MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
25. GHOST WHISPER


__ADS_3

...GHOST WHISPER...


...(BISIKAN HANTU)...


...●...


...●...


...●...


“AUREL!” heboh Leana. Sekarang sudah jam pulang tetapi gadis itu balik lagi ke kelas menemui Aurel.


“Ada apa An, kok lo panik gitu sih?” tanya Aurel tak kalah paniknya melihat tingkah sahabatnya yang seolah baru saja bertatap muka dengan penghuni sekolah.


“Gawat Rel!”


“Ada apa sih?” Aurel semakin penasaran ingin mengetahui alasan dibalik kepanikan sahabatnya itu.


“Denis ada di gerbang sekolah Rel,” kata Leana dengan deru napas memburu. Kelihatannya gadis itu baru saja berlari dari lantai bawah dan menemui Aurel di kelas.


Disaat yang bersamaan Aurel memborong oksigen di dalam kelas kemudian membuangnya melalui mulut. Setelah detakan jantungnya balik ke mode normal, barulah gadis itu menggerakkan bibirnya. “Astaga An. Gue kira lo lagi ada masalah apa. Tau-tau cuma ketemu kak Denis doang.”


“Masalahnya Rel, dia itu nyariin elo.”


“Sumpah? Demi ape lo?” giliran Aurel yang memperlihatkan keterkejutan melalui mata melebar juga dengan kedua alis yang terangkat secara bersamaan.


“Nah kan, lo juga kaget.”


“Apa katanya?” tanya Aurel terdengar sangat antusias.


“Kan gue udah mau pulang tuh, eh disamperin sama dia. Dia nanya kelas lo, dan gue jawab deh kalau kita itu sekelas. Dia lalu minta tolong panggilin elo…”


Leana masih bercerita ketika Aurel memasang ranselnya ke punggung.


Seolah kesetanan gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Leana di dalam kelas dengan rahang yang telah jatuh. “Kalau udah jatuh cinta, temennya auto dilupain.”


Terdengar ngos-ngosan. Aurel baru saja menghentikan langkah kaki ketika jaraknya dengan Denis hanya terpaut beberapa meter lagi. Sempat merasa canggung di detik pertama namun ia berusaha keras menambah kadar keberanian dalam dirinya. “Katanya Kak Denis nyariin aku ya?” Aurel masih sempat-sempatnya menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga.


“Gue mampir ke sekolah karena masih punya urusan. Oh ya, hari ini biar gue yang anterin lo pulang ya!” ujarnya mengajukan bantuan.


“Gak usah repot-repot Kak.” Tolak Aurel cepat.


“Gapapa, lagian Nakula juga minta tolong sama gue soalnya dia masih punya urusan di kampus.”

__ADS_1


“Makasih ya Kak sebelumnya.” sebuah senyuman manis diperlihatkan oleh Aurel. Kalau saja bukan karena kemauan Nakula pastinya ia akan menolak itikad baik dari Denis. Aurel tidak mau merepotkan meski kenyataannya dia memiliki rasa pada yang bersangkutan.


Dengan motor matic-nya, tentunya mudah bagi Denis untuk menyalip kendaraan yang merayap di jalan raya. Hal itu membuat waktu menjadi lebih efisien dari yang seharusnya.


Tidak terasa motornya pun berhenti. Sembari melepaskan helm yang membungkus kepalanya Aurel lantas turun dari motor.


“Mampir dulu, Kak!” suruh Aurel. Gadis itu baru saja mengembalikan helm ke tangan Denis.


“Lain kali aja ya Rel, soalnya lagi ada urusan di kampus.”


Aurel mengangguk paham, “Kalau gitu hati-hati ya Kak di jalan.”


“Makasih.”


“Makasih karena apa Kak?” gadis itu mengernyit. Harusnya dialah yang berterima kasih karena Denis telah berbaik hati mengantarnya balik ke rumah.


“Makasih karena barusan lo senyumin gue!” kadang-kadang Aurel harus mengakui tentang bakat terselubung yang dimiliki oleh Denis. Dia benar-benar punya bakat dalam hal membuat lawannya jadi baper tak ketulungan. “Gue yakin bentar lagi bakalan diabetes sehabis disenyumin sama lo.” Lanjutnya tanpa ampun.


“Ah Kakak bisa aja.” sengaja memandang ke arah lain, takutnya Denis menyadari perubahan warna pipi Aurel yang telah berubah jadi merah merona pasca gombalan didapatnya.


Denis menyengir kuda. “Gue cabut dulu ya!”


“Iya Kak.”


“Bentar lagi gue sold out kayaknya!” gumamnya penuh harap.


...●●●●●...


