
Setibanya di rumah, malam sudah semakin larut. Sinta langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia sudah tidak ingin berbasa-basi dengan mama dan juga ayah tirinya. Sinta menjatuhkan tubuh nya ke atas tempat tidur nya setelah membersihkan tubuh nya dan berganti pakaian tidur berbentuk kimono.
Di sebelah kamar Sinta, mama dan ayah tirinya pun sudah masuk ke dalam. Mama dan juga ayah tirinya akan kembali terbang ke Jakarta di hari senin pagi. Namun Maimunah dan Mukid belum segera tidur. Mukid masih saja mengganggu Maimunah.
Mukid mengikuti langkah Maimunah yang menggandeng nya menuju kamar itu. Setelah Mukid menggiring Maimunah ke kamar itu dan tidak menunggu lama langsung mendorong tubuh Maimunah hingga bersandar ke tembok kamar itu. Mukid mulai ganas memainkan aksinya. Mukid sudah tidak tahan selama di perjalanan rasanya ingin mencium wanita yang kini sudah membuat dirinya mabuk kepayang. Maimunah seperti kehabisan nafas karena Mukid tidak memberi kesempatan bagi Maimunah untuk mengambil oksigen di sela-sela ciuman nya yang panjang itu. Mukid mulai menerobos bagian atas milik Maimunah dan mulai mere mas dan me milin nya. Maimunah mulai men de sah dan mata itu mulai terpejam. Kaki Maimunah mulai melemas karena jari- jari Mukid mulai nakal masuk dan menerobos ke bagian dalam milik Maimunah. Maimunah menggelin jang. Mukid makin brutal.
" Mas, Mandi dulu! Bukannya kita habis bepergian? Badan kita kotor dan banyak debu." tawar Maimunah dengan suara yang sudah parau. Namun Mukid hanya tersenyum masih dengan aksi-aksi nya. Hingga pergerakan itu terhenti setelah suara ketukan pintu kamar terdengar keras diketuk seseorang dari luar.
Mukid mulai merapikan pakaian demikian juga halnya dengan Maimunah. Maimunah tersenyum kecil dengan ekspresi kecewa dari wajah Mukid.
" Benar- benar seperti kesetanan." batin Maimunah sambil melihat punggung Mukid yang kini melangkah menuju pintu kamar itu lalu membukakan nya.
Seorang pembantu rumah tangga telah mengantarkan makanan dan minuman yang tadi dipesan oleh Maimunah sebelum kedua nya masuk ke dalam kamar penginapan itu.
__ADS_1
" Terimakasih bu!" kata Mukid kepada pembantu itu. pembantu itu tersenyum lalu meminta maaf kepada Mukid.
" Maaf, saya telah mengganggu kenyamanan tuan! Ini makanan dan minuman sesuai pesanan yang diminta ibu Maimunah tadi." kata pembantu itu sambil memasukkan nampan yang berisi makanan dan minuman itu. Maimunah memesan banyak makanan dan minuman sampai pelayan itu membawanya dengan troli dorong makanan. Mukid melongo melihat makanan dan minuman yang banyak dipesan oleh istrinya itu. Setelah pembantu itu keluar, Mukid kembali mendekati Maimunah. Maimunah mundur beberapa langkah dan berusaha menjauh dari Mukid yang hendak mengejarnya. Namun Mukid makin memburunya dan meraih tubuh Maimunah yang semakin berisi.
" Bukannya tadi kamu mau mengajak aku mandi? Ayo lah kita mandi bersama!" bisik Mukid dengan nakal. Lalu mulai menggendong Maimunah dan masuk ke kamar mandi di kamar itu.
Mukid mulai menurunkan Maimunah ke bathub itu lalu mulai menyalakan kran dingin di sana. Mukid pun masuk ke dalamnya hingga keduanya masih sama- sama mengenakan bajunya. Mukid kembali memungut bibir Maimunah yang sudah basah itu. Kembali ke dua nya saling merapat dan mulai saling berbalas ciuman. Tidak ada lagi kecanggungan dan renggang jarak itu. Mereka hanya sama- sama saling menikmati dan fokus karena ke-dua nya tidak bisa membohongi hasrat dan kebutuhan serta tuntutan dari gejolak rasa mereka.
