MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
21. SATURDAY NIGHT


__ADS_3

...SATURDAY NIGHT...


...(MALAM MINGGU)...


...●...


...●...


...●...


DAVINA bersama Aurel sedang di ruang keluarga menikmati talk show di layar televisi. Saat itu bintang tamunya merupakan salah satu penyanyi ibukota yang akhir-akhir ini jadi perbincangan hangat di kalangan para pelajar.


"Keren gak sih Vin?" gemas Aurel saat melihat pria di layar kaca.


"Udah paket komplit ini mah," ujar Davina. "Udah wajahnya genteng, suaranya bagus, baik, orangtuanya artis lagi." Imbuh Davina mengangkat kedua jempolnya.


Aurel memiringkan kepalanya gemas. "Pengin banget deh punya pacar kek dia."


"Sama Kak, Vina rela kok nikah muda kalau sama dia," ucapnya disertai tawa.


Kedua gadis yang memokuskan perhatian di layar televisi pun kompak menoleh ketika saluran televisi beralih ke acara kartun. Didapatinya Danial tengah berdiri di belakang mereka sembari memegang remote control yang baru diambilnya dari meja kaca.


"Kenapa?" tanya Danial memasang tampang tak berdosa. "Baru liat cowok ganteng?"


"Becandanya gak lucu!" kata Aurel.


"Ayolah Kak. Acaranya lagi seru," rengek Davina mengharap belas kasihan kakaknya.


"Apaan nonton acara gak berfaedah kayak gitu, mendingan juga nonton ini." Danial baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia berusaha fokus pada acara kartun di layar televisi.


"Tapi gak Upin Ipin juga kali Kak."


"Davina adikku yang paling cantik," ucapnya penuh penekanan, "Daripada lo liatin penyanyi yang modal ganteng doang lebih baik lo belajar yang bener biar bisa banggain kakak lo yang ganteng ini!"


"Kakak aja sana yang belajar, supaya gak remedi melulu."


"Dih, kok ucapan lo tiba-tiba jadi tajam. Diajarin sama siapa?" senyum penuh ejekan terlihat samar di wajah pria itu. Melalui ekor matanya ia melirik Aurel telah mengumbar air muka tak suka. "Diajarin sama Aurel ya?" sambung Danial pedas.


Sang adik mengerutkan keningnya, "Kok bawa-bawa Kak Aurel, kenyataannya kan nilai kakak udah anjlok dari sononya."


Aurel merasa tenggorokannya diserang oleh rasa getir. Ia bahkan mencoba untuk diam saat Danial seenaknya mengganti channel televisi. Tetapi pria itu tetap saja mencari cara menghadirkan gelak emosinya.


Sabar Rel. batin Aurel.


Secara spontan tangan milik Aurel terangkat dan mengelus dadanya pelan. Percuma juga meladeni Danial. Selain tidak bermanfaat, meladani pria itu juga akan menguras banyak tenaga. Daripada dibikin stress lebih baik Aurel diam saja.


Kebetulan saat Aurel mencoba menahan luapan emosinya, Nakula datang dengan setelan rapi. Langsung pada intinya Nakula menyampaikan apa yang hendak dikatakannya pada Aurel. "Rel kalau ada yang nyariin Kakak suruh langsung masuk aja ya!"


"Bukannya Kakak mau kerja tugasnya di luar?" Aurel bertanya. Mengingat sejam yang lalu Nakula pamit keluar, katanya ada tugas yang mesti diselesaikan.


"Gak jadi ngerjain tugasnya di luar. Oh ya, Kakak ke kamar dulu ya! Ntar kalau teman Kakak udah datang jangan lupa panggil Kakak di kamar."


"Siap!"


...●●●●● ...


DANIAL telah naik ke lantai atas ketika Davina dan Aurel melanjutkan talk show yang sempat terjeda saat Danial mengganti channel sehingga tampak kartun Upin Ipin di layar kaca berukuran empat puluh inchi.

__ADS_1


Saat sedang asyiknya menonton, samar-samar suara ketukan pintu terdengar sampai ke indra pendengaran keduanya. Aurel bergerak cepat menurunkan volume televisi sambil memasang pendengaran baik-baik, takutnya di menit sebelumnya mereka hanya salah dengar.


"Kayaknya tamu kak Nakula udah datang. Biar Vina yang bukain." Jelas Davina tak lupa menawarkan bantuan.


"Gak usah. Biar aku aja yang bukain." Aurel bangkit membiarkan Davina menikmati tontonannya.


Aurel bersenandung manja sambil melangkah pendek-pendek menuju pintu utama. "Bentar," teriaknya lagi saat suara ketukan pintu diiringi suara seseorang yang menyerukan nama Nakula menyapa gendang telinganya.


"Nakulanya ada?" tanya pria itu bertepatan saat Aurel membuka pintunya.


"Ada kok, dia ada di dalam. Silakan masuk, biar saya panggilin dulu."


Saat teman Nakula melangkah masuk ke dalam, Aurel baru saja menyadari sesuatu.


"Kak Denis," Aurel berucap spontan.


"Eh elo."


"Kakak temannya Kak Nakula?" tanyanya.


Mengangguk sekali, Denis pun mengembalikan dengan sebuah pertanyaan. "Lo adeknya Nakula, kan?"


Giliran Aurel yang menganggukkan kepalanya.


"Kakak duduk aja dulu, biar saya panggilin Kak Nakulanya."


