MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
73. YOU NEED TO CALM DOWN


__ADS_3

...YOU NEED TO CALM DOWN...


...(KAU HARUS TENANG)...


...●...


...●...


...●...


AUREL dan Leana refleks menghentikan tawa mereka begitu Maurine datang dan seenaknya menggebrak meja lewat salah satu tangannya yang lebih dulu mengepal kuat. Sempat Aurel dan Leana saling balas menatap tak mengerti sebelum mengembalikannya lagi ke wajah Maurine yang menyiratkan aura sarat akan kemarahan.


"Kesambet jin tomang lo?" komentar Leana terhadap tingkah aneh Maurine yang tiba-tiba datang dan seenaknya mengagetkan mereka yang lagi sibuk bercerita mengenai karakter utama dalam sebuah novel.


"Diem lo, cabe."


Ucapan Maurine yang terlalu tajam itu berhasil membuat Leana menganga. Leana bahkan tak mengira alasan apa yang membuat Maurine berani-berani menyebutnya dengan embel-embel 'cabe,' sementara seingatnya dia tak pernah bertingkah yang berlebihan. Malah menurut Leana label seperti itu lebih pantas disematkan kepada Maurine yang senantiasa datang ke sekolah dengan muka full make up.


Plak!


Suasana di kelas tampak lebih tegang setelah Maurine mengangkat tangan lalu menjatuhkan sebuah tamparan di salah satu pipi milik Aurel. Aurel yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memegangi sumber rasa sakit itu seraya memperlihatkan raut muka menuntut jawaban.


"Itu adalah balasan yang paling tepat buat lo!" Maurine berujar.


"T Ta-ta-tapi gue salah apa sama lo?" sampai detik ini Aurel masih merasa bingung. Isi kepalanya belum cukup untuk merangkai alasan yang cukup logis yang jadi alasan kuat kenapa Maurine sampai menamparnya.


Plak!


Bahkan tanpa menunggu sebuah penjelasan sekali pun dari mulut Maurine, dan sekarang Leana menjatuhkan sebuah tamparan sebagai bentuk pembalasan atas sikap semena-mena Maurine terhadap Aurel, sahabatnya.


"Are you crazy?" sambil memegangi sumber rasa sakitnya Maurine menatap Leana dengan beringas. "Kenapa..."


Plak!


Belum sempat Maurine menyudahi kalimat yang ditujukan kepada Leana. Dan sekarang tamparan kedua mendarat di pipi yang satunya lagi. Pelakunya masih sama. Dia adalah Leana.


"Maksud lo apa sampai nampar gue dua kali?"

__ADS_1


"Yang pertama anggap aja sebagai bentuk pelajaran setelah lo berani-berani manggil gue dengan sebutan cabe. Oh iya, dan tamparan kedua anggap aja sebagai bentuk pelajaran karena lo udah nampar sahabat gue."


Maurine mendengus. "Oh iya maaf. Gue lupa kalau lo adalah babunya Aurel," pedasnya memberi jawaban.


"Jaga ya omongan lo," kata Aurel meceletuk. Dia tidak suka saat Maurine menyematkan label 'babu' kepada Leana yang merupakan sahabatnya.


"Gak usah ditanggepin orang kek gini Rel," kata Leana. "Gak guna," sambungnya lalu memberikan tatapan jengah kepada Maurine.


"Eh, Leana. Asal lo tahu ya... gara-gara gak bisa lupain sahabat lo ini, Danial memilih mutusin gue," telunjuk Maurine diarahkan kepada Aurel.


Leana tertawa. Ia merasa sangat bahagia saat Margarine, eh salah, maksudnya Maurine membagikan kabar tentang kandasnya hubungan dia dengan Danial.


"Ngapain lo ketawa? Gue gak ngelawak loh. Saraf lo?" kata Maurine.


"Eh Margarine binti bule celup yang mukanya kek ondel-ondel karena make up ketebelan," panggil Leana lengkap. "Gue gak saraf sama sekali."


"Terus kenapa lo malah ketawa?"


"Terserah gue dong! Lagian gue seneng banget denger kabar Danial mutusin lo."


"Oh ya?"


Terlihat Maurine mengepal salah satu tangannya. Kelihatannya perempuan itu sedang menahan emosi. "Can you repeat please!"


"Nih ya, udah gue bilangin berapa kali. Kalau makan sushi tuh sumpitnya jangan langsung dibuang. Mendingan sumpitnya dipakek buat korek kuping. Kasian mana lu masih muda lagi. Ya udah deh, gue ulang sekali lagi. SETIDAKNYA DANIAL UDAH GAK KHILAF LAGI," kata Leana panjang lebar seraya menekankan beberapa kalimat terakhir.


