MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
11. BRAVE?


__ADS_3

...BRAVE?...


...(BERANI?)...


...●...


...●...


...●...


SOSOK perempuan yang memiliki wajah rata tertangkap oleh penglihatannya. Tidak ada mata, hidung, dan juga mulut. Sekilas tak terlihat raut menyeramkan di sana, tapi tetap saja penampakan itu membuat sekujur tubuh Danial bergetar.


Danial ingat apa yang dikatakan oleh Aurel. Beberapa hantu di sekolah ini belum ada apa-apanya di banding hantu di luaran sana. Katanya di luaran sana masih ada sosok yang memiliki tampilan menyeramkan.


Bergidik ngeri Danial masih berfokus pada sosok di bawah beringin. Sejauh ini ia masih berusaha untuk menambah kadar keberanian dalam dirinya. Tangannya kemudian terangkat, melonggarkan dasi yang seolah mencekik lehernya.


Tangannya yang sempat terangkat kembali tersampir di sebelah pinggangnya. Mengambil napas panjang pria itu melebarkan matanya menatap wujud perempuan di bawah pohon. Sulit sekali harus melawan rasa takutnya, terlebih lagi area mukanya telah dibanjiri oleh tetesan peluh.


"Gak usah dipaksain," suara itu jadi alasan kuat bagi Danial untuk berhenti menatap ke pohon beringin. Kini ia menoleh kepada Aurel yang baru saja datang.


Puas menikmati wajah Aurel dari samping, pria itu lantas menurunkan pandangannya. Dahinya mengkerut melihat Aurel menggenggam tangannya kuat-kuat.


"Jangan ngambil kesempatan megang-megang gue!" ketus Danial.


"Ck," Aurel berdecak lalu membanting tangan milik Danial. "Jangan coba nyulut emosi gue ya," Aurel mengangkat tangan, menunjuk Danial tanpa lupa mempertegasnya dengan kalimat ancaman, "Gue udah baek mau nolongin lo!" cepat sekali tangannya berubah terlipat di depan dadanya.


"Gak usah sok baek lo! Bukannya kemarin lo bilang gak mau bantuin gue?"


Hanya tersenyum miring, Danial membawa tatapannya kepada sosok hantu di bawah pohon beringin. Sial, sosok itu telah menghilang entah ke mana.


"Noh gara-gara lo hantunya jadi kabur," ujar Danial main asal tuduh.


"Bagus dong..."


"Bagus pala lo," sambung Danial diikuti hela napas memburu. "Gue jadi kehilangan kesempatan untuk uji nyali gila," lanjut Danial dengan gelak emosi berlebihan. Beruntung sekolah masih sepi, kalau tidak mereka berdua pasti sudah jadi bahan perhatian murid lainnya.


"Ada dua hal yang harus lo tau!" Danial masih sempat melihat Aurel menenguk ludah sambil menautkan anak rambutnya yang berantakan ke atas daun telinga. Sambil berucap gadis itu memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Yang pertama bukan gue yang ngusir hantunya, terus yang kedua kalo lo emang mau uji nyali harusnya lo masuk ke gudang yang ada di lantai tiga."


"Di sana ada apa emangnya?" penasaran Danial.

__ADS_1


"Ada monyet kayak lo!" tandas Aurel. Dengan perasaan kesal gadis itu mempercepat langkahnya meninggalkan Danial sendirian.


Menggeleng-geleng Danial lantas berhenti menatap punggung Aurel.


"Enak aja cowok ganteng kek gini dibilang mirip monyet, sana periksa mata lo!" gumam Danial kesal sendiri dibilang mirip monyet.


Danial lalu mengembalikan pandangannya ke pohon beringin tadi. Cukup terkejut karena sosok tadi kembali dengan penampilan yang jauh lebuh menyeramkan. Tak lagi dengan muka rata, kini sosoknya memperlihatkan muka yang berlumuran darah.


Merasa takut membuat Danial mengambil langkah mundur bermaksud merenggangkan jaraknya. Dan setelah merasa cukup aman dari jangkauan hantu tersebut, Danial pun balik badan mengejar Aurel.


"Rel, hantu yang tadi balik lagi dengan muka seram," heboh Danial mengambil lalu memeluk tangan Aurel.


