
Di dalam kamar nya, Sinta masih dalam kegelisahannya di atas kasur itu. Mata nya menerawang ke langit-langit kamar itu. Sesekali menghidupkan televisi yang di pajang di dinding ruangan kamar itu. Sejauh ini dirinya masih belum bisa melupakan sosok Mukid. Perasaannya masih sangat jelas. Hatinya masih belum berubah, terpaut dan terpatri pada wajah putih bersih yang menyimpan kelembutan dan kasih sayang. Walaupun begitu ada kebencian yang mendalam kepada sosok pria itu yang mengakibatkan dirinya menjadi wanita yang jahat telah membunuh bayinya sendiri, bahkan bayi itu pun belum sempat lahir di dunia ini.
Namun malam ini Sinta benar-benar rindu dengan Mukid. Bayangan ayah tirinya itu kembali mengganggu pikiran Sinta. Sampai akhirnya Sinta tertidur dan masuk dalam ke dunia mimpinya.
😴😴😴
Om Mukid tidak bisa mengendalikan dirinya ketika Sinta dengan agresif mulai berani menempelkan bi.. birnya ke bi bir Mukid. Mukid dengan cepat meraup bibir Sinta yang begitu manis dan lembut. Tidak sekedar itu Mukid mulai memainkan lidahnya mulai mencari- cari lidah milik Sinta dan menyesap nya hingga pertukaran saliva diantara keduanya terjadi.
Ini seperti gayung bersambut. Keduanya sama-sama menikmati permainan itu. Mukid mulai hanyut dan semakin masuk dalam permainan itu ketika suara Sinta keluar dengan merdu membangkitkan gejolak kelakiannya.Kini beralih turun ke leher putih dan jenjang milik Sinta. Sinta mulai mencium dan menyesapnya hingga memberikan tanda di sana. Tangan Om Mukid mulai berani menyusup kedalam kemeja milik Sinta dan berusaha melepas pengait yang membungkus dua da danya. Tangannya yang kokoh mulai bermain di sana.
Tidak sabar dengan hal itu kini tangannya beralih ke bagian bawah perut. Dan di sana lah om Mukid mulai merogoh dan menyusup dibalik pakaian dalamnya. Jarinya yang panjang dan lihai mulai bermain disekitaran area itu. Jarinya yang nakal mulai menggesek dan memainkan area pribadi milik Sinta. Sinta mulai bersuara merdu. Hal itu semakin menambah kebrutalan Om Mukid akan meraup kembali ciuman bibir yang makin ganas di sana.
__ADS_1
Mata Om Mukid dan Sinta kini sama-sama bertemu. Keduanya kemudian terdiam lalu senyuman kecil itu terukir jelas diantara keduanya. Om Mukid mulai membantu Sinta melepas semua pakaian yang menempel ditubuhnya. Demikian juga halnya dengan Sinta yang juga tidak kalah agresifnya membantu melepaskan semua yang masih melekat di badan Om Mukid. Hingga keduanya polos tak ada sehelai benang melekat di sana.
Om Mukid merebahkan tubuh Sinta di pembaringan yang empuk itu. Om Mukid mulai memainkan permainan nya yang sudah mumpuni. Sinta makin keras keluhannya. Teriakan yang penuh kenikmatan sudah dirasakan oleh Sinta yang tidak bisa diukur dengan kata-kata. Sinta menggigit bibir bawahnya sendiri merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelum nya dengan laki-laki lain. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ber cinta dengan penuh semangat.
" Sakit!" keluh Sinta pelan. Om Mukid tersadar bahwa wanita yang selama ini selalu menghantui pikiran nya itu sudah berada dalam kendalinya. Om Mukid mulai memperlambat ritmenya. Kali ini lebih lembut dan pelan. Sinta masih memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Om Mukid melakukan semuanya hingga hampir setengah jam lamanya. Hingga Sinta mulai mengakhiri permainan nya setelah dirasakannya aliran hangat menjepit miliknya juga. Om. Mukid terkulai di samping Sinta dan tersenyum hangat.
Sinta membuka matanya dan tersenyum mendapatkan mimpi indah bertemu dengan Om Mukid.
" A.. apa? Dari om Mukid?" gumam Sinta dan membaca pesan dari Mukid.
"📱📲 Sinta, maaf weekend nanti aku bersama mama kamu ke kota Malang. Kamu tidak keberatan bukan, jika aku mendampingi mama kamu datang ke kota Malang. Maaf, istri ku saat ini juga sedang mengandung anakku. Jadi, aku tidak bisa membiarkan dia pergi sendiri di kota Malang." isi pesan om Mukid.
__ADS_1
Sinta tidak membalasnya dan Sinta berpikir itu tidak harus dibalas juga.
" Kamu tidak perlu mengingatkan kalau mama sekarang adalah istri kamu, om Mukid. Aku sudah tahu itu. Dan aku juga tidak mau merusak hubungan diantara kalian. Huftt." gumam Sinta sambil menarik nafasnya dalam- dalam.
" Di saat aku rindu kamu, kamu hadir di mimpiku. Dan isi pesan chat kamu sangat berbeda dengan mimpi itu." gumam Sinta. Sinta kembali menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur nya. Sinta ingin tidur dan melanjutkan tidur nya. Namun mimpi itu begitu indah dan semakin membuat Sinta terbayang- bayang. Tanpa sadar, Sinta menyentuh bibir nya sendiri.
" Sepertinya aku harus menjauh dari mama dan om Mukid terlebih dahulu. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Sungguh, ini akan menyakiti hati aku apalagi mengingat bahwasanya aku sebenarnya sudah pernah hamil dengan om Mukid. Dan kini mama pun juga telah dihamili oleh om Mukid." pikir Sinta.
" Lebih baik aku menginap di rumah Ratna atau lebih baik aku mendaki gunung saja." pikir Sinta.
" Benar! Aku akan ikut pendakian di minggu ini supaya tidak bertemu dengan mama dan juga om Mukid." pikir Sinta.
__ADS_1