MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
17. SPEECHLESS "PART 2"


__ADS_3

...SPEECHLESS "PART 2"...


...(TERDIAM "BAGIAN 2")...


...●...


...●...


...●...


AUREL menjadi fokus perhatian penghuni XII. IPA 6 setelah dia unjuk tangan lalu bangkit dari duduknya. Sempat merasa ragu sebelum ijin terlepas dari bibir mungilnya.


"Pak saya mau ijin keluar."


"Lagi?" sambil memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit bergeser pak Fadli memberikan satu kata itu menggunakan suara lantang. Hanya satu kata, namun ketajamannya seolah tombak yang seketika menancap di hati yang paling dalam milik Aurel.


"Iya Pak," sahut Aurel penuh kehati-hatian.


Aurel tak kuasa melihat pancaran amarah di wajah sang guru. Meski belum kesampaian tetapi gadis itu sudah mampu menerka yang bakal terjadi di menit selanjutnya. Alhasil rasa takutnya menjadi dampak ia menurunkan dagu sehingga tatapannya menjurus ke bangku.


"Silakan keluar dari kelas saya sekarang!" usir pak guru menunjuk pintu kelas.


Sesuai dugaan pak guru langsung murka dengan tingkah muridnya. Meskipun telah menduga tapi Aurel tetap saja tersentak merespon suara menggelegar yang memekakkan telinga.


"Keluar!" murka pak guru.


Aurel menyentak kaget. Dengan langkah dipercepat ia meninggalkan kelas.


Disaat ia sudah tiba di koridor gadis itu baru sempat menghela napas menetralkan embusan napasnya yang tak keruan. Seumur-umur sejak Aurel bersekolah di SMA Angkasa Raya, ini adalah kali pertama baginya dimarahi oleh seorang guru.


Adegan ketika Aurel diusir dari kelas pun membuat teman sekelasnya melongo. Aurel dikenal sebagai murid paling teladan. Meski bukan yang terbaik di bidang matematika namun kapasitas otaknya cukup mumpuni di bidang itu. Tak jarang beberapa teman kelasnya meminta bantuannya saat kesulitan menyelesaikan suatu soal.


Tapi hari ini Aurel membuat masalah dengan menyulutkan amarah pada diri pak Fadli.


Meski demikian Aurel tetap saja tak patut dipersalahkan. Aurel punya alasan kuat sampai melakukannya. Hanya saja alasan tersebut terlalu sulit untuk diungkapkan. Tidak logis jika Aurel berucap jujur, mengatakan kalau dia khawatir Danial akan ketakutan saat menjumpai makhluk penjaga gudang.


...●●●●●...


KERINGAT semakin deras bercucuran di sekitar wajah Danial. Berbagai cara telah dilakukan olehnya demi untuk mengusir makhluk menyeramkan yang masih betah menampakkan diri di hadapannya.


Sumpah demi apapun, Danial bisa merasakan sekujur tubuhnya yang masih bergetar akibat respon dari ketakutannya.

__ADS_1


Makhluk yang saat ini masih betah menampakkan dirinya sangatlah menyeramkan. Hanya ada kepala dengan rambut panjang yang mempertegas jika sosok tersebut adalah seorang wanita. Melirik ke bawah, Danial tak menemukan badan layaknya sosok hantu pada umumnya. Yang didapatinya justru organ dalam yang menempel mengikut kepala si sosok tersebut.


Selain tampilan yang sudah pasti menyeramkan, Danial juga menemukan bau aneh yang menyeruak ke indra penciumannya. Mengendus sambil mengerutkan kening Danial meyakini bau amis itu berasal dari sosok di depannya.


Rasa getir tiba-tiba dirasakannya begitu ia meneguk ludahnya. Kakinya kembali bergerak mengambil langkah mundur melihat sosok mengudara itu semakin mendekatinya. Hingga punggungnya menabrak tembok, yang artinya tidak ada ruang kosong lagi yang tersisa.


Danial memilih mendudukkan tubuhnya. Kakinya lalu ditekuk dijadikan tempat untuk menautkan kepalanya.


"Danial," sebelum suara itu terdengar, lebih dulu Danial mendapati bunyi pintu ruangan dibuka secara paksa dari luar.


Aurel setengah panik menghampiri Danial, "Lo gapapa kan?"


Tidak ada niat sama sekali untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gerakan cepatnya bangkit memeluk gadis itu dengan erat hanya bentuk refleks saat pria itu merasa lega. Rasanya terlalu naif jika Danial masih berdalih tidak takut melihat sosok sebelumnya, sementara kedua tangannya telah melingkar di tubuh Aurel.


"Rel, sumpah demi apapun gue beneran kagak bisa liat sosok itu lebih lama lagi. Sekarang gue gak peduli lo mau ngatain gue cemen atau gimana." Ucapnya acuh tak acuh.


Secara lembut Aurel melepaskan pelukan erat Danial, tersenyum sebentar gadis itu pun mulai menggerakkan sudut bibirnya lalu bercerita, "Sekarang lo tenang. Lo liat ke belakang! Hantunya udah gak ada."


