
...FORCED...
...(TERPAKSA)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL telah memasang helm dan menunggangi motor saat getaran di sakunya terasa, menghadirkan lipatan-lipatan kecil di dahinya pertanda kebingungan menjalar di sana. Ada panggilan masuk. Mesin motornya terpaksa dimatikan karena dia pengin ngecek dulu telepon dari siapa. Kali aja telepon itu dari keluarga yang membawa kabar penting.
Tidak ada nama, alias nomor baru yang ditemukan netranya saat mengadu pandangan dengan layar ponsel. Sempat terlintas dalam benak Danial untuk mengabaikan panggilan tersebut. Lagi pula akhir-akhir ini dia sering mendapat telepon aneh dari orang tidak jelas. Mama minta pulsa lah, undian berhadiah satu milyar lah, undian berhadiah mobil lah, bahkan masih banyak lagi percobaan penipuan yang tidak masuk akal. Ponsel miliknya dikembalikan lagi ke saku saat itu juga.
Gimana kalau teleponnya beneran penting? Pikir Danial lagi.
Ponsel yang disimpan di saku diambil lagi oleh Danial. Namun sebelum itu, lebih dulu ia membuka helm yang membungkus kepalanya. Sesaat ponsel yang menampilkan dua belas digit nomor itu diperhatikan secara saksama oleh si empunya ponsel. Karena tidak mau menyesal kemudian. Danial memilih menekan tombol berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel tersebut ke depan telinga sebelah kanannya.
"Siapa ini?" tanya Danial.
"Ini gue. Kakak ipar lo," jawab pria di seberang sana.
"Sepertinya Anda salah sambung. Saya masih SMA, belum nikah lebih tepatnya."
"Tunggu...."
"Ada apa lagi?"
"Ini gue Nakula. Kemarin kan lo sendiri yang manggil gue kakak ipar. Makanya hari ini gue balik manggil lo adek ipar."
"Gue tegasin. Mulai sekarang gue bukan calon adek ipar lo lagi. Gue sama adek lo udah putus," Danial menjelaskan dengan kalimat sesederhana mungkin. "Btw tumben-tumbenan lo nelpon gue, pakek nada sopan segala lagi. Gue yakin nih, pasti lo ada maunya kan?"
"Tahu aja lo, adek ipar."
"Gue bukan adek ipar lo!" balas Danial, "Gue harap lo berhenti manggil gue dengan embel-embel kayak gitu lagi."
"Lo pulang bareng Aurel ya!" suruh pria di seberang sana dengan entengnya. Apakah belum cukup mengetahui fakta bahwa Danial dan Aurel udah putus?
"Heh?"
"Iya. Soalnya gue lagi punya urusan mendadak di kampus."
"Tapi, kan, gue sama adek lo udah gak punya..."
"Putus bukan berarti hubungan pertemanan lo berdua ikut berakhir. Sekalian gue ingetin bahwa orang tua kita temenan." potong Nakula sok bijak. "Makasih ya sebelumnya," lanjutnya seakan sudah yakin bahwa Danial akan menyetujui permintaannya.
"Eh, jangan asal menyimpulkan woi. Gue aja belum jawab setuju atau kagak buat nganterin Aurel balik ke rumah."
"Apa lo bilang? Suara lo putus-putus nih, kagak jelas," kata Nakula. Pria di seberang sana berpura-pura seolah jaringannya sedang bermasalah. "Gue tutup teleponnya ya, makasih loh udah mau nganterin Aurel pulang. Lo emang manusia paling keren yang pernah gue temui, Dan."
"Nakula? Halo? Lo masih ada di sana kan?"
Tut...Tut...Tut...
Bahkan kalimatnya belum sempurna dan sekarang Nakula memutuskan sambungan teleponnya sepihak.
"Sialan Nakula! Kalau ada maunya aja baeknya gak terbatas," cibir Danial, menatap kesal layar ponselnya.
__ADS_1
...●●●●●...
AUREL tertunduk memainkan jari-jemarinya. Sekolah resmi berakhir sekitar lima belas menit yang lalu. Tetapi sampai sekarang Nakula belum juga datang menjemputnya. Aurel sempat mencoba menghubungi nomor pria itu namun tidak bisa terhubung. Barangkali ponselnya sedang dalam keadaan lobet saat ini.
