MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
MAIMUNAH HAMIL


__ADS_3

Sementara di tempat lain. Maimunah saat ini lagi merasakan mual- mual dan kepalanya terasa pusing. Mukid menjadi kebingungan dengan apa yang sedang dialami oleh istrinya tersebut. Setiap Maimunah makan dan perut nya terisi makanan, tidak berapa lama Maimunah merasakan mual lalu muntah mengeluarkan semua yang telah dimakannya. Mukid menjadi sangat kasihan dengan kondisi Maimunah yang memucat wajahnya dan lemas kondisi tubuh nya. Akhirnya Mukid mengajak Maimunah untuk memeriksa ke dokter keluarga. Tanpa banyak protes, Maimunah mengikuti ajakan Mukid untuk periksa ke dokter.


" Sayang, kalau kamu merasa mual dan ingin muntah, jangan ditahan yah, sayang! Kantong plastik ini sudah aku siapkan untuk kamu. Sebentar lagi kita akan sampai ke klinik tempat praktek dokter Hilda." ucap Mukid sambil tetap menyetir, menjalankan mobilnya. Maimunah masih kelihatan lemas dan wajahnya pucat.


Maimunah hanya memejamkan matanya lantaran apa yang dirasakan nya benar-benar tidak karuan. Dari kepalanya pening, perutnya mual seperti diaduk-aduk, dan badannya tidak enak. Mukid sesekali memegang tangan Maimunah yang seperti benar-benar tersiksa dengan keadaannya itu.


Mukid kini menaikan laju kecepatan mobilnya karena sudah mulai mengkhawatirkan keadaan Maimunah. Hingga beberapa kali Mukid terlihat tidak sabaran membunyikan klakson mobilnya lantaran pengendara motor yang ada di depannya yang membuat dirinya tidak bisa ngebut untuk sampai ke tempat yang dituju.


" Mas, aku tidak apa-apa! Kamu jangan emosi begitu." ucap Maimunah lirih.


" Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan kamu, sayang! Wajah kamu terlihat pucat sekali. Apakah masing pusing kepalanya?" tanya Mukid. Maimunah menggelengkan kepalanya pelan.


Mobil itu mulai membelah jalanan yang mulai sepi. Mukid kini bisa bernafas dengan lega, dirinya bisa lancar kaya untuk segera sampai di tempat praktek dokter keluarga nya itu.


Setiba nya di tempat praktek dokter Mukid segera menuntun Maimunah masuk ke dalam. Di tempat praktek dokter itu kini sudah tidak lagi banyak pasien yang menunggu sehingga Mukid bersama Maimunah segera langsung masuk ke ruangan praktek dokter itu setelah bagian resepsionis mendata nama pasien.

__ADS_1


" Selamat malam pak Mukid! Maaf tadi saya belum bisa memenuhi panggilan pak Mukid dengan cepat, lantaran sore tadi banyak pasien di tempat ini dan hari ini dokter yang berjaga hanya saya sendiri. Sekali lagi, mohon maaf Pak Mukid!" ucap dokter Hilda seraya menjabat tangan Mukid dengan Maimunah secara bergantian.


" Tolong segera periksa istri saya, dokter Hilda! Sejak tadi pagi Maimunah muntah- muntah terus dan merasakan mual serta pusing. Diisi makanan pun keluar lagi." cerita Mukid. Dokter Hilda melihat Maimunah sejenak ketika Mukid menceritakan keluhan yang dirasakan oleh pasien.


" Baiklah, mari ke ruangan pemeriksaan." ucap dokter Hilda. Maimunah mengikuti apa kata dokter Hilda.


Maimunah berbaring di atas tempat tidur yang diperuntukkan untuk seorang pasien itu. Dokter Hilda mulai mengecek keseluruhannya dan setelah itu dokter Hilda tersenyum melihat layar monitor di dekatnya. Mukid yang sejak tadi duduk menunggu di kursi kini mulai masuk ke ruang pemeriksaan setelah dokter Hilda memanggilnya.


" Selamat pak Mukid, sebentar lagi pak Mukid akan menjadi seorang ayah. Ibu Mukid kini telah mengandung, dan usia kandungan nya menginjak tiga minggu." kata dokter Hilda. Mukid tersenyum bahagia mendengar kabar baik itu. Maimunah pun ikut tersenyum mendengar hasil pemeriksaan dari dokter Hilda.


" Benar bu, coba ibu ingat- ingat kembali. Kapan ibu terakhir kali mendapatkan menstruasi?" ucap dokter Hilda.


Maimunah dan Mukid saling berpandangan. Keduanya tersenyum.


"Benar dokter, saya sudah beberapa minggu telat datang bulannya. Ternyata saya hamil." ucap Maimunah. Mukid kini menggenggam tangan Maimunah.

__ADS_1


" Nah, mulai sekarang kamu tidak boleh capek- capek lagi. Urusan perusahaan biar nanti aku dan asisten kita yang handle semuanya." ucap Mukid.


Dokter Hilda tersenyum mendengar dan melihat keromantisan yang ditunjukkan oleh pasangan suami istri itu.


" Mari ke meja saya lagi pak Mukid! Saya akan memberikan beberapa resep untuk istri Pak Mukid dan bisa ditebus di depan." ucap dokter Hilda seraya menuliskan resep untuk Maimunah.


@@@@@@@


Di dalam mobil, Mukid dan Maimunah tidak henti- hentinya tersenyum bahagia mengetahui kehamilan itu.. Maimunah yang awalnya kurang bersemangat kini menjadi bersemangat, bahkan Maimunah jadi ingin makan yang banyak supaya janin dalam rahimnya bisa berkembang.


" Jadi, kamu mau makan apa sayang?" tanya Mukid. Maimunah mulai. menyebutkan banyak menu.


" Sate ayam, cap cay goreng, bihun goreng, dan ayam bakar madu. Minuman nya juz mangga dan juz buah naga." sebut Maimunah. Mukid tersenyum mendengar semua menu itu diucapkan dari mulut Maimunah.


" Yakin, mau dimakan dan dihabiskan semuanya?" sahut Mukid. Maimunah dengan cepat menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Siap! Untuk bumil yang lagi ngidam semuanya akan kita beli." sahut Mukid dengan senyum bahagia. Betapa kebahagiaan terpancar dari keduanya. Mukid akan menjadi ayah dari benih yang di tanamnya di rahim Maimunah. Maimunah sendiri sebelumnya tidak pernah menyangka kalau masih bisa mengandung. Apalagi di usianya yang sudah berkepala empat.


__ADS_2