MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
71. IT'S NOT FUNNY "PART 3"


__ADS_3

...IT'S NOT FUNNY "PART 3"...


...(INI TIDAK LUCU "BAGIAN 3")...


...●...


...●...


...●...


AUREL tidak bisa berpikir jernih saat ini. Tanpa mengurangi kecepatannya dalam berlari gadis itu membelah koridor serta tangga yang menghubungkan ke lantai dua tempat gudang itu berada.


Pokoknya tidak ada hal lain yang membayangi pikirannya saat ini kecuali Bagas. Gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana jika pria itu bertatap muka secara langsung dengan makhluk menyeramkan penghuni gudang.


Sesampai di depan gudang, Aurel mengepal tangannya kuat. Lalu digunakannya tangan mengepal itu sebagai alat tuk menggedor pintu. "Bagas, lo ada di dalam kan?"


Tidak ada jawaban dari yang punya nama padahal Aurel telah menyerukan namanya dengan suara yang lantang.


"Bagas, lo baik-baik aja, kan?" Karena masih belum mendapatkan sebuah jawaban, Aurel pun memutuskan menggunakan tenaganya untuk membuka pintu.


Begitu pintu sudah dalam keadaan terbuka lebar, sosok makhluk di sana seketika menghilang seolah takut dengan kehadiran orang lain.


"Bagas," selama beberapa saat Aurel membeku di tempat layaknya sebuah manekin. Telapak tangan kanannya menyumpal bibirnya yang lebih dulu terbuka lebar karena terkejut.


Aurel menemukan Bagas sedang meringkuk menjadikan tangannya sebagai tameng. Ketakutan sedang bersarang di tubuh pria itu.


Dengan perasaan khawatir Aurel mengambil posisi jongkok. "Gas," sentuhan tangan Aurel membuat Bagas menyentak kaget.


"Jangan sentuh Saya!" panik Bagas. Dia  mengira sentuhan barusan berasal dari makhluk menyeramkan tadi. "Saya gak ada niatan sedikit pun untuk ganggu Anda. Saya mohon menyingkir dari saya, biarkan saya tetap hidup."

__ADS_1


"Tenang Gas, ini gue, Aurel."


Bagas menyingkirkan tangan yang sebelumnya dia jadikan alat untuk menghindarkannya dengan kontak mata si hantu berwujud perempuan. Melihat Aurel di depannya, segera pria itu berhambur memeluk gadis itu.


Aurel bisa merasakan ketakutan Bagas saat merasakan sekujur tubuh pria itu yang bergetar hebat. "Tenang Bagas! Gue ada di sini kok nemenin lo. Lo tenangin diri."


"Sumpah Rel gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri, di sana ada hantu yang gak punya badan. Terus gue juga ngeliat organ dalam wanita itu yang menggantung." Tangan milik pria itu bergetar menunjuk ke arah di mana sosok itu muncul sebelumnya. Namun dia tidak menemukan apa pun di sana. Sosok menyeramkan itu telah menghilang.


Bagas mengembalikan fokus perhatiannya di wajah Aurel. "Sumpah Rel gue gak bohong sama lo. Tadinya gue emang ngeliat makhluk menyeramkan di sebelah sana. Matanya berwarna merah dan baunya rada-rada amis gitu."


"Gas—" Danial urung melanjutkan kalimatnya. Kedua sisi bibirnya menjadi terkatup merespon apa yang disaksikan oleh netranya. Sepertinya dia datang disaat yang tidak tepat. Tujuannya datang ke sini semata-mata untuk mengecek kondisi Bagas tetapi yang ditemukannya justru keadaan Bagas yang sedang menggenggam tangan Aurel.


Danial meneguk ludah secara kasar. "Lo gak apa-apa kan Gas?" pertanyaan itu tergulir dari bibir Danial ketika jaraknya dengan Bagas kian dekat.


Bagas melepaskan telapaknya yang menggenggam kuat tangan Aurel, kemudian pria itu bangkit dari duduknya diikuti oleh Aurel yang melakukan hal yang sama.


"Soal tadi gue minta maaf ya."


Mengingat Danial yang punya sisi kekanak-kanakan, sepertinya sah-sah saja jika Aurel menyangkut pautkan kejadian tadi dengan permohonan maaf yang dilantunkan oleh Danial.


"Gue ngaku, gue yang salah dalam permasalahan ini. Tapi ini tuh cuma bercanda." Danial mengakui sekaligus berdalih di waktu yang bersamaan.


