MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
74. AMONG THEM


__ADS_3

...AMONG THEM...


...(DIANTARA MEREKA)...


...●...


...●...


...●...


JIKA biasanya teman sebangku merupakan orang yang membantu mengisi kesuntukan. Maka hal tersebut tidak berlaku bagi Aurel dan Danial. Ibarat kata mereka berdua duduk bareng hanya karena formalitas saja. Keduanya bahkan bertingkah layaknya orang asing tanpa peduli bahwa keduanya sempat menjalin hubungan lebih dari teman.


Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang berlangsung di kelas saat ini. Karena kebetulan guru yang bersangkutan sedang berhalangan datang, maka yang berdiri di kelas saat ini adalah guru pengganti. Pria jangkung di depan papan tulis adalah pak Haryo---guru penjaskes kelas sepuluh yang juga merupakan istri dari bu Irene alias guru bahasa Indonesia yang seharusnya mengajar di kelas hari ini.


"Saya yakin pas denger kabar bu Irene gak datang kalian pasti seneng. Gak usah bohong, saya juga pernah jadi murid kayak kalian. Saya juga pernah ngerasain senengnya pas jam kosong tiba," sambil merapikan kertas di meja, pria berambut cepak itu bercerita berbagi pengalaman. "Tapi maaf ya, sepertinya semesta gak memihak kalian. Meskipun hari ini istri saya berhalangan hadir, tetapi dia sempat nitipin tugas buat kalian."


Beberapa murid memperlihatkan wajah memelas secara terang-terangan. Beberapa bahkan memperdengarkan keluh kesah dengan suara yang lumayan besar.


"Jadi, saya akan menuliskan pembagian kelompok. Intinya satu kelompok berjumlah tiga orang. Pesan dari bu Irene, gak boleh ada yang protes dengan pembagian kelompoknya."


Usai pak Haryo menuliskan pembagian kelompok di papan tulis. Terlihatlah perubahan di raut muka Leana. Sepertinya ia kurang begitu puas dengan pembagian kelompok di papan tulis sehingga membuat wajahnya mencetak perpaduan antara kecewa dan kesal.


"Kenapa sayang? Sepertinya muka kamu kelihatan kesel gitu. Ada apa? Apa yang bikin kamu kesal?" untuk ukuran seorang pacar, bolehlah dikatakan kalau Haris sangat peka. Terbukti bahwa sekarang pria itu sedang memberondong pacarnya dengan pertanyaan.


Leana megembuskan napas pasrah diikuti bahu yang bergerak turun, memelas. "Iya nih, aku kesel banget sama pembagian kelompoknya."


"Kamu pasti kesel karena kita gak sekelompok kan?" tebak Haris. Pria itu mengikutkan senyum tipis-tipis setelah kalimatnya tandas.


"Salah satu alasannya karena itu. Tetapi masih ada dua alasan lagi sih yang buat aku kesal."


"Banyak amat. Btw alasan kedua dan ketiga apaan?"


"Alasan kedua yang bikin aku kesal karena kamu sekelompok sama Margarine si bule celup yang sifatnya naudzubillah."


"Cemburu kah?" sambung Haris dalam artian bergurau.


"Bukan cemburu sih, lebih tepatnya aku gak suka aja kalau kamu deket-deket sama dia."


"Terus alasan ketiga yang buat kamu kesal apa?" penasaran Haris yang ingin menggali informasi lebih jauh mengingat baru dua alasan yang diutarakan oleh Leana. Haris mengembalikan perhatiannya ke papan tulis. Sedikit bingung melihat Aurel dan Leana ada di kelompok yang sama. "Bukannya harusnya kamu ngerasa seneng karena sekelompok sama Aurel, sahabat kamu sendiri?" satu alis Haris terangkat sementara itu terlihat jelas juga lipatan-lipatan kecil di dahinya.

__ADS_1


"Selain ada nama Aurel, juga ada nama Danial di sana," Leana menjelaskan. "Tahu sendiri kan kalau mereka lagi diem-dieman."


"Tugas kalian adalah membuat masing-masing lima contoh pantun nasihat, pantun agama, pantun jenaka, dan pantun teka-teki. Selain itu kalian juga disuruh membuat satu buah cerpen tema bebas," suara pak Haryo berhasil menjadikannya sumber perhatian dari murid-muridnya.


"Banyak amat Pak," protes salah satu siswa.


"Kalau mau protes nanti sama bu Irene, saya cuma menjalankan perintah saja," ujar pak Haryo tidak mau dipersalahkan. "Kerjakan tugas kalian sampai jam pelajaran bahasa Indonesia berakhir. Dan kalau tidak selesai, kalian bisa melanjutkannya di rumah. Tapi ingat ya, besok pagi tugasnya sudah harus dikumpul di meja bu Irene!"


...●●●●●...


KARENA Leana mengancam dengan alibi tidak akan mencantumkan namanya sebagai anggota kelompok jika tak hadir, Danial pun tak memiliki alasan untuk tidak bergabung. Seperti yang sudah diputuskan di kelas tadi bahwa rumah Aurel merupakan tempat di mana mereka akan berkumpul melanjutkan tugas tersebut.


Sekarang Danial sudah tiba di kediaman megah milik keluarga Aurel. Hal yang pertama kali dilakukan olehnya setelah memarkirkan motor adalah melepaskan helm berjenis full face-nya dan meletakkan secara sembarangan menutup spion. Setelah itu ia membawa langkah kakinya menuju ke pintu utama.


"Permisi," ujarnya diikuti ketukan pelan.


Hening. Tidak ada respon dari dalam rumah.


