
...RAIN & MY CHILDHOOD MEMORIES...
...(HUJAN & KENANGAN MASA KECILKU)...
...●...
...●...
...●...
RUANGAN yang sepi bagi si pemilik mata normal bukanlah jaminan sepi bagi mereka yang memiliki sixth sense atau secara umum dikenal dengan nama indra keenam. Seperti yang dirasakan oleh Aurel saat ini. Meskipun sedang membaca buku di ruang keluarga tetapi aktivitas makhluk gaib tak luput dari jangkauan matanya.
Sesekali Aurel mendongak melihat hantu berwujud anak-anak sedang berlarian satu sama lain. Dengan kaki yang tentu saja tak memijak lantai rumah, hantu berwujud anak-anak tersebut kegirangan bertingkah layaknya manusia pada umumnya.
“Jason, Jackson! Jangan lari-lari sayang, ntar jatuh!” peringat Aurel, ngeri sendiri melihat kedua makhluk tersebut berlarian sambil tertawa satu sama lain.
“Tenang aja Kak, walau jatuh pun kita berdua tidak akan merasa kesakitan. Kita berdua kan udah jadi hantu.” Ujar salah seorang diantara mereka.
Aurel menyengir, “Maaf, Kakak lupa kalau kalian berdua gak bakal ngerasain sakit lagi.”
Kedua anak itu melanjutkan permainannya sampai tak sadar mereka naik ke lantai atas melalui tangga.
Jackson dan Jason adalah dua anak kembar yang sudah tinggal di ruang tengah selama kurang lebih seratus tahun lamanya. Sebelum rumah ini dirombak secara besar-besaran mereka sudah tinggal lebih dulu di tempat ini.
Meskipun sudah ada sebelum Aurel lahir, tetapi perawakan keduanya tetaplah sebagai anak-anak berumur tujuh tahun.
Pernah waktu kecil Aurel iseng menanyakannya dan salah seorang diantara mereka menjawab kalau wujudnya akan mengikuti saat mereka meninggal. Satu lagi, yang Aurel tahu keduanya meninggal gara-gara penyakit yang waktu itu mewabah pada jaman Indonesia belum merdeka.
Suasana sepi menghantam dunia Aurel tepat setelah makhluk yang menghuni ruang keluarganya pergi entah ke mana.
“Gue bosan sumpah!” Aurel bergumam. Tangannya saat itu digunakan untuk menutup novel yang sedari tadi menemaninya. Tak ada lagi Davina yang kerap menawarinya nonton bareng drama Korea, tak ada lagi Danial si manusia annoying yang selalunya membuat Aurel bersungut kesal dengan ulahnya yang kadang absurd.
Tadi sore lebih tepatnya, Davina dan Danial kembali ke rumahnya setelah ia menerima telpon dari ayahnya. Ya, orangtua mereka telah kembali dari Palembang.
__ADS_1
“Sepi juga ya gak ada mereka.” Eluh Aurel. Tidak ada yang bisa diajaknya bercanda. Apalagi saat ini mamanya sudah tidur duluan dengan alasan ngantuk. Nakula juga sedang di luar, belum kembali sejak ia ijin sekitar jam lima sore tadi. Bahkan sosok-sosok hantu berwujud anak kecil malah lebih senang dengan urusannya masing-masing ketimbang menemani Aurel menghabiskan rasa suntuknya.
Baru saja Aurel bangkit dari duduknya tetapi sosok makhluk laki-laki tanpa lengan dengan muka berlumuran darah menampakkan dirinya. Tidak terkejut sama sekali, bahkan Aurel hanya memperlihatkan raut masam seolah tak suka dengan kehadirannya.
“Mau ngapain lagi sih lo?” kini Aurel melakukan sedikit pijatan pada pelipisnya. Dia paling tidak suka jika ada hantu yang meminta bantuannya.
Bukannya kepedean akan dimintai bantuan, tetapi sebelum menampakkan dirinya untuk yang kesekian kalinya Aurel sempat ketemu dengannya waktu keluar dari mini market. Hantu itu ingin meminta bantuan Aurel.
“Lo ngapain ngikutin sampai rumah?” sejujurnya Aurel merasa sedikit kesal ketika ada sosok dari dimensi lain yang meminta bantuannya. Ia merasa cukup terbebani dengan permasalahan duniawinya dan si hantu itu malah menambah beban pikirannya. “Sebaiknya lo selesain masalah lo sendiri, gue mana tau tangan lo yang satunya lagi. Kan bukan gue yang nabrak lo.”
Menghilang sejenak sebelum sosok itu kembali muncul dengan menampilkan sisi terburuknya. Tak tanggung-tanggung sosok itu kembali menampakkan wujud menyeramkannya beberapa senti di hadapan Aurel.
Aurel berdecak. Dia sudah menduga si hantu akan melakukannya. Bukan kali pertama, Aurel sering menyaksikan beberapa sosok hantu yang menampilkan muka menyeramkan saat ia coba menolak kemauannya.
“Lo pikir gue takut? Sana pergi!” dengan nada tegas Aurel balik menyerang hantu tersebut.
