MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
BANG RADIT


__ADS_3

Nenek Wati sudah selesai membuat puding yang sengaja dibuat untuk diberikan kepada mama nya Radit. Nenek Wati mulai bergabung dengan Radit dan juga Sinta yang masih duduk di ruang tamu dengan kesibukan masing-masing yaitu bermain handphone.


" Kalian dari tadi sibuk sendiri- sendiri yah? Memang anak muda semuanya sudah menjadi generasi menunduk. Menunduk dengan ponselnya masing-masing dan cuek dengan sekitarnya." omel nenek Wati.


" Lagipula, tamu nya pun kagak penting juga!" sahut Sinta pelan. Namun suaranya masih terdengar jelas ditelinga nenek Wati dan juga Bang Radit. Bang Radit hanya nyengir kuda saja ketika mendengar sahutan dari Sinta yang masih judes dengan dirinya.


" Sinta, kamu tidak boleh begitu! Jangan terlalu benci dengan orang nanti bisa menjadi cinta loh." Nenek Wati asal bicara. Bang Radit terkekeh mendengar candaan nenek Wati.


" Nenek, saya pamit dulu deh! Lain kali saya main ke mari lagi." kata Bang Radit.


" Oh iya, sering- sering lah bermain ke rumah nenek. Sinta kalau sore- sore begini kesepian. Mana tahu kalau ada kamu, dia bisa lebih kreatif berolahraga atau kemana gitu." ucap nenek Wati sambil melirik Sinta.


" Tentu saja nek! Saya akan sering kemari. Mana tahu saya menjadi cucu menantu nenek Wati. Iya kan?" sahut Bang Radit ikut menimpali candaan nenek Wati. Sontak Sinta cemberut bibir nya.

__ADS_1


" Oh iya, Radit! Ini puding yang nenek buat khusus untuk mama kamu. Di coba yah. Ini resep dari Sinta loh." kata Nenek Wati.


" Mana ada aku buat puding, nenek." sahut Sinta. Bang Radit dan nenek Wati saling pandang dan akhirnya terkekeh melihat ekspresi Sinta yang sinis saja kalau dengan Radit.


" Terimakasih banyak nek! Nanti akan saya sampaikan ke mama. Kok kita seperti barter yah nek." kata Bang Radit.


" Tidak apa- apa." sahut Nenek Wati.


" Mengharap balasan soalnya." sahut Sinta sewot. Nenek Wati dan Bang Radit terkekeh saja tidak menanggapi omelan Sinta.


Setelah Bang Radit sudah jauh pergi, nenek Wati mendekati Sinta yang masih duduk di ruang tamu itu. Sinta masih sibuk bermain dengan ponselnya.


" Sebenarnya kamu dengan Radit ada masalah apa sih, nak? Kamu terlihat jengkel dan tidak menyukai Radit?" tanya nenek kepo.

__ADS_1


" Tidak ada! Malas saja sama cowok macam begitu." sahut Sinta.


" Gak mungkin kalau tidak ada masalah kok, kamu seperti sentimen banget dengan Radit. Hayo, Hati-hati loh, entar kamu menjadi sayang dan lalu akhirnya cinta. Menjadi susah makan, susah tidur kepikiran dia." goda Nenek Wati.


" Gak mungkin! Dia bukan tipe aku nek! Lalu tipe kamu seperti apa?" tanya Nenek Wati. Sinta mulai berpikir.


" Pokoknya laki-laki itu bukan tipe aku. Menyebalkan sekali!" sahut Sinta. Nenek Wati terkekeh melihat Sinta yang seperti jinak- jinak burung merpati.


" Ayo, kita siap- siap mandi lalu sholat maghrib." ajak nenek Wati. Sinta melihat jam di dinding dan jam sudah menunjukkan ke angka lima lebih. Nenek Wati dan Sinta mulai masuk ke kamar nya masing-masing dan mulai membersihkan dirinya dan bersiap menjalankan ibadah sholat maghrib.


" Dunia memang sangat sempit, kenapa laki-laki itu mengenal nenek. Bahkan mereka sudah sangat dekat dengan nenek. Mama Bang Radit pun, juga sudah sangat dekat dengan nenek Wati. Mereka sering tukar menukar makanan buatan mereka Masing-masing." pikir Sinta.


" Kenapa tiba-tiba aku kangen lagi dengan Om Mukid? Rasa rindu masih sering mengganggu pikiran aku? Apakah om Mukid juga sama seperti diriku, masih merindukan aku?" gumam Sinta.

__ADS_1


" Bagaimana pun juga kita sudah tidak akan bisa bersama. Biarlah waktu yang akan mengubur perasaan ini, antara aku dengan om Mukid." gumam Sinta.


__ADS_2