
...LISTEN TO MY HEARTBEAT...
...(DENGARKAN BUNYI DETAK JANTUNGKU)...
...●...
...●...
...●...
NAMPAKNYA apa yang tertulis di surat perlahan kejadian di dunia nyata. Bayangan hitam yang kerap dijumpai Danial semakin jelas seiring waktu berjalan.
Tak lagi dalam bentuk bayangan, kini sosok itu berubah jadi figur manusia. Sekilas memang mirip manusia, yang membedakan hanya di bagian warna kulit. Para hantu memiliki warna kulit yang sangat pucat.
Pelajaran di kelas sedang berlangsung namun perhatian Danial sedang diambil oleh makhluk menyeramkan yang kadang memperlihatkan sisi terburuknya. Sangat mengejutkan melihat wajah pucat para hantu yang mendadak berlumuran darah. Danial bahkan berusaha untuk tidak mengacuhkan mereka, tapi tetap saja insting mereka terlalu kuat untuk mengetahui kalau Danial bisa melihat mereka.
"Oh shit." Danial mengumpat, lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
Nyatanya bukan Danial saja, bahkan Aurel pun merasa terganggu dengan kehadiran makhluk tak kasat mata tersebut. Ditegaskan, Aurel bukannya takut, lagipula penampakan-penampakan tersebut sudah jadi makanan sehari-harinya. Ia hanya merasa kasihan dengan Danial yang terkadang menyentak kaget saat sosok itu muncul secara tak terduga.
Aurel lalu menurunkan fokus matanya, ia melihat tangan Danial bergetar karena rasa takut.
"Astaga," ujar Danial pelan ketika makhluk berwujud perempuan tiba-tiba berdiri di depannya.
Aurel tertegun, lama-lama perasaan iba dalam dirinya mencuat ke permukaan. Dia tahu, tidak mudah melihat mereka terlebih dengan fakta bahwa Danial baru memiliki kemampuan itu setelah menjalani operasi mata.
Aurel saja membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi sebelum akhirnya ia menerima takdir menjadi seorang indigo.
"Lo takut sama mereka?" bisik Aurel pelan.
Danial cukup menggeleng sebagai bentuk jawaban. Tanpa diberitahukan pun seharusnya Aurel sudah bisa membaca pancaran air muka yang diperlihatkan Danial. Kalau boleh jujur Danial menggeleng hanya karena rasa gengsinya, dia tidak mau sampai Aurel mencapnya lemah.
Lo bohong Dan, gue tau saat ini lo ketakutan liat mereka. Pikir Aurel melihat pria di sebelahnya dengan tatapan iba.
Debaran jantung Danial baru kembali ke mode normal setelah jam istirahat berlangsung. Kondisi kelas yang riuh juga beberapa teman kelas yang lalu lalang membuat makhluk tak kasat mata itu lenyap tak berbekas. Bersyukur, Danial mengusap-usap dadanya.
"Itu belum apa-apa Dan, di luar sana masih ada penampakan yang seramnya dua kali lipat dari apa yang hari ini lo liat di kelas."
Danial membawa matanya ke arah gadis di sebelahnya. "Jangan ngaco loh, yang tadi aja udah serem gila."
__ADS_1
Aurel tertawa remeh, "Yang lo liat barusan wujudnya masih mirip-mirip sama kita, tapi di luaran sana masih ada yang punya wujud berantakan," Aurel bergidik, "Ya misalnya hantu yang gak punya kepala, hantu yang punya bekas tusukan di kepala, dan hantu yang isi perutnya berceceran ke mana-mana."
"Serius lo?" sahut Danial cepat, ia membulatkan matanya hampir sempurna.
Dengan enteng Aurel memperlihatkan sebuah anggukan dan bibir mencebik.
...●●●●●...
BIASANYA Danial banyak dibuat tertawa oleh tingkah Haris, Irgi, dan juga Vernon saat mereka kumpul di kantin. Tapi yang terjadi saat ini justru kebalikan dari yang biasanya.
"Ris, pelajaran lo apa sehabis istirahat?" Irgi berbasa-basi.
"Kimia," jawab Haris.
"Mantap, ntar kalian disuruh naik satu-satu ngerjain soalnya," ucap Irgi diiringi tawa.
