
...RAIN & THE DARKNESS STORY "PART 2"...
...(HUJAN & CERITA KELAM "BAGIAN 2)...
...●...
...●...
...●...
SUARA alarm yang terdengar dari ponsel direspon sentakan oleh kedua pria yang masih terlelap di atas ranjang. Semalam lebih tepatnya sebelum tidur Danial berinisiatif menyalakan alarm. Takutnya dia telat bangun ke sekolah jika tak menyetelnya.
Bagas dan Danial yang membuka mata secara bersamaan segera membulatkan bola matanya. Keduanya buru-buru memangkas jarak. "Ngapain lo meluk-meluk gue?" tanya Bagas.
"Harusnya gue yang nanya. Ngapain lo meluk-meluk gue?" Danial bertanya balik.
"Semalam lo yang nuduh gue belok, tapi kenyataannya lo sendiri yang belok," Bagas mengedikkan bahunya jijik. Lalu kemudian pria itu menarik bibirnya ke samping, mempelihatkan sebuah senyuman yang sarat akan meremehkan. "Lo ngambil kesempatan ya buat meluk-meluk gue pas lagi tidur."
"Jaga ya omongan lo! Yang ada elo tuh yang meluk-meluk gue dari tadi," sanggah Danial tidak terima dengan tuduhan yang digulirkan oleh Bagas terhadapnya. "Gak ada sejarahnya seorang Danial Wirawan suka sama cowok."
"Hal yang sama juga berlaku sama gue!" ucap Bagas dengan suara tegas. "Sampai detik ini gue masih normal."
Danial merasa percakapan di antara mereka sudah jauh melebihi batas normalnya. Danial mengakhirinya sampai di sini karena jam di ponsel telah menunjukkan pukul enam lebih. Danial seharusnya kembali ke rumahnya untuk bersiap sebelum berangkat ke sekolah.
"Gue balik kalau gitu," pamit Danial setelah menguap. Semalam Danial kurang tidur karena Bagas terus saja meracukinya. Bahkan semalam Danial sempat merasa kesal saat Bagas merengek minta diantar ke toilet dengan alasan takut bertemu dengan makhluk tak kasat mata yang mendiami rumahnya.
"BTW thanks ya....."
"Pokoknya ini yang pertama dan terakhir buat gue nginep di rumah lo. Kapok gue semalam ngeliat tingkah lo. Ponakan gue aja yang umur lima tahun pipisnya udah gak ditemenin. Nah elu, umurnya udah belasan, anunya juga udah berbulu, pipisnya masih ditemenin," sebuah gelengan pertanda tak habis pikir diperlihatkan olehnya.
"Kan gue baru bisa ngeliat makhluk halusnya dalam waktu dekat ini. Maklumin ajalah, anggep kalau saat ini gue lagi belajar buat beradaptasi menerima kehadiran mereka."
"Lebay lu pakai adaptasi-adaptasi segala. Gue aja pas awal ngeliat mereka langsung berani."
"Kan setiap orang beda-beda kali."
"Ngeles aja lu bisanya," semprot Danial. "Udah ah, gue mau balik."
"Eh, tunggu sebentar!" seru Bagas. Danial yang sudah memutar tumit bersiap pergi pun terpaksa balik badan. Danial menatap Bagas lewat picingan mata—yang sudah lumrah tiap kali seseorang sedang merasa penasaran akan satu hal.
"Apa lagi?" Danial memutuskan untuk memberikan pertanyaan karena lawan bicaranya masih bergeming.
"Soal anu gue yang katanya berbulu. Tahu dari mana lo soal itu? Apa semalam lo grepe-grepe gue?"
Pembahasan itu lagi. Jujur saja telinga Danial merasa kepanasan mendengarnya. Memangnya tidak ada topik lain yang bisa dibahas oleh Bagas selain seputaran masalah itu?
__ADS_1
"Gue gak ada waktu buat jawab pertanyaan gak penting lo itu. Gue balik sekarang, ntar gue malah telat ke sekolah gara-gara lo," Danial memutuskan untuk pergi sedetik setelah pamit dengan Bagas si pemilik rumah.
...●●●●●...
BAU melati menyeruak memasuki indra penciuman Aurel. Tidak heran lagi. Bau khas itu akan selalu menyambut Aurel tiap kali gadis itu berdiri di depan gerbang SMA Angkasa Raya. Orang biasa mungkin tak sadar, tetapi mereka yang memiliki kelebihan alias sixthsense pastinya paham dari mana aroma melati tersebut berasal.
