MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
62. RAIN & THE DARKNESS STORY


__ADS_3

...RAIN & THE DARKNESS STORY...


...(HUJAN & CERITA KELAM)...


...●...


...●...


...●...


DANIAL mengecek ponsel setelah telinganya menemukan getaran diikuti bunyi notifikasi pertanda ada pesan masuk. Sempat ada di pikirannya bahwa pesan tersebut dikirim dengan orang yang sama dengan sebelumnya. Karena tidak mau larut dalam memikirkannya, pesan itu segera dibaca. Cukup mengejutkan karena pesan itu bukan dari Maurine seperti dugaan, melainkan dikirim oleh Aurel.


Dengan semangat empat lima pesan Aurel dibuka segera.


Dan, gue mau minta tolong sama lo! Ini penting banget soalnya.


Danial mengakui dirinya merasa senang saat Aurel menghubunginya lewat pesan. Tetapi balik lagi, pria itu biasanya akan sulit membagikan rasa senangnya itu. Terlebih karena dia dan Aurel sudah tak memiliki hubungan apa-apa.


Danial mengetik kemudian mengirim pesannya pada Aurel.


Boleh sopan dikit gak? Kalau mau minta tolong jangan lewat pesan. Gak ada pulsa lo?


Masih di kamarnya Aurel meringis saat membaca pesan balasan dari Danial. Andai ada orang lain yang bisa dimintai pertolongan selain Danial, pasti Aurel akan memilih orang lain ketimbang Danial. Untuk ukuran manusia Danial terlalu menyebalkan. Untuk sekarang Aurel benar-benar merasa menyesal pernah jatuh cinta dengan pria itu. Tapi apa boleh buat, Danial satu-satunya orang yang Aurel kenal tinggal di kawasan Bagas. Suka atau tidak, dia harus melakukannya.


"Halo, Dan. Gue mau minta tolong sama lo. Urgent banget nih!"


"Apaan? Buruan bilang," jawab Danial terdengar kesal. "Gue gak punya banyak waktu buat dengerin celotehan lo doang."


"Gini. Gue lagi bingung harus minta tolong ke siapa lagi. Jadi gue kan punya kenalan namanya Bagas..."


"Terus hubungannya sama gue apaan?" potong Danial sewot duluan karena Aurel mengatakan hal yang tidak penting baginya. Jika tujuan Aurel mengatakan itu semata-mata ingin membuat Danial merasa cemburu, maka Aurel berhasil melakukannya.


"Bisa gak sih lo dengerin dulu orang yang lagi ngomong tanpa harus ngebantah?" retorik Aurel.


"Buruan kalau gitu!"


"Kok ngegas sih. Situ yang salah tapi malah gue yang kena semprot."


"Sekarang gini, lebih baik lo katakan yang lo penginin sekarang karena gue gak ada waktu buat ngeladenin lo."


"Gue mau lo datang ke rumahnya Bagas."


"Kenal orangnya aja kagak, lo malah nyuruh gue ke rumahnya. Buat apa coba?"


"Kasian Bagasnya. Kasusnya tuh sama kayak lo, Danial. Dia baru bisa ngeliat makhluk halus baru-baru ini. Dan katanya sekarang dia lagi digangguin sama penghuni kamarnya."


"Kan di rumah dia pasti ada Bokap sama Nyokapnya. Kenapa mesti gue yang ke sana sih?"


"Dia sendirian di rumahnya. Bokap sama Nyokapnya lagi keluar kota. Lagian jarak rumahnya deketan kok sama rumah lo. Jalan kaki aja gak sampai lima menit udah nyampe."


"Malas ah!"


"Ya udah deh kalau misalkan lo gak mau. Biar gue yang datang ke sana. Kasian juga anak orang dibiarin sendirian."


Otak Danial berputar dengan sangat cepat. Entah kenapa Danial merasa terganggu dengan kenyataan bahwa Aurel yang bakal datang untuk mengecek kondisi pria bernama Bagas itu. Danial tidak bisa membayangkan mantan pacarnya berduaan dengan pria bernama Bagas.


"Makasih ya sebelumnya. Teleponnya gue tutup dulu soalnya gue mau berangkat ke rumahnya Bagas."


"Tunggu sebentar!" cegat Danial di seberang sana.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Lo gak perlu ke rumahnya Bagas. Dari pada lo yang ke sana mendingan lo minta Bagas kirimin lokasi ke elo."


"Lokasinya udah dikirim sama Bagas kok, nanti gue kirim balik ke nomor lo."


