MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
69. IT'S NOT FUNNY


__ADS_3

...IT'S NOT FUNNY...


...(INI TIDAK LUCU)...


...●...


...●...


...●...


DANIAL merasa ada sedikit yang berbeda pada dirinya. Ia tak menemukan sedikit pun kebahagiaan dengan kenyataan dirinya yang sedang terikat dalam hubungan pacaran dengan Maurine. Berbeda saat dirinya berpacaran dengan Aurel. Entah kenapa saat bersama Aurel dia lebih banyak tersenyum dibanding berdengus karena perasaan kesal yang memuncak.


Ada perbedaan besar antara Maurine dan Aurel. Maurine terlalu banyak menuntut dan selalunya berharap keinginannya itu dipenuhi. Sementara Aurel tidak pernah sekali pun melarang Danial untuk melakukan hal yang disukai selama itu masih dalam batas wajar. Bahkan saat berduaan pun Maurine akan ngedumel kalau misalkan Danial sedang memainkan game yang ada di ponselnya.


Danial menghirup udara bebas, lalu mengembuskannya. Pria yang berdiri menyenderkan punggung di tembok tampak sedang berpikir. Sebenarnya apa sih tujuannya memacari Maurine?


Danial mengakui. Malam itu dia memang telah membuat rencana tepat setelah Haris mengabari bahwa Leana akan datang bersama Aurel. Saat itu juga Danial yang tadinya malas untuk datang pun bersemangat. Memanggil dan menembak Maurine tepat di hadapan Aurel adalah rencana yang dibuat Danial dengan tujuan untuk melihat bagaimana umpan balik dari Aurel.


Hasil yang Danial dapatkan malam itu tentu saja rasa puas. Melihat Aurel yang tiba-tiba membawa langkah kakinya ke toilet beberapa saat setelah Danial mengungkapkan perasaan pada Maurine adalah killing part yang Danial tunggu. Setidaknya Danial masih bisa melihat kecemburuan pada diri seorang gadis yang kini berstatus sebagai mantan pacarnya.


Rencana yang dibuat oleh Danial ternyata jadi boomerang buat dirinya sendiri. Ia telah menembak Maurine di depan Aurel. Dan Maurine menerimanya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, nyatanya Danial sendirilah yang mengikat hubungan pacaran dengan Maurine dan ia harus menanggung apa yang menjadi kesalahannya.


Untuk saat ini Danial memang tak memiliki perasaan apa-apa dengan Maurine. Bahkan sedikit pun tak ada. Tapi Danial berjanji pada dirinya akan berusaha untuk belajar mencintai Maurine sekalian juga pria itu akan berusaha melupakan Aurel secara perlahan. Toh, akhir-akhir ini Danial melihat mantan kekasihnya itu dianterin pulang oleh salah satu murid SMA Angkasa Raya yang bernama Bagas. Mungkin sebentar lagi mereka akan berpacaran.


"Sayang," panggilan dari Maurine yang kebetulan baru selesai menggunakan toilet tak diindahkan oleh Danial. Danial bukannya sengaja tak mengacuhkan sang pacar. Kebetulan saja pria itu sedang memikirkan sesuatu hingga berujung pada konsentrasinya pecah—yang membuatnya tak mendengar dengan baik panggilan dari Maurine. "Sayang," panggilan kedua yang disusul oleh tepukan pelan di bahunya adalah alasan kenapa Danial menyentak kaget.


"Udah selesai buang air kecilnya?" ujar Danial cepat.


"Udah dari tadi malah," jawab Maurine kesal dengan bibir tampak mengerucut. "Kamu ini kenapa ngelamun sih, dipanggil-panggil dari tadi gak nyahut-nyahut. Bikin kesal aja." Maurine merapikan poninya yang sedikit menghalangi pandangannya, "Yuk ke kantin! Aku udah laper banget."


Danial menggaruk kepalanya, "Kamu duluan aja, aku juga mau ke toilet," bohong Danial. Sebenarnya ada alasan kenapa dia menyuruh pacarnya ke kantin duluan. Hanya saja dia tidak mau mengatakannya pada yang bersangkutan.


Maurine memutar bola matanya dengan malas. "Kalau gitu aku ke kantin duluan. Aku tunggu kamu di sana. Ingat, jangan lama-lama!!!!!"