"Jam pertama tadi gue sama Irgi yang jadi korbannya," celetuk Vernon menyambung kalimat Irgi.
Vernon dan Irgi memang tak sekelas dengan Haris dan Danial, tapi kalau masalah keakraban tak perlu ditanya lagi. Keempat manusia itu sudah akrab sejak jaman mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tak heran mereka membawa persahabatan itu sampai detik ini.
Irgi sempat tertawa mendengar guyonan Vernon, namun perubahan signifikan justru terjadi di wajahnya. Keningnya jadi mengerut saat membawa tatapannya ke arah Danial. Aneh sekali melihat Danial jadi pendiam, seingatnya Danial termasuk manusia paling laknat diantara mereka berempat.
"Lo baik-baik aja Dan?" masih dengan kening mengkerut Irgi menanyakannya.
"Dan, malam minggu nanti ada balapan, lo ikut gak?" tanya Vernon.
Danial mengaduk bakso di depannya, "Kagak lah, gue aja baru sembuh."
"Kirain..." jawab Vernon lagi.
"Auto digerprek pala gue kalau ketahuan bokap."
"Oh iya Dan," ucap Haris.
Danial menyentak ketika membawa perhatiannya kepada Haris. Tiba-tiba saja sosok gadis kecil berwajah pucat muncul di sebelah Haris.
"Lo kenapa Dan," tanya Haris tak kalah kagetnya melihat perubahan ekspresi di wajah Danial. Perubahan itu terlalu cepat sehingga menghadirkan tanda tanya di kepala Haris.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari bibir Danial membuat Haris celingak-celinguk ke kanan lalu ke kiri. Ia mencari sesuatu.
__ADS_1
"Lo liat apa barusan?" Haris kembali melayangkan pertanyaan setelah mencari namun tidak menemukan apapun yang menjadi sebab dari lahirnya ekspresi kaget di wajah Danial.
"Eggak ada," dusta Danial.
"Hantu?" terka Haris.
Lagi, Danial menggeleng-geleng menutupi apa yang sebenarnya dia lihat.
Jauh dari tempat mereka terduduk terlihat Aurel sedang menatap ke arah mereka. Ia juga melihat sosok yang sempat membuat Danial menyentak kaget. Sosok hantu tersebut muncul dan berdiri di sebelah Haris.
"Diantara mereka berempat siapa yang udah buat lo jatuh cinta?" Leana mencolek lengan milik Aurel, membuat gadis itu refleks menghentikan fokus perhatian kepada para cowok di ujung sana.
"Apaan sih, liatin doang juga," dalih Aurel. "Pikiran lo aja tuh yang ngaco dan ke mana-mana!"
"Hati-hati Rel! Awalnya masih lo liatin, ntar lama-lama jadi jatuh cinta beneran loh," Leana memperingati diiringi senyum jahilnya yang sudah khas.
"Tau ah," dongkol Aurel.
Leana kemudian memokuskan perhatiannya kepada para pria yang tadinya jadi fokus perhatian Aurel. "Oh iya Rel, diantara mereka yang buat lo jatuh cinta pasti bukan Danial. Tau sendiri kan hubungan lo sama dia udah kayak kucing dan tikus."
"Bodo amat, makanan gue udah habis. Gue mau balik ke kelas."
Leana melihat mangkuk milik Aurel yang sudah ludes, lalu ia membandingkan mangkuk miliknya yang masih ada setengah.
"Tungguin!" rengek Leana.
"Kagak," sahut Aurel tidak mau tahu.
"Ya udah deh gue tinggalin aja makanannya," ucap Leana dengan maksud terselubung mengancam.
"Jangan mubazir!"
"Makanya tungguin dulu sampai gue abisin makanannya."
Ujung-ujungnya Aurel menyerah juga. Alhasil ia memilih untuk menunggu Leana menghabiskan baksonya lebih dulu.
Menengok ke arlojinya Aurel lalu mengembuskan napas kasar. "Lima menit dari sekarang. Kalau belum habis juga, gue balik ke kelasnya duluan!" Aurel balik mengancam.
Leana tidak menjawab karena saat ini mulutnya sudah penuh dengan mie dan beberapa potongan bakso.
__ADS_1
...~To be Continued~...
...●●●●●...