Jasmine. Itulah nama singkat yang Aurel sematkan kepada perempuan belanda yang menggunakan gaun pengantin berwarna putih. Tentu saja alasan dibalik penamaannya itu karena aroma melati yang bersumber dari badannya.
Aurel mengembuskan napasnya. Kadang-kadang ada rasa kasihan mendiami dirinya tiap kali memperhatikan Jasmine yang tiap hari kerjanya cuma berdiri di gerbang menatap kosong ke salah satu arah. Beberapa hantu di sekolah ini pernah cerita ke Aurel. Katanya Jasmine ini lari dari perjodohan yang dibuat orangtuanya. Dia meninggal dalam keadaan sedang menggunakan gaun pengantin. Makanya wujud dia terlihat dengan gaun tersebut.
Dari sekian banyak hantu yang ada di sekolah ini, cuma Jasmine yang menutup diri. Jangankan berbicara dengan murid yang memiliki kelebihan. Bahkan berinteraksi secara verbal dengan sesama hantu pun tidak pernah. Dari semua hantu yang ditanyai oleh Aurel semuanya menjawab serempak, Jasmine tidak pernah berinteraksi verbal dengan salah satu di antara mereka. Bahkan beberapa hantu penghuni SMA Angkasa Raya tak jarang menebak kalau sebenarnya Jasmine ini tidak bisa bicara alias bisu.
Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sempat terbesit tanya. Apakah Jasmine memang bisu atau justru dia sengaja menutup diri dengan hal-hal yang ada di sekitarnya. Dia mungkin berat untuk membagikan permasalahannya dengan hantu lain. Dan Aurel rasa, bukan haknya untuk memaksa perempuan itu bicara. Jasmine punya hak untuk menyimpan rahasia miliknya sendiri.
Aurel bukan orang pertama yang datang ke sekolah pagi itu. Di parkiran tadi kedua bola matanya menjumpai sudah ada beberapa motor yang terparkir di sana. Kira-kira sebanyak tujuh atau delapan buah lah. Dijam segini sudah jelas kondisi SMA Angkasa Raya masih sepi. Kebanyakan murid-murid masih di rumah masing-masing. Kalau bukan karena Nakula yang buru-buru ke kampus kemungkinan Aurel akan datang ke sekolah terlambat lima belas menit dari sekarang.
Masih di tengah jalan menuju kelas. Aurel berhenti mengambil langkah. Bulu kuduknya meremang. Setidaknya itulah sinyal yang dijadikannya tolok ukur bahwa ada makhluk dari dimensi lain di sekitarnya. Memutar badan, dia tidak menemukan apa-apa.
"Gue paling gak suka dikagetin. Awas aja kalau lo muncul di hadapan gue dengan muka menyeramkan."
Sisil—yang terkenal akan kejahilannya pun menampakkan diri di depan Aurel. Hantu berwujud gadis itu hanya menyengir di depan Aurel. "Kok kak Aurel bisa tahu sih kalau aku bakal datang ngasih kaget?" tanya Sisil. Lama tak bertemu dengan Aurel tak membuat hantu itu melupakan tatakrama. Alih-alih menyapa Aurel dengan panggilan lo-gue, hantu itu kiranya masih menggunakan aku-kamu. Bahkan dia juga masih mendahulukan embel-embel 'kak' sebelum menyebut nama Aurel.
"Insting anak indigo rata-rata kuat, Sil."
"Oh gitu ya Kak, aku kira kakak tahu kedatangan Sisil karena kakak keturunan Master Limbad."
"Terus siapa dong?"
"Gue keturunan pak Tarno, Sil."
"Barusan maksudnya melucu?"
"Emang kenapa?" Aurel mengembalikan dengan pertanyaan lain.
"Kalau misalkan ngelucu aku pengin bantu ketawa."
"Barusan gak lucu memangnya?"
"Lucu sih, tapi..." sosok hantu bernama Sisil itu menggantung kalimatnya. Perbuatannya itu tentu saja membuat lawan bicaranya mengerutkan kening.
"Tapi apa?"
"Tapi boong!"
Mata Aurel membulat dengan sempurna. Umpatan yang hendak dilayangkannya tertahan di kerongkongan. Masih pagi-pagi dan Sisil sudah bikin dirinya naik darah. Beruntungnya sosok Sisil keburu menghilang sebelum Aurel memperlihatkan kemarahannya.
