
...ANNOYING GHOST...
...(HANTU YANG MENYEBALKAN)...
...●...
...●...
...●...
NAKULA sedikit bingung karena adiknya tak kunjung turun dari mobil yang dikemudikannya, padahal sekarang ia sudah ada di depan SMA Angkasa Raya—tempat di mana adiknya sedang menimbah ilmu. Pria itu pun menoleh memeriksa ada apa gerangan.
“Kenapa?” Nakula bertanya. “Kalau masih sakit, lebih baik gak usah masuk dulu,” lanjutnya mengingat kemarin adiknya sedang demam.
Hening. Tidak ada respon dari Aurel. Gadis itu hanya menunduk memeriksa saku seragamnya.
“Lagi nyari apa sih?” Nakula tak merasa bosan mengajukan pertanyaan.
“Sepertinya uang jajan Aurel ketinggalan deh Kak.” Jawab Aurel dengan penandasan berupa bibir mengerucut.
Nakula merogoh sakunya. Ia membuka dompet dan segera memberikan adik perempuannya lembar rupiah dengan nominal lima puluh ribu. Aurel menariknya cepat sambil mengucapkan terima kasih.
“Astaga…”
“Kenapa?” tanya Nakula, “Uangnya kurang?”
“Bukan gitu, Aurel baru inget kalo uang jajan pemberian Papa ada di dalam ransel.”
“Ya sudah, uang pemberian Kakak balikin!” Nakula mengulurkan tangannya.
“Eits gak boleh gitu dong. Kan udah dikasi ke Aurel.” Aurel menjulurkan lidah, mengejek. Dan sehabis itu ia bergegas turun dari mobil menyisakan Nakula sendirian.
Nakula mengembuskan napas super panjang melepas adiknya pergi. “Padahal uang tadi bisa dipake nge-print makalah.” Gumam Nakula menyayangkan uang lima puluh ribunya diberikan pada Aurel.
__ADS_1
Saat Aurel melangkah masuk ke pelataran sekolah, tak sengaja ia mendapati sosok tak kasat mata balik menatapnya. Hanya beberapa detik karena Aurel memilih menggeser arah pandangnya. Kebetulan, saat menghindari objek itu Aurel menemukan sahabatnya.
Leana baru saja turun dari mobilnya.
“Hari ini gak ada tugas kan?” tanya Aurel berbasa-basi.
“Hmmm…. Kayaknya gak ada deh,” Leana menjawab dengan posisi kedua tangan memainkan tali ransel.
Sejujurnya saat ini Aurel masih penasaran. Apakah sosok di gerbang tadi masih mengikutinya atau tidak.
“Omong-omong lo belum nemu gosip baru hari ini?” keduanya jalan bersisian membelah koridor begitu pertanyaan terdengar dari bibir Aurel.
“Ya kali Rel,” Leana menengok arlojinya, “Baru juga setengah tujuh. Dan ya, jam segini belum ada update terbaru.”
“Biasanya kan lo gercep soal gosip.”
Leana menoleh, mukanya menyiratkan kebingungan. “Emang ada apa sih?” Leana mengembalikan pertanyaan. Tumben Aurel penasaran sama gosip. Biasanya gadis itu memilih menghindar ketika Leana mulai membahas hasil ghibahan yang ia dengar dari kelas sebelah. Tapi kenapa hari ini malah sebaliknya. Apa jangan-jangan Leana ketinggalan hot news?
“Lo beneran gak tau tentang adek kelas yang baru aja meninggal?” tanya Aurel. Lantas Leana menggerakkan kepalanya, menggeleng dengan tempo lambat.
“Jadi bener ya kalo kak Aurel bisa liat hantu?”
Aurel memutar bola matanya malas. Ia merasa risi dengan arwah adek kelasnya yang tengah mengambil jurus SKSD alias sok kenal, sok dekat.
“Lo pikir yang gue liat saat ini apaan kalau bukan hantu? Anak kucing?” tajam Aurel dengan suara seperti sedang berbisik. Aurel melihat sekitar, berjaga-jaga takutnya ada murid lain yang menyaksikannya sedang berbicara sendirian.
