
...YOUR EYES CAN'T LIE...
...(MATAMU TIDAK BISA BERBOHONG)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL membuka matanya perlahan. Namun aneh. Ia merasa kesulitan menggerakkan tubuhnya.
Dengan posisi kepala menghadap ke atas tentu saja memudahkannya melihat sosok yang sedang melayang di langit-langit kamarnya. Pria itu mencoba fokus pada sosok tersebut dengan cara menyipitkan matanya.
Masih abu-abu. Sejauh ini Danial belum bisa menyimpulkan ciri-cirinya bagaimana karena suasana kamarnya sedang gelap. Semalam, sebelum terlelap pria itu sengaja mematikan sumber penerangan di kamarnya. Wajar jika pagi ini ia terbangun dalam kondisi kamar yang sedikit gelap. Apalagi jendela di kamarnya masih dalam keadaan tertutup rapat hingga cahaya matahari hanya bisa masuk lewat ventilasi.
Lambat laun sosok itu semakin mendekat dan berakhir semeter di atas pria yang masih bergeming di atas ranjang. Danial merasa telah berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan, tetapi suasana dalam kamarnya tetap hening. Sepertinya ada yang salah dengan tenggorokannya sehinggga sepatah kata pun tak mampu digulirkannya. Danial merasa lidahnya kelu.
Jujur saja perawakan hantu yang sedang menampilkan wujud di hadapannya saat ini sangatlah menyeramkan. Rambutnya panjang agak berantakan, matanya memelotot tajam seperti laser yang hendak membagi dua tubuhnya, di permukaan pipi dan dahinya ada bekas luka sayatan, sementara di sudut bibir dan juga sudut matanya terdapat darah kecoklatan yang kelihatan mulai mengental.
Sosok itu tersenyum memperlihatan deretan giginya yang tajam. Dan selanjutnya Danial merasa pernapasannya sedikit terganggu. Kalau dijelaskan, seperti ada benda berat yang sedang duduk di atas dadanya.
Untuk kesekian kalinya Danial berteriak. Lagi, suaranya hanya tertahan di tenggorokan. Ada apa ini? Danial bahkan mendengar suara aktivitas orang rumahnya. Davina yang berteriak meminta bantuan sang mama mencarikan atribut sekolah, juga suara ayahnya yang meminta bantuan sang mama mencarikan kemeja putih. Lalu kenapa Danial tidak bisa melakukan apa-apa? Kenapa tubuhnya jadi kaku sementara suaranya tertahan?
Rasa sakit yang berpusat di dadanya menghilang. Namun rasa sakit di tempat lain muncul memaksa Danial membulatkan matanya. Danial merasa sedang dicekik.
"Ma, Pah, tolongin Danial!" Sama seperti sebelumnya. Meskipun ia merasa telah berteriak lantang, namun suaranya tetap saja tidak bisa terdengar.
Ada apa ini? batin Danial. Pria itu memejamkan mata, mulutnya berkomat kamit terlihat memanjatkan doa.
Di menit selanjutnya Danial memberanikan diri membuka mata yang sempat terpejam. Saat itu semuanya kembali normal. Badannya kembali bisa digerakkan, suaranya pun telah kembali.
"Gue barusan mimpi atau gimana sih?" pria tersebut bergumam lalu mengusap mukanya. Tadinya ia mengira dirinya sedang terjebak dalam mimpi buruk. Tetapi anehnya ia bisa merasakan rasa sakit yang menyerang tubuhnya kala itu.
"Danial, bangun!" suara mamanya terdengar diikuti gedoran di pintu kamar. "Hari senin loh, ingat upacara. Sekarang udah setengah tujuh."
"Iya Ma, Danial udah bangun kok. Ini lagi mau mandi." Jawab Danial dari dalam kamar.
...●●●●●...
AIR muka yang ditampilkan Aurel saat ini adalah penegasan yang menjelaskan perasaannya. Hari ini ia merasa bahagia. Hubungan pertemanannya dengan Leana kembali membaik.
Aurel menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga. Sekarang ia sedang berdiri di pinggir lapangan dengan setelan olahraga lengkap. Tadinya Aurel jalan berdua dengan Leana, hanya saja saat diperjalanan Aurel menyadari dirinya lupa membawa botol minum. Oleh karena itu Aurel menyuruh Leana jalan duluan sementara dia balik lagi ke kelas mengambil botol minumnya.
__ADS_1
"Aurel! Gue di sebelah sini!" Leana berteriak heboh di seberang lapangan sana, "Sini, Rel!" tangan Leana mulai bergerak mengisyaratkan panggilan.
Aurel tersenyum lanjut mengangguk. Perlahan gadis itu mengangkat kaki, membelah lapangan.
Leana mengubah ekspresinya cepat tatkala melihat bola basket sedang mengudara ke arah Aurel.
"Aurel awas!" teriak Leana. Tanpa diperintahkan pun mata gadis itu telah melebar merespon rasa takutnya.
Aurel menoleh kaget. Melihat bola basket sedang mendekatinya membuat gadis itu bergerak refleks berjongkok seraya menutupi kepalanya dengan tangan. Disaat yang bersamaan botol yang ada di genggaman gadis itu terjatuh dan menggelinding di lapangan.
Bruk!
