
...SORRY...
...(MAAF)...
...●...
...●...
...●...
AUREL tak bersemangat kembali ke sekolah. Waktu di gerbang ia sempat bertemu dengan Leana, tetapi gadis itu tidak mengacuhkannya.
Disaat yang bersamaan Aurel mencoba memaklumi, mengingat kesalahannya menyembunyikan perasaan tentang Danial kepada sahabatnya. Sepertinya sah-sah saja jika Leana merasa geram akan hal itu.
Ada puluhan makhluk tak kasat mata yang berderet di sepanjang koridor sekolah. Beberapa diantara mereka ada yang mencoba berkomunikasi dengan Aurel. Tak terkecuali Sisil, gadis yang tempo hari menjadi penghuni baru SMA Angkasa Raya.
Suasana hati Aurel sedang kacau untuk saat ini. Alasan itulah yang membuat makhluk tak kasat mata merasa diasingkan oleh gadis itu.
“Rel!” panggil Danial.
Yang bersangkutan terus berjalan menganggap dirinya tak mendengar panggilan dari arah belakangnya.
“Lo mau ngehindarin gue lagi.” Danial membagikan asumsinya setelah bersisian dengan Aurel.
“Sorry Dan, gue gak denger lo manggil-manggil gue.”
Danial mengucap syukur, pikirnya Aurel akan menghindarinya seperti yang sudah-sudah. “Kirain lo mau ninggalin gue.”
Langkah kaki Aurel terpaksa terhenti saat mendengar kalimat Danial, “Maksudnya?” singkatnya bertanya.
Lebih dulu Danial melakukan pergerakan menggaruk tengkuknya, “Maksud gue kirain lo bakal ngehindarin gue tanpa alasan lagi,” Danial memperbaiki kalimat yang sebelumnya terlalu sulit untuk dijabarkan maksudnya.
Di sela-sela anggukan kepalanya, Aurel menyempatkan untuk ber, “Oh,” panjang.
“Omong-omong ada titipan dari Davina.”
“Untuk siapa?” lebih dulu Aurel menoleh sebelum kalimat tanya terlepas dari bibirnya.
“Untuk elo lah, masa untuk si Sisil.”
__ADS_1
Mendengar namanya disebut, tiba-tiba arwah Sisil menampakkan dirinya.
“Cie nyariin Sisil, kangen ya?” sosok menyebalkan itu membuat Danial berjingkat kaget. Kehadirannya tak terduga sama sekali.
“Ah setan! Bikin kaget aja lu!” refleks Danial. Sambil mengelus dadanya, pria itu turut serta menetralkan embusan napasnya yang mulai tak keruan.
“Ih baru datang udah dikatain setan, Kak Danial nyebelin,” hantu berwujud siswi SMA itu bersedikap mempertegas bahwa dirinya sedang marah.
“Emang setan kan, terus lo mau dipanggil apaan? Princess?” Aurel bersuara.
Bukannya marah, Sisil justru memperlihatkan senyuman jahilnya yang khas, “Cie ngebelain kak Danial, bentar lagi jadian nih kayaknya.” Goda Sisil yang justru menghadirkan bercak merah pada pipi Aurel.
“Enyah gak lu!” tegas Danial menunjuk sosok Sisil, “Gue itung sampai tiga kalo gak ilang gue panggilin dukun lu.” Ancaman Danial berhasil membuat arwah Sisil pergi entah ke mana.
“Nih,” Danial menyerahkan novel bergenre fantasi yang diambilnya dari dalam ransel. Novel itu masih baru, masih terbungkus dengan plastik bening.
Aurel menyambut novel itu dengan semangat. Sudah sebulan yang lalu ia menunggu novel terjemahan itu, dan sekarang baru kesampaian. “Jangan lupa bilang ke Davina ucapan makasih gue,” novel pemberian Danial berada dalam pelukan gadis itu.
“Ngebahagiain lo simpel amat ya. Kalau bukan es krim pasti novel. Ternyata penilaian gue ke elo selama ini salah besar.”
“Emang penilaian lo ke gue seperti apa?” kepo Aurel.
...●●●●● ...
BEL pertanda istirahat memecah heningnya pelajaran matematika. Setelah pak guru keluar dari kelas, murid-murid pun mulai berhamburan keluar menuju kantin.
