
...LAST PIECE...
...(KEPINGAN TERAKHIR)...
...●...
...●...
...●...
"MAU MAMA AMBILIN NASI?" Sarah menawarkan bantuan kepada Nakula—anak sulungnya—yang saat itu telah berhasil menandaskan lauk serta nasi yang ada di piringnya.
"Gak usah Mah, rasanya perut Nakula udah full," eluh Nakula seraya memegangi perutnya yang berhasil mengamankan makanan favorite yang dibuatkan oleh sang mama. Telur balado dan juga sayur asem. Boleh dibilang makanan sesederhana itu sekiranya berhasil membuat Nakula merasa puas.
"Papa masih mau nambah?" berhenti mengarahkan fokus kepada anak pertamanya, kali ini Sarah mengarahkan fokus kepada Akash—sang kepala rumah tangga di dalam keluarga kecilnya. "Sini biar Mama tambahin nasi sama lauk ke piring Papa," lanjut Sarah dengan satu tangannya sibuk hendak menyentuh gagang sendok nasi.
"Gak usah Mah," jawab Akash bersama gerakan mengibaskan tangannya memberi penolakan, "Kasusnya sama kayak Nakula. Papa juga udah kenyang banget, gak ada lagi ruang yang tersisa di perut Papa," imbuhnya disusul aktivitas meneguk air putih di gelas sampai tandas.
"Kalau Aurel?" kali ini tibalah giliran Aurel yang mendapatkan perhatian dari Sarah.
"Boleh deh Mah, ditambah telur baladonya, kebetulan Aurel masih punya space kosong di dalam perut."
Sarah tampaknya sedang bersemangat saat membantu putrinya memindahkan telur balado ke piring Aurel yang masih menyisakan sedikit nasi. "Nasinya mau sekalian ditambah, sayang?"
"Gak usah Mah, cukup telur baladonya aja."
"Oh iya, Papa hampir lupa ngasih tahu kalau lusa Papa ada urusan pekerjaan di luar kota." Akash menyampaikan kabar tersebut kepada anak-anaknya. "Rencananya sih Papa mau ngajakin kalian semua keluar kota, ya... hitung-hitung liburan bareng menghilangkan kejenuhan."
"Kalian berdua bisa minta izin dulu. Nakula izin sama pihak kampus, Aurel izin sama pihak sekolah," celetuk Sarah yang tampaknya bersemangat.
Didahului oleh tangannya yang mengudara Nakula menggunakannya sebagai alat untuk menggaruk pucuk kepalanya. Di satu sisi dia sangat tertarik dengan tawaran liburan yang tergulir dari bibir ayahnya. Lagian siapa juga yang tidak tergiur dengan hal seperti itu? Hanya saja Nakula memiliki alasan kuat yang mengharuskannya menolak tawaran tersebut. "Aduh, maaf ya Pah. Kayaknya Nakula gak bisa ikut."
"Loh, kenapa?"
"Iya nih Pah, di kampus lagi banyak kegiatan. Kan gak lucu kalau pas liburan tiba-tiba ditelpon dan diharuskan hadir di kampus. Mendingan Papa, Mama, sama Aurel aja yang berangkat keluar kota. Nakula stay di sini aja. Liburannya lain kali aja."
__ADS_1
"Hmmm, kayaknya Aurel juga gak bisa deh Pah," baru saja Aurel menyampaikan hasil pemikirannya mengikut Nakula yang lebih duluan melakukannya. "Soalnya dalam waktu dekat bakal banyak ulangan harian yang berlangsung di kelas. Takutnya juga Aurel malah ketinggalan materi cuma karena masalah liburan."
"Ya sudah, kalau gitu Mama juga gak usah ikut," jawab Sarah ikut berubah pikiran mendengar keputusan anak-anaknya. "Gak seru juga kalau Mama berangkat berdua doang sama Papa."
"Jangan, sebaiknya Mama ikut aja sama Papa, kan perginya juga enggak lama-lama amat. Paling seminggu doang kan ya?" sambung Nakula yang merasa tidak enak jika mamanya tidak ikut.
"Iya sih seminggu doang, tapi gimana sama kalian kalau Mama tinggal. Yang ngurusin makanan kalian siapa?"
"Bener kata kak Nakula. Sebaiknya Mama ikut aja sama Papa, itung-itung refreshing melepas kepenatan. Aku bisa ngurus makanan kok," ujar Aurel. Sebuah senyuman mengakhiri kalimatnya semata-mata ingin menegaskan bahwa dirinya akan baik-baik saja.
"Kali aja kan pas pulang liburan sama Papa, Mama bisa ngasih hadiah adek yang lucu untuk Nakula," Nakula berujar bermaksud menggoda sang Mama. Dan benar saja, karena ucapannya itu, bercak merah pada kedua sisi pipi sang Mama telah hadir.
"Kan udah ada adeknya, kok pengin nambah lagi?" tanya Akash.
"Bener banget, udah ada adek yang cantik kayak gini, masih pengin adek lagi," timpal Aurel.
"Enggak suka adeknya yang sekarang, hobinya nampol."
"Pah, liat tuh kak Nakula nyebelin banget," Aurel mengaduh kepada ayahnya.
"Nah, kan mulai lagi kebiasaan tukang ngadunya," balas Nakula.
