MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
INDAHNYA


__ADS_3


Ini adalah peristiwa yang sulit dimengerti oleh Sinta. Demikian juga halnya dengan Mukit. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika antara Mukit dan juga Sinta bisa disatukan lagi oleh takdir. Seharusnya mereka saling jauh dan tidak lagi mengenal. Namun seolah mereka telah dipermainkan oleh jalan garis hidup mereka yang pada akhirnya bertemu dan memutuskan kembali mengulang hubungan indah sebelum mereka saling menjaga jarak dan perasaan mereka.


Mukit dulu adalah ayah tiri Sinta yang menikah dengan mama nya Sinta. Karena batas usia dan hidup seseorang di dunia sudah ditentukan oleh Sang pemberi Hidup, sampai akhirnya Maimunah meninggal dunia. Siapa yang menyangka nya jika maut Maimunah datang disaat dirinya berjuang melahirkan bayinya.


🦋🦋🦋🦋🦋


Setelah acara pesta pernikahan Mukit dan Sinta digelar di kota Malang, kini keduanya berencana melakukan perjalanan untuk berbulan madu ke tempat-tempat indah dan dingin. Walaupun di Malang banyak lokasi tempat wisata yang indah dan tentu saja cuaca nya lebih dingin daripada di Malang kota nya. Apalagi di Batu kota Malang yang daerah itu sangat dingin.


Bana berencana ikut ketika Mukit dan Sinta berencana berbulan madu. Namun karena nenek Wati mencegahnya dan memberikan pengertian kepada Bana, maka Bana menjadi mengerti.


"Mommy, om ganteng Mukit! Nanti jangan lupa bikinkan adik buat Bana yang banyak yah! Lima laki-laki semua. Bana gak suka anak kecil wanita, dia suka menangis seperti Zahra tetangga kita itu. Adik Bana harus lima laki-laki semua nya," kata Bana saat Mukit dan Sinta hendak berangkat ke luar kota. Mukit hanya tersenyum lebar saat Bana meminta adik bayi lima sekaligus. Berbeda dengan Sinta yang terlihat manyun bibirnya.


"Kamu pikir membuat bayi seperti mencetak puding,hem?" protes Sinta. Bana cemberut mendengar ucapan mommy nya.


"Mommy ini, aku kan mau adik yang banyak. Di rumah ini biar ramai gitu loh, mommy!" sahut Bana.


"Iya, iya! Nanti mommy belikan di supermarket," kata Sinta akhirnya. Bana cemberut saja mendengar ucapan dari mommy nya. Namun berbeda dengan Mukit. Mukit menjadi bersembunyi saat Bana menyuruhnya bikin adik bayi yang banyak, apalagi lima sekaligus.


"Jangan sedih dong, Bana sayang! Nanti om ganteng akan bekerja keras untuk memberikan Bana adik bayi yah!" ucap Mukit seraya berjongkok menyamakan tinggi dari Bana. Bana tersenyum lebar mendengar nya.


"Bana, ayo kita makan puding coklat buatan nenek! Papa dan mommy kamu harus segera berangkat berbulan madu sayang," Tiba-tiba nenek Wati datang lalu mengajak Bana ke ruang makan.

__ADS_1


"Sebentar nenek buyut! Kita harus melepaskan kepergian mommy dan om ganteng sampai mereka naik mobil," kata Bana.


"Loh, kok masih saja memanggil papa kamu dengan om ganteng sih, nak? Kamu harus memanggil om ganteng sekarang dengan papa. Karena om ganteng sudah menikah dengan mommy dan menjadi papa Bana," jelas nenek Wati.


"Hem, kayaknya susah aku memanggil om ganteng dengan papi. Tapi baiklah, akan Bana coba. Papi mukit yang ganteng," kata Bana. Sinta yang mendengar nya menjadi menyipitkan matanya.


