
...GUESS WHO?...
...(TEBAK SIAPA?)...
...●...
...●...
...●...
"TUNGGU SEBENTAR!" teriak Aurel menggunakan nada suara yang lantang dari arah dapur.
Pandangan Aurel kemudian jatuh ke bagian pergelangannya yang menjadi tempat di mana arlojinya berada. Menilik waktu yang terlihat di sana, rasanya terlalu pagi seseorang datang berkunjung ke rumahnya. Masih pukul enam lewat beberapa menit.
Sebuah ketukan yang bersumber di pintu utama rumahnya adalah alasan paling kuat kenapa Aurel—yang sudah lengkap dengan setelan seragam sekolahnya—meninggalkan sarapannya lalu berlari kecil dari arah dapur. Sembari bergumam menyanyikan penggalan lirik lagu ia membawa tangannya memutar kunci lalu kemudian ia mengarahkan tangan pada kenop pintu.
"Elo," katanya. "Ngapain lo datang ke sini, perasaan gue gak ngundang lo," sangat tidak terpikirkan bahwa pagi itu dia bertemu dengan Danial. Danial telah berdiri di depan pintu rumahnya dengan setelan seragam yang sama dengan yang dikenakan Aurel saat ini. Entah ini sebuah keberuntungan atau sebaliknya, tetapi pertemuannya pagi itu membuat kekesalan hadir dalam diri Aurel.
"Memangnya siapa yang bilang kalau gue datang ke sini karena lo yang ngundang," jawab Danial ikut nyolot seperti sambutan Aurel.
"Terus kalau bukan untuk nemuin gue, tujuan lo datang ke sini untuk apa?" Aurel melipat tangannya yang telah mengudara tepat di depan dada bersama matanya yang telah menyipit menunggu sebuah jawaban tergulir dari bibir lawan bicaranya.
"Heh, karet nasi padang. Jangan kegeeran ya jadi orang. Apalagi sampai berpikir kalau gue datang ke sini semata-mata untuk nemuin lo. Emang lo siapa? Ariana Grande?" ujarnya misuh-misuh. "Tujuan gue datang ke sini untuk menemui tante Sarah, bukan lo."
"Alesan, bilang aja kalau lo pengin nemuin gue," pede Aurel.
"Nih kalau lo gak percaya," ransel yang tersemat di punggung diambilnya. Ia merogoh mengambil sebuah kantong kresek yang ada di sana. Setelah mengambilnya ia langsung memberikannya kepada Aurel. "Nyokap gue nyuruh bawa kain ini untuk tante Sarah. Jadi berhenti berpikir kalau gue datang ke sini untuk nemuin lo."
"Eh, Danial," celetuk Nakula yang baru saja hadir dan berdiri di samping adiknya. "Ayo masuk!"
"Gak usah, lagian gue juga udah mau balik," balas Danial kepada Nakula.
"Oh iya, lo mau langsung ke sekolah kan?" Nakula lebih lanjut memberikan pertanyaan.
"Iyalah, masa mau dangdutan. Kan udah jelas kalau gue mau ke sekolah pakai seragam ini," sewot Danial.
"Siapa tahu kan lo mau mampir dulu, ke mana kek."
__ADS_1
"Enggak. Gue mau langsung berangkat ke sekolah. Memangnya kenapa? Lo mau nebeng sama gue?" Danial membagikan asumsinya yang menjurus kepada pertanyaan yang tergulir dari bibir Nakula sebelumnya. "Ayo, biar gue yang anterin lo sekalian ke kampus," lanjut Danial.
"Bukan, bukan gue yang mau nebeng sama lo. Tapi Aurel."
"Lah, kok gue?" kepala Aurel bergerak cepat memperhatikan kakaknya lewat pandangan yang menuntut sebuah jawaban.
"Gue lagi banyak urusan, jadi gak ada waktu buat nganterin lo ke sekolah. Kan bisa sekalian sama Danial aja. Lagian kalian berdua juga sama-sama sekolah di SMA Angkasa Raya, sekelas, dan yang paling penting kalian pernah terlibat dalam perasaan," belum hilang rasa kesal yang hadir di dalam diri Aurel karena Danial, sekarang kadarnya semakin bertambah setelah Nakula menyinggung soal hubungan yang pernah terjalin di antaranya dengan Danial.
"Stop ya Kak bahas-bahas soal masa lalu Aurel."
"Iya, iya, gue udahin bahas masa lalu. Tapi hari ini lo nebeng sama Danial dulu ya."
"Ogah gue nebeng sama dia," tolak Aurel terang-terangan dengan bahunya yang diangkat memperlihatkan sebuah kedikan.
"Lo pikir gue juga mau nganterin lo ke sekolah," balas Danial tak mau kalah.
Nakula sedang senyum-senyum sendiri atas tingkah manis yang dipersembahkan keduanya. Rasanya baru kemarin ia melihat sisi romantis yang terjalin di antara Aurel dan Danial, tetapi sekarang malah berbanding seratus delapan puluh derajat. Alih-alih memperlihatkan sikap romantis, keduanya malah memperlihatkan sikap kekanakan tak ubahnya kucing dan tikus yang hobi berantem tiap kali bertemu.
"Udahlah, kalau memang kalian berdua udah gak punya hubungan apa-apa lagi, sebaiknya bersikap biasa saja. Kecuali kalau lo berdua takut saling jatuh cinta lagi."
