MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
22. WHEN MY FRIEND FALL IN LOVE


__ADS_3

...WHEN MY FRIEND FALL IN LOVE...


...(KETIKA TEMANKU SEDANG JATUH CINTA)...


...●...


...●...


...●...


“EH LEANA. SILAKAN MASUK!” Sarah sementara sibuk menyiapkan sarapan nasi goreng untuk seluruh penghuni rumah saat Leana datang bertamu.


Sekarang jam di dinding masih menunjukkan pukul enam lebih beberapa menit.


“Aurelnya ada Tan?” tanya Leana.


“Ada kok. Kamu naik aja ke kamarnya, sepertinya dia masih tidur. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu datang sepagi ini? Ada hal penting ya yang mau kamu sampaikan ke Aurel?” tanya Sarah.


“Eh iya Tan, Leana lagi pengin ngebahas masalah pelajaran yang bakal dikumpulin besok pagi.” Dusta Leana.


Leana tersenyum sebentar sebelum ia melangkah masuk melewati Sarah yang sedang menggenggam gagang pintu.


Leana tak pernah sesemangat ini saat hari minggu. Biasanya ia masih jadi tim rebahan sampai jam sepuluh ditunjuk oleh jarum pendek.


Rasanya sedikit berlebihan. Leana sengaja menahan kantuk setelah melakukan ritual malam minggunya menonton drama Korea.


Semalam Aurel menelpon sekaligus memberinya kalimat menggantung. Aurel bahkan sempat menegaskan akan memberitahukan padanya pas di sekolah.


Daripada menunggu lama Leana lebih memilih untuk datang saja ke rumah Aurel.


“Rel!” panggilnya dengan nada antusias setibanya di depan pintu kamar.


Hening. Tidak ada respon dari dalam. sempat membuat gadis itu mengernyit bingung selama beberapa saat.


Berhubung kamarnya dalam kondisi tidak terkunci, jadi Leana langsung masuk dan menghampiri Aurel yang masih menutup seluruh permukaan tubuhnya dengan selimut tebal.


“Astaga Rel, udah jam enam masih aja tidur. Bangun woy!”


Mengembuskan napas pelan tangan Leana pun terulur dan menarik selimut tebal yang menutup permukaan tubuh sahabatnya.


Leana seketika cengo! Ujung selimut yang digenggamnya kuat segera dihempaskannya kembali.

__ADS_1


“Danial, kok bisa?” ucapnya refleks lalu membekap mulutnya sendiri.


Tak pernah terpikirkan Danial adalah sosok dibalik selimut itu. Bagaimana bisa pria itu menginap di rumahnya Aurel?


Perasaan kantuk dalam diri Leana lenyap seketika.


Sejauh ini ia masih mengerjap-erjap tidak percaya. Gadis itu lantas mengambil langkah mundur secara perlahan sebelum Danial menyadari kehadirannya.


“Ah, sial,” Upayanya mengendap-endap jadi ambyar. Untuk kesekian kalinya semesta tidak mau berpihak padanya.


“Leana?” Danial kalang kabut segera bangkit meninggalkan tempat tidur. Ekspresinya terlihat menyamai Leana waktu pertama kali mendapati wajah Danial saat menarik ujung selimut, “Lo ngapain di sini?” sambung Danial yang kini telah bangkit dengan muka paniknya.


“Yang ada tuh gue yang nanya sama lo, kenapa bisa ada di sini.” Leana menyahut.


Danial makin gugup saja. Tidak seorangpun dari teman kelasnya yang tahu tentang kedekatan keluarga Danial dan keluarga Aurel. Mereka hanya tahu tentang Danial dan Aurel yang sering berantem layaknya kucing dan tikus.


“Tuh mata dijaga ya!” peringat Danial. Saat pria itu diam menahan rasa gugupnya Leana malah mengambil kesempatan melirik tubuhnya yang hanya dibalut oleh celana bahan, tubuh bagian atasnya dibiarkan tanpa sehelai benang. “Fokus ke muka gue bisa, gak?” tanya Danial sarkastik. Meraih bantal, pria itu menutup perut kotak-kotaknya dari jangkauan mata jelalatan Leana.


Leana menyentak. Ia juga tak habis pikir kenapa matanya malah betah memperhatikan perut kotak-kotak milik Danial. Ibarat ikan yang ketemu umpan Leana tak mampu menahan godaan bisikan setan di telinganya. Alhasil mata yang harusnya fokus ke wajah Danial malah berakhir di perut kotak-kotak milik pria itu.


Giliran Leana yang diserang rasa gugup yang tentunya jadi alasan kuat dibalik kehadiran suara dentuman di jantungnya.


