
Aku Maimunah.
Setelah kejadian itu. Mukid benar-benar mendesak aku dan mengajak aku untuk menikah. Namun aku ingin memperkenalkan Mukid dengan anakku terlebih dahulu, Sinta. Rencana pernikahan aku dengan Mukid harus mendapatkan persetujuan dari anakku. Walaupun sebenarnya aku tidak perlu meminta ijin dengan anakku dan bisa saja aku menikah dengan Mukid tanpa ijin Sinta. Namun Sinta sudah dewasa, aku tidak ingin merasakan sakit hati atau berkecil hati lantaran aku telah menikah lagi.
Saat ini aku kembali di apartemen Mukid. Aku memilih melepaskan kerinduan kami di tempat ini. Aku masih belum mengijinkan Mukid untuk ke rumahku. Bahkan Mukid belum tahu di mana rumahku. Aku sendiri membohongi Mukid alamat rumah aku. Rumah yang sebenarnya milik Sinta. Itu adalah rumah yang sudah aku persiapkan untuk Sinta saat ingin mandiri dan tinggal sendiri atau telah menikah nanti. Walaupun pada akhirnya Sinta mengikuti suaminya kelak ketika telah dinikahi seorang pria.
Aku saat ini sedang berendam di bathtub. Seharian ini benar-benar dipusingkan dengan masalah kantor. Aku memilih Merileksasi kan tubuh ku dengan berendam di bathtub dengan air hangat. Namun sosok bertubuh kekar dan berkulit bersih itu masuk ke dalam. Aku tentu saja sangat terkejut lantaran aku sedang melamun memikirkan urusan bisnis ku. Mukid kini malah ikut masuk ke bathtub bersama ku setelah melepaskan semua yang melekat di tubuh kekarnya.
" Aku ingin rileks sayang. Jangan mengganggu dan menggoda aku lagi." ucap aku. Namun Mukid tidak mungkin membiarkan aku dalam keadaan seperti itu tanpa adanya ciuman panas dan sentuhan yang mampu membuat aku kembali pasrah dan menyerah. Akhirnya serangan itu terjadi sudah. Aku tentu tidak mau kalah. Aku tentu saja membalas dan ingin mendominasi permainan. Mukid semakin kecanduan. Aku senang saat melihat Mukid dalam wajah yang benar-benar menikmati aksi-aksi aku.
Setelah beberapa lama, kami menyudahi kegiatan itu dan mandi bersama saling membasuh dan membersihkan. Setelah nya Mukid telah menyiapkan segala makanan yang enak- enak di atas meja makan. Makanan yang telah ia sendiri yang Memesannya secara online. Kalau seperti ini aku serasa dimanjakan oleh laki-laki yang masih muda itu.
Aku dan Mukid menikmati makanan yang sudah tersaji di meja. Dengan lahapnya aku dan Mukid menyantapnya. Tentu saja kami sangat lapar lantaran kami telah melakukan pertempuran sengit dan panas di dalam kamar mandi. Bukan sekali namun beberapa kali. Kaki ku sampai lemes dan gemetar dibuat Mukid. Namun aku melakukan itu suka sama suka. Aku benar-benar menikmati nya bersama Mukid. Setelah aku menjalin hubungan selama dua tahun bersama Mukid. Akhirnya aku rela melaksanakan hubungan seperti suami istri itu dengan Mukid. Karena aku melihat Mukid benar-benar serius dengan aku.
" Setelah ini, kapan kamu akan mempertemukan dan memperkenalkan aku dengan putri cantikmu, sayang? Kita akan segera menikah loh. Kamu jangan lagi menunda-nunda nya." kata Mukid.
" Hem, baiklah! Besok kita akan bertemu di rumah makan favorit kita. Aku akan datang bersama Sinta, putriku. Kamu datanglah ke sana besok malam. Oke?" kata Maimunah. Mukid tersenyum mendengar nya.
" Aku tidak sabar ingin segera bertemu dan mengenal putri kamu. Kamu selama ini sangat pelit dengan aku. Aku tidak kau ijinkan datang ke rumah kamu, apalagi melihat wajah putri mu." protes Mukid.
