
Diam - diam selalu menyebut namaku pelan.
Dalam kerinduan yang tak mau terungkap.
Tersentak sadar mengagetkan tidurku.
Kamu mendoakan aku dalam bait - bait permohonan mu.
Kamu ingin aku selalu baik - baik saja.
Aku selalu baik walaupun tanpamu nyata.
Karena bayangan mu selalu hadir dalam hantaran doa mu.
Apakah kamu sehat - sehat saja?
Kamu selalu bohong dan membohongi dirimu.
Aku tahu kamu merasakan rasa yang sama dengan ku.
Rasa sesak dan pilu menyelimuti kalbu.
Dan kamu masih kokoh dengan gengsi mu.
Kamu perlu bahu untuk bersandar.
Bukan telor yang bisa di dadar.
Kamu perlu sarapan.
Tidak sekadar harapan.
Jadi, kamu perlu aku untuk mencurahkan perasaan.
__ADS_1
Agar kamu tidak lupa makan.
Tumbuhlah dengan semangat baru. Menggapai satu titik dan fokus. Tujuan itu harus terwujud sesuai angan mu. Jangan patahkan yang berkorban semangat itu. Walaupun melewati jalan terjal menghunus kaki mu. Jangan patahkan lagi sebelum semua tumbuh. Karena kaki - kaki kecil ini masih ingin melangkah menuju hatimu walaupun sudah tertusuk duri - duri di telapak kaki ini. Biarkan merah darah ini menjadi saksi kesakitan ini. Menapaki tangga - tangga yang menjulang tinggi. Mewujudkan impian mimpi yang belum terselesaikan dalam realitas kehidupan ini.
Lakukan lah apa yang hendak kau inginkan! Jangan ragu - ragu untuk melangkah. Jika itu benar menurut suara hatimu. Ataukah kamu harus mengikuti naluri mu. Kalaupun masih dalam ketakutan mu untuk memutuskan panggilan itu. Tutuplah matamu dan berjalanlah. Dan bangunlah dari lamunan mu yang panjang serta mimpi - mimpi yang menenggelamkan diri mu dalam dunia khayalan.
Tidaklah pernah habis dunia sampai ke ujung batasnya. Batasan itu jika ada, hanya kita yang mampu mendobrak nya. Supaya mimpi - mimpi indah mu menjadi nyata. Tidaklah berhenti hingga hatimu membeku karena letih menanti kenyataan yang semu.
Kembalilah berputar dan pulanglah kepadaku. Berputar arah lah kembali ke tujuanku. Meraih tanganku dan peluk erat lah aku. Mewujudkan impian indah bersamaku. Tetapkan hatimu dan mendekat lah dengan ku. Akan aku sambut engkau dengan hangatnya dekapan itu karena aku ada dan bisa memelukmu.
Kasih ku! Apa yang engkau inginkan sekarang? Aku sudah ada di sini menemanimu. Menghantarkan dan menemani kamu dalam tidur lelap mu. Apa yang engkau cari dari perjumpaan ini. Aku sudah di sini bersama kamu. Tempat kamu di sini. Hati kamu di sini bersama aku. Apa yang engkau ragukan lagi. Tidak perlu banyak alasan karena salah atau benar itu. Hati mu masih kuat menyuarakan namaku. Tetaplah disini wanitaku. Mengarungi dermaga lautan indah bersamaku.
@@@@@@@
Di dalam kamar nya Sinta masih berkutat dengan laptopnya. Beberapa tugas-tugas kuliah harus ia selesai kan tanpa ditunda-tunda lagi. Ditambah dirinya juga ikut membantu memeriksa laporan keuangan di perusahaan keluarga nya. Melalui email, bendahara- bendahara di perusahaan keluarganya itu mengirimkan semua laporan itu ke email nya. Jadi Sinta ikut terlibat dalam urusan bisnis keluarganya itu walaupun tidak harus pergi ke kantor setiap hari. Hanya hari- hari tertentu saja ketika meeting dan juga bertemu dengan klien-klien. Tentu saja Sinta masih belajar dalam kegiatan bisnis besar itu. Sinta dibantu oleh tante, om nya dalam mengelola dan mengembangkan bisnis perusahaan keluarganya itu. Dan Sinta menjadi semakin memahami dunia bisnis di dalamnya.
Tok... tok... tok... tok.
Ketukan suara pintu itu sempat mengagetkan Sinta lantaran nenek Wati di luar sana mengetuk pintu kamarnya dengan keras secara tiba-tiba disertai memanggil namanya dengan lantang.
" Iya, nek! Masuk nenek!" kata Sinta setelah membukakan pintu kamarnya lalu kembali duduk di kursi nya. Nenek Wati ikut duduk di kursi yang masih kosong di kamar itu.