Setelah memanggil Nakula di kamarnya, Aurel lanjut menuju dapur. Berhubung mamanya masih ke kondangan jadi Aurel berinisiatif untuk membuatkan minum untuk Nakula dan Denis.


Tak lagi sendirian, selang beberapa menit Davina datang untuk memeriksa kesibukan Aurel.


"Ini lagi buatin minum untuk Nakula sama temennya."


"Vina bantuin ya Kak," tawar Davina menggamit lengan Aurel menggunakan nada memohon.


"Ya sudah, kalau gitu kamu ambil sirup sama sendok ya!"


"Siap Kak."


Aurel tidak banyak bicara saat menyiapkan minuman. Begitupun dengan Davina yang kini terlihat khidmat memotong brownis jadi beberapa bagian dengan pisau. Suasana dapur bisa dibilang hening sebelum kedatangan Danial si manusia annoying.


"Gue juga pengin sirup." pinta Danial.


"Bikin sendiri," balas Aurel. Dia masih saja sibuk melarutkan air dengan sirup.


"Davina tolong bikinin minum!" perintah Danial kepada Davina setelah mendapat penolakan dari orang pertama.


"Kakak gak liat kalau Davina lagi sibuk motong-motong kue. Bikin sendiri bisa, kan?"


"Betul banget tuh Vin," celetuk Aurel membenarkan.


"Diem lu," sensi Danial. Tentu saja ditujukan untuk Aurel yang baru saja mengejeknya.


...●●●●● ...


"ADEK LO MANIS JUGA KUL," kalimat itu mengiringi kegiatan Aurel meletakkan minuman ke atas meja. Pujian yang mengarah padanya membuat kedua pipinya jadi merah padam.


Aurel bisa saja memekik memperdengarkan perasaan kelewat bahagianya setelah mendapat pujian dari orang yang selama ini mencuri sebagian hatinya.

__ADS_1


Aurel ingat sekali waktu masih kelas sepuluh dia sering menatap Denis dari kejauhan sambil membayangkan dirinya berpacaran dengan pria itu. Tetapi belum sampai ke tahap dekat, takdir malah memisahkan mereka.


Dengan berubahnya status Aurel dari kelas sepuluh ke kelas sebelas, itu artinya Denis yang tadinya berstatus siswa kelas dua belas telah resmi menghakhiri masa SMA-nya.


Saat menamatkan pendidikan di SMA Angkasa Raya tak ada lagi kabar tentang pria itu. Bahkan untuk mengetahui jurusan dan di kampus mana ia melanjutkan pendidikan menjadi hal tabu untuk diketahui Aurel. Fakta yang sedikit menyulitkannya adalah Denis tipikal orang yang menutup diri dari sosial media.


Leana saja yang sudah sangat berpengalaman di bidang stalker memilih menyerah ketika Aurel memerintahkannya untuk mencari info tentang Denis. Katanya Denis terlalu nutup diri, Leana sudah berusaha keras mencari sosial medianya tetapi nihil.


Aurel percaya jika memang Tuhan menjodohkannya dengan Denis, maka mereka akan disatukan dengan cara apapun. Seperti halnya saat ini, Aurel tak pernah membayangkan jika Denis akan bertamu di rumahnya sebagai teman dari kakaknya, Nakula.


Dengan dalih tak mau mengganggu Nakula dan Denis yang sedang mengerjakan tugas. Aurel pun pergi membawa nampannya ke dapur sebelum lanjut menghampiri tangga penghubung ke kamarnya.


Masih di depan kamarnya tetapi tangan miliknya sudah sangat gatal untuk mengambil sesuatu dari sakunya. Perasaan menggebu-gebu itu tak mampu membuatnya menahan diri untuk tidak mengambil dan mengetuk layar ponselnya.


Nama Leana terpampang di layar ponsel saat ia memilih menekan tombol hijau lalu membawa ponselnya ke depan telinga kanannya.


"Halo," Aurel memulai dengan antusias saat sambungan telepon telah terhubung.


Orang di seberang sana menguap lebih dulu sebelum menjawab, "Iya Rel, ada apa?"


"Gue punya kabar penting!"


"Apaan?"


"Lo masih ingat kak Denis kan?"


"Denis yang lo suka pas kita masih kelas sepuluh kan?" Leana memastikan.


"Iya."


"Kenapa sama dia?"


"Sekarang dia ada di rumah gue."


"What?" heboh Leana membuat Aurel refleks menjauhkan ponsel di telinganya saat mendengar pekikan gadis di seberang sana. "Serius lo?"


"Dua rius malah."


"Kok bisa sih?"


"Pokoknya lo tidur nyenyak, gue bakal ceritain semuanya sama lo pas di kelas."


"Etdah saking senengnya ketemu sama Denis sampai-sampai lo lupa kalo besok minggu."


"Oh iya, lupa. Ya udah deh, kalau gitu lo nunggu sampai senin." Tandas Aurel.


Pastinya Leana bakal mengajukan protes karena digantung terlalu lama. Tak mau mendengar ocehan sahabatnya sehingga Aurel mencari cara aman dengan memutus sambungan telepon secara sepihak.


Benar saja, setelah sambungan telepon diputus oleh Aurel. Leana balik menelponnya. Membaca nama sahabatnya di layar membuat Aurel mesem-mesem.


****** kan lu jadi kepo! Batin Aurel.


Sisi jahat Aurel mencuat ketika tangannya mengetuk ponsel, me-reject upaya sambungan telepon yang dilakukan sahabatnya.


...~To be Continued~...


...●●●●●...

__ADS_1


__ADS_2