MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
16. SPEECHLESS


__ADS_3

...SPEECHLESS...


...(TERDIAM)...


...●...


...●...


...●...


MATEMATIKA sedang berlangsung di depan kelas. Pak Fadli sementara sibuk menjelaskan secara detail tentang rumus-rumus yang ditulisnya beberapa waktu lalu. Sampai ketika Aurel kembali masuk ke kelas setelah lebih dulu ijin ke toilet.


Mengangguk sebentar pak Fadli memerintahkan Aurel agar mempercepat langkahnya untuk mengambil posisi duduk di tempat semestinya.


Dibuat bingung sesaat. Aurel ingat betul saat ia ijin ke toilet kursi di sebelahnya masih diduduki oleh pria menyebalkan bernama Danial. Tetapi setelah kembali kursi tersebut telah diambil alih oleh Leana. Sempat memeriksa ke segala arah namun Aurel tak menemukan sosok pria itu.


Tuh bocah ke mana ya? Pikir Aurel.


Tak lama, gadis itu pun terduduk di kursinya. Sempat ada niatan untuk menanyakan keberadaan Danial pada Leana, tetapi Aurel berpikir ulang. Sepertinya bukan ide yang tepat. Bisa-bisa dirinya jadi bahan bully-an saat menanyakan keberadaan Danial pada gadis itu.


"Rel ada sesuatu yang mau gue tanyain sama lo." Kata Leana, lebih terdengar seperti sebuah bisikan. Tanpa dijelaskan Aurel sudah paham. Kehadiran pak Fadli di depan kelas jadi alasan kuat Leana memelankan suaranya.


Leana bahkan sudah kapok dihukum saat pelajaran pak Fadli berlangsung. Kadang hukumannya aneh-aneh. Pernah suatu hari Leana kedapatan ribut dan pak Fadli menyuruhnya tampil di depan melantunkan perkalian enam sampai sepuluh.


"Rel, lo denger gue kan?" lagi dengan suara berbisik. Sesekali Leana memeriksa figur yang tengah berhadap-hadapan dengan whiteboard.


Aurel menjeda kegiatannya menyalin rumus-rumus di papan tulis. Kepalanya yang sedikit menunduk diangkatnya sebelum membawa fokus matanya pada Leana. Pancaran wajah Leana menyiratkan sesuatu yang sulit Aurel pahami maksudnya.


"Apaan?"


"Emang bener ya di gudang samping UKS ada hantunya."


"Di mana-mana ada hantu kali. Jangankan di gudang, bahkan di ruangan ini pun ada hantunya kali An."


"Memangnya bener ya Rel kalau hantu di gudang yang paling menyeramkan sejauh ini?"


Aurel sedikit bingung bagaimana bisa Leana mengetahuinya?


"Lo tahu darimana soal itu?" tidak mau lama merasakan bingung Aurel pun menanyakannya.


"Tadi pagi gue gak sengaja liat cewek-cewek kelas sebelah lagi ngumpul. Lo kan tau sendiri Rel tingkat ke-kepo-an gue. Pas gue mampir gue denger deh mereka lagi bahas sosok di gudang itu."


Aurel mengangguk. Baru saja ia hendak mengembalikan fokusnya ke buku di depannya tetapi Leana tak kalah cepat menggulirkan sebuah kalimat.

__ADS_1


"Btw, sekarang Danial ada di gudang loh Rel."


"Kok bisa?" kaget Aurel. Untungnya ia masih tersadar dengan kehadiran bapak guru. Kalau tidak ucapannya barusan akan terdengar sebagai pekikan.


"Dia kedapatan gak merhatiin waktu pak Fadli ngejelasin materi. Dia dihukum disuruh bersihin gudang."


Takut, cemas, kasihan. Intinya perasaan campur aduk menyerang dirinya. Aurel mulai menampilkan air muka bingung memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan Danial. Apa yang dikatakan oleh Leana memang benar. Di ruangan kecil yang diapit oleh UKS dan toilet cowok ada sosok makhluk menyeramkan. Bukan rahasia umum lagi sebagian dari siswa SMA Angkasa Raya telah mengetahui tentang keberadaan makhluk menyeramkan itu.


Berdiam diri memainkan jari-jari hanya menambah kadar kecemasan pada dirinya. Jelas Aurel akan bingung, apalagi saat memikirkan alasan untuk digunakannya meninggalkan kelas.


...●●●●●...


SEPANJANG perjalanan menuju ke salah satu ruangan, Danial terus merutuki dirinya sendiri. Niatnya mengambil kesempatan tidur pas pelajaran matematika menjadi boomerang bagi dirinya. Karena ke-gap tidak fokus, Danial pun dijatuhi hukuman membersihkan debu di gudang. Pak Fadli memang tipikal guru penyabar, tetapi jika salah satu muridnya bersikap lancang maka dia tak segan memberikan hukuman.


"Apes bener dah hidup gue," eluh Danial merasa jadi manusia paling sial di muka bumi ini.


Semalam ia hanya memejamkan matanya. Tapi pikirannya sedang mengarah pada hal-hal berbau mistis.


Sekarang Danial dalam kondisi setengah mengantuk, tetapi perintah pak Fadli sudah menjadi hal wajib untuk dilaksanakannya.


"Danial!"


Si pemilik nama menghentikan langkah kakinya. Belum membalikkan badannya dan dia sudah tahu pemilik suara itu. Tentu saja itu suaranya Vernon.