Membiarkan Maurine yang memilih membawa langkahnya menunggu kantin, Danial justru menghampiri Bagas yang kebetulan sedang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Sepertinya sih Bagas baru pulang dari kantin.


"Gas!" panggil Danial.


"Eh, Dan. Kebetulan lo ada di sini. Gue mau nanya sesuatu sama lo. Boleh gak?"


"Boleh sih, tapi jangan nanya soal matematika, fisika, atau kimia ya. Otak gue error soalnya kalau udah disangkut pautin sama hal-hal yang berhubungan sama hitung-hitungan," canda Danial diikuti senyuman.


"Enggaklah. Ya kali gue mau nanya soal matematika. Ngeliat soalnya aja udah mual-mual duluan gue," jawab Bagas balik bercanda menanggapi lelucon Danial.


"Lu mau nanya apa?" Danial mengubah tampang jenakanya jadi serius.


"Lo liat Aurel gak?"


Ada kilatan kemarahan di mata Danial saat mendengar pertanyaan Bagas yang merujuk pada Aurel. Meski tak mengakui, namun dari caranya menatap Bagas, juga bagaimana gesturnya saat ini sangat kentara bahwa Danial sedang cemburu.


"Lo liat Aurel gak?" Bagas mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Iya gue liat. Tadi juga dia sempat nitip pesan buat lo."


"Pesan? Buat gue?" Bagas menunjuk dirinya sendiri.


"Katanya lo disuruh ke gudang."


"Buat apa dia nyuruh gue ke gudang?"


Danial mengedikkan bahunya kemudian menjawab, "Gak tahu juga. Mungkin ada barang yang mau dia ambil di sana. Saran gue lebih baik lo ke sana aja sekarang, keburu bel nanti."


"Btw gudang yang mana? Di sekolah kita kan banyak gudang."


"Katanya sih gudang yang ada di lantai dua."


Bagas dengan mata meredup sedang berpikir, "Gudang yang deket sama UKS?"


"Nah bener, gak salah lagi."


"Kalo gitu gue cabut dulu," pamit Bagas.


Danial tersenyum jahil memperhatikan punggung Bagas yang semakin menjauh. "Selamat bersenang-senang sama kuyang penjaga gudangnya."


...●●●●●...


BRUKKK!


Suara buku yang terjatuh terdengar.


Dengan gesit Bagas membantu merapikan buku-buku milik gadis itu yang berserakan.


"Lo ini gimana sih. Kalau jalan tuh....." Leana selaku orang yang ditabrak oleh Bagas memilih untuk tidak melanjutkan kalimat saat dagu miliknya diangkat sehingga matanya dengan Bagas bertemu, "Bagas. Lo ngapain pake lari-larian kek tadi? Kek dikejar setan aja lo."


Bagas mengembalikan buku milik Leana. "Sekali lagi gue minta maaf. Gue beneran gak sengaja soalnya lagi buru-buru."


"Memangnya ada apa sih?"


"Gak ada kok. Gue cuma mau ketemu sama Aurel di gudang samping UKS lantai atas," jawab pria itu lengkap.


"Aurel ngajakin lo ketemuan di gudang? Buat apa?"


"Entahlah. Mungkin ada barang yang mau diambil dari sana."


Disaat Leana masih diam di tempat sambil berpikir. Bagas justru telah pergi melanjutkan langkah ke lantai dua melalui tangga penghubung yang jaraknya cukup dekat dari tempat Leana berdiri saat ini. Padahal masih ada beberapa hal yang ingin ditanyakan Leana. "Kok aneh ya Aurel malah ngajakin Bagas untuk ketemu di gudang samping UKS. Bukannya makhluk paling menyeramkan yang ada di sekolah ini jadi penunggu di sana?" Leana merasa ada yang tidak beres. Mendadak dia ketakutan sendiri membayangkan bagaimana nanti saat Bagas bertemu dengan makhluk menyeramkan di sana? Tapi Leana berpikir lagi. Aurel ada bersama pria itu. Pasti semuanya akan baik-baik saja.


Rencananya sebelum ke kantin Leana lebih dulu menuju ke kelas. Tujuannya ke sana tentu untuk menyimpan tumpukan buku di tangan. Pastinya ribet jika dia ke kantin sambil membawa tumpukan buku di tangan.