Cukup ajaib karena hantunya menghilang sesuai kemauan Aurel.
Yang diajak berinteraksi verbal mulai membalikkan tubuhnya menghadap wanita di ujung sana. Ternyata orang itu adalah Sarah, mamanya.
“Biasa mah, ada hantu yang ngikutin Aurel dari mini market.”
Sarah bergidik, “Kamu ih, kenapa dibilangin sama mama sih kalau lagi liat hantu. Kan mama takut.” Otomatis kepala Sarah bergerak memeriksa sekitarnya.
“Kan mama nanya, jadi Aurel jawab deh,” jawab Aurel dengan nada pasrah. Serba salah jadinya, dijawab salah, gak dijawab lebih salah lagi.
“Ya sudah, kamu ke kamar gih tidur, besok kan senin, ntar telat lagi!”
“Iya mah, ini lagi mau ke kamar kok!”
...●●●●●...
AUREL mengurungkan niatannya untuk tidur seperti yang telah diperintahkan oleh Sarah. Di luar sedang hujan. Dan gadis itu tidak ingin melewatkan momen tersebut.
__ADS_1
Sengaja gadis itu membuat suasana kamarnya tampak temaram dengan hanya menyalakan lampu tidur saja.
Arah badannya ia serongkan sedikit, hingga tujuan awalnya menuju ranjang teralih pada hal yang merenggut sebagian pikirannya. Aurel lalu membawa langkah kakinya sampai mentok di depan jendela. Tangannya cukup cepat ketika terangkat digunakan untuk menyingkap gorden.
Srek!
Terlihatlah suasana di luar yang tampak tentram. Suara gemuruh hujan yang dibarengi dengan cahaya bulan purnama membuat segalanya tampak damai. Meski dengan kenyataan adanya aktivitas makhluk lain tetapi Aurel tidak ingin ambil pusing.
Setiap kali hujan turun pikiran Aurel pun tak luput dari bayang-bayang di masa lalu. Ada deretan kisah kelam yang coba dia sembunyikan sampai saat ini.
Sejak masih berumur tujuh tahun Aurel selalu membenci dirinya sendiri. Setiap kali ia menatap cermin maka rasa kesalnya pun mengambang ke permukaan. Dari sekian banyak teman-teman sebayanya, tak ada satu pun dari mereka yang percaya dengan ucapan Aurel, tak jarang mereka bahkan melabeli Aurel sudah tidak waras karena bertingkah aneh.
Jangankan teman sebayanya. Bahkan Nakula pun kerap meledeknya dengan embel-embel tidak waras. Mungkin di usia yang masih belia, perkataan yang dilontarkan oleh Nakula berada dalam konteks bercanda. Akan tetapi perkataan yang mengandung cibiran justru membebani pikiran Aurel.
Aurel yang saat itu masih berumur tujuh tahun sempat ingin lompat dari rooftop. Ia ingin mengakhiri penderitaannya. Ia ingin terbebas dari lingkungan yang hanya membuatnya serasa terlahir berbeda.
Aurel merasa lelah hidup dengan sebuah sekat yang membuatnya terpisah dari dunia luar.
Beruntung ia bertemu dengan sosok hantu berambut pirang bernama Jeane. Jeane datang memberinya semangat hidup. Jeane yang senantiasa menghiburnya saat Aurel merasa lelah menghadapi realita.
Untuk pertama kalinya Aurel menyadari jika dirinya mampu membuka dialog dengan gerbang gaib setelah Jeane menghentikannya yang kala itu hampir menjatuhkan tubuhnya dari rooftop.
Jika saja terlambat beberapa sekon kemungkinan Aurel telah lahir sebagai hantu penasaran seperti halnya sosok-sosok yang selama ini ditemuinya.
Jangan lompat! Kau harus tetap hidup bagaimana pun caranya. Jangan pernah melawan takdir Aurel.
Kira-kira seperti itulah kalimat yang diucapkan Jeane saat melihat upaya bunuh diri Aurel. Aurel bahkan sudah lupa lanjutannya karena sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu berlangsung. Tapi satu yang pasti, Jeane telah berandil dalam menyelamatkan hidupnya.
“Gue kangen sama lo Je,” tiba-tiba kalimat itu terlepas dari bibirnya. Sejak kejadian 10 tahun silam, Jeane tak lagi menampakkan diri. Aurel telah mencoba berbagai cara, ia bahkan menyerukan nama Jeane saat ia di rooftop tetapi Jeane seakan tak mau memperlihatkan wujudnya.
“Gue bahkan cuma pengin bilang makasih karena lo udah ngelarang gue untuk mengakhiri hidup waktu itu,” lirih Aurel masih menatap keluar jendela.
Aurel yang terlihat saat ini sudah cukup kuat menghadapi permasalahannya. Lagipun di sekolah ia dikelilingi oleh orang-orang baik yang menerima setiap kekurangan dan kelebihannya. Terlebih lagi Leana, meski gadis itu takut dengan sosok hantu, tetapi dia tetap saja berusaha untuk menjadi teman baik untuknya.
__ADS_1