
...FIGHT FOR LOVE...
...(BERJUANG UNTUK CINTA)...
...●...
...●...
...●...
MAURINE membawa bibirnya ke samping. Ia memperlihatkan senyuman yang sarat akan kemenangan saat kedua bola matanya menyaksikan Leana dan juga Haris duduk berseberangan menikmati santapan baksonya di kantin SMA Angkasa Raya.
Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, Maurine kembali menyunggingkan sebuah senyuman. Bel yang berbunyi beberapa menit yang lalu tentu saja membuat siswa berhamburan mengisi meja kantin sampai penuh. Tidak ada lagi meja selain meja yang diduduki oleh Leana dan Haris yang bisa diisi. Maurine lalu membawa nampan berisi semangkuk bakso serta jus jeruk miliknya itu menghampiri meja yang duduki oleh sepasang sejoli tersebut.
"Permisi, gue mau duduk di sini," meski pun kalimat yang terlontar dari bibirnya terdengar tidak ikhlas, namun perempuan berambut ombre itu dengan sangat terpaksa meminta izin untuk duduk.
"Kenapa harus di sini," kalimat yang berisi bentuk protes itu mengudara dari bibir Leana. Tentu saja dia menolak dengan keras permintaan dari si Margarine yang terkenal centil. "Kan masih banyak meja lain, kenapa harus di sini?" sambung Leana. Kemarahan terlihat begitu kental tengah tergambar di wajahnya.
"Karena cuma tempat ini yang kosong dan bisa gue duduki," sambung Maurine disertai alasan yang cukup logis.
Leana mengedarkan pandangannya ke sekitar. Benar kata si Maurine. Hanya tempat ini yang memiliki ruang untuk dirinya merubah posisi jadi terduduk. Meski demikian Leana masih tidak menyerah. Rasa-rasanya dia tidak akan sudi berbagi tempat duduk dengan seorang perempuan yang secara terang-terangan ingin merebut Haris—kekasihnya.
"Tapi aku gak setju kalau lo duduk di sini bareng gue dan Haris."
"But why? Memangnya kursi dan meja di sini punya nenek moyang lo? Semua orang berhak kali duduk di sini, namanya juga fasilitas umum," katanya disusul oleh gelengan kepala bertempo lambat serta tawa renyah yang diartikan oleh Leana sebagai tawa mengejek.
"Gak mau tahu, pokoknya gue tetep akan duduk di kursi ini. Gue bahkan gak peduli soal lo setuju atau enggak," berhenti menatap ke arah Leana yang tampak tidak setuju. Kali ini titik fokus miliknya diarahkan kepada seorang pria yang duduk berseberangan dengan kursi tempat Leana terduduk. "Boleh gak sih Ris, kalau gue duduk di sini?" tanya Maurine. Dia sengaja melembut-lembutkan nada suaranya.
"Silakan."
__ADS_1
Rahang bawah milik Leana terjatuh di detik yang sama saat ia mendengar sang pacar memberi izin kepada Maurine untuk berbagi tempat duduk dengannya. "Kok dikasih izin sih sayang?"
"Biarin aja lah, ini kan juga tempat umum. Siapa pun berhak untuk duduk di sini."
Leana memberungut sebal, ia meninggalkan tempat duduknya. Sebelum akhirnya ia berlalu, lebih dulu ia memberi tatapan horror kepada Maurine yang sekiranya berhasil membuat moodnya jadi kacau.
"Sayang tunggu," panik Haris menatap punggung Leana yang kian menjauh, "Sayang tunggu!" lanjut Haris disusul oleh gerakan cepat meninggalkan kursi menyusul Leana yang sudah telanjur marah.
"Baguslah, setidaknya cara sederhana seperti ini dengan mudah membuat hubungan Leana dan Haris auto merenggang. Gue gak perlu repot-repot mikirin caranya dan rencana gue berjalan mulus sesuai apa yang aku mau," lagi dan lagi Maurine seperti tak merasa bosan untuk menyunggingkan senyum miring yang membuat kesan antagonis akan terus melekat pada dirinya.
...●●●●●...
DANIAL tersenyum penuh kepuasaan tepat setelah ia keluar dari toilet. Lega rasanya setelah mengeluarkan pipis yang sedari tadi memenuhi kandung kemihnya. Saat itu pelajaran matematika masih berlangsung di kelas. Tak heran kenapa sekarang koridor terlihat begitu sepi dari murid yang biasanya hobi nongkrong di tempat ini.
Sepinya koridor memudahkan Danial dalam mendengar bunyi yang dihasilkan oleh sepatunya saat mengenai ubin di lantai. Masalah kebelet pipis terselesaikan, namun masalah lain datang menghadang. Beberapa meter dari tempatnya memijakkan kaki saat ini terlihat sosok hantu paling menyebalkan seantero SMA Angkasa Raya tengah menampakkan dirinya.