" Sedikit lagi kok, nek! Bagaimana nek? Nenek mau bicara apa dengan aku? Atau nenek mau mengajakku jalan- jalan ke mall untuk shoping?" ucap Sinta bercanda. Nenek Wati seketika menarik hidung Sinta dengan cepat.
" Tidak ada yang penting kok! Nenek hanya ingin menemani kamu yang lagi sibuk bekerja, sampai nenek di cuekin. Kalau tidak sedang buat tugas- tugas kuliah, membuka email masuk." keluh Nenek Wati. Sinta sejenak menghentikan aktivitas nya.
" Ya sudah, nenek mau aku temani? Nenek mau lihat televisi atau mau ngajak buat kue?" tantang Sinta sambil tersenyum kepada nenek nya.
" Iya, benar! Kamu kok tahu sih kalau nenek mau buat kue lalu setelah itu nonton televisi." ucap nenek Wati.
" Nenek ingin buat kue apaan sih?" tanya Sinta.
" Nenek mau coba bikin kue yang kekinian seperti di YouTube." ucap nenek Wati. Sinta terkekeh mendengar nya.
" Sinta boleh lihat tidak? Yang mana sih jenis kue nya?" tanya Sinta penasaran.
__ADS_1
" Ada di YouTube!" ucap nenek Wati lagi. Sinta akhir membuka layar ponselnya dan membuka aplikasi sosial media itu lalu menyerahkan ke nenek Wati.
" Yang mana kue yang akan kita buat hari ini, nenek? Bahannya apa saja?" tanya Sinta seraya menyerahkan ponsel nya ke nenek Wati. Nenek Wati yang sudah mengikuti jaman yang serba canggih dan elektronik sudah pandai bermain sosial media itu segera mencari kue yang dimaksudkan. Kue jenis itulah yang akan dibikin oleh nenek Wati.
" Ini Sinta!" kata nenek Wati seraya memperlihatkan bentuk kue itu kepada Sinta. Sinta tersenyum setelah melihat jenis kue yang dimaksudkan.
" Oh kue ini yah??" tanya Sinta.
" Bagaimana Sinta? Apakah kamu sudah pernah makan dan bisa membuatnya?" tanya Nenek. Wati penasaran.
" Belum, nenek!" sahut Sinta dengan cepat. Kembali Nenek Wati menarik hidung milik Sinta.
" Ya sudah, ayo turun! Kita buat kue ini!" ajak nenek Wati. Sinta akhirnya mengikuti langkah nenek Wati setelah menutup laptopnya.
@@@@@@@
Sinta dan nenek Wati kini sudah berkutat di dapur. Dapur itu sudah seperti kapal pecah lantaran sudah tidak rapi lagi. Mereka sibuk membuat kue dengan dua jenis sekaligus. Nenek Wati masih melihat cara pembuatan kue itu dari aplikasi sosial media tersebut.
Sambil menunggu kue itu matang. Nenek ikut membersihkan dapur itu. Dapur itu sengaja dikuasai oleh dua wanita yang berbeda generasi itu. Asisten rumah tangga tidak boleh ikut mengganggu acara dia wanita beda usia itu.
" Mama kamu semalam menghubungi nenek, Sinta." kata nenek Wati yang tiba-tiba merubah topik pembicaraan lain. Sinta mengernyitkan dahinya.
" Mama mau ke Malang?" tanya Sinta ingin membenarkan.
" Benar! Katanya mama kamu kangen nenek dan juga putrinya yang kini sudah dewasa ini." kata Nenek Wati seraya menarik hidung Sinta.
" Aku pikir mama sudah lupa dengan aku, lantaran sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya." ucap Sinta sedikit kasar. Nenek Wati mengusap kepala Sinta seolah-olah harus sabar dan harus mengerti kalau mama nya juga butuh bahagia.
" Mama kamu saat ini sedang hamil, Sinta. Sebentar lagi kamu akan memiliki adik. Yah, walaupun adik tiri dengan ayah tiri yang ganteng itu." kata nenek Wati. Sinta dalam diam sangat terkejut mendengar berita kalau mama nya telah hamil dan tentu saja Mukid lah yang telah membuat mama nya membuncit perutnya itu.
" Mukid! Hebat juga pria itu, sudah bisa menghamili dua wanita sekaligus. Mama dan juga aku. Walaupun aku sudah menggugurkan nya." dalam hati Sinta berkata.
__ADS_1
" Nanti acara tujuh bulan, rencananya mama mu akan bikin acaranya di sini." kata nenek Wati.
" Iya, nek yang terpenting mama selalu bahagia." sahut Sinta sambil melihat hasil kue nya apakah sudah matang.