
...AS YOU WISH...
...(SESUAI KEINGINANMU)...
...●...
...●...
...●...
TANGANNYA yang terkepal terlihat bergetar saat bertautan dengan pintu di hadapannya. Danial baru saja tiba di kediaman Aurel.
Jujur saja, Danial memiliki rasa ketakutan tersendiri yang menjadi dampak atas hadirnya rasa getir saat pria itu menelan salivanya.
"Aurel," panggil Danial tanpa menghentikan ketukannya di pintu, "Aurel," panggilnya sekali lagi.
Tak lama berselang pintu pun terbuka, menampilkan seorang Nakula. "Eh, Danial. Ada apa?"
"Aurelnya ada?" sambil bertanya Danial juga menengadah dari tubuh jangkung Nakula yang menghalangi pandangannya. Danial menengok ke dalam, berharap matanya akan bertemu dengan seorang gadis bernama Aurel.
"Aurelnya lagi keluar," jawab Nakula.
"Udah berapa lama?"
Nakula tampak berpikir, "Kalau gak salah, tiga puluh menit yang lalu deh," ucapan yang tergulir dari bibir Nakula baru saja menghancurkan harapan dalam diri seorang Danial. Akibatnya perasaan cemas itu kembali mencuat membayang-bayanginya.
"Kalau boleh tahu, dia ke mana?" tanya Danial lagi.
"Katanya sih pengin cari camilan di mini market deket sini. Emang ada apa sih, serius amat muka lo!"
"Bukan hal penting kok," Danial secara terpaksa mengurungkan niat untuk membagikan apa yang sempat ia lihat sewaktu masih di rooftop rumahnya. Alasannya karena pria itu belum berani menarik satu kesimpulan. Danial yakin bahwa kondisi Aurel saat ini sedang baik-baik saja.
"Lo nyembunyiin sesuatu dari gue ya?" Nakula meniliknya, seakan pria itu menyimpan keraguan hanya berbekal gestur yang dilihatnya pada diri Danial.
"Eng-gak kok." Danial berdusta dengan suara terbata.
Terlihat pria di depan Danial sedang mencebik, "Kalo ada hal penting yang mau lo sampein ke dia lebih baik samperin aja ke mini market!" saran Nakula.
Danial tak punya pilihan selain mengikuti arahan Nakula. Setidaknya ia belum merasa lega sebelum matanya menjumpai Aurel dalam keadaan baik-baik saja.
Karena jaraknya yang cukup dekat dari rumah membuat Danial memilih berjalan, alih-alih mengendarai motornya. Bukannya hemat bahan bakar, untuk saat ini pria itu merasa energinya masih banyak untuk sekadar berlari.
"Ngapa tuh bocah," Nakula mengedikkan bahu saat bergumam. Tingkah Danial beneran aneh saat itu. Selama beberapa saat Nakula menghabiskan waktunya dengan menatap punggung lebar milik Danial yang kian menjauh.
Detakan jantung beserta embusan napasnya yang terdengar ngos-ngosan tak membuat langkahnya goyah. Danial terus saja berlari dan membuang pikiran negatif terkait dengan gadis yang dicintainya.
Suara sirine mobil polisi yang tadinya samar-samar mulai terdengar jelas. Tanpa sadar hentakan yang berporos di dada kirinya semakin terasa.
__ADS_1
Langkah yang sengaja diperlambat pun terhenti. Itu karena Danial menghampiri kerumunan manusia yang memenuhi trotoar. Firasat pria itu mulai tak baik.
"Mas," Danial menyentuh punggung salah seorang pria di depannya. Yang bersangkutan menolehkan muka, "Di depan ada apa ya? Kok rame amat." Danial melanjutkan.
"Ada korban tabrak lari," jawab pria itu.
Danial meneguk ludahnya susah payah. Ia juga menanamkan pada dirinya bahwa korban tabrak lari itu bukan Aurel. Meski kemungkinannya hanya lima puluh banding lima puluh.
"Permisi," Danial membelah kerumunan menggunakan tangan yang diulurkan ke depan. Di atas trotoar sudah ada jenazah yang tertutup oleh surat kabar. Danial ingin melangkah lebih jauh namun garis polisi menghalanginya untuk melakukan itu. "Pak, boleh saya tahu identitas jenazah ini?" Danial menanyakan itu kepada seorang polisi di sana.
"Maaf tapi kami tidak menemukan kartu pengenal karena perempuan ini tidak membawa dompet."
"Perempuan?" ulang Danial. Sementara si bapak polisi menganggukkan kepalanya.
Enggak, dia bukan Aurel! Danial membatin. Mundur beberapa langkah, pria dengan jaket denim itu meninggalkan kerumunan.
Danial membawa langkah kakinya beberapa meter dari kerumunan. Tepat di sebuah halte pria itu mendudukkan badannya. Ia tidak berani untuk mengecek jenazah itu. Ia tak mau menjumpai gadis yang dicintainya tergurai lemas tak bernyawa dengan tubuh bersimbah darah.
Dari kejauhan terdengar suara sirine ambulance menuju ke tempat ini. Sekilas suara yang dihasilkannya hampir menyamai sirine mobil polisi yang lebih dulu hadir di TKP.
