MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
TEMAN BARU


__ADS_3

Sinta masih berada di dalam ruangan itu. Hari ini dirinya belum berangkat sendiri datang ke kampus. Tadi pagi dirinya berangkat bersama dengan Zaza saudara nya itu. Besok mungkin dirinya akan memulai berangkat sendiri ke kampus dengan mengendarai motornya. Motor yang baru dibelikan oleh neneknya. Motor matic nya masih di Jakarta. Sinta tidak mungkin mengirimkan motor matic nya itu ke Malang untuk sarana transportasi ketika kuliah. Itu akan kembali mengingatkan dirinya akan sosok Mukid. Awal perkenalan dirinya dengan Mukid.


Tadi pagi ketika diantar oleh Zaza ke kampus, Sinta juga telah menghapal jalan menuju kampusnya. Jika dirinya belum hapal, Sinta nanti akan menggunakan Google Maps. Hal ini akan mempermudah segala urusan di kota Malang yang bagi Sinta belum begitu mengenal jalan.


Sinta masih di ruangan itu dan belum meninggalkan tempat duduk nya. Dirinya saat ini sedang menunggu Zaza. Zaza di Fakultas berbeda masih mengikuti jam kuliah nya. Sinta sudah merasakan lapar diperutnya, dari pagi baru masuk nasi uduk yang ia buat.


" Kamu masih di sini, belum juga pulang? Apa kamu masih mengambil mata kuliah dengan kakak tingkat kamu?" tanya seseorang yang belum dikenal oleh Sinta. Sinta mengerutkan dahinya.


" Kenalkan aku Ratna! Tadi aku juga ikut mata kuliah di ruangan ini. Kita satu kelas di sini." ucap seorang gadis yang menyebut dirinya dengan Ratna. Ratna menjulurkan tangannya ke arah Sinta. Sinta menyambut nya ramah. Senyum keduanya sama-sama tersungging di bibirnya.


"Eh tidak! Aku sedang menunggu saudara ku untuk pulang ke rumah. Oh iya, nama aku Sinta." ucap Sinta ramah. Ratna duduk di sebelah Sinta.


" Aku boleh duduk di sini kan?" tanya Ratna. Sinta tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Aku sudah tahu nama kamu, bukannya kamu tadi sudah memperkenalkan diri di depan?" kata Ratna lagi. Sinta tersenyum dan malu.


" Eh iya!" sahut Sinta.


" Kamu tidak lapar? Bagaimana kalau kita ke kafetaria di depan kampus fakultas kita ini sambil menunggu saudara kamu datang menjemput kamu." ajak Ratna.


" Lapar juga sih? Oke, mari!" sahut Sinta lalu mulai bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu mengikuti langkah Ratna.


" Semoga saja, kamu betah di kampus ini yah?" kata Ratna sembari mereka berjalan menuju kafetaria di depan fakultas nya.


Sinta tersenyum mendengar ucapan Ratna. Setiba nya di kafetaria itu Ratna memesan makanan dan minuman yang menjadi favorit nya.


" Kamu mau makan dan minum apa? Aku sudah memesan kan dua porsi ayam geprek lengkap dengan nasinya dengan jus mangga. Kamu kalau mau yang lain boleh pesan yang lain." kata Ratna.


" Tidak usah, itu sudah cukup. Jadi kamu sudah memesankan untuk aku juga?" tanya Sinta. Ratna membenarkan.


" Oh iya Sinta, sambil menunggu pesanannya datang, aku akan mengambil motor aku di parkiran di kampus kita dulu yah. Aku mau membawa nya ke sini." kata Ratna.


" Loh, kenapa tadi tidak sekalian kamu membawanya ke sini?" sahut Sinta. Ratna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Aku lupa kalau aku tadi bawa motor ketika ke kampus. Biasanya aku diantar dan dijemput oleh sopir pribadi aku. Hahaha aku benar-benar lupa." ucap Ratna tanpa dosa.

__ADS_1


" Astaga! Ternyata kamu orangnya sangat pelupa yah?" sahut Sinta.


" Iya, benar! Ini baru motor, Sin! Kadang hal- hal penting aku bisa lupa juga. Semua lantaran aku tidak fokus dan kadang panik." jelas Ratna. Ratna segera keluar meninggalkan Sinta di kafetaria itu untuk mengambil motor nya yang masih diparkir di depan fakultas, kampusnya.


" Sepertinya enak berteman dengan Ratna. Dia sangat polos apa adanya. Semoga bisa menjadi teman berbicara dan menjadi sahabat aku di kota Malang ini." gumam Sinta.


@@@@@@@


Tidak berapa lama Ratna kembali datang dengan nafas yang masih Ngos-ngosan. Sinta menjadi heran dan mengerutkan dahinya melihat Ratna datang dengan nafas yang tidak beraturan itu.


" Kamu kenapa Ratna? Bukannya kamu naik motor? Kenapa kamu Ngos-ngosan seperti habis lari dan dikejar-kejar setan di sore hari?" tanya Sinta.


" Eh, iya benar! Aku sedang berlari namun berlari mengejar cinta ku." sahut Ratna. Sinta menepuk jidatnya sendiri.


