
Usai acara pernikahan Maimunah bersama dengan Mukid, sanak saudara dari keluarga Maimunah dan juga keluarga Mukid kembali pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Sinta pun sudah mulai packing dengan barang- barang nya yang akan dibawanya ke kota yang akan ditujunya. Kota dimana banyak keluarga besar nya ada di sana. Sedangkan Maimunah telah berada di kamarnya bersama dengan Mukid. Rencananya Maimunah akan mengikuti Mukid di tempat tinggal nya. Namun bukan apartemen, namun rumah yang diberikan oleh mama papa nya sebagai hadiah pernikahan Mukid bersama dengan Maimunah. Namun rumah itu atas nama kepemilikan Mukid.
Sinta masih menyendiri di dalam kamarnya. Dia tidak ingin melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Mukid kepada mama nya. Sinta tetap saja memiliki rasa cemburu yang besar dan rasanya hatinya sakit jika melihat Mukid bercanda, tertawa dan terlihat bahagia bersama mama nya. Walaupun Sinta sudah merelakan mama nya dinikahi oleh Mukid, namun hati kecilnya masih bersedih dalam situasi itu. Sinta akan memilih pergi dan menjauh dari mereka supaya tidak selalu melihat Mukid bersama mama nya. Ini akan membuat dirinya semakin merasa bersalah lantaran sebelum ini dirinya telah menjalin hubungan asmara dengan Mukid.
@@@@@@@
Di dalam kamar Maimunah, Maimunah sudah membersihkan dirinya serta mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur. Maimunah terlihat sangat bersedih lantaran Sinta, putri satu- satu nya akan segera pindah dan tinggal bersama bunda nya atau nenek nya Sinta. Kesedihan Maimunah terlihat jelas diwajahnya. Hal itu membuat Mukid ingin bertanya.
" Ada apa sayang? Kamu terlihat bersedih. Ada apa, hem?" tanya Mukid penuh perhatian. Maimunah meletakkan kepalanya di pundak Mukid. Mukid mengusap kepala Maimunah dengan lembut.
" Sinta ingin tinggal di tempat neneknya di kota Malang. Aku yang sudah biasa tinggal berdua bersama dengan Sinta, pasti akan merasakan kesepian setelah ini." cerita Maimunah.
" Sinta sudah dewasa, sayang! Dia berhak memutuskan jalan hidup nya. Dia ingin tinggal di rumah neneknya dan juga kuliah di sana, itu sudah jadi tekadnya. Kamu sebagai mama nya seharusnya mendoakan saja semua yang terbaik buat Sinta." kata Mukid.
" Tapi nanti aku menjadi sendiri di sini." sahut Maimunah.
" Bukannya ada aku, sayang? Aku akan menemani kamu, sayang!" kata Mukid.
" Nanti kalau kamu masih merasakan sepi, kita buat adiknya Sinta yang banyak." goda Mukid. Maimunah seketika mencubit pinggang Mukid. Maimunah tersenyum menatap Mukid yang menggoda nya.
" Ayo, kita buat adik Sinta! Sebelum kita bobok kita lakukan pemanasan itu." ajak Mukid seraya membimbing Maimunah ke atas tempat tidur. Dengan sigap Mukid menindih tubuh Maimunah dan mulai melakukan olahraga malam di atas peraduan itu.
@@@@@@@
Keesokan harinya, Sinta sudah menjunjung koper nya menuruni anak tangga rumahnya. Ruang tamu masih sepi, mungkin saja Maimunah dan Mukid masih berada di dalam kamarnya. Mungkin saja sepasang pengantin baru itu masih tidur karena kelelahan lantaran melakukan ritual suami istri.
Sinta menunggu di kursi tamu dan menanti mama dan Mukid turun dari atas. Hari ini Sinta akan berangkat ke kota Malang. Sinta mendapatkan penerbangan pagi pukul sembilan. Padahal saat ini waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mama dan juga ayah tirinya belum juga keluar dari kamarnya.
Tiba-tiba bibi pembantu rumah tangga di rumah nya sudah datang.
__ADS_1
" Loh, nona Sinta sudah bangun? Loh ada koper? Nona mau pergi kemana?" tanya bibi itu kepo. Sinta menarik nafasnya mencoba sabar lantaran bibi memberondong banyak pertanyaan sedangkan dirinya sudah harus ke bandara secepatnya. Mama dan ayah tirinya belum juga ada tanda- tanda keluar dari kamarnya.
" Aku mau ke kota Malang, bi!" jawab Sinta sesingkat mungkin.
" Kota Malang? Ke rumah nenek nya non Sinta yah?" tanya bibi lagi.
" Iya, bi! Oh iya bi, aku harus segera ke bandara! Sebaiknya aku naik taksi saja." kata Sinta lalu berdiri dan berjalan keluar dari rumah itu. Bibi membantu mengangkat koper Sinta.
"Biar aku sendiri saja bi! Nanti sampai kan ke mama kalau aku buru- buru ke bandara." ucap Sinta. Asisten rumah tangga rumah itupun hanya bengong menatap kepergian Sinta.