"Lepasin! Ntar diliat orang," Aurel panik ketika Danial dengan enteng mengambil tangannya. Menengok ke segala penjuru Aurel mengucap syukur karena belum ada orang yang menyaksikannya. Aurel tidak mau jika dogisipi sedang berpacaran dengan manusia setipe Danial.


"Pinjam dulu bentar, gue takut bener ini."


"Takut mah takut aja, nggak usah meluk-meluk tangan gue segala," sejauh ini Aurel masih berusaha keras mengeluarkan tangannya dari kungkungan Danial.


"Lo pikir gue udah gila. Sampai kiamat pun gue gak bakalan punya rasa sama lo."


"Ya sudah kalau gitu lepasin tangan gue!"


"Kasar banget sih lo!" cibir Aurel.


Danial mendekatkan wajahnya di depan gadis cantik yang sedang bersungut kesal. Jarak yang super dekat membuat perubahan di muka Aurel. Merasakan aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh Danial membuat Aurel bergeming. Perasaan kesalnya seolah tertahan begitu saja.


"Bodo amat ****," bisik Danial.


Perlu diketahui bahwa Aurel adalah orang yang paling tidak bisa menahan diri saat lagi kesal. Tepat setelah Danial menyudahi kalimatnya, gadis itu lantas mengangkat tangan terkepal dan mendaratkannya secara mulus di wajah Danial.


"Awww," Danial meringis.


"Eh maaf," ucap Aurel baru menyesal karena tak bisa mengendalikan diri mendengar cibiran Danial.


"Kagak usah pegang gue, sana jauh-jauh!" usir Danial lanjut meringis.


...●●●●●...


KELAS tentunya masih dalam keadaan kosong ketika keduanya tiba di sana. Aurel dengan kesibukannya sedang membuka-buka lembaran buku paket. Beberapa meter dari tempatnya terduduk Danial sedang memegangi kepalanya yang sempat jadi objek kekerasan Aurel. Sejak datang sampai sekarang pria itu memilih mondar-mandir seraya melirik ke arah Aurel melalui ekor matanya.

__ADS_1


"Kalau mau ngomong langsung aja, gak usah lirik gue melulu," matanya mungkin masih tertanam di lembaran buku, tapi insting Aurel terlalu kuat untuk mengetahuinya.


Danial kaget sekaligus takjub disaat yang bersamaan.


"Siapa juga yang liatin, jangan kepedan lu!" dalih Danial.


Gadis itu menutup bukunya. Dagunya diangkat, membawa fokus matanya di wajah Danial. "Gue kan gak nyebut nama lo," Aurel memperlihatkan senyum kemenangan. Mudah sekali baginya untuk menjebak Danial.


"Shit!" singkat Danial merasa bodoh.


Danial sudah tak kuasa berdiri lama menahan sesuatu. Buru-buru ia mendekati Aurel yang masih betah dengan posisi duduknya. Danial mengambil tangan gadis itu menuntunnya keluar kelas.


"Lo mau ngajak gue ke mana?"


"Udah ngikut aja, gak usah banyak bacot," sambung Danial.


Pada akhirnya Aurel membungkam mulutnya, ia hanya pasrah mengikuti ke mana Danial akan membawanya.


"Lo tunggu di sini!" Danial melepaskan tangan Aurel, "Kalau gue teriak berarti lo harus nolongin gue!" Danial menjelaskan.


"Tapi..." ucap Aurel namun tertahan ketika Danial meletakkan telunjuknya di depan bibir miliknya.


"Kalau mau protes nanti aja ya, soalnya gue udah kebelet." Danial menyegerakan masuk ke toilet, tak mengindahkan Aurel sedang mengumbar bibir membulat tidak menyangka Danial akan bertingkah konyol.


Dua menit selanjutnya Danial keluar dari toilet bersama embusan napas memburu. Menghampiri Aurel yang masih setia menunggunya, pria itu lantas mengerutkan kening. "Lo ngapain pake nutup mata? Gue bukan setan!"


"Itu..."


"Apaan?" meski takut Danial tetap memeriksa sekelilingnya. "Gak ada apa-apa kok."


"Bukan hantu yang bikin gue nutup mata," Aurel menjelaskan.


"Terus kalo bukan hantu, lantas apa?"


"Risleting lo kebuka Danial."


"Astaga," Danial memperlihatkan tampang terkejut. Pergerakannya secepat kilat membalikkan badan memperbaiki risletingnya yang terbuka.


...~To be Continued~...

__ADS_1


...●●●●●...


__ADS_2