
...NEW DAY...
...(HARI BARU)...
...●...
...●...
...●...
SETELAH pelajaran olahraga resmi berakhir. Aurel mengajak Bagas—yang kebetulan masih duduk di tribune untuk mengikutinya ke UKS. Bagas yang sempat memberi penolakan pun terpaksa harus tunduk pada Aurel yang terkesan memaksanya. Walau bagaimana pun Bagas harus membersihkan lukanya agar terhindar dari yang namanya infeksi. Itulah yang Aurel katakan saat mencoba memaksa Bagas ikut bersamanya.
Di jalan dari lapangan basket menuju ke UKS keduanya banyak berbicara. Selain saling memperkenalkan diri, mereka juga berbagi pengalaman-pengalaman menarik selama bersekolah di SMA Angkasa Raya. Dalam waktu sesingkat itu Aurel merasa bahwa Bagas memang baik dan gampang akrab dengan orang baru. Itu yang Aurel rasakan sekarang. Tidak tahu apakah penilaiannya terhadap Bagas ke depannya bakalan berubah atau tetap sama.
Setibanya di UKS yang pertama kali Aurel perintahkan pada Bagas adalah menyuruhnya duduk di kursi sebelah ranjang. Sementara dirinya disibukkan dengan membawa langkah kakinya mendekati lemari, mencari sebuah kotak dari dalam sana. Menemukan benda yang dicari, gadis itu pun menyegerakan mengambil kursi lain lalu ikut terduduk berhadap-hadapan dengan Bagas.
"Sini biar gue yang buka!" Bagas mengambil alih obat merah dari tangan Aurel begitu dia tersadar bahwa gadis itu kesulitan membukanya. Baru setelah ia berhasil membukanya, botol berisi obat merah itu pun dikembalikan ke tangan Aurel.
Bagas mengamati gadis yang sedang mengambil kapas dari kotak yang sama tempatnya mengambil obat merah sebelumnya. Dengan cekatan gadis bernama Aurel itu menetesi cairan berwarna merah darah tersebut di sebuah kapas lalu mengarahkannya ke luka Bagas.
"Awww, sakit," Bagas meringis meluapkan rasa perih begitu Aurel tak sengaja menekan lukanya. Luka itu benar-benar perih sampai Bagas kesulitan untuk menahan sakitnya.
"Maaf, maaf," ujar Aurel. "Bentar lagi selesai kok."
"Pelan-pelan kalau bisa," ujar Bagas.
"Luka segini aja udah ngerasa kesakitan."
"Caba aja lo yang ada di posisi gue sekarang. Gue gak yakin lo bisa nahan rasa sakitnya."
"Iya deh, maaf."
"Gak usah dibungkus ya," saran Bagas.
"Apanya?"
"Ya, lukanya lah, Rel. Ya kali gue nyuruh lo ngebungkus nasi padang."
"Gak usah ngegas juga, Bagas. Pantesan aja orangtua lo ngasih nama Bagas, soalnya hobi lo nge-gas. Lagian apa salahnya sih kalau lukanya ditutup pakai plester luka?"
"Risih aja padahal lukanya gak parah-parah amat. Oh iya, karena bel istirahat udah bunyi, kita ke kantin aja yuk!" ajak Bagas, "Sekalian juga lo cerita di sana yang pengin lo bahas sama gue."
__ADS_1
Aurel menganggukkan kepalanya setuju. Lagian tidak enak juga lama-lama berduaan dengan Bagas di UKS yang sedang sepi. Bisa-bisa orang akan salah menafsirkan saat tak sengaja mendapati mereka di sana. Padahal tujuan mereka ada di ruangan ini semata-mata untuk mengobati luka Bagas saja.
"Pokoknya hari ini gue yang traktir. Anggap saja sebagai bentuk terima kasih karena lo udah baik ngebantu gue bersihin lukanya."
"Gak usah."
"Tapi gue udah telanjur ngomong pengin traktir lo."
"Terserah lo aja deh kalo gitu."
"Oke. Gue anggap lo setuju kalo gue yang bakal traktir lo hari ini." Bagas hendak berdiri namun ia merasa aneh. Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. "Kok gue ngerasa kayak ada sesuatu yang sembunyi dibalik gorden itu sih? Atau cuma perasaan gue aja? Kok tiba-tiba gue jadi merinding kayak begini," ungkap pria itu.