"Satu lagi," kata Danial. "Lo jangan kegeeran dulu ya. Gue setuju sama permintaan lo ini bukan karena gue takut lo berduaan sama Bagas. Lagi pun gue udah gak ada perasaan lebih lagi buat lo. Gue ngelakuin ini karena gak mau aja disalahin semisalnya lo ada apa-apa nantinya."


"Terlepas dari apa pun alasan lo, yang jelas gue harus ngucapin makasih karena lo udah mau bantuin gue."


"Iya sama-sama," jawab Danial acuh tak acuh.


...●●●●●...


SEJAUH ini Bagas masih membungkus seluruh permukaan tubuhnya dengan selimut tebal. Rupanya suhu enam belas derajat celcius beserta suasana hujan di luar bukanlah sebuah jaminan yang bisa bikin dia tidak mengeluarkan keringat. Mungkin efek ketakutan dalam dirinya yang justru menghadirkan keringat itu.


"Mbak kunti. Yang paling cantik dan paling baik. Gue mohon jangan gangguin gue ya," teriak Bagas masih belum berani melepaskan selimut yang membungkus tubuhnya. Sejauh ini hentakan jantungnya masih terasa.


Bagas akan menghalalkan segala cara demi untuk terhindarkan dari makhluk menyeramkan itu. Seperti yang dilakukannya saat ini, pria itu mencoba bernegosiasi dengan makhluk yang masih ada di sekitarnya.


Tak lama berselang. Terdengar ketukan di pintu utama. Hanya dengan bantuan flash ponselnya Bagas menghamburkan diri menjelajahi area rumahnya yang gelap karena tak adanya bantuan penerangan dari lampu yang tertanam di langit-langit.


"Siapa?" Tidak langsung membuka pintu. Bagas iseng bertanya dulu. Siapa tahu yang mengetuk barusan bukan manusia melainkan makhluk dari dimensi lain. Karena belum ada jawaban, Bagas pun menggerakkan kembali sudut bibirnya memberikan sebuah pertanyaan, "Siapa di sana?"


"Buka aja! Gue orang baik kok."


"Lo Bagas, kan?" tanya pria yang sedang melipat payung yang digunakannnya.


Bagas menganggukkan kepalanya. "Benar. Tapi lo siapa ya? Dan alasan lo ke rumah gue buat apaan?" cecar Bagas. "Tunggu sebentar deh. Lo anak SMA Angkasa Raya juga, kan?" meski tak mengetahui namanya tetapi Bagas yakin bahwa pria di depannya ini sering dia temui di sekolah.


"Yap, dugaan lo bener. Gue anak SMA Angkasa Raya. Nama gue Danial Wirawan. Lo bisa manggil gue Danial."


"Aurel minta tolong ke gue buat ngecek kondisi lo. Kebetulan gue juga tinggal di sekitar sini makanya gue langsung ke sini aja."


"Ya udah, masuk! Di luar dingin soalnya." Bagas mempersilakan Danial masuk ke rumahnya.


"Lo sendirian aja di rumah?" Danial berbasa-basi. Berbekal flash ponsel yang baru saja dinyalakan pria itu mengedarkan mata ke segala penjuru.


"Orangtua gue lagi keluar kota. Mungkin besok baru pulang," jawab Bagas. "Eh, ayam," lata Bagas ketika lampu yang tadinya padam kembali memberikan cahaya yang membungkus ruangan. "Lo udah makan belum? Kalau belum biar gue buatin."


"Gak perlu repot-repot, gue udah makan malam di rumah tadi."


"Rumah lo di mana sih? Deket dari sini?"


"Rumah gue di bagian depan sana, sebelah kiri lapangan sepak bola."


Bagas menganggukkan kepalanya. Ternyata selama ini dia dan Danial tetanggaan.


"Karena lampunya udah nyala, gue mau pamit pulang."


"Gak bisa nginep di sini aja?" tawar Bagas. Sumpah demi apa Bagas tak pernah sepenakut ini sebelum-sebelumnya. "Gue beneran ketakutan pas digangguin sama setannya."


"Lo culun amat sih jadi cowok, masa sama hantu aja takut."


"Kan baru bisa ngeliatnya sekarang. Jelas takutlah. Coba lo yang ada di posisi gue, bayangin diri lo yang gak bisa liat hantu tiba-tiba bisa ngeliat?"


Danial memasang tampang jumawa. Dadanya dibusungkan sebagai penegasannya "Kasus kita sama kali, gue juga baru bisa ngeliat hantu setelah operasi mata beberapa bulan lalu."


