MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
14. NIGHTMARE


__ADS_3

...NIGHTMARE...


...(MIMPI BURUK)...


...●...


...●...


...●...


"EH, AYAM." Danial berjingkat kaget saat menutup pintu kulkas dan mendapati Aurel sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Beruntung air di mulutnya lebih dulu terteguk sehingga tak sempat terbuang ke lantai.


Sekilas gaya yang diperlihatkan oleh Aurel tak ubahnya model professional. Sayang, ekspresi yang ditampilkannya tidak menyamai model di layar kaca. Ekspresi yang ditampilkan Aurel saat ini terlalu menyeramkan.


"Maksud lo apa ngunciin gue di luar?"


"Bukan gue yang ngunci pintunya," dustanya bergidik.


"Terus siapa, lo pikir pintunya bisa kekunci sendiri."


Danial bergidik lagi, "Ya mana gue tau, hantu kali yang ngunci. Secara kan lo temenan sama mereka." Jawab Danial enteng.


"Noh hantu di belakang lo!" dusta Aurel menunjuk sesuatu di belakang Danial.


"Mana?" Danial melebarkan matanya. Tanpa menoleh ke arah yang dimaksud si gadis dia langsung melangkah maju dan memeluk tubuh Aurel dengan eratnya.


"Menjauh dari gue!!!" Aurel menyentak kesal lalu mendorong tubuh Danial agar menyingkir darinya, "Gue cuma becanda gak usah terlalu serius nanggapinnya!"


Begitu Danial melepaskan pelukannya, Aurel pun membersihkan bekas pelukan pria menyebalkan itu, "Elah modus amat sih lo," Aurel menyenter tajam ke arahnya.


"Kenapa nyalahin gue? kan lo sendiri yang nunjuk-nunjuk belakang gue terus bilang ada hantu."


"Tau ah, gara-gara lo gue harus bersihin tubuh gue pakek tanah."


Mata melebar diperlihatkan olehnya. Cibiran Aurel barusan terlalu tajam untuk ia tahan, "Lo pikir gue anjing harus dibersihin pakek tanah segala."


Alih-alih memberikan klarifikasi atas kalimat yang sempat membuat Danial naik pitam, Aurel justru memilih memutar arah badannya sebelum kakinya terangkat melangkah menuju kamarnya.


Di lantai dua rumah Aurel terdapat tiga buah kamar. Selain kamar Aurel, di sana juga ada dua buah kamar tamu yang kini menjadi tempat peristirahatan Danial dan juga Davina.


Sengaja tidak mematikan lampu, Danial setibanya di kamar langsung membanting tubuhnya di kasur. Menggunakan kedua tangan kekarnya sebagai bantal pria itu memejamkan matanya sehingga kesadaran dalam dirinya hilang secara perlahan.


2 jam berikutnya masih di posisi yang sama Danial mendadak tersentak. Matanya masih memejam tapi kepalanya terus bergerak tampak gelisah. Sesuatu di dalam mimpinya membuatnya ketakutan. Dampaknya bahkan membuat wajah Danial jadi basah karena keringat.

__ADS_1


Terududuk di atas ranjang Danial mengatur embusan napasnya.


"*****," cercahnya.


Mimpi buruk membuatnya kesulitan untuk kembali ke mode tak sadarkan diri. Sempat mencoba kembali berbaring memejamkan mata, namun tetap saja kesadarannya tak mau hilang. Pada akhirnya Danial menyerah juga, dia memilih bangkit meninggalkan ranjang tanpa lupa membuka kemeja sehingga otot perutnya terlihat.


Air conditioner di dalam ruangan dalam keadaan hidup, tetapi peluh membuat badan Danial jadi basah.


Mendekati jendela tangan Danial bergerak maju digunakan sebagai alat untuk menyingkap gorden putih. Panorama suasana malam pun tertangkap indra penglihatannya. Pepohonan yang tertiup oleh angin malam membuat perasaannya jadi damai.


Tak berangsur, karena sosok putih tiba-tiba melayang terbawa angin. Mencoba fokus Danial mengatur matanya agar tampak menyipit. Sembari menggerak-gerakkan kepalanya Danial tidak mau melepas fokusnya kepada benda putih yang masih berterbangan itu.


Sempat mengira sosok tersebut sebagai sebuah selendang. Tetapi asumsinya dipatahkan saat menyadari bahwa sosok itu adalah makhluk yang biasa orang sebut sebagai kuntilanak. Tak perlu ditanya sekujur tubuh Danial telah bergetar, diikuti oleh bulu kuduknya meremang.


Sejauh ini ia masih menatap dengan mata menyipitnya. Sampai ketika matanya berubah melebar kala tersadar jika sosok kuntilanaknya sedang terbang ke arahnya.


Srek!


Meski dengan tangan bergetar, Danial secepat kilat menarik gorden sehingga ia tak bisa melihat lagi pemandangan di luar sana.