Mengikuti perkataan Aurel, Danial memeriksa sosok tadi. Nyatanya benar, sosok itu telah menghilang entah ke mana.


"Muka lo pucat. Lebih baik lo ke UKS!" suruh Aurel.


"Biar gue aja yang gantiin posisi lo. Mending lo istirahat aja di UKS!" Aurel bersikeras.


"Gak usah sok baik!" tajam Danial. Pria itu membungkukkan badan memunguti sapu ijuk dan kemoceng yang dibawanya dari kelas.


Bukan hanya pada Danial. Perubahan air muka tampaknya juga terjadi di wajah Aurel. Gadis itu bahkan rela diusir dari kelas cuma karena kekhawatirannya terhadap Danial. Bukannya dihargai, perlakuan Danial malah membuat Aurel bersungut kesal.


Aurel bukannya perhitungan. Gadis itu bahkan tak pernah menuntut terima kasih dari seseorang yang telah dibantunya. Hanya saja sikap Danial terlalu berlebihan sehingga kesannya sedang memojokkan Aurel.


"Kok lo malah nyolot sih." kesal Aurel mulai terang-terangan.


"Sosok hantu barusan teman lo kan?" tuduh Danial tanpa berpikir panjang.


"Sejak kapan gue temenan sama hantu," selepas kalimatnya Aurel menghela napas, mulai lelah menghadapi Danial. Pria setipe dia memang sulit untuk ditebak.


"Ngaku aja!" ucap Danial kedengaran memaksakan asumsinya.


"Bisa liat hantu bukan berarti gue bisa temenan sama mereka! Memang ada beberapa hantu yang sering curhat sama gue, tapi gue gak pernah tuh nyuruh-nyuruh mereka untuk nakutin lo." jelas Aurel.


"Udah gak usah banyak alasan," deru napas memburu jadi pengiring ketika Danial melempar sapu ijuk ke sembarang arah. Dengan sorotan tajam ia memperhatikan dengan lekat gadis yang telah melipat tangan di depan dadanya. "Gue gak sebodoh itu Aurel. Gue tau gimana bencinya lo sama gue sampai-sampai lo nyuruh temen lo untuk nakut-nakutin gue!"

__ADS_1


"Danial..."


"Apa?" pria itu menginterupsi.


"Tau ah, gue makin benci sama lo!"


"Bodo amat," sengit Danial tidak mau peduli.


...●●●●●...


"SERIUS?" Irgi mulai membulatkan matanya mendengar cerita Danial barusan tentang sosok yang dijumpainya di gudang. Tidak secara menyeluruh, Danial menyembunyikan adegan ketika dirinya memeluk tubuh Aurel.


Ketiga temannya tahu betul tentang hubungan Danial dan Aurel tak ubahnya kucing dan tikus. Alasan itulah yang membuat Danial mengurungkan niat untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Intinya Danial tidak mau jadi objek cibiran teman-temannya.


"Ciri-cirinya gimana Dan?" tanya Irgi lebih lanjut.


"Pokoknya serem!" jawab Danial tak melupakan gidikan sebagai penegasan atas ucapannya.


"Coba deskripsikan makhluknya!" sambung Vernon masih penasaran.


"Sosoknya adalah seorang wanita yang cuma punya kepala. Yang gue ingat rambutnya panjang cuma agak berantakan. Organ tubuhnya menempel di leher terus satu hal yang buat gue risih adalah bau amis yang bikin gue pengin muntah." Danial menjelaskan secara rinci sembari mengingat-ingat kejadian waktu itu.


"Jangan-jangan sosok yang lo liat adalah kuyang." Haris menceletuk.


"Kuyang?" ulang Vernon dan Irgi secara bersamaan. Sebetulnya bibir Danial juga bergerak hendak menyebut kata yang sama tetapi karena Vernon dan Irgi mendahului alhasil Danial memilih membungkam.


Haris mengambil ponsel di saku seragamnya. Mengetuk-ngetuk benda pipih tersebut sebelum layar ponsel yang tengah menampilkan gambar kuyang diperlihatkan kepada mereka bertiga.


Kata kuyang terlalu asing bagi Irgi, Vernon, dan juga Danial.


"Kuyang adalah sebutan orang-orang Kalimantan, kalau di Sulawesi si kuyang ini dikenal dengan nama pok-pok. Tapi mitosnya sih bisa dibilang mirip-mirip." Setelah melakukan riset kecil-kecil di ponsel cerdasnya, pengetahuan Haris tentang sosok tersebut semakin terbuka.


"Kalau kuntilanak kan mitosnya wanita yang meninggal pas melahirkan, kalau si kuyang alias si pok-pok ini mitosnya kek gimana?" kepo Irgi.


"Kalau si kuyang ini mitosnya wanita yang pengin hidup abadi. Penjelasan sederhananya sih si wanita ini bersekutu sama iblis."


"Tapi kok..." kalimat Irgi tertahan lantaran suara bel pertanda jam istirahat berakhir terdengar ke segala penjuru. Daripada membahas masalah hantu lebih baik menghabiskan bakso di mangkok sebelum pelajaran selanjutnya berlangsung.


...~To be Continued~...


...●●●●●...

__ADS_1


__ADS_2