Plak!


Satu buah tamparan keras diberikan Aurel pada pipi bagian kanan milik Danial. Embusan napas dari perempuan itu sedang memburu. "Bercanda lo keterlaluan tau gak!"


Danial memegangi bekas tamparan mantan pacarnya itu. Perasaannya sedang campur aduk. Rasa sakit setelah menyaksikan Bagas dan Aurel saling menautkan tangan masih dirasakannya, dan sekarang rasa sakit itu bertambah setelah Aurel menjatuhkan satu buah tamparan di area pipinya.


"Menurut lo lucu setelah lo bikin anak orang katakutan kayak gini?" tuntut Aurel. Gadis itu tidak habis pikir akan tingkah kekanakan Danial. "Sadar Dan! Lo juga pernah ada di posisi Bagas yang sekarang. Dulu lo juga ketakutan setengah mati pas kuyangnya nampakin dirinya di depan lo. Harusnya lo tuh berpikir dua kali sebelum bertindak kayak gini."

__ADS_1


Saking marahnya. Aurel langsung meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan dulu dengan Bagas yang masih mencoba mengatur sedemikian rupa agar embusan napasnya kembali ke mode normal. Dan sekarang hanya ada Danial dan Bagas di ruangan itu.


"Maafin gue ya. Gara-gara gue lo sama Aurel jadi debat kayak tadi." Tampang merasa bersalah tercetak di wajah Bagas, padahal kesalahan bukan bersumber dari dirinya.


"Kenapa malah lo yang minta maaf? Aurel bener kok kalau gue emang salah. Gue terlalu kekanakan karena menjadikan hal seserius ini sebagai bahan candaan. Bahkan menurut gue tamparan tadi belum cukup. Kalau lo mau hajar gue silakan aja. Gue gak bakal ngelawan kok."


"Enggaklah Bro!" Bagas menepuk-nepuk punggung milik Danial seakan memberi dorongan semangat padanya. "Setidaknya lo udah sadar sama kesalahan lo, dan yang terpenting lo juga udah minta maaf sama gue. Tuhan aja pemaaf, masa gue yang masih banyak dosa ini gak bisa maafin lo," jelas Bagas diikuti candaan di akhir kalimat.


"Bener kata Aurel, harusnya gue berpikir dua kali sebelum jahilin lo. Sekali lagi gue minta maaf." Meskipun dengan kenyataan Bagas telah memaafkan, tetapi perasaan bersalah masih saja mendiami diri Danial.


Sepanjang jalan Danial dihantui oleh penyesalan. Seharusnya dia tidak melakukan itu pada Bagas sehingga menghadirkan kemarahan pada diri Aurel. Bahkan ketika sampai di kelas dia bisa melihat kemarahan lewat kilatan mata Aurel saat tak sengaja mata mereka beradu.


"Sayang," suara cempreng itu bersumber dari gadis berambut ombre yang baru datang dan menggamit lengan milik Danial. Ya, dia adalah Maurine.


"Kamu dari mana aja sih, aku cariin ke mana-mana tapi gak ketemu."


"Aku dari UKS," bohong Danial. Ia berpikir kebohongan jauh lebih baik diungkapkan ketimbang harus berselisih paham jika Danial berbicara jujur dengan mengatakan dia menemui Aurel dan Bagas.


"Ada apa? Kamu terluka?" panik Maurine sembari memeriksa permukaan wajah Danial.


Danial ikut mengudarakan tangan. Dia menjauhkan tangan milik Maurine yang sedang menjamah wajahnya. "Aku enggak kenapa-napa kok."


"Oh iya, saya beliin ini di kantin buat kamu," sebotol minuman kopi diletakkan oleh Maurine ke atas meja milik Danial.


"Enggak perlu," tolak Danial, "Saya kurang begitu suka minum kopi," imbuhnya disertai alasan.


"Terus sekarang kamu mau ke mana?" Sebuah pertanyaan segera menyusul sesaat setelah mata Maurine menemukan Danial bangkit meninggalkan posisi duduknya.


"Saya mau ke toilet," Danial segera cabut meninggalkan ruang kelas menuju ke toilet. Berlama-lama di kelas hanya membuat kepalanya makin pening mendengar ocehan dari Maurine.

__ADS_1


...●●●●●...


...-To be Continued-...


__ADS_2