"Nakula!" tegur Akash.
"Iya Pah, sorry."
Aurel menyunggingkan senyum penuh kemenangan sebelum akhirnya menjulurkan lidahnya ke arah sang kakak yang tidak bisa lagi berkutik.
"Pokoknya selama Papa sama Mama pergi, Nakula gak boleh pulang malam. Aurel juga gak boleh keluar malam kalau gak ditemenin sama Nakula!"
"Siap Pah, nanti Nakula usahain harus balik ke rumah sebelum maghrib," Nakula menanggapi perintah yang berhasil tergulir dari bibir ayahnya.
...●●●●●...
SUDAH setengah jam Haris duduk anteng di sebuah kursi di kedai es krim. Sengaja datang lebih cepat karena dirinya sudah tidak sabar ingin bertemu belahan jiwanya. Saking excited-nya pria itu, ia bahkan telah menyiapkan sekotak cokelat serta bunga mawar. Dia telah jatuh hati kepada Leana. Dan Haris berjanji akan melakukan segala cara demi untuk membuat perempuan itu senang.
__ADS_1
Pria bersetelan kaos hijau tosca yang dipadukan celana jins serta sepatu kets tersebut masih menunggu sambil sesekali melirik kepada arloji pada pergelangan tangan kirinya. Ia menahan diri untuk bersabar sedikit lagi menunggu kedatangan Leana.
"Haris!"
Setelah sekian lama menunggu akhirnya Pria itu menemukan suara seseorang menyerukan namanya. Sedikit aneh karena suara perempuan itu bukanlah milik Leana seperti yang dia harapkan. Tapi tunggu sebentar, entah kenapa Haris merasa bahwa suara yang baru saja menyerukan namanya sangat-sangat familiar. Dengan gerakan yang begitu cepat Haris memutar badan. "Maurine," bibirnya secara kontan membentuk kata itu. Sangat tidak mengira malam itu dia bertemu dengan perempuan itu.
Maurine yang tadinya berlari-lari kecil pun telah memangkas jarak dengan Haris. "Sendirian aja Ris?" kata perempuan yang masih berdiri di depan Haris.
"Iya," jawabnya singkat lewat nada yang terdengar sedikit canggung.
"Boleh gak kalau gue duduk di sini?"
Serangan dilema seolah mengarah kepada Haris seorang. Di satu sisi dia tidak ingin seandainya Leana menemukan dia berduaan dengan Maurine jika ia mengizinkan perempuan itu mengubah posisinya jadi terduduk di sebelahnya. Namun di sisi yang lain dia juga merasa tidak enak seandainya dia harus melarang Maurine untuk duduk di sebelahnya.
"Aduh, gue harus gimana ya?" pikir Haris. Sebentar lagi Leana akan datang. Bagaimana kalau dia melihatnya sedang berduaan dengan Maurine?
"Jadi, gimana? Boleh gak kalau gue duduk di sini?" cecar Maurine yang tak kunjung menemukan jawaban atas pertanyaannya di menit yang lalu.
"Boleh kok," jawaban itu bukan berasal dari bibir Haris selaku orang yang ditujukan. Haris saja kaget tiba-tiba mendengar suara itu.
Haris memutar kepala dan langsung terhenyak merespon yang irisnya temukan, "Leana, kapan kamu datang?" ia melihat belahan jiwanya tengah berkacak pinggang. Haris juga melihat adanya perasaan kecewa lewat sorot mata perempuan itu yang telah dilapisi oleh cairan bening yang siap tumpah.
"Kenapa? Kaget?" responnya berusaha tegas.
Haris terdiam.
"Ternyata ini tujuan lo manggil gue? Lo mau ngasih liat perempuan menyebalkan ini? Jahat banget lo Ris, gue gak habis pikir," tidak perlu penjelasan lebih lanjut, dan Leana telah angkat kaki meninggalkan tempat tersebut.
"An, tunggu bentar, biarin aku jelasin dulu kesalah pahamannya," Haris telah bangkit meninggalkan posisi duduknya. Namun belum sempat mengambil langkah, Maurine telah mengurung pergelangan tangannya.
"Ris maafin gue ya. Gue benar-benar gak ada maksud untuk bikin hubungan lo sama Leana jadi merenggang."
"Gak apa-apa kok, lagian ini juga bukan salah lo. Yang terjadi di antara gue sama Leana cuma kesalah pahaman aja kok," Haris menggunakan tangannya yang satu lagi untuk melepaskan tangan milik Maurine dari pergelangannya lalu pria itu lanjut mengejar Leana.
"Itu belum ada apa-apanya, An. Gue baru akan berhenti ganggu lo setelah lo hancur sehancur-hancurnya," kata Maurine pelan. Sorot matanya masih kepada punggung Haris yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang ditelan belokan. "Lo duluan yang berani ngusik kehidupan gue, maka jangan salahin gue kalau gue akan balas perbuatan lo itu."
__ADS_1
...●●●●●...
...SIAPA NIH YANG KANGEN SAMA TINGKAH LUCU DANIAL DAN AUREL? TUNGGUIN YA... UNTUK SAAT INI GUE MIKIRIN CARA BUAT BASMI SI MAURINE DULU WKWK...