MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
EPILOG


__ADS_3

AUREL tak henti-henti berdecak kagum mengagumi suasana rooftop milik Danial. Keduanya baru saja menikmati makan malam di lantai bawah saat Danial mengajak pacarnya untuk mengunjungi tempat ini.


"Gimana? suka?" tanya Danial.


"Kamu yang ngedekor ini semua?" tanya Aurel. Gadis dengan pakaian berwarna blue navy dengan pemanis rok selutut tersebut masih saja betah mengedarkan pandangannya melihat kilauan lampu hias yang berpadu dengan keindahan pot bunga yang berjejer rapi di sekitarnya.


"Yap," singkat Danial sebagai jawaban atas pertanyaan gadisnya.


Pada akhirnya Aurel merasa lelah juga. Begitu matanya menjumpai kursi kayu, gadis itu lantas menyegerakan untuk duduk di sana, "Sini, duduk bareng aku!" panggilnya sambil menepuk kursi di sebelah kirinya.


Danial menghampiri dan mulai mendudukkan tubuhnya bersisian dengan sang pacar.


"Rencananya kamu mau ambil kuliah jurusan apa?"


"Kok pertanyaannya random gitu?" Danial mengembalikan dengan pertanyaan pula.

__ADS_1


"Kamu denger sendiri kan apa yang dikatakan orangtua kamu pas kita lagi makan, kita berdua harus fokus sama masa depan." Aurel mengingatkan.


Danial menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia masih ingat secara mendetail apa yang disampaikan oleh orangtuanya ketika ia memperkenalkan Aurel sebagai pacarnya. Lagipula ayahnya memberi nasihat itu sejam yang lalu, mana mungkin Danial melupakannya secepat ini.


"I don't know about my future, but when I look into your eyes, then I know my future is you."


Aurel memekik, "Danial. Jangan digombalin ah! Aku kan lagi serius nanya sama kamu."


"Jujur aja nih, kalau masalah kuliah aku masih bingung milihnya," Danial menggaruk-garuk tengkuknya, "Antara teknik industri sama informatika."


"Apa pun pilihan kamu nantinya, semoga itu yang terbaik. Bye the way kamu gak penasaran sama jurusan yang bakal aku pilih?"


Aurel menyengir, merasa takjub disaat yang bersamaan. Aurel bahkan lupa kapan ia memberitahu jurusan yang ia pilih pada Danial.


"Eh liat deh sayang! Ada bintang jatuh," telunjuk Danial mengarah ke langit malam.

__ADS_1


"Bukan bintang jatuh, perhatiin baik-baik."


Mata meredup Danial sewaktu memperhatikan secara detail kini melebar secara sempurna, "Aku pikir bintang jatuh, eh tahu-tahunya sosok kuntilanak yang lagi main."


Aurel menyeringai sebelum mulai berbicara, "Seru juga ya pacaran sama cowok indigo, dengan begitu kita bisa sama-sama liat makhluk dari dimensi lain."


"Risiko jadi indigo mah gini, niat awalnya cuma pengin ngehitung bintang, tapi sosok-sosok hantunya juga ikutan muncul," eluh Danial menyayangkan kemunculan sosok kuntilanak yang justru membuat suasana romantisnya seketika mencair.


"Oh ya, sejauh ini kamu masih keganggu gak sama kelebihan itu?" tanya Aurel.


Danial bergumam, "Awalnya sih iya, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa kok. Apalagi dengan fakta bahwa saat ini kamu udah ada di samping aku."


"Jangan gitu ah, ntar pipi aku malah memerah lagi digombalin terus," Aurel memegangi kedua pipinya yang sedikit memanas setelah indra pendengarannya mendegar gombalan dari Danial.


Danial membawa tangannya mengudara. Tangan itu mendarat mulus merangkul gadis yang kebetulan duduk di sebelah kanannya. Di detik berikutnya Danial telah menenggelamkan Aurel ke dalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


...~ F I N I S H ~...


...AKU MAU NANYA, SETUJU GAK KALAU AKU BIKIN SEKUELNYA? JAWAB YAH!!!...


__ADS_2