Makin ke sini Aurel semakin yakin. Bagas memang berbicara jujur tentang makhluk halus yang mengejarnya sewaktu di lapangan tadi. "Gas. Kita langsung ke kantin aja yuk, keburu bel nih!" dengan sangat terpaksa Aurel mengalihkan topik pembicaraan. Memang benar, dibalik gorden ada sosok anak kecil berambut panjang. Aurel cuma tak mau melihat Bagas ketakutan setelah mengetahui kenyataan tentang makhluk yang memang sedari tadi ada di sana memperhatikan mereka.
...●●●●●...
"SEJAK KAPAN LO BISA NGELIAT MEREKA?"
Bagas yang baru saja menghabiskan makanannya mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia tak mengerti ke mana arah pertanyaan Aurel saat ini.
"Entah otak gue yang buntu atau gimana yang jelas gue gak bisa nangkap arah pertanyaan lo Rel, 'mereka' yang lo maksud itu siapa?"
"Makhluk yang ngejar-ngejar lo pas di lapangan tadi."
"Berarti lo baru bisa ngeliat hal-hal aneh kek gini hari ini?" tanya Aurel yang diangguki oleh Bagas. "Gue bisa ngerti. Awalnya pasti akan terasa sulit buat lo, tapi lama-lama lo bakal terbiasa kok ngeliat mereka."
"Tunggu sebentar. Dari cara lo cerita barusan, gue bisa nangkep sesuatu. Lo ternyata bisa ngeliat makhluk halus? Lo indigo?"
Aurel mengangguk lemah, "Sejak lahir gue udah bisa ngeliat mereka. Oh iya, soal di UKS tadi sebenarnya ada sosok anak kecil yang ngeliatin kita dari balik gorden. Sempet kaget sih gue karena lo bisa ngerasain kehadiran dia."
"APA?" kaget Bagas. "Kok bisa sih gue ngerasain kehadiran dia? Setahu gue selama ini hidup gue normal-normal aja tuh. Gue bisa ngejamin bahwa kain putih terbang tadi merupakan kali pertama gue ngeliat gini-ginian."
"Bukan hanya ngerasain. Nantinya lo juga bakal ngeliat mereka dengan jelas. Bahkan kain putih yang ngejar lo di lapangan pun lambat laun bakal semakin jelas wujudnya. Asal lo tahu aja. Sosok kain yang ngejar lo itu sebenarnya sosok kuntilanak yang memang udah lama jadi penghuni sekolah ini."
Berkali-kali Bagas meneguk salivanya. Sulit baginya tuk menerima kenyataan bahwa dia memiliki kemampuan melihat mereka yang asalnya dari dunia lain. Hantu berwujud kain yang menyerang saja sudah lebih dari kata menyeramkan. Gimana kalau hantu berwujud kain itu berubah menjadi kuntilanak? Bagas tidak sanggup bahkan hanya sekadar membayangkannya saja.
"Tapi gue ngerasa aneh lo, Gas. Kenapa tiba-tiba lo bisa ngeliat yang aneh-aneh. Dalam waktu dekat lo pernah operasi mata gak?" tanya Aurel. Ia menebak itu karena dulunya Danial juga mampu melihat makhluk tak kasat mata tepat setelah dia melakukan opersi mata. Barangkali hal serupa juga berlaku pada Bagas. "Kali aja lo baru aja donor mata terus pendonornya bisa ngeliat hantu."
Tanpa berpikir lama Bagas menjawab dengan sebuah gelengan cepat. Tak puas hanya dengan gerakan kepala, dia juga melepaskan beberapa patah kata, "Enggak tuh."
"Gen dari bokap sama nyokap lo kali. Kali aja salah satu di antara mereka ada yang bisa ngeliat hantu."
__ADS_1
"Enggak ada."
Aurel memijit keningnya perlahan mencoba meredam rasa sakit yang membuat kepalanya sedikit nyut-nyutan. Memecahkan persoalan Bagas sama sulitnya dengan memecahkan soal matematika. "Itu belum ada apa-apanya loh, Gas. Di sekolah aja ada banyak hantu yang perawakannya menyeramkan."
"Terus gue harus gimana?"
"Mau enggak mau lo harus ngumpulin keberanian dengan nerima kenyataan kalau mereka yang disebut 'hantu' juga ada di dunia ini."
