MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
33. THE REASON WHY


__ADS_3

...THE REASON WHY...


...(ALASAN KENAPA)...


...●...


...●...


...●...


DANIAL, Irgi, Vernon, dan juga Haris sedang duduk bersisian di kursi taman sekolah menghadap ke arah selatan. Kira-kira dua meter dari tempat mereka terduduk ada Aurel yang kini mengangkat sekaligus melipat tangannya di depan dada. Bahkan anak kecil pun tahu rasa kesal yang kini diperlihatkan Aurel melalui mimik mukanya.


“Aurel lagi kerasukan penghuni pohon beringin kayaknya,” ucap Vernon, lebih untuk diperdengarkan untuk orang-orang di sekitarnya kecuali Aurel. Sayangnya pendengaran Aurel terlalu tajam untuk mengabaikan ucapan Vernon.


“Diem lu, gue jambak ya rambut lo!” semprot Aurel membuat keempat pria di hadapannya meneguk ludah nyaris secara bersamaan.


“Lo mau ngomong apaan sih sampai nyuruh gue ngumpul di sini?” tanya Danial. Pada saat bel istirahat berbunyi, Aurel menyuruh Danial untuk memanggil ketiga temannya.


“Yang ada tuh gue yang nanya sama lo! Kenapa semalam lo sok-sokan main jelangkung sama temen lo?”


Keempat pria di sana terkejut. Bagaimana bisa Aurel mengetahuinya.


“Kok lo bisa tahu sih?” tanya Haris, mewakili temannya yang enggan bertanya.


“Hantunya sendiri yang bilang sama gue. Katanya kalian berempat yang manggil dia.”


“Tapi kok aneh. Kenapa cuma gue yang diikutin, kenapa Haris, Vernon, dan Irgi kagak?” tanya Danial merasa terdiskriminasi.


“Diantara kalian berempat cuma elo yang bisa makhluk tak kasat mata, wajar kalo dia nampakin wujudnya sama lo.”


“Berarti hantunya cuma ngikutin Danial doang?” tanya Haris.


“Kata siapa? Hantunya ngikutin kalian berempat kok. Tapi secara bertahap. Misalnya abis datengin Danial dia ke Irgi, terus ke Vernon, kemudian ke elo. Sayangnya kalian bertiga gak bisa liat mereka, jadi yang ngerasa diikutin hanya si Danial.” Jelas Aurel.


Aurel baru saja mengalihkan tatapannya dari Haris menuju Danial yang tidak berani balas menatapnya. Aurel yakin Danial sengaja membuang muka demi untuk menghindarinya.


“Kenapa semalam lo bohong sama gue? Pas gue nanya, lo bilang gak ada masalah sama hantunya. Lo mikir gak sih perbuatan lo sama temen-temen lo tuh udah kelewat batas, jangan salahin gue ya kalo hantunya neror lo tiap hari.”

__ADS_1


Mata Danial membulat, “Serius lo? Maksud gue hantunya bakal neror gue tiap hari.” Danial membawa fokus perhatiaannya ke wajah Aurel.


Aurel merapikan poninya, “Dengan manggil mereka, itu artinya lo udah nyari masalah sama mereka.”


“Tapi kan kita semua cuma bercanda Rel,” Irgi menyela.


“Memangnya makhluk dimensi lain diciptain untuk dibikin bercanda?” sambung Aurel. Suaranya lebih tinggi seoktaf dari Irgi. “Lo emang mau ketemu sama mereka?”


Irgi menggeleng cepat sebelum berbicara, “Enggak!”


“Lo!” telunjuk serta perhatian Aurel mengarah pada Vernon yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Irgi.


Vernon menyengir, “Kalau setannya secantik Ariana Grande sih gapapa, tapi kalo serem lebih baik gue mundur deh hehehe.”


“Dan lo?” giliran Haris yang mendapatkan pertanyaan sama dari Aurel.


“Semalam kalo bukan Danial yang maksa, gue mah ogah. Lo kan tau sendiri kalo gua anak baik-baik.” Jelas Haris.


“Enak aja pake nyalahin gue! Kan elo duluan yang ngajakin.” Protes Danial.


“Sok berani lo Dan jalan duluan, giliran setannya muncul lo malah ninggalin kita,” Irgi bercerita.


“Lah si ****, udah dibilangin jangan dibocorin.” Panik Danial. Pria itu menjambak rambutnya kuat-kuat. Ia tak memiliki keberanian mendongakkan kepalanya menatap Aurel.