__ADS_1
"Awas aja ya, Sil. Kalau ketemu nanti gue gak bakal ngampunin elo. Gila aja, masih pagi-pagi udah dibikin kesel sama tuh makhluk," Aurel menyentak kesal sambil bermonolog.
...●●●●●...
"MAAF YA SOAL SEMALAM," sebuah embusan napas panjang mengekori kalimat Bagas barusan. Bagas adalah tipikal orang yang tidak enakan merepotkan orang lain, terlebih dengan orang yang baru ditemui. Tetapi yang dilakukannya semalam setidaknya telah berlawanan dengan sifat tak enakannya itu.
"Maaf soal apa? Lo ngelakuin kesalahan apa?" cecar Aurel di depannya.
"Karena semalam gue udah ngerepotin lu sama Danial," jawab Danial. "O ya, kemarin kalau gak salah lo sempat cerita, tentang temen lo yang bisa ngeliat hantu setelah operasi mata. Kalau gak salah ingat kemarin lo malsuin nama dia dengan sebutan Mawar."
"Oh itu, gue inget sekarang. Ada apa sama dia?"
"Apa bener kalau orang yang namanya lo samarin dengan sebutan Mawar adalah Danial?"
Aurel menyengir lalu menganggukkan kepalanya. "Kok lo bisa tahu sih? Padahal kan namanya udah gue samarin."
"Gue tahu karena semalam Danial cerita. Katanya dia juga baru bisa ngeliat makhluk aneh beberapa bulan terakhir," percakapan diantara dirinya dengan Danial semalam entah kenapa kembali berputar di dalam imajinya. Ada satu hal yang menarik. Yang diceritakan Aurel tempo hari dan yang Danial ceritakan semalam berbanding terbalik. "Gue sih sebenarnya penasaran."
"Penasaran sama apa lo?"
"Apa bener pas awal-awal bisa ngeliat hantu Danial gak ada takutnya sama sekali?"
Aurel tertawa. Ada banyak sekali momen-momen lucu pas awal Danial bisa ngeliat hantu. "Kebalikannya kali, Gas! Si Danial mah badannya aja yang gede, tapi pas ngeliat hantu bergetar seluruh badannya."
Berarti semalam gue dikibulin dong sama si Danial! Pikir Bagas. Perasaan kesal dan senang menyerang dirinya secara bersamaan. Kesal karena Danial membohonginya dan rasa senangnya dipicu karena ungkapan Aurel. Yang terpenting dia sudah memegang kartu yang bisa bikin Danial tak bisa lagi mengintimidasinya.
"Padahal gue ngira dia orangnya pemberani."
"Kalau sekarang okelah, perlahan dia udah mulai belajar menerima kenyataan bahwa selain kita manusia, juga ada mereka yang berasal dari dimensi yang berbeda. Tapi kalau ngebahas soal dulu-dulu bisa dibilang Danial tuh penakut, penakut banget malah." Aurel mengecek jamnya, "Gue balik ke kelas dulu ya, bentar lagi bel dan masih ada beberapa soal fisika yang belum gue tuntasin. Kalau gak keberatan boleh gak pulang sekolah nanti gue pulangnya sama lo?"
"Boleh-boleh aja sih, tapi gimana ya...." Bagas terlihat menggaruk-garuk kulit kepalanya yang mendadak gatal. Dia tidak enak menolak Aurel, tetapi pulang sekolah nanti dia ada eskul basket.
"Kenapa? Lo ada boncengan?"
"Bukan. Masalahnya pulang sekolah nanti ada eskul basket."
"Hmmm, gimana kalau gue tungguin sampai eskulnya beres. Ya, itung-itung sekalian ngeliat lo latihan. Gimana?"
"Boleh kok, tapi maklum aja ya?"
"Kok maklum?"
"Iya. Soalnya skill basket gue gak seberapa, dan gue juga bukan pemain yang selalu kena sorot."
"Jangan merendah lu, Nyet!" canda Aurel menabok punggung Bagas. Menyisakan pria berambut klimis tersebut sedang meringis, "Gue juga tahu kali. Masuk eskul basket harus ngelewatin yang namanya tahap seleksi. Dengan lo gabung eskul sebenarnya udah ngebuktiin kalau lo itu salah satu pemain hebat. Gue cabut ya! Keburu bel nih!" Aurel menghampiri kasir tuk membayar makanan dan minumnya, lalu setelah itu dia bergegas menuju kelas dengan tujuan menyelesaikan tugas fisika sebelum guru yang bersangkutan datang.
__ADS_1
...-To be Continued-...