MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
MENGIKHLASKAN


__ADS_3

Kebiasaan Sinta selalu terbangun di jam sepertiga malam, sebelum fajar. Apalagi Sinta saat ini kembali di kamarnya dan di rumahnya. Gelisah tentu saja yang di rasakan Sinta, apalagi saat ini di rumah itu juga ada Radit, walaupun terpisah kamar.


Sinta terbangun dari tidurnya karena merasakan lapar di jam tiga dini hari. Sinta beranjak turun dari kamar tidur nya dan keluar dari kamarnya. Sinta mulai menuruni anak tangga dan segera menuju dapur dan membuka kulkas di sana. Sinta mencari makanan yang ada di lemari es. Maimunah dan juga ayah tirinya tentu saja sangat hapal kalau Sinta suka ngemil jajanan di tengah malam.


Ada beberapa puding yang telah disiapkan di kulkas. Dan sebelum tiba di rumah itu pula, Sinta dan juga Radit membawa dan membeli oleh-oleh khas malang seperti berbagai jenis keripik- keripik ciri khas kota Malang baik yang gurih, manis, pedas.


Kripik- kripik tempe, kripik buah- buahan dan juga kue masih di dalam kardus di atas meja makan. Maimunah pun juga menyiapkan camilan untuk Sinta. Dan kini Sinta duduk dan menikmati makanan yang sudah tersedia. Saat ini Sinta ingin makan puding kesukaan nya.


Ketika sedang menikmati puding dan juga makanan ringan di depannya, Sinta dikejutkan oleh suara bariton yang sangat dia kenalnya. Sinta tentu saja kaget, kenapa laki-laki itu yang selalu menjadi bayangan dirinya.


" Kamu terbangun, Sinta? Atau belum bisa tidur?" kata suara laki-laki bariton yang tidak lain adalah ayah tirinya. Sinta benar-benar terkejut dengan adanya Mukid di sana. Sejak tadi rupanya Mukid sudah duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi dan menghisap rokoknya. Itu pun juga susah menjadi kebiasaan Mukid selalu terbangun setelah melakukan sholat malam.


" Em, sudah tidur, dan aku terbangun dari tidur lantaran merasakan lapar, om." ucap Sinta berusaha tenang dan sewajarnya menghadapi laki-laki itu yang pernah memberikan kenikmatan sesaat di atas peraduan. Laki-laki yang pernah menaburkan benihnya kedalam rahim hingga jadi orok di dalamnya. Lalu dengan sadis dan kejamnya laki-laki itu memilih wanita lain yang nyatanya adalah mama nya. Dan laki-laki itulah yang sudah membuatnya berdosa melakukan aborsi untuk menggugurkan kandungan nya. Dan laki-laki itu sudah mengetahui kalau Sinta dulu telah melakukan aborsi yang secara kejam dan itu semua lantaran kesalahan nya.


Mukid duduk di samping Sinta dan ikut mengambil puding milik Sinta.


"Ini puding aku sengaja belikan untuk kamu setelah kamu datang semalam. Aku tahu kalau kamu menyukai puding rasa coklat." ucap Mukid seraya mengecap rasa puding milik Sinta. Sinta tersenyum sinis.


" Terimakasih, om Mukid masih perhatian dengan aku." sahut Sinta. Sinta mendorong piring yang berisi puding itu menjauh darinya.


"Kenapa tidak dihabiskan? Apakah tidak enak pudingnya?" ucap Mukid.


" Enak, tapi tiba-tiba jadi malas makan puding." sahut Sinta. Mukid mengerutkan dahinya.


"Kenapa? Apa lantaran kamu sudah tahu kalau puding itu aku yang beli? Kamu membenci aku, namun akhirnya menjadi malas dengan semua yang menyangkut aku?" tuduh Mukid.


Sinta menatap Mukid sekilas. Kedua mata mereka beradu.

__ADS_1


" Sinta!" ucap Mukid lirih. Ada rasa lain yang masih hinggap di sana. Rasa rindu namun bibir nya tidak mungkin terucapkan.


" Om Mukid!" sahut Sinta pelan. Sinta, walaupun ada benci, kecewa terhadap Mukid namun hatinya masih ada gelenyar rindu dan bibirnya sama halnya kelu untuk berucap.


"Aku akan menikah, om!" ucap Sinta akhirnya.


"Aku tahu! Pria itu terlihat baik dan bertanggung jawab. Dia sangat perhatian dan juga menyayangi kamu. Aku sangat lega melihat kamu sudah menemukan laki-laki yang tampan, mapan dan juga mencintai kamu."


" Benar! Radit mencintai aku dan sangat mencintai aku. Dia menerima semua kekurangan aku. Itu yang terpenting, om."


"Tiba-tiba aku merasakan kehilangan ketika melihat kamu hendak menikah dengan laki-laki itu. Ternyata ada cemburu ketika kamu memperhatikan laki-laki lain. Dan laki-laki itu juga menyayangi kamu. Rasanya sesak dan nyeri. Aku pikir, setelah sekian lama perasaan itu hilang. Ternyata masih ada."