"Permisi," nada suara milik Danial dinaikkan sampai setengah oktav dibanding suaranya yang pertama. Beruntung panggilannya kali ini terjawabkan.


Sarah membuka pintu dengan senyuman merekah menyambut kedatangan Danial. "Eh, calon mantu udah dateng," ceplosnya lalu membekap mulutnya kemudian. "Maksud Tante kamu udah dateng," koreksinya cepat.


Danial masih berdiri di ambang pintu sembari menyeringai lebar.


Tak lama berselang Aurel sudah tiba di lantai dasar sambil membawa beberapa tumpukan buku. Dalam hati gadis itu berdecak sebal karena sampai detik ini Leana belum juga datang. Masalahnya jika Leana belum datang, otomatis di ruang tamu hanya ada dia dan Danial. Tentu saja suasananya bakal jadi canggung mengingat hubungan mereka semakin merenggang pasca putus.


Dan benar saja. Bahkan setelah duduk bersebarangan selama kurang lebih lima belas menit, keduanya tetap saling diam layaknya tak saling kenal. Baik itu Danial mau pun Aurel sama-sama memokuskan perhatian pada layar ponsel. Keduanya seperti tak ada niat untuk memulai obrolan---bahkan dengan sapaan sekali pun. Sementara Danial sedang sibuk dengan game di ponsel, Aurel justru fokus mengirimi pesan beruntun pada Leana yang tak kunjung datang menampakkan batang hidungnya.


Tok... Tok... Tok...


Sedetik setelah terdengarnya suara ketukan di pintu, terdengar pula suara khas milik Leana. "Aurel, orang paling cantik se-SMA Angkasa Raya udah datang nih. Tolong bukain pintunya dong!" Bukan Leana namanya seandainya dia tidak heboh.


Muka masam ditampilkan oleh Aurel bersamaan dengan tangannya yang membuka pintu. "Dari mana aja lo?"


Leana menyengir tak merasa berdosa. "Santai aja kali Rel, asem bat muka lo."


"Santai gimana? Gue udah nunggu lo dari tadi," Aurel membagikan kekesalannya. Tetapi Leana cuma tersenyum menanggapinya. Sedikit pun Aurel tak menemukan adanya raut merasa bersalah tergambar di wajah gadis itu.


"Gak diajakin masuk nih gue?"

__ADS_1


"Alay lo, An. Biasanya juga lo langsung nyelonong masuk."


"Iya juga ya," sambil mengatakannya Leana mendadak kepikiran satu hal. "Oh iya Rel, gue mau nanya sesuatu sama lo."


"Apaan?"


"Danial udah datang belum?"


"Noh, dia udah nunggu lo dari tadi," Leana bisa melihat raut perpaduan kesal di wajah Aurel sewaktu menyinggung soal Danial.


"Kelihatannya lo kesel banget pas gue nyinggung soal Danial. Ati-ati loh, Rel, sama yang namanya CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali."


"Jijik banget balikan sama dia. Kek gak ada cowok lain aja," sebuah gidikan penuh rasa jijik diperlihatkan oleh gadis itu.


"Lo pikir gue mau balikan sama lo? Ogah gue," karena jarak dari ruang tamu dengan pintu utama terbilang sangat dekat, makanya Danial sanggup mendengar cibiran dari Aurel.


"Apalagi gue."


"Kalian berdua gini amat dah. Kalau bukan diem-dieman saling adu mulut. Gue sumpahin kalian berjodoh," tegas Leana.


"Amit-amit," sambung Aurel cepat.


"Gue juga amit-amit." Danial tak mau kalah.


"Bisa diam gak kalian berdua?" Leana mengambil alih. "Dari pada adu mulut mending minum yang segar-segar," Leana menghampiri meja meletakkan minuman boba yang jadi alasan kuat kenapa dia telat datang. "Nih gue kasih yang rasa cokelat buat lo," katanya kepada Danial, "Yang strawberry buat lo nih, Rel," ia memberikannya pada Aurel.


"Ini gratis kan?" tanpa disengaja Aurel dan Danial mengucapkan kalimat itu secara bersamaan. Lalu setelahnya keduanya pun saling melirik satu sama lain sebelum sama-sama membuang muka.


"Cie ngomongnya bareng-bareng. Emang bener kata nenek gue, jodoh itu gak ke mana," Leana jadi gemas sendiri dengan tingkah Aurel dan Danial. Bahkan setelah putus pun mereka masih memiliki chemistry yang kuat.


"Eh, tutup botol. Lo ngikutin gue ya," semprot Aurel main asal tuduh.


Tentu saja Danial tak terima dengan tuduhan itu. Lagian pertanyaan itu terlepas begitu saja dari bibirnya tanpa ada harapan Aurel akan menanyakan hal yang sama. "Jangan main asal tuduh lo. Dasar karet nasi padang."


"Eh demi apa???" tujuan sebenarnya Leana mengambil ponsel adalah untuk merekam secara diam-diam ke-uwu-an yang terjalin di antara Aurel dan Danial. Tetapi karena salah pencet, layar ponselnya malah menampilkan akun sosial medianya. "Sumpah yah, tuh manusia satu beneran bikin gue naik tensi aja malem-malem," misuh-misuh Leana. Kali ini ia mendekatkan ponselnya ke depan wajah agar ia melihat dengan jelas.


"Ada apa An?" penasaran Aurel mewakili Danial yang juga penasaran dengan ekspresi Leana yang terlihat begitu kaget.


...●●●●●...

__ADS_1


...-To be Continued-...


...Maaf ya endingnya menggantung hehehe. Jangan lupa ramein komentar biar saya auto semangat nge-update-nya!!!!!...


__ADS_2