
...BESIDE YOU...
...(DI SEBELAH KAMU)...
...●...
...●...
...●...
KADANG hidup itu penuh dengan misteri. Tidak ada seorang pun yang mampu menebak yang bakal terjadi selanjutnya. Sampai sekarang saja Aurel masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa dirinya dengan Danial telah terikat dalam hubungan asmara. Padahal jika mengingat yang sudah-sudah mereka berdua tak ubah seekor kucing dan tikus yang tiap kali bertemu pastinya akan berakhir dengan adu mulut. Tapi yang terjadi sekarang?
"Aurel!"
Senyuman terbit dari bibir gadis yang sedang sibuk memasang sepatu kets membungkus kakinya yang telah dibalut oleh kaos kaki berwarna putih. Suara itu terlalu indah saat masuk ke telinga—membuatnya tak memiliki alasan untuk tidak menerbitkan sebuah senyuman. Akhir-akhir ini kesederhanaan sebuah kebahagiaan dirasakan olehnya. Hanya mendengar suara milik Danial dan gadis itu pun akan tersenyum.
Danial melihat ke jamnya sebentar, lalu kepalanya bergerak menatap ke arah beranda rumah milik gadisnya. Tak berhenti di sana tangannya yang sempat bertaut dengan setir bergerak naik ke depan bibir, membentuk corong. "Aurel? Cowok gantengnya kelamaan nunggu nih. Kamu gak kasihan?"
"Tunggu sebentar! Tinggal masang sepatu doang nih!" gadis itu terburu-buru memasang lalu mengikat tali sepatu ketsnya.
"Jangan lama-lama!" imbau Danial.
"Woi, pagi-pagi udah teriak-teriak aja lo di depan rumah gue!"
Mendongakkan kepalanya ke atas, netra milik pria bernama Danial itu menemukan sosok laki-laki berkaos oblong dengan perawakan acak-acakan seperti baru bangun dari tidurnya. Orang itu adalah Nakula yang tak lain adalah kakak iparnya. Tidak. Maksudnya calon kakak iparnya.
"Ngapain lu senyam senyum kayak gitu? Urat saraf lo udah putus?"
Danial yang tadinya cuma mengulum senyumnya, kini mulai menggerakkan sudut bibirnya. "Good morning calon kakak ipar!" sapa Danial terlihat kepedean dengan gerakan melambaikan tangan kepada pria yang justru menatapnya dengan tidak suka. Danial tak segan memperlihatkan deretan gigi rapinya.
"Calon kakak ipar pala lo bonyok. Geli ah lo panggil gue pakai embel-embel kayak gitu. Seneng kagak, yang ada gue auto gumoh pas dengernya," Pria di balkon mengedikkan bahunya lebih ke arah jijik.
"Kan kenyataannya lo emang calon kakak ipar gue."
"Ogah. Sumpah demi Spongebob dan seluruh penghuni Bikini Bottom gue gak rela punya adek ipar yang tengilnya kayak lo."
"Idih gak bersyukur banget lo jadi manusia."
"Maksudnya?" lipatan-lipatan nampak jelas di dahi Nakula.
"Iya. Lo gak ada syukur-syukurnya. Udah baek Tuhan nitipin lo calon adek ipar seganteng gue," jawab Danial masih saja menyertakan raut belagu.
"Ganteng?"
Danial mengangguk dengan mantap.
"Gantengan juga gue, kali, Danial." Tidak banyak yang berubah pada diri Danial jika dilihat dari sudut pandang Nakula. Malah menurut Nakula, kadar narsistik yang mendiami diri pria bernama Danial itu kian bertambah usai meresmikan diri berpacaran dengan Aurel.
"Ini apasih kerjaannya ribut mulu kalau ketemu," Aurel menceletuk seraya menggeleng. Sesaat dia menatap pacarnya lalu membawa kepalanya mendongak ke balkon tempat kakaknya sedang berdiri.
"Pacar kamu yang mulai duluan."
"Enak aja, kakak ipar tuh yang salah, aku cuma nyapa tapi dibalas ketus kayak gini," sambung Danial tidak setuju dengan Nakula yang melempar kesalahan padanya.
__ADS_1
"Eh lo bukan calon adek ipar gue ya."
"Astaga Nakula, percuma juga lo ngelak kenyataannya gue ini emang calon adek ipar lo."
"Gak usah terlalu percaya diri lo. Paling minggu depan juga langsung putus."
"Ih kak Nakula kalau ngomong kadang suka gak difilter dulu," kesal Aurel menatap horror kakaknya.