" Waktu adalah obatnya. Mama akan membantu om Mukid untuk melupakan masa lalu. Demikian juga dengan aku. Radit akan memberikan warna dalam kehidupan aku dan mengikis kenangan lalu." sahut Sinta. Mukid menggenggam tangan Sinta.


" Kamu berhak bahagia, Sinta! Maaf, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu untukmu. Semoga bersama laki-laki itu, kamu bisa bahagia." kata Mukid.


" Maaf!" sahut Sinta.


"Sinta! Kamu tidak perlu menunjukkan kemesraan kamu dengan Radit di hadapan aku. Aku tahu jika kamu sudah bahagia dengan Radit demikian juga dengan aku."ucap Mukid. Sinta tersenyum dan menatap mata Mukid yang berkaca.


" Kok jadi om yang menangis?" tanya Sinta.


" Tidak! Aku ikut senang kamu akan segera menikah dengan Radit. Cuma aku menyesalkan kenapa kamu menggugurkan anak aku." kata Mukid.


" Jika aku mempertahankan janin itu dan melahirkan anak om Mukid, bagaimana nasib aku selanjutnya? Siapa yang akan menikah dengan aku? Sedangkan om Mukid sudah memilih mama sebagai istri om Mukid. Bayi itu tidak ada pengakuan, siapa ayahnya. Itu sangat miris sekali." ucap Sinta. Mukid menatap wajah Sinta yang ayu. Kini Mukid berusaha mendekati wajah itu dan merangkum pipinya.


"Aku boleh mencium kamu, Sinta? Sekali ini saja dan terakhir kali nya." ucap Mukid pelan.

__ADS_1


" Tidak! Jangan lakukan itu!" sahut Sinta. Mukid menarik nafasnya dalam- dalam.


"Dulu kita melakukan nya suka sama suka bukan? Dan kamu yang memaksa aku untuk melakukan semuanya. Setelah itu aku mulai terbiasa dan suka dengan kamu. Walaupun sudah ada mama kamu dalam hubungan kita." Sinta terdiam, sontak matanya kembali berkaca dan air mata itu lolos jatuh dari sudut matanya tanpa diminta. Mukid menjadi merasa sedih dan ikut merasakan bersalah atas semua yang sudah terjadi.


"Dan kamu lah yang menghendaki kita berpisah.Kamu menyuruh aku memilih mama kamu dibandingkan dengan kamu. Akhirnya kamu menjauh dan pindah dari kota ini ke kota Malang. Apakah dengan begitu kamu sudah bisa melupakan aku, Sinta? Kamu yang menginginkan kita berpisah dan aku harus menikahi mama kamu. Kita berusaha melupakan semua nya dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi." ucap Mukid panjang lebar.


"Jika bukan dengan mama yang menjadi rival ku, aku rela menjadi wanita ketiga dalam hubungan ini. Tapi kenapa harus dengan mama aku? Kenapa tidak dengan wanita lain?" kata Sinta.


"Tapi sekarang aku sudah lega, kamu sudah menemukan laki-laki yang mencintaimu dengan sangat tulus." sahut Mukid.


Tiba-tiba ada suara benda jatuh tidak jauh dari tempat mereka sedang duduk di ruang makan. Mukid mencari benda apa yang sudah terjatuh, dan menemukan sebuah benda terjatuh di dekat sana.


" Apakah ada orang di sini dan mendengarkan pembicaraan kita, Sinta?" tanya Mukid memastikan.


" Aku rasa tidak ada! Mungkin saja kucing di rumah ini yang membuat benda itu jatuh dari sana." sahut Sinta. Mukid menghela nafasnya lega.


Mukid kembali menyalakan rokok nya dan mulai menghisap nya pelan.


"Jangan banyak merokok om! Lagi pula sebentar lagi, om Mukid akan menjadi seorang ayah. Mama akan melahirkan adikku. Adik tiri ku." kata Sinta dengan tersenyum sinis. Mukid ikut tersenyum kecil mengingat dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


" Aku tidak pernah menyangka kalau aku bakal memilih adik tiri. Dan ayah tiri ku ternyata dulu adalah mantan pacar aku." kata Sinta sambil terkekeh.


" Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kalau mengingat itu, kita akan malu sendiri dengan situasi itu. Namun hati ini tetap tidak bisa berbohong kalau kita masih berusaha menepis semua perasaan ini." ucap Mukid.


"Benar! Tapi aku minta cerita ini mama jangan sampai mengetahuinya. Aku malu dan juga takut." kata Sinta.


"Tentu! Tentu saja! Aku menyayangi Maimunah seperti aku juga menyayangi kamu, Sinta." sahut Mukid.

__ADS_1


" Terimakasih banyak, om!" ujar Sinta sembari meninggalkan Mukid yang masih menikmati barang rokok nya.


__ADS_2