"Gak perlu pakai embel-embel ganteng segala! Ganteng juga ayah Radit," gumam Sinta yang tentu saja didengar oleh Mukit. Nenek Wati dan Bana hanya terkekeh saja mendengar ucapan Sinta.


"Ya sudah, mommy, papi Mukit! Selamat bersenang-senang dan bekerja keras bikin adik bayi untuk Bana yah!" kata Bana sambil menjabat tangan mommy dan Mukit. Sinta rasanya ingin menggigit pipi chubby milik Bana.


🦋🦋🦋🦋🦋



Dan kau saat ini adalah urat nadiku.


Jika jauh kurasa, seperti hilang separuh jiwaku terbang.


Jangan pergi dan tinggal kan aku seperti dulu...


Jangan lari jika aku marah dan bosan dengan mu..


Tetaplah di sini temani aku saat aku lelah, senang maupun marah...

__ADS_1


"Sinta!" bisik Mukit sambil mendekap erat Sinta dari belakang. Sinta menikmati indahnya pelukan hangat dari Mukit. Sudah sangat lama hal itu tidak Sinta rasakan. Apalagi Mukit mulai mengecup lembut di leher jenjang Sinta. Sinta sedikit menggelinjang dan memejamkan matanya.


"Sayang! I miss you! Kita mulai sekarang yuk!" kata Mukit lagi. Kini keduanya saling berhadap-hadapan. Kedua netra mereka saling pandang. Ada bahasa yang tersirat di dalam bola mata mereka. Tatapan penuh makna dari bola mata Mukit yang mampu menusuk jantung Sinta. Sinta seperti terhipnotis dengan pandangan tajam itu. Apalagi serta merta jari Mukit kini mengangkat dagu Sinta. Kedua bibir itu saling menempel sudah. Hanya menempel saja. Dingin! Yah cuaca di balkon kamar itu masih terasa dingin di sana. Pelan-pelan Mukit mulai sedikit meraup bibir Sinta dengan rakus. Sinta yang awalnya tidak membalas namun akhirnya ikut membalasnya. Hingga akhirnya Mukit membimbing Sinta masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh Sinta penuh kehati-hatian seperti boneka.


"Aku akan pelan-pelan dan lembut melakukan nya. Kamu pasti sudah sangat lama tidak melakukan ini kan?" bisik Mukit. Mata Sinta melebar.


"Apakah setelah mama aku meninggal, kamu masih sering melakukan ini, om?" tanya Sinta. Mukit mengerucut bibir nya.


"Kenapa memanggil aku, om sih?" protes Mukit.


"Aku ingin mengulang seperti dulu! Boleh kah?" sahut Sinta. Mukit tersenyum lebar. Kini keduanya saling bereaksi dan membalas. Kedua nya saling ganti bergantian mendominasi permainan. Hingga Sinta kini mulai di atas mendominasi permainan. Alunan gerakan maju mundur cantik ala Sinta kini mulai ditunjukkan. Mukit hanya bisa menatap Sinta dengan senyuman lebar. Sesekali suaranya mendes@h dan keduanya saling sahut menyahut menyuarakan suara erotis yang menggema di ruangan.


"Kamu belum menjawab, om. Setelah mama meninggal dunia, om mukid melakukan seperti ini dengan siapa?" kata Sinta kembali mengulang pertanyaan nya. Padahal Mukit sudah benar-benar menikmati permainan biola dari gesekan indah pinggul Sinta.


"Tidakkkkk ada, sayang!!! Uh jangan dibahas lagi! Sinta....!" ucap Mukit sambil menahan gejolak yang segera muncr@t. Sinta tersenyum dan kembali mempermainkan ritme nya lebih cepat. Hingga sampai beberapa saat, Sinta ambruk di atas tubuh Mukit. Mukit tersenyum dan mengecup kening Sinta. Keduanya saling mengatur nafasnya. Irama jantung mereka masih tidak beraturan. Setelah semuanya kelelahan keduanya terlelap sebelum membersihkan tubuh mereka.


T


A


M


A

__ADS_1


T


__ADS_2