"Kayaknya gue gak bisa tidur di sini deh," gumam Danial berpikir. Kejadian menegangkan yang terjadi di detik yang lalu membuatnya parno untuk memejamkan mata di tempat ini. Manusia penakut semacamnya seperti sah-sah saja jika membayangkan yang tidak-tidak, terlebih ditambah fakta sosok menyeramkan baru saja ditemuinya.


...●●●●●...


Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali terjaga, Aurel akan selalu duduk di tepian ranjang untuk meneguk air yang tersedia di atas nakasnya. Sambil meneguk airnya Aurel juga memandangi sambaran kilat di luar sana melalui ekor matanya.


Malam ini langit tak lagi bersahabat. Sambaran kilat yang mencoret langit malam kini diiringi oleh hujan deras.


Aurel masih mengantuk, jelas sekali dari pancaran matanya yang masih membutuhkan tidur sebelum aktivitasnya sebagai anak sekolah berlangsung.


Aurel bisa merasakan kehadiran sosok anak kecil di sekitarnya. Mungkin sosok tersebut hendak mengajaknya bermain. Sayangnya Aurel terlalu mengantuk untuk sekadar menemani bocah penasaran itu.


Kembali ke posisi semula Aurel mulai berbaring dan merentangkan kedua tangannya. "Apaan tuh?" Aurel menarik tangannya cepat ketika merasa menyentuh sesuatu. Tak mau dibelenggu rasa penasaran sehingga Aurel dengan cepat menyalakan lampu kamarnya.


"Siapa lo?" Aurel menatap penuh selidik sosok yang sedang tertutup selimut.


Tak ada pergerakan. Bisa jadi sosok di balik selimut itu sedang dalam kondisi tak sadarkan diri, mungkin tidur, pingsan, atau yang lebih parahnya telah meninggal.


Penuh keragu-raguan Aurel mengambil bantal melempari seseorang di balik selimut itu.


"Awww," suara ringisan pun terdengar. Dan ya, suara itu tidak asing di telinga Aurel.


Sampai ketika selimut terbuka dan menampilkan sosok Danial.

__ADS_1


"Ngapain lo di kamar gue?" syukurlah karena di luar lagi hujan sehingga pekikan Aurel tak membuat seisi rumahnya terjaga dan berhamburan ke ruangan kecil ini.


Tak kalah panik Danial meninggalkan selimut tebalnya untuk mengambil posisi berdiri mengikut Aurel.


"Ngapain lo di kamar gue, telanjang dada lagi. Jangan macam-macam ya!" telunjuk Aurel mengarah ke muka Danial. "Gue bisa teriak dan bokap gue bakalan datang dan hancurin wajah lo!"


"Gak gitu Rel. Sumpah demi Tuhan gue kagak ada niatan untuk ngapa-ngapain lo, lagian lo bukan tipe gue kok." Danial memperlihatkan kedua telapak tangannya. Binar matanya sarat akan kejujuran.


Aurel bergeming untuk sesaat mendengar pemilihan kata Danial. Bagi Aurel kalimat tersebut terlalu tajam untuk disampaikan.


"Terus lo ngapain di sini?" tuntut Aurel.


"Gue kira ini kamarnya Davina." Dalih Danial.


"Kamar Davina di sebelah." Jelas Aurel menunjuk salah satu arah. "Tunggu bentar!" cegat Aurel begitu Danial memutar badannya.


Memasang tampang bingung Danial memilih diam.


"Ada masalah apa sampai lo pindah kamar?" tanya gadis itu. "Atapnya bocor?" imbuhnya menerka-nerka mengingat sekarang kondisinya lagi hujan deras. Takutnya kamar tamu yang ditempati Danial sedang bermasalah.


Danial menggeleng.


"Terus?" singkat Aurel.


Masih belum berani menjawab. Danial hanya menggaruk tengkuk seolah takut untuk menatap lawan bicaranya.


"Jawab Danial!" tegas Aurel terlihat seperti polisi yang tengah menginterogasi maling ketahuan nyuri ayam. Kebungkaman Danial membuat Aurel naik pitam. Lagian apa susahnya sih berterus terang?


"Gue..."


"Apa?" interupsi Aurel, masih menyenter tajam Danial yang masih ragu-ragu untuk bercerita.


Mengembus kesal Danial pun menggerakkan sudut bibirnya, "Gue gak berani tidur sendiri, gue takut sama hantu," jelas Danial menurunkan gengsinya.


Kini giliran Aurel yang diam menautkan kedua sisi bibinya.


"Puas kan lo denger pengakuan gue?" perasaan kesal membuat Danial memutar badannya dengan tempo cepat.


Kakinya baru saja terangkat tetapi Aurel kembali bersuara dan mengakibatkan Danial urung melanjutkan langkah, "Tunggu!" cegat gadis itu.


"Apa lagi?" tanya Danial diiringi embusan napas yang lebih terdengar ke arah kesal.


"Selimut lo ketinggalan," entah karena malas atau apa, Aurel memilih menunjuk selimut milik Danial menggunakan dagu alih-alih dengan telunjuknya.

__ADS_1


...~To be Continued~...


__ADS_2