Danial tidak tahu harus berbuat apa. Perasaannya menjadi kalut.
"Lo ngapain di sini?"
Danial bergerak cepat, suara itu milik Aurel.
"Kenapa lo ada di sekitaran sini, bukannya rumah lo di ..."
Aurel baru saja mengubah ekspresinya jadi terkejut. Danial memaksanya merapatkan kedua sisi bibir saat pria itu bangkit lalu melingkarkan tangan di pinggangnya. Aurel jelas terkejut dengan pergerakan cepat Danial yang hampir membuatnya hilang keseimbangan.
"Please, jangan tinggalin gue!" pinta Danial. Dia bersuara lirih saat menenggelamkan Aurel ke dalam pelukan hangatnya.
Aurel masih saja bergeming membiarkan Danial memeluk tubuhnya. Gadis yang baru saja keluar dari mini market itu merasakan hangatnya pelukan seorang Danial yang berpadu dengan bau maskulin yang menyeruak dari tubuh si pria.
"Gue sayang sama lo, dan gue juga udah tahu perasaan lo ke gue seperti apa. Gue tahu semuanya dari Leana." Danial semakin mengeratkan pelukannya. Sementara Aurel membulatkan matanya.
"Maaf karena selama ini gue udah maksa lo untuk ngejauhin gue!" Aurel melantunkan permohonan maaf.
Kedua tangan Danial mendarat di pundak Aurel sesaat setelah ia melepaskan pelukannya. "Gue juga mau minta maaf karena kelakuan gue selama ini. Gue udah ngatain lo gadis aneh karena kebiasaan lo bisa liat hantu. Tapi jujur, gue bener-bener tulus sama lo, gue sayang sama lo, dan gue gak mau lo pergi dari hidup gue," ketulusan seorang Danial tergambar lewat air muka yang ditampilkannya kini.
...●●●●●...
"JADI ITU ALASAN YANG BIKIN LO PANIK?" Aurel manggut-manggut seraya tetap melangkah bersama kresek berisikan camilan. Danial baru saja menjelaskan secara rinci tentang sosok arwah yang mirip sekali dengan Aurel sewaktu pria itu mengambil jemuran di rooftop.
"Asal lo tahu, beberapa waktu yang lalu gue sempet ketemu sama Dandi. Dia cerita dikit kalau sebenarnya gak ada yang namanya arwah," jelas Aurel. Sambil menjelaskan, gadis itu menggunakan tangan yang satunya lagi sebagai alat untuk menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga.
"Terus yang selama ini kita liat apaan?" tanya Danial.
__ADS_1
"Mereka adalah jin yang menyerupai wujud manusia."
Danial mencoba mencerna yang dikatakan oleh Aurel.
"Menurut gue nih, arwah yang lo liat di rumah lo adalah jin yang nyamar jadi gue."
"Tunggu sebentar! Siapa Dandi?" Danial sedikit penasaran dengan pemilik nama yang sempat disebutkan Aurel di menit-menit sebelumnya.
"Dandi Erfandy, temen seangkatan kita. Dia juga indigo, sama kayak kita."
"Dandi yang kelas IPS itu?" terka Danial cepat bersamaan dengan terlukisnya raut cemburu di wajahnya.
"Iya," jawab Aurel santai.
"Ngapain lo ketemu sama dia?" tanya Danial menggunakan nada tak suka.
"Dih, kok malah ngegas?"
"Gimana nggak ngegas, masa lo ngehindarin gue tapi malah deketin cowok lain."
"Cemburu nih?" tuduh Aurel. Senyuman tanda mengejek mengekor kemudian.
"Enggak. Sejak kapan seorang Danial Wirawan cemburu?" Danial berdalih.
"Ya sudah besok-besok gue ketemuan lagi sama dia," ujar Aurel, memancing emosi.
"Terserah, gue juga bakal deket sama cewek-cewek lain." Danial balik mengancam.
"Setakut itu ya lo kehilangan gue. Sampai ngancem-ngancem segala," tuduh Aurel dengan nada mencercah.
"Banget," pada akhirnya Danial menurunkan gengsi. Terlihat pergerakannya menggenggam tangan milik gadis di sebelahnya. Erat sekali genggaman itu, seolah ia tak mau membiarkan Aurel pergi meninggalkannya.
Aurel mengekspresikan kebahagiaannya lewat senyuman manis.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" dengan susah payah Danial mengungkapkannya. Ia berhenti melangkah demi untuk menatap binar mata gadis di sampingnya.
Perasaan canggung dan bahagia menyerang Aurel secara bersamaan. Hal itu diperparah saat matanya saling mengadu dan membuat pipinya memanas sekaligus menampilkan bercak merah tanda blushing.
"Gue gak punya alasan untuk nolak lo," jawab Aurel.
Seketika Danial menggeliat, tenggelam dalam euforianya. Apa yang selama ini menjadi list harapannya menjadi kenyataan.
"Sekarang udah resmi dong pacarannya."
"Iya," Aurel menjawab dengan sesederhana mungkin.
...~To be Continued~...
__ADS_1