
Ratna dan Sinta masih menikmati mie ayam bakso dengan ceker ayam nya. Setelah keduanya melahap makanan itu hingga tak ada bersisa, mereka mengusap perutnya yang terasa sangat kenyang.
" Kamu mau nambah lagi gak, Sin?" tanya Ratna.
" Cukup! Aku sudah kekenyangan." sahut Sinta.
" Malam ini tidur saja di rumah ku, Sinta." ajak Ratna.
" Nanti di cari nenek Wati. Nenek selalu mencari aku kalau aku belum pulang." kata Sinta.
" Coba kamu kabari nenek kamu dan bilang dengan nenek Wati kalau malam ini kamu bermalam di rumah aku." desak Ratna.
" Aku tidak membawa baju ganti, buat besok kuliah." alasan Sinta.
" Kamu bisa pakai baju aku, Sinta. Badan kita hampir sama ukurannya." sahut Ratna.
" Baiklah, aku akan minta ijin nenek Wati dulu, kalau malam ini aku tidak pulang ke rumah dan bermalam di rumah kamu." kata Sinta seraya mencari nomor telepon rumah nenek Wati dan menghubunginya. Ratna menyimak percakapan antara Sinta dengan seseorang di seberang sana setelah sambungan itu terhubung dan diangkat seseorang di seberang sana.
"Bagaimana Sinta, nenek Wati kasih ijin kan?" tanya Ratna memastikan.
" Nenek Wati kasih ijin tapi kata nenek aku jangan banyak makan pedes." kata Sinta.
"Hahaha.. benar kata nenek kamu, kamu itu memang maniak sambal. Sambal satu mangkuk inipun aku rasa kamu yang habisin waktu makan mie ayam tadi." ucap Ratna.
" Aku cuma tujuh sendok sambal saja kok." sahut Sinta. Ratna mencibirkan bibirnya dan kini mulai menjulurkan lidah nya.
" Bisa bangkrut warung mie ayam di sini kalau kamu membeli mie ayam setiap hari lantaran sambalnya kamu habiskan. Harga cabe saat ini sedang selangit kamu makan sambal nya tidak ada ukuran nya." kata Ratna.
" Aku ukur kok, Ratna. Tujuh sendok sambal saja, biasanya aku ambil sepuluh Ratna." kata Sinta.
__ADS_1
" Apa?" sahut Ratna dengan membulat matanya.
@@@@@@@
Di kamar Ratna.
" Ratna, kamu tahu tempat dukun bayi di kota malang ini tidak?" tanya Sinta yang tiba-tiba mulai berpikir untuk mencari seorang dukun bayi.
" Ada! Kenapa kamu bertanya soal dukun bayi, siapa yang mau melahirkan dengan dukun bayi di zaman sekarang ini?" tanya Ratna.
" Ini sangat penting, Ratna. Namun ini bukan karena ingin melahirkan seorang orok di perut nya. Namun ini ingin menggugurkan kandungan nya." kata Sinta yang sudah mulai berani berpikir seperti itu.
" Apa? Siapa yang mau menggugurkan kandungan nya? Astaga, apa tidak takut berdosa itu cewek?" sahut Ratna. Sinta sejenak diam. Kembali dirinya ragu- ragu untuk bercerita tentang kehamilannya.
" Ratna, kamu yakin tahu tempat dukun bayi tersebut kan? Kalau boleh aku minta alamat dukun bayi itu, Ratna. Please." ucap Sinta. Ratna seketika mengerutkan dahinya. Dirinya mulai menduga-duga siapa yang hamil dan ingin menggugurkan kandungan nya.
" Kalau tujuan nya untuk menggugurkan kandungan nya, aku tidak akan memberitahukan tempat dukun bayi itu. Aku tidak mau ikut terlibat menanggung dosanya. Ini cewek kenapa harus melakukan itu, menggugurkan kandungan nya sementara beberapa orang ingin memiliki anak. Dia malah ingin membunuh orok nya sendiri." protes Ratna.
" Kamu sepertinya sangat mendukung teman kamu itu untuk melakukan aborsi atau menggugurkan kandungan nya, bahkan ini mau di tempat dukun bayi. Ini pun sangat berbahaya sekali. Bahkan kata orang-orang, ini lebih sakit rasanya. Sudah dosa ditambah merasakan sakit." ucap Ratna.