" Maksudnya?" tanya Sinta.


" Di depan aku melihat dosen muda kita, Pak Chandra juga sedang makan di kafetaria ini. Namun beliau saat ini sedang bersama Ibu dosen kita juga bernama Bu Veronica." cerita Ratna seraya mengatur nafasnya supaya tidak Ngos-ngosan lagi.


" Ini Veronica?" tanya Sinta.


" Besok ada mata kuliah metodologi penelitian, apakah dosennya bu Veronica?" tanya Sinta.


" Benar!" sahut Ratna.


" Oh, jadi pak Chandra dengan bu Veronica pacaran?" analisa Sinta. Ratna jadi berpikir dengan ucapan Sinta.


" Entahlah, semoga saja tidak! Kalau benar mereka berpacaran, aku pasti akan patah hati." sahut Ratna. Sinta kembali menepuk jidatnya sendiri.


Pesanan dua porsi ayam geprek beserta nasinya dan dua jus mangga telah berada di atas meja. Kedua mahasiswa yang baru saja berkenalan itu akhirnya mengeksekusinya dengan lahap.


" Setelah ini biar aku yang mengantarkan kamu pulang saja, Sinta! Aku ingin tahu rumah kamu dan mana tahu weekend nanti aku bisa bermain dan menginap di rumah kamu." kata Ratna.


" Eh, apakah ini tidak merepotkan kamu?" tanya Sinta.


" Tidak! Kamu hubungi lah saudara kamu dan katakan kalau dia tidak perlu menjemput kamu. Aku akan mengantarkan kamu sampai ke rumah." kata Ratna lagi.

__ADS_1


" Oke, terimakasih banyak Ratna. Aku sangat senang bisa mengenal kamu lebih dekat." sahut Sinta.


" Aku juga, sepertinya aku cocok berteman dengan kamu Sinta. Kamu sangat enak di ajak berbicara. Aku yakin kamu bukan tipe teman yang suka menikam di belakang." kata Ratna lagi. Sinta kembali mengerutkan dahinya.


" Menikam di belakang? Apakah kamu dulu punya teman yang mengkhianatimu?" tanya Sinta.


" Benar! Itu sangat menyakitkan sekali Sinta." sahut Ratna.


" Wah, maaf jika kamu menjadi teringat akan masalah itu lagi." kata Sinta.


" Tidak apa- apa Sinta. Malah aku ingin bercerita banyak dengan kamu nanti." ucap Sinta.


" Dulu aku memiliki teman yang sudah aku anggap sebagai sahabat aku sendiri. Kami sering berdua dan jalan bersama- sama. Bahkan ketika aku berkencan dengan pacar aku pun, sahabat aku itu aku ajak. Namun ternyata diam- diam pacar aku dengan sahabat aku di belakang aku mereka menjalin hubungan. Mereka mengkhianati aku. Pacar ku mendua depan sahabat aku sendiri. Ini sangat menyakiti hati aku." cerita Ratna.


" Lalu?" tanya Sinta.


"Akhirnya aku tahu pengkhianatan itu. Aku tahu karena ponsel pacarku saat itu tertinggal di rumahku saat habis kencan dengan aku. Saat itu sahabat aku mengirim pesan chat beberapa kali di ponsel milik pacar ku itu. Lantaran tidak ada balasan akhirnya sahabat aku itu menghubungi nomor ponsel pacar ku. Aku melihat nya dan ternyata nama sahabat ku yang muncul di panggilan masuk itu. Ponsel pacar ku tanpa ada kunci dan sandi nya. Jadi aku dengan leluasa bisa melihat semuanya." jelas Ratna.


" Lalu akhirnya kamu tahu semuanya?" sahut Sinta.


" Benar! Akhirnya aku memilih putus dengan pacar ku. Bagi aku kebohongan dan pengkhianatan itu tidak bisa dimaafkan lagi. Bagaimana aku melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dengan pacar ku jika masalah nya dia telah berlalu khianat kepada aku? Aku tidak mau dalam rumah tangga aku nanti ada perselingkuhan dan orang ketiga." ucap Ratna. Sinta menyimak dengan serius.


" Ratna! Sudah mulai senja! Aku harus balik nik. Aku takut nenek aku mengkhawatirkan aku." kata Sinta yang menyudahi obrolan itu.


" Maaf, ayolah aku antar kamu." sahut Ratna.


" Kita di jalan bisa sambil ngobrol atau nanti setiba di rumah aku." kata Sinta. Ratna tersenyum mendengar nya.


" Semoga di rumah kamu ada rawon dengan tempe goreng dan ampela nya." ucap Ratna.


" Rawon? Gimana rasanya?" tanya Sinta.


" Astaga! Kamu belum tahu apa itu rawon?" tanya Ratna. Sinta menggeleng cepat.


" Rawon itu sayur khas Malang, Jawa Timur. Seperti sop namun di dalamnya ada daging baik ayam, sapi dan warna kuahnya kehitaman." jelas Ratna.

__ADS_1


" Oh, nanti aku akan bilang nenek untuk membuatkan jenis masakan itu." sahut Sinta.


__ADS_2