"Jelasin maksud lo ngomong kek gitu sama gue!" tuntut Maurine. Emosi dalam diri perempuan itu semakin memuncak seiring dengan berjalannya waktu.


"Ya, Danial mungkin udah bisa menilai mana berlian asli dan mana berlian imitasi," Leana tersenyum. Dia sengaja mengatakan kalimat seperti itu dengan tujuan agar Maurine merasakan hal yang sama. Lagian kalimat itu sempat ditujukan Maurine kepada Aurel tempo hari.


"Jaga ya mulut lo atau gue...." Bersamaan dengan itu Maurine mengangkat tangan hendak menampar Leana. Tetapi sayang seribu sayang. Leana yang sudah mewanti-wanti pun menangkap pergelangan tangan milik perempuan itu. Tak hanya mengurung pergelangan miliknya itu. Leana memutar tangan itu sampai suara ringisan didapati telinganya. "Awww, sakit. Lepasin tangan gue," Maurine mengaduh.


"Nah lo, makanya jangan sok berani lo sama gue, Enak aja muka gue mau disentuh sama tangan lo ini."


"Udahlah An. Lepasin aja!" kata Aurel.


"Tapi Rel. Si Margarine ini yang mulai duluan."

__ADS_1


"Udah lepasin aja," kata Aurel dengan nada super lembut.


Leana mengembuskan napas pasrah. Dengan berat hati dia melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan milik Maurine yang hingga sekarang masih menatapnya melalui pandangan jengah. Sama dengan ekspresi yang ditampilkan mukanya. Kilatan mata perempuan itu juga menjelaskan bahwa dia masih memiliki dendam kepada Leana atas dua buah tamparan keras yang diterimanya.


Awas aja ya An. Tunggu pembalasan gue! Awalnya masalah gue sama Aurel, tapi karena lo ikut campur, maka siap-siap aja dapat balasan dari gue. Maurine membatin. Dia masih menatap Leana dengan tajam hingga detik ini.


...●●●●●...


"EH TUTUP BOTOL!" panggilan barusan ditujukan Aurel kepada Danial yang baru datang dan duduk di sebelahnya.


"Enak aja lo main ganti nama orang sembarangan. Nama gue tuh Danial, lengkapnya Danial Wirawan."


"Bodo amat. Lagian ya kalau lo ada masalah sama pacar lo, lebih baik diselesain. Asal lo tahu aja, Maurine baru aja nampar gue. Katanya lo mutusin dia karena lo belum bisa move on dari gue."


"Eh karet nasi padang. Ya kali gue masih punya perasaan lebih sama lo. Jangan kepedean, apalagi sampai beranggapan kalau gue kesusahan buat ngelupain lo. Asal lo tahu aja, bagi gue tuh mantan tetaplah mantan. Gak ada sejarahnya seorang Danial Wirawan balikan sama mantannya."


"Bener-bener lu ya, tutup botol. Siapa juga yang mau balikan sama lo. Orang si Maurine sendiri kok yang bilang sama gue kalau elo tuh belum bisa move on dari gue."


"Cih," Danial berdecih. "Demi apa gue mau balikan sama lo."


"Gue tanya sama lo, yang mau balikan siapa?"


"Jadi sekarang lo maunya apa?" tanya Danial. "Lo mau ngasih gue tamparan sebagai bentuk pembalasan?"


"Ide bagus," sedetik setelah kalimat itu tergulir dari bibir Aurel, telapak tangan nya pun bergerak lincah memberi satu buah tamparan keras di pipi kenyal milik Danial. Suara yang dihasilkannya membuat seisi kelas menolehkan muka ke arah mereka berdua.


"Eh karet nasi padang. Lu kenapa malah nampar gue beneran?" tuntut Danial seraya memegangi bagian pipinya yang sedikit nyut-nyutan.


"Anggap aja satu sama. Maurine nampar gue, dan sebagai balasannya gue juga nampar lo." Diiringi senyum penuh kepuasaan Aurel meninggalkan tempat duduknya.


"Mau ke mana lu?" protes Danial masih memegangi pipi sebagai sumber kesakitannya. "Tanggung jawab lu woi! Gara-gara lo, muka ganteng gue jadi lecet kek gini."


"Bodo amat, gue gak peduli," balas Aurel bersikap bodo amat. 


...●●●●●...


...SENENG GAK KALIAN DENGAN PUTUSNYA DANIAL DENGAN SI MARGARINE? EH, SALAH MAKSUDNYA MAURINE :)...

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2