“Cie… Pipinya Kak Aurel sama Kak Danial jadi merah.” Hantu Sisil menampakkan diri. Tentu saja ejekannya barusan cuma bisa didengarkan oleh Danial dan Aurel yang memiliki kelebihan. Sementara Irgi, Vernon, dan Haris, jangankan mendengar bahkan melihat sosoknya pun menjadi hal tabu bagi mereka.


Aurel merasa kesal lantaran Sisil menyulutkan emosinya. Perasaan yang sama juga dirasakan Danial, perkataan Sisil membuat emosinya seperti tertahan di kerongkongan.


“Cie…” Sisil sepertinya tidak rela membiarkan suasana hati keduanya jadi tenang.


“Diem lu, setan!” Aurel dan Danial mengucapkannya secara bersama-sama. Keduanya juga memelotot pada sosok Sisil yang terlihat sangat menyebalkan.


Irgi, Vernon, dan juga Haris mendongak bingung. Mereka tidak melihat siapa pun. Mereka juga tak mendengar suara apa pun.


“Kalian berdua ngomong sama siapa?” Irgi bersuara, memecah keheningan setelah Aurel dan Danial bersuara secara serempak.


“Sama hantu.” Danial menjawab.

__ADS_1


Ketiga manusia di sebelah Danial mengedikkan bahunya merasa ngeri. Makin ke sini mereka makin yakin jika Danial memang memiliki akses untuk merasakan sesuatu tak kasat mata.


“Mohon maaf nih sebelumnya. Gue perhatiin kalian berdua cocok banget dah kalo jadi pasangan.”  Sama-sama galak, sama-sama bisa liat hantu, udah pacaran aja lah.” Vernon menggoda sembari memberlihatkan senyum jahil.


“Diem lu!” semprot Aurel dan Danial secara bersamaan.


...●●●●●...


“DARI MANA AJA SIH REL! YUK BURUAN MAKAN! NTAR KEBURU BEL LAGI.” Leana menarik tangan Aurel, memaksa gadis itu agar mempercepat pergerakannya mengambil posisi duduk di sisinya.


“Gue baru dari toilet An. Perut gue agak keram, sepertinya sih nyeri haid,” Aurel terpaksa memilih berdusta. Ia tahu bagaimana perasaan Leana terhadap Danial. Karena itulah ia menyembunyikan fakta bahwa ia baru saja menemui Danial.


“Oh…” singkat Leana diiringi anggukan.


“Oh ya, btw Danial ke mana ya?”


Aurel tertegun, “Kok nanya sama gue.”


“Kali aja lo liat.”


Aurel mengulum bibir bawahnya, “Hmmm… Enggak tuh!”


“Ngomong-ngomong lo mau gak tukaran tempat sama gue. Lo duduk sama Netta, gue duduk sama Danial.”


“Enggak,” tolak Aurel. Suaranya terlalu tinggi untuk dikategorikan santai.


Menyadari tatapan Leana meredup membuat Aurel refleks menyengir, hanya butuh lima detik berpikir Aurel pun menggerakkan sudut bibirnya. “Maksud gue enggak bisa soalnya kan pembagian kursinya arahan dari wali kelas. Kalo lo mau tukar, lo harus ngelapor dulu kali,” suara Aurel kali ini jauh lebih rendah dari sebelumnya.


“Iya juga sih,” Leana bersuara setelah mencerna omongan Aurel.


Sepuluh menit selanjutnya Aurel telah menghabiskan makanannya. Kini ia mengangkat dagu tetapi kedua sudut bibirnya yang sudah setengah terbuka kembali terkatup satu sama lain. Kalimatnya serasa tertahan di kerongkongan.


Aurel mengikuti ke mana fokus mata sahabatnya. Di ujung sana ada empat murid laki-laki sedang duduk melingkari meja. Entah mengapa Aurel sangat yakin jika perhatian Leana sedang mengarah pada Danial. Bukan pada Irgi, Haris, apalagi Vernon.


Aurel membawa kembali tatapannya pada sahabatnya. Sejujur-jujurnya ia bisa merasakan ketulusan saat melihat binar mata Leana.


Aurel juga tak yakin dengan perasaannya. Ia selalu membenci Danial tetapi sulit baginya untuk merelakan Danial bersama sahabatnya.

__ADS_1


Gue gak boleh jatuh cinta sama Danial! Aurel menanamkan itu pada dirinya, Mulai sekarang gue harus menjauh darinya bagaimana pun caranya! Aurel masih membatin.


...~To be Continued~...


__ADS_2