Tadi pun Leana sempat menawarkan tumpangan, tetapi dengan bodohnya Aurel menolak karena gadis itu terlalu yakin Nakula akan datang menjemput sesuai janji yang telah dibuat saat sarapan pagi tadi.
"Aduh, gimana nih?" Aurel merasa kalut. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Masalahnya juga uang sakunya sudah habis dibelanjakan cilok sebelum pulang. Sekarang harus minta bantuan sama siapa? Masa harus pulang dengan jalan kaki. Jarak dari sekolah ke rumah lumayan jauh, sampai rumah pasti kakinya auto pegal-pegal seadainya dia milih jalan kaki saja.
Penyesalan setidaknya baru menghantam diri Aurel sekarang. Tahu begitu dia pasti sudah ada di rumah sekarang seandainya dia nebeng mobilnya Leana. Seakan tak puas dengan penderitaannya yang sekarang, Tuhan kembali menjatuhan cobaan baru. Barusan terdengar bunyi perut keroncongan. Aurel lapar.
"Udah gak bisa pulang, sekarang dikasih cobaan lapar pula. Apes bener gue hari ini," gumam Aurel bermonolog sambil memegangi bagian perutnya yang keroncongan.
Suara klakson membuat tubuh Aurel menyentak karena kaget.
"Ayo buruan naik!" suara itu milik Danial. Pria itu tak kunjung mematikan mesin motor meski sedang berinteraksi verbal dengan Aurel. "Gue gak punya banyak waktu, lebih baik lo buruan naik deh."
"Gak usah," tolak Aurel dengan nada dingin. "Bukannya hubungan kita udah berakhir ya? Lalu untuk apa lo capek-capek nganterin gue pulang? Atau jangan-jangan lo udah nyesel dan pengin balikan lagi?"
"Udah nyerocosnya?" retorik Danial. Aurel diam merapatkan kedua sisi bibirnya. "Bisa gak, jadi manusia jangan kegeeran?"
"Gue gak ngerti maksud lo apa, yang jelas gue gak mau debat. Sebaiknya lo duluan aja karena gue pulangnya dijemput sama Nakula."
"Nakula gak bakal datang. Percaya dah sama gue."
"Tahu apa lo? Emang lo peramal?"
"Gimana gak tahu, orang dia sendiri yang nelpon gue buat nganterin lo pulang. Katanya dia lagi ada urusan penting di kampus. Makanya lain kali jangan asal nyimpulin. Apalagi sampai ngatain gue gak bisa move on. Asal lo tahu, gue itu tipikal orang yang gampang melupakan kalau udah putus sama seseorang."
Aurel diam di tempat. Dia seakan ingin menghilang saja dari dunia ini karena merasa malu telah menuduh Danial belum bisa melupakannya.
"Jangan!" sahut Aurel cepat. Sumpah demi apa pun Aurel bisa menjamin dirinya bakal pulang naik taksi saja jika di sakunya masih tersisa lembaran rupiah.
"Buru naik kalau gitu!"
"Galak amat lu."
"Apa lo bilang barusan?"
"Enggak, gue cuma bilang tunggu sebentar, gue gak ngatain lo kok."
"Awas ya kalau sampai lu ngatain gue, siap-siap aja gue turunin di pinggir jalan," ancam Danial. "Nih pakek helmnya!" ujar pria itu langsung membuang begitu saja helm di tangannya. Untungnya Aurel dengan sigap menangkapnya. Kalau tidak, sudah pasti helm itu akan berakhir di tanah.
...●●●●●...
MEMBUKA kaca helmnya. Aurel memperhatikan sekitarnya dengan kening yang mengerut. Bagaimana tidak. Dia pikir Danial akan langsung mengantarnya pulang ke rumah sesuai yang diperintahkan oleh Nakula. Di luar dugaan Danial malah memarkirkan motor di depan sebuah restoran yang sempat dikunjungi keduanya saat masih pacaran dulu.
"Apa perlu gue maki-maki dulu biar lo langsung turun?" galak Danial sambil membuka lalu menaruh helm yang sempat membungkus kepalanya secara acak di atas spion kanan.