“Elah Kak Aurel jutek amat dah. Emangnya Kakak gak kasian apa sama Sisil? Sisil kan baru aja meninggal. Asal Kakak tahu, populasi orang manis di SMA Angkasa Raya berkurang satu loh.”
“Bodo amat." tajam Aurel acuh tak acuh. "Omong-omong lo meninggalnya karena apa?” tanya Aurel.
“Tadi pagi Sisil berangkat pakek motor ke sekolah. Pas di jalan ban motor Sisil pecah. Karena saat itu laju motornya lumayan cepet jadi Sisil hilang kendali, dan motornya nyunsep deh di got barengan ama Sisil.”
Aurel terkekeh jelas membuat arwah Sisil merasa kesal. “Ih kok Kak Aurel malah ketawa sih, kan gak ada yang lucu.”
__ADS_1
Belum sempat menjawab Sisil, Leana yang tadinya gabung dengan gerombolan tukang ghibah akhirnya balik menghadap Aurel. “Bener Rel, salah satu adek kelas kita ada yang meninggal, namanya…” cukup lama Leana menggantung ucapan tatkala mengingat salah satu nama yang sempat didengarnya.
“Namanya Sisil, dia meninggal karena kecebur di got.” Aurel menjawab cepat.
“Btw lo kok tahu sih? Dapat kabar dari mana lo?” Leana mulai merasa tidak enak. Bulu kuduknya yang meremang membuatnya semakin yakin ada makhluk tak kasat mata yang sedang berdiri di sekitarnya.
Menggunakan dagunya Aurel menunjuk sosok yang dilihatnya tengah berdiri di sebelah Leana. “Noh, dia barusan cerita sama gue!”
Leana mengecek sebelahnya. Kosong, tak ada apa pun yang ditemukannya seperti yang dimaksud oleh Aurel.
“Aurel jangan ngaco ah!” Leana bergerak cepat menggamit lengan Aurel yang kebetulan berjarak semeter di hadapannya. Leana emang paling anti sama hal yang erat kaitannya dengan dunia mistis.
“Serius An. Noh si Sisil baru aja ngetawain lo pas lagi ketakutan.”
“Cemen! Takut sama hantu.” Sisil mengejek. Tentu saja cuma bisa didengar oleh Aurel yang punya indra keenam.
“Wah, An. Si Sisil baru aja ngejek elo. Dia bilang kalo lo itu cemen karena takut sama hantu.” Aurel memprovokasi.
“Jangan macam-macam lo sama senior!” Leana mengancam disela-sela rasa takutnya, “Untung status lo udah jadi hantu, kalau masih manusia udah gue geprek pala lo atau kalau perlu udah gue cabein mulut lo.”
“Dia ada di belakang lo An.” Bohong Aurel.
“Sisil jangan deket-deket sama gue!” Leana semakin mengencangkan pelukannya di tubuh Aurel. “Gini nih risiko punya temen yang bisa liat hantu. Kayaknya gue salah pilih sahabat deh Rel.”
“Udah tau gue indigo, masih aja lu jadiin sahabat. Dasar ****.”
“Untung jago matematika, kalo enggak mah udah pasti gue cari sahabat lain,” kelakar Leana.
“Sialan nih anak, udah ah gue cabut duluan biarin aja lo sendirian di sini. Digigit sama Sisil baru tau rasa lu.” Aurel menepis tangan Leana dari badannya, lanjut gadis itu segera berlari sambil menerbitkan senyum tipis-tipis.
Sebelum berlalu Leana masih sempat meninggalkan kalimat, ditujukan untuk Sisil. “Sil gue tau lo masih ada di sini, ucapan gue yang sebelumnya jangan masukin dalam hati ya! Gue ngomong kek gitu karena gak mau dicap penakut sama Aurel. Gue gak ada maksud untuk ngelawan elo kok hehehe.” Mempertegas ucapannya Leana mengangkat telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan, memperlihatkan simbol perdamaian.
Jelas sekali Leana merasa dirinya sudah tak waras karena berbicara sendiri tanpa ada seorangpun di sekitarnya.
__ADS_1
“Aurel… Tungguin!!!” rengek Leana dengan nada manja sebelum akhirnya ia ikut berlari mengejar Aurel.
...~To be Continued~...