Aurel sengaja bergerak lambat, ia menunggu semesta akan berpihak padanya. Setidaknya ia menunggu Leana menyerukan namanya sekali saja. Ia berharap Leana akan mengajaknya makan di kantin seperti biasanya.
“An, lo mau ke kantin?” tanya Aurel.
Leana melewati bangku milik Aurel. Ia hanya berjalan tanpa memalingkan mukanya pada Aurel. Pertanyaan dari Aurel pun sengaja diabaikan.
Aurel merasa sangat kecewa, tetapi balik lagi ini adalah kesalahannya sendiri. Ia harus menanggung risiko yang merupakan hasil dari apa yang diperbuatnya.
Hari itu Aurel jalan sendirian ke kantin, kelihatannya memang sendiri namun sebenarnya Aurel sedang ditemani Sisil—yang sudah pasti cuma bisa disaksikan oleh pemilik sixth sense.
Sisil hanya membuntuti Aurel, kedua sisi bibirnya dibiarkan saling bertautan. Ia sudah muak beberapa kali kena semprot Aurel karena ulahnya yang terlalu cerewet untuk ukuran hantu.
“An. Gue boleh duduk di sini gak?” penuh keraguan Aurel menanyakannya.
__ADS_1
“Silakan, lagipula ini tempat umum kok.” jawab Leana menggunakan nada judes.
Aurel tersenyum singkat. Sekuat tenaga ia menarik kursi sampai suara derit diterimanya. Ia takut Leana akan berubah pikiran oleh karena itu ia memilih bergerak cepat.
Disaat Aurel mendudukkan tubuhnya di kursi, Leana justru bertingkah sebaliknya. Dimulai dengan pergerakan bangkit, dilanjutkan dengan mengangkat nampan berisikan semangkuk bakso dan segelas jus jeruk. Setelah itu Leana pun pergi mencari meja kosong.
Aurel menjatuhkan rahangnya. Saat ini Aurel merasa dirinya sedang menaiki roller coaster. Semenit yang lalu ia bahkan merasa jadi manusia paling bahagia tatkala Leana mulai menerima kehadirannya. Tetapi di detik berikutnya ia merasa dihempaskan sampai ke dasar jurang. Bagaimana bisa Leana bertingkah sekejam itu?
...●●●●● ...
SAMPAI sekolah berakhir pun mood Aurel masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Melihat sahabatnya menghindar malah membuat mood-nya semakin memburuk seiring waktu berjalan.
Gue bahkan udah coba ngehindarin Danial. Tapi tetep aja takdir nggak ngijinin itu. Batin Aurel.
Aurel masih terus melangkahkan kakinya seperti orang linglung di tengah koridor yang mulai sepi pasca bel pertanda pulang terdengar.
Aurel terlalu kepikiran dengan masalahnya sampai tak sadar dia baru saja menabrak seseorang.
“Eh maaf,” Aurel mengangkat sedikit dagunya melihat siapa orang yang baru saja bertabrakan dengannya, “Leana,” refleksnya.
“Lo punya mata gak sih Rel!” serang Leana tak tanggung-tanggung. Suaranya terlalu berlebihan untuk dikategorikan pelan.
“Maaf An. Gue beneran gak sengaja, gue gak liat.”
Leana merapikan poninya, “Lo sengaja kan mau biarin gue jatuh,” tuduhnya.
Aurel menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sumpah An. Gue beneran gak ada niatan untuk nyakitin lo!”
Leana tersenyum remeh sambil memutar bola matanya, merasa jengah. “Gak usah sok suci Rel di depan gue. Gue juga udah tau sifat lo yang sebenarnya. Lo itu fake tau gak.” Leana baru saja melepaskan uneg-unegnya. “Asal lo tahu, gue bahkan nyesel udah nganggep lo temen gue.”
“Masalah semalam gue minta…”
Tangan Leana mengudara, mengisyaratkan perintah untuk berhenti berbicara, “Gak ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah jelas.”
Leana pergi begitu saja meninggalkan Aurel yang mulai meneteskan air matanya. Sedari tadi ia membendung namun pada akhirnya tangis itu pecah. Aurel biasanya kental dengan image kuat, tetapi yang namanya manusia pasti punya titik terendah di mana ia akan kesulitan untuk tetap tegar.
“Gue gak pernah ngebayangin pertemanan kita berakhir di sini An.” Aurel bergumam di tengah air mata yang masih menetes membanjiri pipi dan juga pangkal hidungnya.
...~To be Continued~...
__ADS_1