"Tau tuh, mentang-mentang jomblo malah ngedoain kita putus," sambung Danial yang secara tidak langsung menuangkan bensin ke dalam api yang berkobar.
"Apa lo bilang? Siapa yang lo katain jomblo?" sengit Nakula.
"Gue gak nyebut nama siapa-siapa kok. Tapi kalau lo ngerasa kek gitu gue bisa apa?"
"Udahlah Kak. Kenyataannya Kakak beneran masih jomblo, kan?" sambung Aurel menohok.
"Kenapa kamu malah ikut belain si bocah tengil itu sih Rel?" kesal Nakula atas sikap adiknya yang malah membela Danial alih-alih membela dirinya yang jelas-jelas adalah saudara kandungnya.
"Kan Aurel pacar aku. Sah-sah aja dong kalau dia belain pacarnya," sambung Danial mendapatkan pelototan dari pria di balkon.
"Diem lo bekicot," semprot Nakula pada Danial. "Gue lagi gak bicara sama lo!"
"Mulut-mulut gue. Serah gue dong mau ngomong apa," berhenti menatap Nakula di atas sana, kini Danial tersenyum saat membawa perhatiannya menuju ke wajah gadisnya. "Kita berangkat sekarang yuk, aku gak mau kalau kamu sampai telat."
"Lebay lo! Biasanya juga manggilnya gue-elo tapi giliran pacaran aja lo saling manggilnya pake aku-kamu."
"Jomblo diem, gak usah campurin hubungan orang!" tandas Danial. Sejurus kemudian pria itu bergegas pergi begitu Aurel mengambil posisi duduk di belakangnya. Menyisakan Nakula sendirian di balkon bersama rahang bawah yang masih jatuh setelah kalimat tajam Danial didengarnya.
Di sepanjang jalan menuju sekolah Aurel mendapati banyak sekali wujud dari dimensi lain. Beraneka ragam lah pokoknya. Ada yang sebagian mukanya sudah hancur dan beberapa lagi terlihat menyeramkan karena hampir sebagian mukanya penuh dengan luka entah apa penyebabnya.
Tak lama motor itu melambat dan berbelok memasuki pelataran SMA Angkasa Raya. Setelah mesin mati, Aurel bergegas turun meninggalkan motor. Dia membuka helm pembungkus kepalanya sembari menunggu pacarnya turun dari motor.
"Ada berapa kuntilanak yang kamu liat di jalan tadi?" itulah pertanyaan yang pertama kali tergulir dari bibirnya Danial begitu helm dibuka lalu diletakkan secara random di atas spion.
"Ada tujuh," jawab Aurel.
Danial tertawa.
"Ih kok ketawa. Aku gak ngelucu loh."
"Lucu aja." Kata Danial, "Pasangan lain pas berangkat ke sekolah ngebahasnya pemandangan, eh kita malah ngebahas hantu."
"Kalau dipikir-pikir unik juga hubungan kita. Kalau pasangan lain cuma ngeliat bintang pas berduaan di taman, eh kita malah dapat bonus kuntilanak yang berterbangan," sebuah gelengan bertempo lambat diperlihatkan gadis itu. Tak pernah kepikiran bahwa memiliki pasangan indigo—sama dengan dirinya ternyata lebih menyenangkan dari yang ia pikir sebelumnya.
...●●●●●...
"GINI AMAT YA HIDUP SEORANG JOMBLO!" eluh Irgi saat matanya melihat dua sahabatnya, Haris dan Danial tengah sibuk dengan pasangan masing-masing. Tak jarang mereka memperlihatkan sisi romantisnya menyuapi pasangan masing-masing dengan bakso yang dipotong jadi beberapa bagian lebih dulu. "Dasar budak cinta kalian berdua!"
"IRI? BILANG BOS!" ejek Haris.
"Gak iri kok, bahkan gue gak terusik sama sekali dengan kelakuan lu pade," balas Irgi.
"Emangnya ke mana pacar lo?" respon Danial.
__ADS_1
Tentu saja Irgi mengerutkan keningnya. Sejak kapan dia punya pacar? Gebetan aja tidak ada sama sekali. Bukan hanya Irgi, bahkan Aurel, Leana, dan juga Haris sempat memperlihatkan raut muka bingung dengan atas pertanyaan Danial. "Yang lo maksud pacar gue siapa?"
"Vernon lah, siapa lagi kira-kira," jawab Danial.
"Ho-oh," tak tinggal diam Haris ikut menceletuk. "Biasanya kan lo berdua sepaket. Di mana ada elo pasti Vernon juga ada."