"Cih, ogah," balas Aurel. Lagi, sebuah kedikan mengekori kalimat yang tergulir dari bibirnya.
"Oke, gue bakal nebeng sama Danial, semata-mata untuk ngebuktiin sama kak Nakula kalau gue udah gak ada niatan untuk balikan sama dia."
...●●●●●...
TERLEPAS dari adanya unsur kesengajaan atau tidak. Yang jelas tingkah Danial berhasil memancing emosi Aurel yang kebetulan duduk di jok belakang motornya. Pengereman mendadak yang dilakukan oleh pria itu membuat Aurel refleks membuka tangan dan melingkarkannya kepada perut Danial selaku orang yang mengemudikan motor tersebut.
Adegan peluk-pelukan itu hanya berlangsung dalam rentan waktu sepersekian detik saja. Pasalnya Aurel buru-buru melepaskan tangannya dari tubuh Danial.
Plak!
Bunyi itu terdengar bersamaan dengan telapak tangan milik Aurel menggebrak punggung milik Danial. "Awww," Danial yang tidak siap dengan pukulan tersebut pun menyentak lalu meringis kesakitan. Ia mencoba menyentuh sumber rasa sakit itu meski sedikit kesusahan melakukannya. "Lo ini ada masalah apa sih, lo kata badan gue ini gendang yang bisa lo gebuk seenaknya?"
"Yang ada elo tuh yang punya masalah apa?"
"Dih, kan elu yang gebukin gue. Kenapa sekarang malah playing victim lu?"
__ADS_1
"Heh, tutup botol, gue gak bakal gebukin lo kalau lo gak ngelakuin pengereman mendadak kayak tadi. Atau jangan-jangan lo sengaja ya ngelakuin itu supaya bisa gue peluk dari belakang?" tuduh Aurel.
"Najis banget! Yang ada elu tuh yang sengaja meluk gue! Ngaku aja deh!"
"Masih pagi udah berantem aja lo berdua," celetuk Leana yang baru saja datang sambil memeluk buku paket. Aurel dan Danial menolehkan muka ke arah Leana yang kini telah menerbitkan senyuman tipis-tipis. "Makanya, lain kali kalau ada masalah, diselesaikan dulu secara baik-baik. Masalah rumah tangga kok dibawa-bawa sampai sekolah," cibir Leana dilanjutkan dengan menggingit bibir bagian bawahnya demi untuk menghalau sebuah senyuman terbit dari sana.
"Bisa diem gak lo?" tanpa niatan atau pun hitungan aba-aba Aurel dan Danial terlihat begitu kompak mengatakannya. Terlihat bahwa keduanya masih memiliki chemistry yang begitu kuat.
"Ya elah, ngomongnya aja barengan. Emang ya, kalau jodoh gak akan ke mana. Bentar lagi pasti balikan nih."
"Diam," respon dari Danial dan Aurel atas sikap Leana yang sedang menggodanya. Dan lagi, Aurel dan Danial mengatakannya serempak.
"Cie udah dua kali ngomong barengan. Pertanda jodoh nih," Leana memanfaatkan momen tersebut untuk menggoda Aurel dan Danial.
"Udah ah, dari pada lo godain gue terus mending kita langsung ke kelas aja," Aurel yang terlihat dongkol mengambil beberapa langkah. Ia seketika menarik tangan Leana membawanya pergi menjauhi pelataran parkir. Lama-lama di sana hanya akan menambah kadar kekesalan yang mendiami dirinya.
"Kalian berdua lucu banget sih," komentar Leana gemas disaat ia dan Aurel berjalan bersisian membelah koridor menuju ke ruangan kelasnya.
"Gemas apanya, yang ada gue auto gedek sama tuh manusia. Dia tuh..."
"Kenapa?" kaget Leana. Secara spontan dia menghentikan langkah begitu melihat sahabatnya menyentakkan badan sambil memegangi bagian leher belakangnya.
Aurel memutar badannya. Seperti sedang mengecek sesuatu. Ia yakin sekali bahwa sebelumnya ada sesuatu yang seperti sedang meniup lehernya. Bahkan sebelum itu ia memang sedang merasakan tanda-tanda adanya kehadiran makhuk yang berasal dari dimensi berbeda lewat bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang.
"Ada apa sih Rel? Panik gitu reaksi lo."
"Gue ngerasa kayak ada yang niup gitu."
"Ih Aurel jangan kek gitu-gitu ah," Leana telah menggamit tangan sahabatnya itu bahkan sebelum kalimat di bibirnya berhasil disempurnakan terlebih dahulu. "Lo kan tau kalau gue penakut, pakek ditakut-takutin segala."
"Gue gak niat nakut-nakutin An. Emang bener kalau barusan gue ngerasa ada hawa dingin. Kek semacam ditiup gitu."
"Paling perasaan lo doang, yuk ah ke kelas. Masih pagi udah bahas mistis-mistis," Leana mendumel sambil menarik lengan sahabatnya untuk mempercepat langkah meuju ke kelas.
Tepat setelah kepergian Aurel dan Leana menuju ke kelas, makhluk yang berasal dari dimensi lain muncul. Namun tak berangsur, karena di beberapa detik selanjutnya makhluk itu kembali menghilang.
...●●●●●...
__ADS_1
...BAKAL ADA PEMAIN BARU GUYS! CLUE-NYA DIA HANTU. DAN DIA JUGA BAKAL JADI KONFLIK DI BEBERAPA BAB SELANJUTNYA :)...