“DOR!!!” suara pekikan itu lepas bersamaan dengan mendaratnya dua buah telapak tangan di bahunya.


“Eh ayam!” lata Aurel dengan sentakan. Sepertinya sah-sah saja ia terkejut apalagi suasana sekolah masih sepi sehingga ia tak pernah kepikiran akan ada manusia laknat yang mengagetkannya.


Segera suara tawa puas tertangkap oleh Aurel. Lebih dulu mengembus kesal sebelum badannya berputar memperhatikan Danial yang sedang memegangi perutnya tanpa menghentikan gelak tawanya. Pria itu kelewat asyik karena upayanya mengejutkan Aurel berbuah manis.


“Lo pikir gue ayam?” gelengan-gelengan pertanda tak habis pikir diperlihatkan Danial.


“Ya awalnya gue pikir ayam, tapi ternyata monyet.” Tak merasa bersalah setelah memberikan kalimat menohok Aurel melanjutkan langkahnya menuju kelas.


“Sialan!” umpat Danial kesal setelah mendengar kalimat setajam tombak meluncur dari bibir mungil Aurel. “Cowok se-perfect gue dibilang monyet, sakit mata tuh manusia!”


“Rel,” saat ini posisinya sedang bersisian. Danial berjuang keras menyamai langkahnya karena gadis itu sengaja mempercepat langkah berusaha menghindar.


“Apa lagi,” Aurel berusaha menjawab seruan Danial tanpa berhenti mengambil langkah menuju kelas.

__ADS_1


“Kemarin gue gak sengaja liat lo pulang sama cowok.”


“Urusannya sama lo apa?” kalimat tajam itu terdengar dengan nada selembut mungkin. 


“Siapa cowok itu?” kepo Danial tidak mengacuhkan pertanyaan tajam yang disampaikan Aurel khusus untuknya.


“Denis.”


“Denis temennya Nakula, yang waktu itu datang ke rumah lo?” lagi, Danial bertanya.


“Ho-oh,” sahut Aurel.


“Lo suka sama dia?” tidak ada angin tidak ada hujan mendadak Danial menanyakannya.


Langkah kaki yang sedari tadi digeluti Aurel otomatis tertahan. Pertanyaan Danial barusan sudah diambang batas kewajaran. Seharusnya Danial tahu pertanyaannya itu telah mengarah pada hal-hal yang berbau privasi. Tidak semua orang gampang memberikan informasi terkait dirinya pada orang lain, terlebih lagi dengan kenyataan hubungan mereka yang tak ubah kucing dan tikus.


“Kenapa emangnya?” dengan kening mengerut Aurel menanyakannya. “Kalau gue suka sama dia lantas hubungannya sama lo apa?” sambungnya kesal. “Hanya karena bokap kita temenan baik bukan berarti lo bisa seenaknya nyampurin kehidupan gue.”


“Gak ada sih, cuman aneh aja kalau misalnya kalian pacaran. Jalan berdua bukannya kayak couple jatohnya malah kayak ponakan sama om nya.”


“Danial, dia bukan om-om, dia seumuran sama Nakula.”


“Cie, dibelain calon pacarnya.”


“Tau ah, malas gue bicara sama lo! Masih pagi-pagi juga udah dibikin emosi.”


Tidak ada jawaban dari Danial. Pria itu hanya mencebik memperhatikan Aurel menyentak kesal meninggalkannya sendirian di koridor.


“Danial?”


“Ya,” Danial membalikkan badan bermaksud mengadu matanya dengan seseorang yang baru saja menyerukan namanya.


Kosong. Tidak ada satupun orang yang ditemui indra penglihatannya.


Selama beberapa saat Danial masih bergeming di tempat, memikirkan perihal suara yang menyerukan namanya. Sejauh ini hanya matanya yang mampu melihat makhluk dari dimensi lain. Lantas kenapa sekarang telinganya ikutan jadi sensitive? Apakah sebentar lagi gerbang dialog dengan mereka bakalan kebuka?


Tanpa diperintahkan bulu kuduknya telah meremang merespon ketakutannya. Belum lagi perasaan aneh yang menghantam bagian tengkuknya. Kalau dijelaskan secara rinci seperti ada sesuatu yang meniup hingga rasa dingin terasa sangat jelas di tengkuknya.


“Shit!” umpatannya barusan lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Danial sudah sangat terbebani dengan hantu-hantu sialan yang membuat hidupnya seperti di labirin. Ia merasa hantu sudah jadi pokok permasalahan dalam dirinya.


Danial mengurut pelipisnya yang kadang nyut-nyutan saat mencoba memecahkan permasalahan dalam kepalanya.


...~To be Continued~...

__ADS_1


__ADS_2