Aurel tak menyahuti. Aurel segera turun dari motor sambil mengambil embusan napas panjang. Mengikuti Danial, Aurel melepaskan helm pembungkus kepalanya. Tak lupa helm itu diserahkan kepada yang empunya, "Ngapain lo mampir ke restauran?"
"Mampir dulu lah bentar, makan dulu."
"Gak perlu," sambung Aurel melipat tangannya tepat di depan dada. "Gue gak laper."
"Eh, bisa gak mikir dulu sebelum nyerocos panjang kali lebar? Lagian siapa juga yang pengin ngajak lo makan?"
"Kalau misalkan lo gak ngajakin gue makan, terus kenapa lo mampir ke restoran?" Aurel mengembalikan dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Lo ini kegeeran banget sumpah. Yang ngajakin lo makan siapa? Gue mampir ke restoran buat ngisi perut gue sendiri," usai menjelaskannya. Danial langsung balik badan. Dia mengambil langkah dipercepat masuk ke restauran.
Aurel mencercah tanpa suara selepas Danial meninggalkannya sendirian di tempat parkir. "Dasar manusia sialan!" cibirnya dengan suara pelan. Karena tak ingin berdiam di parkiran sendirian gadis itu membawa langkah kakinya ke dalam restauran mengikuti Danial.
Tidak ada percakapan di antara mereka. Sambil menunggu pesanannya datang, Danial menyibukkan diri dengan memainkan ponsel. Di depannya Aurel terlihat sibuk membaca novel yang dipinjamkan oleh Leana saat di sekolah tadi.
"Ini Mas, pesanannya."
Danial menaruh ponselnya di meja kemudian menolehkan muka kepada pelayan yang membawakan pesanannya. "Taruh di sini aja, Mas!" titah Danial.
Ketika pelayan telah pergi. Danial memandang Aurel sekilas. Gadis itu tidak bereaksi sama sekali. Dia bahkan masih fokus pada buku bacaannya.
Aduh, gue lapar bener tapi uang jajan udah abis! Harus gimana nih? Jika Danial melihat Aurel tampak tenang membaca bukunya. Beda cerita dengan Aurel. Aurel sejak tadi merasa gusar menahan rasa laparnya. Kalau pun sekarang ini dia tampak tenang membaca bukunya, hal itu semata-mata dia lakukan untuk menghindari interaksi verbal dengan Danial—si manusia paling menyebalkan yang pernah dia temui.
Aduh, kenapa perut gue malah bunyi sih. Moga aja Danial gak denger! Harap Aurel dalam hatinya.
Danial menjeda suapannya. Hampir saja dia menerbitkan senyuman saat tak sengaja mendengar bunyi perut keroncongan Aurel. "Wah, sumpah, enak banget baksonya," komentar Danial berlebihan, tujuannya tak lain untuk menggoda gadis yang duduk di seberangnya.
Sialan Danial, pakek komenin baksonya segala. Yang ada gue makin tambah laper.
"Danial!" panggil Aurel. Novel di tangan telah ditutup dan ditaruh di atas meja.
"Hmmm."
"Boleh minta tolong gak?"
"Apaan?"
"Pinjem duit lo dong!"
"Gak ada."
"Gue janji bakal balikin besok pas di sekolah. Gue laper banget nih."
Terlihat Danial merogoh sakunya mengambil dompet berwarna abu-abu dari dalam sana. Melihat itu Aurel tak kuasa menahan senyum. Akhirnya rasa lapar yang menyerang dirinya akan segera terbayarkan sebentar lagi.
"Lo mau minjem berapa?" tanya Danial.
"Lima puluh ribu."
Danial menarik selembar uang dengan nominal lima puluh ribu dari dalam dompetnya, "Gue pinjemin tapi dengan syarat."
"Apa tuh syaratnya?"
"Pakek bunga."
"Astagfirullah Danial. Kenapa gak sekalian aja lo jadi rentenir kalau gitu."
"Bunganya lima puluh persen ya?"
"Bunganya lima puluh persen tapi gue sekalian ngelaporin ini ke nyokap lo biar lo kena marah."
"Lah kok lo malah ngancem gue? Kan lo yang butuh gilak."
"Terserah gue dong!" kata Aurel. Tangannya bergerak cepat dalam mengambil lembaran rupiah di tangan Danial. "Besok gue ganti uang lo, tapi tanpa bunga!"
...-To be Continued-...
__ADS_1