"Gimana kalau gue pura-pura gak ngeliat mereka aja? Pokoknya tiap kali papasan sama mereka gue santai aja," ide Bagas.
"Percuma lo nempuh cara itu Gas. Insting mereka gak selemah yang lo pikirin. Walaupun lo pura-pura gak natap mata dia sekali pun, mereka tetep tahu kalau lo bisa ngeliat mereka."
"Emang gak ada cara lain Rel? sekadar info aja nih buat lo, nonton film horror aja gue masih sering nutup mata dan kuping. Padahal udah jelas kalau film horror hantunya boongan. Gimana kalau misalnya gue ketemunya sama hantu beneran?"
"Satu-satunya cara yang paling tepat sih lo harus beraniin diri buat ngelawan rasa takut."
"Coba deh pikirin, gimana kalau misalnya hantunya malah ngecekik leher gue?"
"Hantu itu ada di antara batas kesadaran kita. Dibilang nyata enggak. Dibilang enggak, tapi nyata. Sederhananya kayak gini, kita memang bisa ngeliat mereka, tapi dia gak bisa nyakitin kita seperti hantu yang selama ini lo liat di film-film." Bagas menatap dengan intens Aurel yang menjelaskan. Setiap kata yang disempurnakan jadi kalimat diserapnya secara baik-baik lewat indra pendengarannya. "Lo gak perlu khawatir, tiap kali lo ketemu sama mereka lo harus belajar beraniin diri. Semakin lo takut, beberapa hantu yang hobi ngeganggu bakal semakin senang dengan itu."
Terdengar embusan napas kasar dari Bagas. "Kok bisa sih Tuhan ngasih cobaan berat kek gini ke gue," Bagas menjambaki rambutnya merasa frustasi.
"Gak boleh nyerah dulu lah. Kalau lo nyerah duluan, sama aja kalau lo udah ngalah duluan sebelum perang itu terjadi." Aurel mengatakannya. "Lo bukan satu-satunya kok yang baru bisa ngeliat hantu di usia sekarang. Dulu aja Dan..." Aurel memenggal kalimat. Dia hampir saja menyebut nama Danial.
"Kok gak dilanjutin kalimatnya?"
"Jadi gini, dulu pernah ada orang yang gue kenal. Sebut saja namanya Mawar. Dia tiba-tiba bisa ngeliat makhluk halus setelah dia ngelakuin operasi mata."
"Lah kok bisa cuma karena operasi mata doang bisa bikin orang ngeliat makhluk halus?" rasa penasaran yang terlalu menggebu-gebu membuat Bagas tak sadar menginterupsi penjelasan Aurel.
"Soalnya si pendonor mata ternyata punya kelebihan ngeliat makhluk tak kasat mata. Makanya si Mawar ini ikut bisa ngeliat makhluk halus setelah operasinya berjalan dengan lancar."
"Dari apa yang lo sampein ke gue kayaknya berat juga ya tiba-tiba dikasi karunia ngeliat mereka yang asalnya dari dimensi lain."
"Tenang aja, gue yakin lo bakal ngelewatin itu semua. Sambil lo berusaha ngeberaniin diri dengan hantu, lo juga harus mencari tahu kira-kira apa penyebab sehingga lo bisa ngeliat mereka!"
Tanpa mereka sadari di ujung sana Danial sedang menatap ke arah mereka dengan tampang sulit dimengerti maksudnya. Tiba-tiba perasaan kesal yang berpadu dengan perasaan marah menyerang dirinya bersamaan dengan netra miliknya yang menangkap Aurel sedang duduk dengan pria lain.
Secepat itukah lo ngelupain gue, Rel? tanya Danial pada dirinya sendiri melalui batin. Terlihat pria itu meneguk salivanya kuat merasakan getir. Tadinya dia datang ke kantin dengan tujuan ingin makan, namun setelah melihat Aurel sedang asyik ngobrol dengan pria lain entah kenapa malah membuat Danial hilang nafsu makan.
Danial membatalkan niatannya untuk menyantap bakso. Pria itu menghampiri rak berisikan berbagai jenis roti. Dia mengambil salah satu secara acak. Tak lupa dia juga membeli air putih sebelum akhirnya dia terburu-buru meninggalkan kantin menuju ke kelas.
__ADS_1
...-To be Continued-...