"Sering berdua sama Vernon bukan jaminan kalau gue sama dia tuh pacaran. Gini-gini gue juga pecinta batangan kali," katanya salah ucap membuat orang-orang yang ada di meja itu menatapnya dengan mata yang membulat sempurna.
"SERIUS GI?" heboh Leana diikuti gerakan cepat membekap mulutnya. "Jadi alasan lo ngejomblo selama ini karena..."
"Jangan ngaco!" potong Irgi. Napas pria itu tersengal-sengal seperti habis lari maraton merespon serangan mata yang tertuju padanya, "Gini-gini gue juga bukan pecinta batangan kali. Itu maksud gue. Yang tadi salah ucap."
"Makanya kalau ngomong tuh ditata dulu baik-baik. Untung aja gue gak sampai keselek bakso pas dengernya."
"Memangnya Vernon ke mana hari ini?" tanya Danial serius. Seingatnya sejak tadi pagi dia tak pernah sekali pun melihat pria itu muncul di hadapannya. Padahal diantara teman-temannya yang lain, bisa dibilang Vernon lah yang paling bersemangat ke kantin saat bel istirahat telah berbunyi.
"Lagi sakit, tadi suratnya masuk ke kelas gue."
"Sakit apa dia?" tanya Danial.
"Diare."
"Pasti penyebabnya gara-gara dia nuang cabe kebanyakan pas semalam kita berempat makan seblak di rumah gue," sambung Haris asal nyerocos. Pria itu tak sadar bahwa dengan mengatakan itu sama saja dengan melanggar janji yang telah dibuatnya semalam bersama Danial.
Danial telah menggigit bibir bagian bawahnya merasa cemas. Di area dahi dan juga pangkal hidungnya telah basah karena peluh. Di menit yang sama pria itu menggerakkan kepalanya ke arah Aurel yang nyatanya lebih dulu menatapnya dengan ekspresi tengah menuntut sebuah jawaban.
"Gue bisa jelasin..." katanya namun tertahan saat bola matanya menemukan pergerakan dari Aurel.
Dret!
Derit kursi terdengar ketika Aurel bergegas meninggalkan posisi duduknya. Secara tidak langsung suara itu menginterupsi kalimat Danial. Kekesalan serta kemarahan menghantam diri Aurel secara bersamaan, membuatnya tak mampu menahan diri untuk duduk berlama-lama di tempat itu.
"Lo mau ke mana?" tanya Leana. Satu tangannya bergerak lincah mencengkeram pergelangan tangan kanan milik sahabatnya itu, "Kok buru-buru amat?" sambungnya mencoba mengadu mata meredupnya itu dengan Aurel yang seakan tak ingin balas menatapnya.
"Gue lagi sakit perut," jawabnya berdusta seraya memegangi bagian perutnya menggunakan tangan yang satunya lagi. "Oh iya, gue minta tolong bayarin makanan punya gue juga, nanti pas di kelas uang lo gue ganti."
"Tapi lo bisa sendiri ke kelas? Apa perlu gue anterin?" cemas Leana akan kondisi sahabatnya.
Aurel mengangkat tangan memperlihatkan bagian telapaknya. "Gak perlu. Gue bisa sendiri kok."
"Biar gue yang nganterin," kata Danial menawarkan bantuan.
"Gak perlu," ketus Aurel menjawabnya. "Lebih baik gue ke kelas sendiri aja, gue kepingin nenangin diri di sana."
"Tapi..."
"Apa perlu aku ulang seribu kali biar kamu ngerti yang namanya penolakan?" tanya Aurel retorik. Semua yang ada di meja itu melirik ke arah Danial yang tampak tak bisa berkutip lagi.
Danial bergeming. Hanya bola matanya yang bergerak lincah menjamah punggung gadisnya yang kian menjauh. Sebuah embusan napas pasrah terdengar darinya. Dia memutuskan untuk tidak bertindak lebih jauh karena percuma juga. Bahkan jika dirinya yang ada di posisi Aurel saat ini pasti dia akan marah.
Mengejarnya hanya akan menjadi tindakan sia-sia. Makanya Danial memilih mendiamkannya saja, nanti dia akan menjelaskan pada Aurel secara baik-baik jika suasana hati gadis itu sudah sedikit membaik.
...-To be Continued-...
__ADS_1
NOTE : Di bab² awal kita bakal fokus sama hubungan Aurel dan Danial dulu, untuk yang bagian horror²nya akan menyesuaikan di tengah bab sampai akhir⚘💕