Entah siapa yang memulainya hingga kedua nya tidak lagi mengenakan sehelai kain penutup di tubuh mereka. Keduanya sama-sama polos dan tenggelam di dalam bak yang kini sudah mulai penuh airnya. Keduanya saling menempel tanpa jarak. Dekat tanpa ada pembatas. Hingga Mukid menuntut lebih dari sekedar cumbuan dan ciuman serta sentuhan yang membuat kedua nya menge rang dan men des sis ke enakan.
" Tidak! Aku sudah lapar!" sahut Maimunah kini mulai turun dari bathub itu dan dengan cepat meraih handuk kimono untuk menutupi tubuhnya yang polos. Mukid tersenyum nakal dan ikut turun juga mengambil handuk kimono nya juga.
" Ayo! Akan aku keringkan rambut kamu yang basah." kata Mukid sambil mengambil handuk kecil yang sudah tersedia di sana. Maimunah tersenyum dan menerima perlakuan romantis dari Mukid.
__ADS_1
" Aku ingin seperti ini selamanya! Dan itu dengan kamu Maimunah." kata Mukid seolah-olah mengatakan janjinya.
" Dengan aku? Apakah kata- kata ini dulu juga kamu ucapkan dengan kekasih kamu yang lain sebelum aku? " sahut Maimunah mulai dihinggapi rasa cemburu.
" Siapa rupanya, kekasih aku dulu sayang?" sahut Mukid dengan tersenyum nakal.
" Kekasih aku dari dulu hanya kamu saja, Maimunah!" tambah Mukid dengan rayuannya. Maimunah mencubit lengan Mukid keras. Mukid meringis kesakitan.
" Sudah lumayan kering! Ayo kita makan, Maimunah! Aku tahu selama kamu hamil ini selera kamu bertambah meningkat. Aku tidak heran jika kamu merasakan lapar terus. Padahal tadi kita baru saja makan loh. Haha." ucap Mukid seraya menuju Balkon kamar itu.
Keduanya mulai menikmati segala makanan dan minuman yang sudah tertata rapi di atas meja. Pemandangan di sekitar kamar mereka begitu indah dan menarik. Setidaknya karena saat ini keduanya benar- benar seperti menikmati bulan madu yang tertunda. Maimunah begitu lahap menikmati makanan di depannya itu. Hampir semuanya adalah makanan kesukaan nya. Laki-laki di depannya itu seperti sudah mengenalnya lama. Kesukaan Maimunah kini sudah diketahui nya. Dari makanan, minuman, hobi dan selera pakaian. Setelah keduanya menikmati makan itu, Mukid mendudukkan Maimunah di atas pangkuannya. Kini keduanya mulai bercerita dan bercanda dalam obrolan ringan.
Mukid kini mengangkat tubuh Maimunah dan Membaringkan nya di atas peraduan kamar itu. Mukid mulai mencumbui nya dengan pelan kemudian makin buas. Mukid pasrah akan aksi-aksi Maimunah yang mulai mendominasi nya. Baginya malam ini adalah malam panjang untuk menikmati surga dunia yang tidak bisa diungkapkan kata- kata lagi. Penyatuan tubuh tanpa batas dan sehelai benang akan kembali terjadi. Pergerakan yang akan menghasilkan peluh keringat walaupun AC di dalam kamar itu menyala.
__ADS_1
Sementara di kamar Sinta, dia masih belum bisa memejamkan matanya. Sinta masih larut dalam kegelisahan hatinya. Entah kenapa Sinta teringat saat dirinya masih berhubungan dengan Mukid. Sejatinya hati kecil Sinta masih sangat rindu dengan Mukid. Rindu akan sentuhan, pelukan hangat nya.
" Akkgggh.. ini gila! Benar- benar gila! Mana mungkin aku memikirkan ayah tiri ku sendiri, suami dari mama aku sendiri?" ucap Sinta pelan. Dengan terpaksa Sinta mengambil obat tidur nya. Dia tidak ingin kembali stress lantaran memikirkan sesuatu yang tidak pantas ia pikirkan. Hingga beberapa saat kemudian, Sinta terlelap dalam tidur nya karena pengaruh obat yang diminum nya.