Suara bola basket saat mengenai tubuh seseorang terdengar. Aurel merasa aneh karena dia tak merasakan rasa sakit seperti seharusnya.
Gadis di tengah lapangan itu mendongakkan kepala. Dilihatnya siluet seorang pria yang sedang menghalanginya dari serangan cahaya matahari. Tampilan yang sempat blur di detik awal perlahan mulai fokus. "Danial," bibir Aurel bergerak mengikuti kata itu.
Danial memungut sebuah botol minum, meletakkan benda tersebut ke sebelah sang pemilik. Karena tidak mau terjebak dalam situasi awkward setelah saling tatap membuat Danial menyegerakan untuk bergegas pergi meninggalkan Aurel. Tak lupa Danial mengambil bola basket di sebelahnya.
"Tunggu!" Aurel mencegat.
Langkah Danial terhenti. Ia membiarkan arah badannya tetap membelakangi Aurel. Danial tidak ingin berbalik meski hatinya menginginkan itu sekalipun. Aurel telah membuat keputusan untuk bertingkah seperti orang asing, Danial hanya mengikuti alur yang dibuat oleh gadis itu.
"Makasih."
"Lo gapapa kan, Rel?" Disaat Danial menjauh, Haris justru menghampiri gadis itu tanpa lupa memperlihatkan kepanikan. "Sumpah gue gak sengaja Rel." Memang sepatutnya Haris dihantui rasa bersalah karena kenyataannya dialah dalang dibalik kejadian itu.
Leana tiba-tiba datang menjambaki rambut Haris, tak tanggung perbuatannya membuat Haris mengaduh kesakitan. "Gara-gara lo sahabat gue hampir geger otak tau gak," semprot Leana diselingi embusan napas boros.
"Maaf elah. Kan gak sengaja."
Leana memperkuat tarikannya membuat Haris semakin meringis kesakitan, "Gampang amat lu cuma minta maaf doang. Kalau sampai Aurel geger otak karena bola basket emang lu mau tanggung jawab? Emang lu bisa bantu gue ngerjain PR matematika?"
Haris menoleh memperlihatkan ekspresi prihatin, pria itu mengulum bibir bawah sambil melihat Aurel dengan binar mata yang membuat Aurel kasihan.
"Udahlah, An! Haris gak salah kok, guenya aja yang gak hati-hati pas jalan." Aurel menunduk membawa tangannya untuk membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di seragamnya.
"Aurel aja maafin, kok lo yang malah koar-koar sih?" dari tadi Haris selalu diam saat Leana menghakiminya. "Dendam amat lu sama gue."
"Siapa juga yang dendam sama lo?" Leana mengelak.
Haris berdecih. Kemudian setelah itu ia menarik bibirnya ke samping, memperlihatkan senyum meremehkan. "Bilang aja kalau lu belum bisa move on!" tuduh Haris, mengungkit-ungkit.
"Jangan ngebahas masa lalu ya!" peringat Leana.
__ADS_1
"Kenapa? Takut kalo semua orang pada tahu kalo lo belum bisa..."
Leana menarik Aurel menjauhi lapangan sebelum Haris menyudahi apa yang hendak disampaikan.
"Kalian lagi ngebahas apaan sih? Kok nyebut-nyebut masa lalu?" penasaran Aurel ketika dia dan Leana telah duduk di tribune yang menghadap ke lapangan basket.
Leana mengibaskan tangan. "Gak ada apa-apa kok."
...●●●●●...
"TADI PAGI GUE NGALAMIN HAL-HAL ANEH LAGI." Danial menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi saat mulai bercerita.
"Kenapa?" sahut Vernon, "Diintipin setan pas lagi mandi lu?"
"Bukan," Danial geleng-geleng.
"Terus?"
"Tadi pagi pas bangun tidur gue ngalamin hal aneh. Gue ngerasa mimpi tapi anehnya gue bisa denger suara orang-orang di rumah gue. Mata gue bahkan kebuka."
"Terus anehnya di mana?"
"Gue gak bisa gerakin badan gue, suara gue juga gak bisa keluar meski teriak-teriak sekalipun."
"Ketindisan kali lu!" Vernon dan juga Danial membawa tatapannya ke wajah Haris yang baru saja bersuara menyampaikan asumsinya.
"Ketindisan?" ulang Danial. Haris manggut-manggut.
"Gue juga pernah, tiba-tiba dada sesak, terus leher kayak kecekik gitu."
"Nah, itu yang gue rasain," heboh Danial sembari menyentak meja di depannya.
"Dalam dunia medis ada penjelasannya kok. Dan ya... Menurut buku yang pernah gue baca kadang-kadang beberapa orang bisa liat makhluk aneh pas ketindisan." Haris menjelaskan panjang lebar. "Misalnya monster atau mungkin hantu."
"Seumur-umur gue kagak pernah ngalamin kayak gitu," kata Vernon lalu menenggak sisa minumannya.
"Penjelasan paling sederhananya tubuh sedang kelelahan," Haris tak bosan membagikan pengetahuannya tentang ketindisan.
Danial mengusap dadanya merasa lega. Tadinya ia sempat berpikir yang tidak-tidak terkait kejadian tadi pagi.
...~To be Continued~...
...Ada gak diantara kalian yang pernah ngalamin ketindisan???...
__ADS_1