@@@@@@
Di dalam kamar Maimunah. Maimunah masih dalam dekapan Mukid. Keduanya saling bercengkrama di atas peraduan nya. Keduanya masih sama-sama polos dan satu selimut tebal itulah yang menutupi tubuh nya. Maimunah mulai membuka matanya dan mulai melihat jam dinding yang menempel di dalam kamarnya. Seketika Maimunah terperanjat dan duduk hingga kedua perhiasan miliknya terpampang nyata. Mukid ikut membuka mata namun matanya seketika melebar tatkala langsung melihat dia benda yang bergelantung milik Maimunah. Maimunah masih belum menyadari kalau dirinya saat ini belum mengenakan penutup di bagian itu.
" Astaga! Sudah jam dua belas siang. Sinta! Eh ya ampun!" panik Maimunah. Mukid mengernyitkan dahinya.
" Ada apa dengan Sinta?" tanya Mukid.
Maimunah duduk di atas tempat tidur kamar Sinta. Maimunah menangis lantaran Putri nya telah memilih tinggal bersama nenek nya daripada dengan dirinya. Mukid telah menyusul ke kamar Sinta lalu mendekati istrinya yang saat ini sesenggukan menangis lantaran Sinta sudah berangkat ke Malang.
" Sudah, jangan menangis sayang! Kita bisa menyusul dan mengunjungi Sinta di Malang kapan saja yang kamu mau. Kamu juga masih bisa telephon dan juga video call. Ayolah sayang, jangan sedih yah." ucap Mukid supaya Maimunah lebih tenang.
" Tapi selama ini kami selalu bersama. Aku tidak pernah jauh dengan Sinta. Kenapa setelah aku menikah, Sinta memilih pergi dari aku? Seolah Sinta ingin menjauh dari aku." ucap Maimunah. Mukid meraih kepala Maimunah dan ia letakkan di dada bidangnya.
" Sayang! Jangan berpikir aneh- aneh dong!" sahut Mukid. Maimunah kembali menangis seperti anak kecil. Baginya bersama dengan Mukid, Maimunah seperti anak kecil kembali walaupun usia nya terbilang lebih tua daripada Mukid.
" Sinta..." sebut Maimunah dengan tangisnya.
" Cup.. cup.. cup... ayo sudah jangan nangis terus, entar hilang cantiknya loh!" goda Mukid. Maimunah mencubit pinggang Mukid hingga Mukid merasakan sakit.
__ADS_1
@@@@@@@
Sinta menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Kini Sinta telah tiba di kota Malang. Cuaca malam itu terasa dingin. Sinta hari ini belum mengaktifkan ponselnya sejak dari pagi berangkat dari Jakarta menuju ke kota Malang. Sinta masih ingin tenang dan tidak mau diganggu dengan banyak pertanyaan.
Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar membuyarkan Sinta dari angan-angan dan pikiran yang tidak tentu arah.
" Sinta, kamu sedang apa? Nenek memanggilkan tukang pijat untuk kamu supaya kamu malam ini bisa istirahat dengan nyenyak. Dan besok pagi ketika bangun tidur, kamu akan lebih rileks dan segar." ucap nenek Sinta yang bernama nenek Wati.
" Terimakasih banyak, nek! Tapi apakah aku harus di pijat? Aku tidak capek kok, nek." tolak Sinta halus.
" Sudahlah, cepat lepas semua baju kamu dan pakai sarung ini untuk pijat. Mbok Darmi, silahkan dipijit badan cucuku itu. Bikin dia rileks dan tidak stress." ucap nenek Wati. Sinta mengernyitkan dahinya namun segera mengikuti apa perintah nenek Wati untuk melepaskan semua pakaiannya dan hanya mengenakan sarung yang sudah disiapkan oleh nenek Wati. Mbok Darmi segera memijat tubuh Sinta dengan perlahan. Akhirnya Sinta mulai merasakan enak dan menikmati setiap pijatan dari mbok Darmi.
Sinta mulai merasakan kantuk saat dipijat oleh tangan Mbok Darmi. Sesaat Sinta benar-benar rileks dan tidak banyak memikirkan yang sudah terjadi antara mama nya, Mukid dan juga dirinya.
" Sudah lama mbok jadi tukang pijat?" tanya Sinta sambil memejamkan matanya. Mbok Darmi yang tidak banyak bicara akhirnya mulai mengeluarkan suaranya.
" Dari saya belum menikah, non! Mungkin saat itu saya masih berusia dua puluh tujuh tahun.
" Sudah lama banget yah mbok?" sahut Sinta menanggapi cerita mbok Darmi.
" Non Sinta ini apa sudah punya pacar?" tanya mbok Darmi.
" Dulu sudah mbok! Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kami sudah putus hubungan." jelas Sinta.
" Oh sayang sekali yah, non! Pasti non Sinta sangat mencintai pacar non Sinta yah?" kata Mbok Darmi.
" Tentu mbok! Saking aku sangat mencintai nya, bahkan aku rela menjauh darinya supaya dia bahagia." ucap Sinta.
" Begitu yah, non? Pasti sakit sekali yah non waktu putus dengan pacar non Sinta." kata Mbok Darmi.
__ADS_1
" Begitu lah, mbok!" sahut Sinta. Mbok Darmi tetap memijat Sinta. Tangannya terlihat sudah terampil memijat tiap lekukan dari tubuh Sinta. Akhirnya Sinta tertidur lantaran pijatan dari tangan Mbok Darmi itu.