" Dia sudah tidak punya pilihan lain selain menggugurkan kandungan nya. Usia kandungan nya baru tiga mingguan kok, Ratna. Ayolah kamu kasih tahu saja alamat dukun bayi itu kepada ku." kata Sinta dengan merengek.
" Tidak mau! Salah dia sendiri, masih juga berpacaran kenapa sudah berhubungan badan seperti itu. Aku saja dengan pacarku dahulu tidak pernah berciuman bibir, apalagi berhubungan badan." cerita Ratna dengan polosnya.
" Ah yang benar saja, Ratna? Kamu dengan pacar kamu tidak pernah melakukan itu?" tanya Sinta tidak percaya.
" Serius! Berani sumpah deh!" sahut Ratna.
" Mungkin lantaran itu, akhirnya pacar kamu mendapatkan semuanya itu dari sahabat kamu sendiri. Akhirnya dia berselingkuh dengan sahabat kamu sendiri." kata Sinta yang membuat Ratna terkejut.
__ADS_1
" Eh, mungkin saja benar! Aku memergoki mereka bersama keluar dari suatu penginapan. Aku tidak pernah berprasangka buruk dengan mereka. Sampai kapanpun, aku akan selalu memegang prinsip sebelum aku menikah aku tidak akan melepaskan keperawanan ku kepada laki-laki mana pun walaupun aku sangat mencintai nya." kata Ratna.
" Itu bagus, Ratna! Kamu harus selalu berpegang teguh soal ini." sahut Sinta.
" Jangan seperti aku... aku.." kata Sinta. Ratna seketika terkejut mendengar pernyataan itu.
" Hei, apakah kamu sudah memberikan kehormatan yang kamu miliki itu pada kekasih kamu, Sinta?" tebak Ratna. Sinta menganggukkan kepalanya pelan. Ratna menepuk jidat nya sendiri.
" Astaga, aku tidak menyangka kalau gadis se lugu dan se polos kamu berpacaran nya sudah sejauh itu. Apakah lantaran enak?" ucap Ratna. Sinta kembali membenarkan. Ratna menepuk lagi jidatnya.
" Astaga!! Dan akhirnya kamu putus dengan kekasih kamu itu, setelah kamu hilang keperawanan kamu, Sinta?" tuduh Ratna.
" Iya, benar! Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan nya. Bahkan aku ke kota Malang ini lantaran ingin jauh dengan laki-laki itu dan melupakan dia." jelas Sinta.
" Ya ampun! Aku tidak pernah menyangkalnya. Lalu bagaimana dengan kawan kamu yang hamil itu, dia benar-benar ingin menggugurkan kandungan nya?" tanya Ratna.
" Iya, kamu bisa bantu kan dimana rumah dukun bayi itu?" tanya Sinta lagi.
" Sebenarnya aku takut memberitahu dimana dukun bayi itu. Aku pasti akan mendapatkan dosa juga karena melancarkan niat wanita itu untuk menggugurkan kandungan nya." kata Ratna.
" Kalau soal dosa, bagaimana kalau semuanya biar aku yang tanggung. Kamu tidak perlu khawatir, Ratna." sahut Sinta. Ratna seketika menepuk jidat Sinta dengan keras.
" Memang bisa kamu bernegosiasi soal dosa kepada malaikat dan Tuhan?" ujar Ratna dengan emosinya.
" Ratna, aku sudah tidak bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah ini. Tolong kasih tahu saja rumah dukun bayi itu kepadaku." desak Sinta.
" Kenapa kamu yang pusing? Teman kamu yang punya masalah ini, kamu tidak perlu ikut stress dengan masalah yang di buatnya sendiri itu. Itu sudah resiko dia. Biar saja dia menanggung semua atas perbuatan dan kelakuan yang dikerjakan nya." ucap Ratna.
" Ratna, aku mohon bantulah aku!" rengek Sinta dengan memohon.
__ADS_1
" Kamu kenapa sangat peduli sekali dengan teman kamu itu sih?" protes Ratna.
" Karena sebenarnya, masalah ini bukan teman aku yang mengalami nya. Namun semuanya karena aku sendiri yang sedang mengalaminya." kata Sinta pelan dengan menundukkan kepalanya.