
Aku mulai belajar dari hujan. Dia berkali-kali jatuh dan menjatuhkan air nya berkali - kali dengan ketentuan nya.
Aku mulai belajar dari lilin. Dia sanggup membakar dirinya untuk bisa menerangi sekitarnya.
Aku mulai belajar dari kamu. Ketika kamu sanggup menunggu ku sampai aku bisa menjemput di tempat mu.
Aku belajar dengan kesetiaan mu. Ketika kamu mampu menetapkan hatimu hanya dengan diriku. Padahal di sekitar mu ada yang lebih sempurna di banding aku.
Gelegar suara yang membangkitkan. Semangat bergelora karna dorongan. Langkah mulai tegas mengayun tujuan. Tidak ada yang dibanggakan jika tanpamu kurasa.
Jiwa kerdil bak debu beterbangan. Jika sudah mengingatkan Kebesaran Nya. Mulai meniti jalan - jalan yang berlubang.
Kamu adalah semangat ku.
Dan akan terus menjadi tenagaku dalam mencapai tujuan hidup. Harapan - harapan nyata bersamamu akan terwujud bersamamu.
__ADS_1
Walaupun masih dengan bayanganmu yang selalu bersatu dalam ragaku.
Walaupun masih dengan mimpi itu yang datang tersenyum padaku. Aku dan kamu harus menang melawan waktu.
Tapi sekarang kau pergi meninggalkan ku berjuang sendiri.
Apakah aku mampu berjalan dengan satu kaki?
Apakah aku bisa terbang dengan satu sayap itu?
Semua sudah berlalu.
*******
Mukid terlihat kacau duduk di balkon di luar kamarnya. Dia saat ini benar-benar seperti sendiri ketika bangun dari tidurnya tidak lagi mendapati sosok Maimunah di samping nya. Tidak ada lagi yang menyiapkan pakaian nya ketika dirinya hendak berangkat ke kantor. Tidak ada yang memeluk dirinya ketika cuaca dingin di waktu fajar. Sudah tidak ada yang memberikan kenyamanan dan ketentraman hatinya disaat risau, gelisah menghinggapi dirinya. Surga dunianya telah lebih dahulu pergi meninggalkan dirinya. Kini menyisakan kedukaan yang teramat dalam.
Beberapa cangkir kopi telah habis di minumnya. Di atas meja balkon ini penuh puntung rokok di dalam asbaknya. Rambutnya acak-acak kan. Bahkan Mukid beberapa hari ini tidak teratur makannya. Badan kokohnya kini lunglai bersamaan semangat hidupnya memudar. Semuanya karena kehilangan belahan jiwanya.
__ADS_1
Pandangan itu jauh menatap kosong di ujung jalan. Batang rokok itu dihisapnya dan di buang nya dengan kasar. Rasanya seperti tidak percaya kalau istrinya akan pergi secepat ini meninggalkan dirinya. Padahal baru kemarin dirinya bercerita, bercanda, bercengkrama, bermanja-manja serta berkeluh kesah dengan nya. Membayangkan rumah tangga nya akan semakin lengkap dengan kehadiran bayi kecil itu. Tetapi takdir berkata lain. Suratan sudah tertulis dengan sangat jelas. Istri dan bayi nya harus meninggalkan dirinya. Kini air mata itu sudah tidak lagi jatuh di sudut matanya. Dada nya sesak dan hatinya sangat pilu mengenang semua itu.
Tiba-tiba pintu kamar Mukid terbuka setelah suara ketukan pintu kamar itu beberapa kali tidak diindahkan oleh Mukid. Sinta masuk dengan membawa makanan dan minuman untuk dirinya. Ayah tirinya itu butuh perhatian dan kekuatan untuk semangat menjalani kehidupan nya. Bukan hanya Mukid, namun Sinta juga sangat kehilangan sosok mama kandung nya. Walaupun sudah satu tahun lebih dirinya tidak lagi tinggal bersama mama nya. Namun mama nya lah yang telah melahirkan dirinya.
Sinta mendekati Mukid yang masih menatap jauh jalan raya dari balkon itu. Kini pandangan nya beralih ke arah Sinta yang wajahnya seperti duplikat istrinya. Mukid merengkuh tubuh mungil itu tanpa ada niat untuk melecehkan. Sinta mematung tanpa bisa menepis pelukan Mukid. Kembali keduanya terisak. Setelah beberapa lama Sinta mendudukkan ayah tirinya ke kursinya. Diusapnya air mata itu yang masih jatuh berderai. Sinta baru sadar, kalau Mukid benar-benar mencintai mama nya dengan tulus.
"Makan dulu, om!" ucap Sinta seraya menyodorkan satu sendok ke dalam mulut Mukid. Mukid membuka mulutnya, dengan tatapan kosong tidak semangat. Sinta terus saja menjejali makanan yang dibawanya ke dalam mulut Mukid.
"Om Mukid harus makan yang banyak! Kita sama-sama kehilangan mama. Tapi kita jangan lagi berlarut-larut dalam kesedihan ini. Bila waktu nya nanti, kita akan mendapatkan giliran nya. Tuhan lebih menyayangi mama." ucap Sinta. Mulut Mukid membuka lebar saat Sinta memberikan suapan dari sendok nya. Sinta bernafas lega, ayah tirinya itu sudah mau makan.
"Radit mana, Sinta?" tanya Mukid.
"Bang Radit, lagi keluar membelikan aku soto betawi, Om." sahut Sinta.
"Selera kamu dengan Maimunah masih saja sama. Dan wajah kalian juga tidak jauh berbeda. Kalian sama-sama cantik." ucap Mukid sambil menatap jauh ke depan. Pikiran nya masih menerawang teringat akan wajah istrinya, Maimunah.
Dalam diam membisu, Sinta mulai meninggalkan Mukid di sana yang masih meratapi nasibnya. Dalam senyap itu, Sinta kembali mengusap air matanya. Dia saat ini benar-benar telah kehilangan mama nya. Kini menyisakan kenangan indah saat bersama dengan mama nya.
__ADS_1
"Mama, mama tenang di sana yah! Di sini aku akan selalu mendoakan mama," gumam Sinta dalam hati.