"Awal ngeliat mereka lo gak takut sama sekali?" penasaran Bagas.

__ADS_1


"Enggaklah. Gue gak kayak lo, yang denger kunti aja ketakutan. Malah nih, di luar sana masih banyak hantu yang wujudnya super duper berantakan," kata Danial. Entah apa alasannya pria itu menyembunyikan kenyataan bahwa di awal ketika dirinya bisa melihat hantu pun dia juga ketakutan sama seperti Bagas. Ya... mungkin saja Danial terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dia sama penakutnya dengan Bagas saat pertama kali dikarunai kelebihan indra keenam.


...●●●●●...


"OKE DEH, GUE BAKAL NGINEP DI SINI." Pasrah Danial setelah pria bernama Bagas itu terus memohon menuntut belas kasihannya. Sebagai mana mestinya Danial tetaplah manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Dia juga pernah ada di posisi itu, bahkan Danial tak tahu bagaimana dia menghadapi kesulitan itu tanpa uluran tangan Aurel.


"Serius lo, Dan?" antusias Bagas. Pria itu sedikit tidak percaya Danial akan menerima permintaannya.


"Awas aja kalau elo sampai berani-berani pegang-pegang anu gue!" peringat Danial.


"Astaga Dan. Lo sekate-kate banget kalau ngomong. Kayak gak punya filter aja tuh mulut. Lo pikir gue maksa lo buat nginep karena ngira gue suka batangan?"


"Gak ada yang nuduh," sambung Danial. "Gue cuma ngasih warning ke elo. Kali aja lo khilaf ngeliat cowok seganteng dan sekeren gue."


"Seandainya gue gak takut tidur sendirian, mana sudi gue maksa lo buat nginep sekamar sama gue. Jijik tau gak."


"Gue pulang nih," ancam Danial.


"Janganlah, besok aja baru pulang. Malam ini lo nginep di sini aja!"


"Katanya jijik deket-deket gue."


"Baperan amat elah. Anggap aja sebelumnya gue bercanda doang."


"Ngomong-ngomong toilet ada di mana ya?" tanya Danial. "Gue kebelet pengin pipis nih."


"Ada di luar, samping ruang keluarga."


Melihat Bagas ikut bangkit meninggalkan tempatnya duduk, Danial pun bersuara, "Mau ke mana lo? Udah duduk aja di situ. Gue bisa cari sendiri toiletnya."


"Gue mau ikut lah."


"Di situ aja, gue bukan anak kecil."


"Ngeri gila nungguin lo di sini. Siapa tahu kuntilanaknya balik lagi."


Danial mengembuskan napasnya. "Ya udah ikut aja, tapi ingat! Lo gak usah ikutan masuk ke toilet, lo di luar aja."


"Iyalah, buat apa juga gue ikutan masuk sama lo."


"Kali aja lo pengin ngeliat masa depan gue."


"Cih, jijik bat sumpah. Lebih baik gue ngeliat masa depan punya gue sendiri. Bentuknya juga pasti sama kek punya lo."


"Bedalah. Gue keberatan yah kalau ada orang yang nyama-nyamain. Punya gue lebih estetik dibanding punya lo."


"Gue mah ngalah aja. Hak patenin aja sekalian kalo masa depan lo lebih estetik dari punya gue. Gue ikhlas kok."


Danial jalan duluan. Bagas dengan perasaan takut berjalan di belakangnya sambil menatap ke segala penjuru rumahnya. Barangkali ada makhluk tak kasat mata yang sedang memperhatikan ke arah mereka.


Duar!


Suara petir yang menggelegar dan tak terprediksi itu membuat keduanya menyentak sebagai respon kaget. Bagas mengambil langkah dan tanpa sadar ia menggamit lengan kekar milik Danial. "Ape nih? Katanya gak suka batangan. Tapi kenapa sekarang lo megang-megang gue?" Danial tertunduk. Diperhatikannya lengan kekar miliknya yang disentuh oleh Bagas. "Belum genap sejam loh padahal. Apa sekarang lo udah lupa kalau gue udah kasih warning sebelumnya."


Kontan Bagas mundur usai melepaskan tangannya dari lengan milik Danial.


"Lo gak suka sama gue kan Gas?" tebak Danial.


"Gue tampol ya Dan mulut lo kalau berani bilang kayak gitu lagi," Bagas menjatuhkan ancaman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue megang tangan lo barusan cuma karena refleks doang. Sebaiknya hilangin pikiran negatif lo tentang gue!" kesalnya dengan raut ditekuk.

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2