" Kamu lebih paham aku bukan? Usia kamu jauh lebih muda daripada aku. Tentu saja aku khawatir jika kamu menyukai putri aku sebelum aku melihat dan menilai kamu, apakah benar-benar kamu serius dan mencintai aku. Aku yang usianya lebih tua dari kamu jauh. Aku sudah berusia kepala empat sedangkan kamu berusia dua puluh tujuh tahun." kata Maimunah.
__ADS_1
" Walaupun usia kamu lebih tua, kamu masih tetap muda dan pandai menyenangkan aku." kata Mukid.
Maimunah tersenyum lebar. Betapa dirinya sangat bahagia bersama Mukid. Mukid sangat menyayangi Maimunah. Maimunah seperti tuan putri yang selalu dipuja-puji oleh Mukid.
" Bagaimana kalau setelah makan ini kita shoping, yank!" ajak Mukid. Maimunah mengernyitkan dahinya.
" Kamu tahu kan Mukid, ini sudah jam berapa? Apa aku harus menginap di sini? Bagaimana tanggapan Sinta terhadap aku jika aku tidak pulang. Aku harus beralasan apa, sayang?" Lagi pula, Sinta di rumah sendiri. Bibi semuanya balik ke rumahnya masing-masing." kata Maimunah.
" Sesekali saja, sayang! Aku ingin membelikan kamu perhiasan. Tentu saja cincin, kalung dan juga gelang. Apa saja deh yang kamu sukai." ucap Mukid. Maimunah tersenyum seraya merangkum kedua pipi milik Mukid.
" Setelah kita makan bersama dengan Sinta di rumah makan itu, kita shoping bersama putri kesayangan aku yah sayang!" kata Maimunah.
" Baiklah! Oke, akupun juga harus membelikan benda-benda yang berharga buat anak dari istri aku." sahut Mukid.
" Aku juga sangat bersyukur bisa jatuh cinta dengan wanita mandiri, dewasa dan penyayang seperti kamu." kata Mukid.
" Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai aku Mukid?" tanya Maimunah ingin memastikan dan mendengarkan semuanya dari bibir seksi milik Mukid.
" Sayang! Aku bahkan menyukai kamu lebih dari kamu menyukai aku." kata Mukid.
" Tidak! Akulah yang lebih menyukai kamu, sayang!" sahut Maimunah.
__ADS_1
" Serius! Tapi terkadang aku masih sangat cemburu dengan Wikana, almarhum suami kamu." kata Mukid.
" Astaga! Almarhum sudah tiada sayang! Kenapa kamu masih cemburu dengan Wikana?" ucap Maimunah.
" Karena aku yakin, kamu pasti sangat mencintai Wikana lebih dari aku." sahut Mukid.
" Sayang! Perjalanan hidup aku dengan almarhum jangan lagi diungkit. Semuanya sudah menjadi kenangan bagi aku. Perjalanan sekarang aku dengan kamu. Kita fokus saja menciptakan kebahagiaan itu bersama- sama." kata Maimunah.
Mukid memeluk Maimunah dengan penuh kasih sayang. Betapa Maimunah merasakan ketenangan dan kenyamanan saat didekap oleh pria muda dan dewasa itu. Sebentar lagi, mungkin saja mereka akan segera resmi menjadi suami istri. Harapan Mukid menjadikan Maimunah sebagai istri dan ibu bagi anak-anak nya.
" Aku ingin punya anak dengan kamu, sayang!" ucap Mukid. Maimunah terkejut bukan kepalang.
" Hah? Di usia aku yang sudah empat puluh tahun? Apakah bisa sayang?" sahut Maimunah.
" Apakah kamu tidak menyakini jika Tuhan itu Maha berkehendak. Ketika Dia telah berkehendak dan memberikan semuanya, itu sangat mudah." sahut Mukid.
" Benar! Tapi.." ucap Maimunah.
" Kita akan berusaha untuk mendapatkan buah hati kita. Oke?" kata Mukid.
" Baiklah! Aku juga ingin bayi mungil yang wajahnya seperti kamu, sayang." sahut Maimunah.
__ADS_1
" Oh, tidak! Aku ingin wajahnya seperti kamu sayang! Hidung yang kecil dan mancung dengan kulit kuning lansat dan bersih. Aku menyukai nya." kata Mukid. Maimunah menatap mata Mukid yang bersinar penuh kebahagiaan saat bersama dengan dirinya.