Mereka saat ini telah berdiri dan berdoa di depan batu nisan dengan nama itu. Setelah mereka mengatakan kata Amin bersama dan mengusap wajah mereka secara perlahan, berjalan meninggalkan tempat itu. Masih ada rasa kesedihan dan keharuan di mata Sinta. Sinta pasti kehilangan akan sosok Mukid yang selalu membuat hidupnya berwarna.


Mereka masuk kembali ke dalam mobil Mukid. Dengan pelan mobil itu berjalan mengantarkan Sinta dan juga Bana.


"Kalau boleh om tahu, Radit sebenarnya meninggal karena apa?" tanya Mukid pelan-pelan.

__ADS_1


"Papa Radit meninggal dunia karena kecelakaan, om ganteng! Saat itu papa Radit naik motor gedhe, dan mau membelikan hadiah untuk mommy. Hari itu mommy ulang tahun. Papa Radit jatuh dari motor nya karena kecelakaan tunggal di jalan raya," ucap Bana. Sinta kembali terisak menangis. Mukid menjadi merasa bersalah.


"Tuh kan! Mommy aku jadi menangis kan om! Gara- gara Om ganteng sih!" ucap Bana kembali mengusap air mata Sinta yang jatuh.


"Maaf!" sahut Mukid lirih sambil tetap menjalankan mobilnya untuk mengantar Sinta dan Bana ke rumah nenek Wati.


"Aku antar kalian ke rumah nenek Wati yah! Motor nanti bisa aku ambilkan setelah tiba di rumah nenek Wati," kata Mukid.

__ADS_1


"Tidak apa- apa om!" sahut Bana. Sinta masih saja diam selama di perjalanan.


__ADS_2