MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
RINDU ITU BERAT


__ADS_3


Hari ini tidak ada ide. Ide untuk membuat kamu bahagia. Melihat kamu tertawa atau sekadar tersenyum pun, aku turut senang. Bagaimana tidak? Kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hati dan pikiran aku. Aku akan teriris pedih ketika mendengar kesedihan yang kamu alami. Aku ikut terbakar api amarah, tatkala emosi kamu meluap tak terkendali. Aku ikut tersenyum, saat kamu meluapkan kebahagiaan kamu dalam gelak tawa yang terbahak.


Aku akan menjadi mainan anak-anak, yang memberi kegembiraan. Aku akan menjadi perahu kertas, yang tanpa beban mengikuti arus air yang mengalir. Aku pun akan menjadi awan putih yang menggumpal memberi arti keteduhan. Aku akan menjadi air itu yang mengaliri tanah tandas nan kering. Aku akan menjadi syurga mu, menjadi tempat terindah istirahat mu.


Apakah kamu sudah menjadi tawanan cintaku? Terborgol oleh rasa yang sulit di singkirkan. Terpenjara oleh tembok tinggi tebal.


Kekuatan bukan hanya berasal dari pukulan, tendangan, tamparan ataupun yang lainnya. Kekuatan terhebat datang dari hati yang besar. Bahkan angin yang lembut pun bisa menghancurkan semesta. Seperti kokohnya pondasi gunung tertinggi,mampu hancur dengan guncangan dahsyat nenek bumi yang menggeliat. Demikian halnya cinta. Jika cinta itu sudah menguasai jantungnya, di bawah sadar pikirnya tidak mampu berakal sehat. Dunia bak cacing kepanasan, jika rasa rindu itu menggelitik jiwa. Sehari tidak berjumpa serasa kehausan sepanjang masa. Dahaga yang tak kunjung terpuaskan karena kasihnya yang belum di lihatnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di dalam kamarnya Sinta masih dalam kegelisahan nya. Kembali dirinya bolak-balik belum bisa memejamkan matanya. Pikiran nya benar-benar kacau, antara bayangan Om Mukid dengan laki-laki yang baru dikenal oleh Sinta, yaitu Radit. Selama ini Sinta masih sering mengonsumsi obat tidurnya karena kesepian dan juga pikiran nya yang masih berkecamuk dengan bayangan om Mukid. Bagi Sinta, walaupun dirinya sudah dikecewakan dan sakit hati namun untuk melupakan sosok Om Mukid perlu waktu. Apalagi aroma tubuhnya yang sering kali melintasi dalam rongga hati Sinta terasa kental. Laki-laki itulah yang pertama kalinya membuat Sinta gila dan lupa akan dirinya. Sinta rela melakukan apa saja baik raganya. Namun itu semua ternyata bodoh. Sinta akhirnya dirugikan atas semuanya.


Saat ini ada sosok laki-laki lain yang awalnya membuat Sinta geram dan geregetan. Namun sering nya laki-laki itu bertandang di rumahnya, Sinta menjadi memperhatikan dirinya. Berawal karena disuruh oleh mama nya mengantarkan makanan untuk nenek dan juga akhirnya nenek juga ikut menyuruh Sinta mengantarkan makanan ke rumah Radit. Nenek Wati membuat makanan apa saja pada akhirnya harus sampai di rumah Radit. Dengan dalih untuk mama Radit.


Seringnya Radit dan Sinta bertemu akhirnya mereka seperti terbiasa jalan dan mengobrol. Obrolan ringan yang tidak berfaedah semakin mengikis jarak mereka. Mereka semakin dekat, apalagi Bang Radit sering mengantar dan menjemput Sinta dari rumah ke kampus dan dari kampus untuk pulang ke rumah.


Namun sehari ini tidak seperti biasanya, Bang Radit tidak satupun menghubungi Sinta baik pesan chat maupun telepon. Apalagi yang biasa nya datang ke rumah untuk mengantarkan ke kampus, ini tidak ada sama sekali. Dan Sinta masih enggan untuk mencari kabar dan bertanya soal itu.

__ADS_1


" Apakah Bang Radit baik- baik saja? Tumben tidak ada kabar hari ini? Apakah abang itu sakit? Biasanya kalau mau datang menjemput aku pun selalu menghubungi aku. Ini tidak ada sama sekali. Ada apa dengan kamu? Ahkkkk." gumam Sinta sibuk dengan kegalauan nya.


Sinta mengambil ponselnya dan memberanikan dirinya untuk memulai mengirimkan pesan chat pada Bang Radit.


"📱📲 Hai lagi ngapain?" isi pesan chat untuk Bang Radit.


Sinta kembali membolak-balikan badannya menunggu balasan dari pesan chat itu, namun sudah hampir setengah jam tidak ada tanda read bahkan balasan.


" Kamu dimana sih, Bang? Tumben banget, tidak ada kekonyolan kamu hari ini." gumam Sinta.

__ADS_1


Hingga larut malam dan jam menunjukkan pukul satu dini hari, Sinta akhirnya mengambil obat tidur nya dan menelan obat itu. Sejenak Sinta berpikir untuk esok hari sebelum matanya mulai meredup lantaran pengaruh obat tidur sudah mulai merilekskan syaraf otaknya.


" Bang Radit! Besok usai kuliah aku akan datang ke kantor pengurus cabang kemahasiswaan. Semoga kamu ada di sana." pikir Sinta sembari mematikan lampu di kamar nya dan memejamkan matanya.


__ADS_2