"Leana. Lo belum ke kantin. Gue kira lo udah ada di sana, padahal gue baru ada niatan buat nyusul," setibanya di kelas Leana disambut oleh Aurel.


Leana membatu. Pikirannya menjurus kepada Bagas. Sudah Leana duga, ada yang tidak beres ketika Bagas mengatakan hendak menuju ke gudang samping UKS—di mana yang Leana tahu tempat tersebut dihuni oleh makhluk sejenis kuyang.


Melihat sahabatnya masih di ambang pintu seraya memeluk tumpukan buku. Aurel pun segera bangkit menghampirinya. "Kok malah bengong? Buruan taruh bukunya terus kita berdua ke kantin."

__ADS_1


"G-Gawat Rel!" Leana tergagu.


"Apanya yang gawat?" tanya Aurel.


"Pokoknya ini gawat banget!"


"Iya. Tapi apanya yang gawat?" kadar kebingungan dalam diri Aurel semakin bertambah. "Gue mana bisa tahu kegawatan yang lo maksud kalau semisal lo cuma ngulang kata 'gawat' doang tanpa ngasih penjelasan."


"Kok lo bisa ada di sini?"


"Maksudnya?"


"Bukannya sekarang lo harusnya ada di gudang samping UKS?"


"Kok gudang? Gue kan baru aja balik dari ruang tata usaha buat bayar SPP. Lagian buat apa juga gue ke gudang samping UKS? Kayak punya urusan aja gue sama penghuninya."


"**-TA-TAP-TAPI," bahkan menyebut satu kata pun Leana membutuhnya lebih banyak waktu.


"Kenapa sih An. Panik gitu muka lo?"


Leana tipikal orang yang susah ngomong pas lagi panik kayak begini. Ada aja kendala yang ditemukannya saat hendak menyelesaikan kalimatnya.


"Tarik napas dulu sebelum cerita!"


Leana melakukan sesuai yang diperintahkan Aurel padanya. Dia memborong oksigen di sekitarnya. Lalu kemudian dia menggantinya dengan karbon dioksida yang berasal dari dalam tubuhnya. Leana mengulangnya beberapa kali sampai dia merasa kepanikan dalam dirinya telah berkurang.


"Lo cerita pelan-pelan dan jangan panik biar gak belibet ngomongnya."


"Gini Rel. Gue kan dari perpustakaan minjem buku. Di tengah jalan menuju kelas gue kan meluk buku nih. Eh tiba-tiba gue ketabrak sama Bagas sampai buku gue jatuh berserakan di lantai. Setelah dia bantuin gue ngerapiin bukunya, gue nanya deh penyebab dia sampai terburu-buru. Dia jawab katanya karena lo yang nyuruh dia buat datang ke gudang samping UKS."


"Gue gak nyuruh sama sekali tuh. Gue aja baru balik dari ruang tata usaha buat bayar SPP. Mana sempat gue nyuruh dia ke gudang."


"Dari awal gue juga udah ngerasa aneh Rel pas Bagas ngejelasin ke gue tadi. Ya kali lo nyuruh dia ke gudang apalagi ditambah kenyataan kalau dia bisa ngeliat hantu."


"Kira-kira siapa yang ngasih dia info asal kek gitu?" pikir Aurel sembari menggigit kuku jarinya.


"Kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat deh Rel buat nyari tahu siapa dalang dibalik kesalahpahaman ini. Menurut gue sebaiknya kita ngecek kondisi Bagas di gudang. Kasian dia sendirian di sana. Dia pasti belum terlalu siap buat ketemu sama makhluk menyeramkan kek gitu," usul Leana yang dibenarkan Aurel lewat sebuah anggukan cepat.


"Biar gue yang ke sana. Lo ke kantin aja!" perintah Aurel penuh penekanan.


"Tapi, Rel?"


"An lo harus dengerin gue. Bentar lagi bel tanda masuk bakal bunyi. Mendingan sekarang lo ke kantin aja ngisi perut lo!"


"Tapi Rel?"


"Leana! Lo itu punya riwayat maag! Gue gak mau ya kalau sampai lo sakit."


"Oke deh Rel. Gue bakal langsung ke kantin." 


...●●●●●...

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2