Bersamaan dengan kehadiran sosok menyebalkan itu Danial mengeluarkan bunyi decakan, pertanda bahwa rasa sebal tengah membayang-bayangi dirinya. "Si hantu menyebalkan datang lagi. Pasti dia mau gangguin gue lagi," pede Danial begitu yakin akan asumsi yang dibuatnya sendiri. Masalahnya tiap kali bertemu dengan Danial sosok tersebut selalu saja berhasil membuatnya bersungut kesal. Tak heran kenapa Danial sampai berpikir sejauh itu.
Dan benar saja, sekarang Danial mendengar suara perempuan itu menyanyikan sebuah lagu yang akhir-akhir ini viral di aplikasi joget-joget favorit anak muda zaman sekarang. Tentu saja dia mempelesetkan liriknya karena ada Danial di dekatnya.
"Lo ngatain gue jomblo?" ujar Danial menunjuk dirinya sendiri. Tentu sebelum ia melakukan itu ia lebih dulu memperhatikan sekitar. Takutnya dia dicap sudah tidak waras karena berbicara sendirian mengingat Sisil hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja.
"Apa sih, Kak Danial kepedean banget. Sisil kan cuma nyanyi-nyanyi doang."
"Nyanyi sih iya, tapi lo sekalian cibir gue kan? Udahlah ngaku aja lu!"
"Idih, siapa juga yang nyindir-nyindir kak Danial."
"Dasar lu setan gak punya akhlak. Belajar noh, sama si Jasmine penjaga gerbang depan sekolah. Udah cantik, baik, dan gak pecicilan kayak lo. Oh iya, noh duit lu jatuh," Danial menunjuk ke ubin. Sementara Sisil buru-buru menatap ke arah telunjuk pria itu.
__ADS_1
"Mana?"
"Dasar lu mata duitan, udah meninggal aja masih mikirin duit. Dasar setan minus akhlak," Danial berlalu begitu saja tanpa berpamitan dengan sosok hantu yang berhasil menghadirkan kekesalan di dalam dirinya.
...●●●●●...
"SAYANG, AYOLAH, JANGAN NGAMBEK KEK GINI. AKU TAHU AKU SALAH, MAKA DARI ITU AKU MAU MINTA MAAF." Haris masih berusaha keras dalam membuat belahan hatinya kembali ke mode normal. Haris bahkan tak peduli bahwa saat ini dia masih memegangi tangan Leana yang disaksikan oleh beberapa pasang mata murid yang kebetulan mengambil kendaraan di parkiran.
"Lepasin tangan aku," respon dari Leana masih sama. Kalimat yang menjadi responnya masih sama dinginnya seperti saat Haris membujuknya di kelas.
"Aku gak bakal lepasin tangan kamu sebelum kamu maafin aku," Haris tidak mengendurkan kurungan tangannya, malah ia semakin memperkuatnya seakan tak ingin membiarkan perempuan itu angkat kaki meninggalkannya.
"Oke, aku maafin kamu, tapi lepasin tangan aku!"
Haris melepaskan tangan Leana, "Aku anterin kamu pulang ya."
"Gak usah, aku bisa pulang naik taksi."
"Tapi sayang."
"Aku bilang gak usah."
"Oke kalau memang kamu mau pulang naik taksi, aku gak bakal maksa kamu untuk pulang sama aku. Tapi aku minta nanti malam kita ke kedai es krim yang sering kita kunjungi. Nanti malam jam delapan aku akan jemput kamu."
Bersamaan dengan embusan napasnya perempuan itu menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga. "Baiklah, aku akan datang ke kedai es krim. Kamu tidak perlu datang ke rumah, aku berangkatnya naik taksi aja."
Haris tidak mengajukan protes akan keinginan Leana untuk datang sendiri ke kedai es krim. Lebih dari itu Haris bahkan bersyukur karena Leana menyetujui permintaannya untuk bertemu. Setelah percakapan itu Leana memilih angkat kaki meninggalkan pelataran parkir yang masih ramai. Jaraknya dengan Haris kian menjauh sementara itu tatapan Haris masih kepada punggung Leana.
Baik Leana ataupun Haris tak menyadari bahwa seseorang mendengar percakapan yang terjalin di antara mereka. Jauh sebelum percakapan itu, nyatanya perempuan itu telah lebih dulu berdiri di balik pohon. Jika dilihat dari senyuman yang terbit dari bibirnya sepertinya sebuah ide jahanam baru saja tercetus di dalam kepalanya. "Jalan untuk menghancurkan hubungan mereka sepertinya semakin lancar. Its show time," Maurine menyeringai lebar. Sudah tak sabar merealisasikan sebuah ide yang tercetus di dalam kepalanya.
__ADS_1
...●●●●●...
...SETELAH SEKIAN LAMA AKHIRNYA AKU BALIK :)...