Sekarang dia tak peduli lagi dengan jawaban atas pertanyaannya tentang Danial yang tiba-tiba nginap di rumah Aurel. Keinginannya saat ini lebih untuk buru-buru menghilang dari ruangan itu.


“Emang iya?” kening Danial mengerut. Ia tak mendengar suara Aurel yang menyerukan nama Leana seperti yang dikatan oleh Leana barusan.


“Gue keluar dulu ya!” mempercepat langkahnya Leana meninggalkan ruangan kecil tersebut.


Mengecek kamar sebelahnya lagi Leana lebih dulu memeriksa apakah di dalamnya ada Aurel atau tidak. Sekarang sudah benar, ia segera masuk menghampiri Aurel yang tengah mengembalikan nyawa setelah terlelap selama kurang lebih sepuluh jam.


“Gue ada dua pertanyaan untuk lo,” dengan rambut yang masih acak-acakan Aurel menyipitkan matanya begitu Leana duduk di pinggiran ranjangnya.


Leana diam mengipas-ngipasi mukanya dengan telapak tangan. Hal itu membuat Aurel sedikit merasa aneh, pasalnya AC kamarnya masih dalam keadaan hidup. Apa mungkin Leana masih kegerahan dengan suhu enam belas derajat celcius?


“Pertama kenapa lo datang ke rumah gue sepagi ini? yang kedua kenapa lo keringatan kayak gitu, lo abis liat penunggu rumah gue?” cecar Aurel.


“Gue datang pagi-pagi karena penasaran sama cerita lo terkait kak Denis yang semalam jadi tamu lo.”


“Serius cuma gara-gara itu lo sampai datang sepagi ini?”


Mengangguk sekali, pergerakan sudut bibir Leana tak kalah cepat memberikan jawaban. “Lo kan tau sendiri kalau gue gak mau ngerasain kepo yang berkelanjutan.”

__ADS_1


“Terus kenapa sampai keringatan kek gitu?” tanya Aurel. “Lo gak liat hantu kan?” imbuhnya memastikan argumennya tak salah.


“Bukan hantu, tapi lebih kepada keajaiban yang ketemu sama mata gue.”


“Keajaiban? Maksud lo?”


“Gue kan niat awalnya mau ketemu sama lo, tapi gue malah salah masuk kamar.”


Mata Aurel melebar dalam rentan waktu sepersekian detik, “Lo udah ketemu sama Danial?”


“Bukan ketemu lagi, gue bahkan nyaksiin dengan mata kepala sendiri badan kotak-kotaknya. Oh iya, kenapa dia bisa nginap di rumah lo Rel?” nada antusiasnya jadi melambat saat gadis itu meluncurkan kalimat tanya.


“Lo jangan bilang ke anak lain ya tentang ini!” suruh Aurel terlihat memohon.


“Enggak bakal. Cuma gue ngerasa aneh aja tiba-tiba lo serumah sama dia.”


“Sebenarnya bokap gue sama bokapnya Danial tuh temenan baik. Berhubung orangtuanya dia lagi keluar kota jadi Danial sama adeknya nginep di sini untuk sementara waktu.” Aurel menjelaskan secara detail menggunakan kalimat yang paling sederhana.


“Lo yakin kan Rel, gak suka sama Danial setelah dia nginep di rumah lo?”


“Cih, ya kali gue suka sama manusia kayak dia.”


“Yakin?”


“Seratus persen yakin.”


Tiba-tiba saja Leana mengangkat tangannya, menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga. Gadis itu sedang dalam mode sok cantik.


“Sawan lu?” spontan Aurel mengucapkannya. Tak biasanya Leana bertingkah aneh seraya memperlihatkan senyum yang justru membuat sahabatnya tak mampu menahan diri untuk tidak memperlihatkan raut perpaduan antara ngeri dan jijik.


“Bukan sawan Rel, gue lagi jatuh cinta.”


“Jatuh cinta sama siapa?”


“Danial.”


“Lo harus ke psikiater An. Lo udah dibutain sama badan kotak-kotaknya Danial.”


“Bukan karena badan kotak-kotaknya Rel. Gue suka sama dia tuh karena…” Leana berdalih. Belum sampai ke tahap menyelesaikan kalimatnya, tetapi mulutnya harus membungkam lantaran Aurel memilih bangkit dari duduknya.


Tak lama setelah bangkit, Aurel pun menggerakkan bibir merespon ucapan sahabatnya yang sedang dimabuk cintanya Danial. “Semerdeka lo aja deh An.” Aurel berjalan pendek-pendek menuju toilet, bermaksud membereskan rambut acak-acakannya sekaligus melakukan rutinitas paginya membersikan mukanya dengan sabun.

__ADS_1


...~To be Continued~...


...●●●●●...


__ADS_2