Danial menatap sinis, "Mau nyangkul di sawah."


Vernon berdecak, "Astaga mulutnya Danial."


"Daripada lo nyerang gue sama pertanyaan kagak penting, lebih baik lo bantuin gue bersiin gudang. Gue dapat hukuman dari pak Fadli."


Vernon melototkan mata. Sempat pria itu memperlihatkan gidikan yang bisa diartikan ngeri "Enggak ah!"


"Gak setia kawan lu." Danial mencibir diakhiri senyum remeh.


"Bukan gitu," nada suara Vernon perlahan melembut. "Lo yakin mau masuk ke gudang?"


Tampang Danial berubah bingung. Aneh sekali melihat Vernon meneguk ludahnya saat Danial menyebut gudang sebagai tempat tujuannya.


"Kenapa emangnya?"


"Lo gak pernah denger kabarnya?"


Danial malah semakin bingung. Mencoba melakukan kilas balik namun hasilnya nol. Otaknya malah semakin buntu saat coba memikirkannya.

__ADS_1


Kebungkaman Danial saat ini membuat pergerakan di sudut bibir Vernon. Beberapa detik selanjutnya bibir Vernon berhasil mengeluarkan kalimat yang pastinya akan mencairkan kebingungan pada diri Danial.


"Rumornya sih gudang itu dihuni oleh sosok paling menyeramkan."


"Ngaco lo ah!" tepis Danial membuang jauh-jauh pemikiran aneh Vernon. Lagipula kan hal itu masih berbau rumor alias gosip, di mana tingkat keakuratan informasinya masih lima puluh banding lima puluh.


"Eh dibilangin kagak percaya lu."


Lagi, gensinya untuk mengumbar rasa takutnya kepada Vernon membuat Danial bertingkah seolah berani. Meski hatinya menyimpan ketakutan namun ekspresi yang diperlihatkan Danial seolah tidak terjadi apa-apa.


"Dipikirin dulu! Sekarang kan lo udah bisa liat makhluk aneh," Vernon mengingatkan.


"Sekarang gue udah berani," pongah Danial dengan dada membusung bangga pada dirinya sendiri.


"Ya sudah, lo pergi aja!" usir Vernon mulai kesal karena Danial tak mengindahkan kekhawatirannya.


Langkah dipercepat Danial akhirnya melambat ketika jaraknya dengan Vernon telah merenggang. Berhenti sebentar Danial memutar tubuhnya. Vernon sudah menghilang, kemungkinan dia udah balik ke kelas melanjutkan pelajaran yang tengah berlangsung di kelasnya.


Ucapan Vernon kembali terbayang disaat Danial telah berdiri di depan gudang. Beberapa kali ia mengudarakan tangan dan menyentuh kenop pintu. Sejujurnya Danial masih dalam tahap berpikir, apakah ia harus menambah kadar keberanian dalam dirinya lalu masuk atau mungkin dia kembali ke kelas dan meminta hukuman baru pada pak Fadli.


Keputusan final diambil oleh Danial. Dia memilih mendorong pintu putih di depannya sampai kedengaran bunyi jeritan yang diakibatkan oleh engsel pintu yang sudah dalam keadaan berkarat.


Gelap. Suasana itulah yang pertama kali ditemukan Danial saat ia memeriksa kondisi gudang. Melangkah hati-hati pria itu meraba-raba tembok sampai ia mendapati saklar. Tak berangsur-angsur Danial langsung menekannya sehingga ruangan itu sedikit terang karena cahaya yang dihasilkan oleh bohlam berdaya lima watt.


Melanjutkan langkahnya Danial menepis sarang laba-laba yang membentang menghalangi jalannya. Meskipun saat ini matanya belum menjumpai hal berbau mistis, namun bulu kuduknya telah meremang seolah tengah menjumpai makhluk seram tersebut.


"Halo..." ucap Danial.


Tiba-tiba pria itu menggeliat. Ada sesuatu yang meniup tepat di bagian tengkuknya. Hal itu menjadi sebab Danial menjatuhkan barang bawaannya. Tangan yang sebelumnya difungsikan membawa peralatan kebersihan seketika mengudara lalu mendarat mulus pada bagian di mana Danial merasakan embusan dari sesuatu yang tak kasat.


Danial!


Kakinya tidak kuasa menahan bobot tubuhnya , belum lagi getaran yang menghantam semakin melemahkan pijakan kakinya di lantai. Saat suara mengerikan tertangkap gendang telinganya, pria itu segera membalikkan arah badannya. Sial ia saling menatap dengan sosok menyeramkan. Bukan menyeramkan lagi sih, makhluk tersebut bahkan berada di tingkatan paling menyeramkan dibanding makhluk yang beberapa hari terakhir dijumpai oleh Danial.


Meneguk ludahnya dengan susah payah, Danial juga refleks melangkah mundur menjauhkan jaraknya dengan si makhluk menyeramkan.


"P-P-PER-GI," usir Danial.


Plak!


Pintu tempat Danial masuk tertutup dengan sendirinya. Tak tanggung suara menggelegarnya memekakkan telinga Danial. Menoleh sebentar ke arah sana sebelum fokus perhatiannya dikembalikan kepada sosok menyeramkan yang justru semakin mendekatinya.


...~To be Continued~...

__ADS_1


...●●●●●...


__ADS_2