
...ANNOYING GHOST "PART 2"...
...(HANTU YANG MENYEBALKAN "BAGIAN 2")...
...●...
...●...
...●...
DANIAL berjalan di koridor yang sepi. Sekarang jam pelajaran sedang berlangsung di kelasnya, namun pria itu memilih ijin ke toilet.
Setelah dari toilet, Danial memanfaatkan waktu tersebut untuk menghilangkan dehidrasinya dengan mengunjungi kantin dan membeli sebotol minuman dingin. Pelajaran Biologi yang berlangsung di kelasnya membuatnya suntuk.
“Kenapa gak masuk kelas Kak?”
Danial berjingkat kaget membuat minuman yang diteguknya membasahi seragamnya. “Sial.” Danial menutup botol minumannya kemudian.
Untuk kedua kalinya Danial terkejut saat memeriksa dan melihat objek yang sedang berbicara padanya bukanlah sosok manusia seperti harapannya. Sosok itu adalah mereka yang biasa kalian sebut dengan hantu.
Danial dengan cepat menghentikan tatapannya pada arwah berwujud perempuan berseragam sama dengannya.
“Kak Danial bisa liat aku?”
Danial sedang dalam mode tuli, dia juga bertingkah layaknya buta seolah tak pernah bertemu dengan arwah yang kini menyulutkan emosinya.
“Jangan pura-puralah Kak. Aku yakin kok kalau Kak Danial bisa ngeliat sekaligus bisa denger suara aku.”
Danial bersiul tak mengindahkan perkataan arwah gadis itu. Dengan santainya ia melanjutkan langkah.
“Ah sialan lu!” Danial menghentikan langkah sekaligus memberi umpatan saat arwah tadi kembali muncul dan memperlihatkan sisi terburuknya di hadapan Danial.
“Tuh, kan dugaan aku emang bener,” si arwah tersebut menerbitkan senyum puas setelah menakut-nakuti Danial.
“Siapa sih lo sok kenal banget!” Danial bergidik lanjut melipat tangan ke depan dada, “Tau dari mana lo tentang nama gue?” penasaran Danial.
“Siapa sih yang gak kenal sama Kak Danial? Murid paling ganteng di SMA Angkasa Raya.”
Danial tersenyum jumawa. Ia tak mengira ketampanannya bahkan diakui sama hantu-hantu penjaga sekolah ini.
“Tapi yang namanya manusia kan gak ada yang sempurna. Seperti Kak Danial, wajahnya mungkin ganteng tapi sayang dia dongo.”
Danial belum sempat memaki hantu sialan tersebut tetapi sosoknya telah menghilang entah ke mana. “Awas lu ya, ntar kalo ketemu bakalan gue panggilin dukun supaya lo bisa diusir sama dia.”
__ADS_1
Sesampai di kelas Danial menceritakan segalanya pada Aurel, tentang siapa sosok hantu yang baru saja ditemuinya.
Dengan kalimat sesederhana mungkin Aurel menjelaskan bahwa sosok yang barusan ditemui Danial tak lain adalah arwah adek kelas yang bernama Sisil, dia juga menjelaskan bahwa Sisil meninggal karena kecelakaan saat ngebut menuju sekolah.
“Sisil meninggalnya baru hari ini?” Danial bertanya.
Aurel manggut-manggut.
“Pantesan gue baru pertama kali liat dia lalu lalang di sekolah. O ya, omong-omong kenapa dia jadi penunggu sekolah? Bukannya dia meninggal pas di perjalanan menuju sekolah?” bingung Danial.
Aurel mengulum bibir bawahnya. Kira-kira selang lima detik selanjutnya sebuah penjelasan asal-asalan pun terdengar, “Gak tahu juga. Mungkin karena dia lebih sering ngabisin waktunya di sekolah.”
“Kasian juga sih, padahal masih muda. Tapi sayang aja dia terlalu annoying untuk ukuran hantu. Waktu ketemu gue aja dia ngatain gua dongo.”
“Emang dongo,” imbuh Aurel cepat.
“Sialan lu Rel makin nambah kadar kekesalan gue aja.” Danial menyenter gadis itu dengan tatapan tajam.
“Tau ah, gue laper malas berdebat sama lu. Gue pengin ke kantin," Aurel mengibaskan tangan, acuh tak acuh.
“Kan lu duluan yang ngatain gue dongo.” Danial mengelak.
“Emang dongo kan Rel?” Haris menceletuk.
“Lu ngapain sih ikut-ikut nyambar,” kesal Danial pada Haris.
“Selow! Gitu doang pake marah-marah lu. Yuk ke kantin bareng gue! Vernon sama Irgi udah nungguin.”
...●●●●●...
SEJAK kecelakaan waktu itu, Danial dan hantu telah menjadi satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Dalam rentan waktu sehari saja Danial akan bertemu dengan puluhan makhluk dengan berbagai jenis tampilan. Ada yang menyeramkan dan adapula yang nyaris terlihat seperti manusia pada umumnya.
“Kak Danial!” Sisil menampakkan dirinya begitu Danial sedang berjalan menuju parkiran. Seperti sudah jadi kebiasaan Sisil selalunya datang sambil mengejutkan Danial dengan kehadirannya yang tak terduga.
“Apaan lagi sih lu. Ganggu orang aja.” Kesal Danial disambungnya dengan suara decakan tanda kesal.
“Bantuin Sisil dong.” Ujarnya tampak memohon.
“Gak.” Tolak Danial.
“Hari ini Kak Danial ganteng deh.” Puji Sisil tentu saja karena ada maunya.
“Udah ganteng sejak lahir.” Respon Danial dingin.
__ADS_1
Sisil mengulum bibir bagian bawahnya sedang berpikir. “Ya sudah, kalo gitu siap-siap aja Sisil bakal bilang sama Kak Aurel kalo Kak Danial ceritain ke kak Haris, kak Irgi, dan kak Vernon tentang kejadian pelukan pas di gudang.”
“Lo barusan ngancem gue?” Danial memelotot lalu tersenyum miring. Dia tak menyangka sosok hantu baru saja melayangkan ancaman untuknya. “Lo tau dari mana soal itu?”
“Kan temen-temen Kak Danial gak bisa liat Sisil, jadi pas mereka bertiga ngebahas masalah itu Sisil langsung tau. Lumayan kan bisa dijadiin alat untuk ngancem Kak Danial.”
“Sialan lu jadi setan, gak ada akhlak.”
“Jadi gimana nih? Mau bantuin Sisil gak?”
Meskipun air mukanya menampilkan raut tak suka, Danial tetap saja menyetujui permintaan hantu menyebalkan itu melalui anggukan kuat yang diperlihatkannya selama beberapa detik. Danial tak ingin ambil risiko.
“Lo butuh bantuan apa? Cepetan, keburu maghrib nih.”
“Gampang. Kak Danial temenin Sisil aja ke belakang sekolah.”
“Enggak ah! Lo mau ngapain ngajak gue ke belakang sekolah! Wah jangan-jangan lo mau ngapa-ngapain gue ya?” tunjuk Danial tepat di area muka sosok Sisil.
“Apaan sih Kak Danial lebay amat dah. Kan cuma nemenin doang.”
“Emangnya harus ditemenin?”
“Iya soalnya di koridor menuju belakang ada setan yang mukanya serem.”
“Tapi, kan elu juga udah jadi setan gilak. Kenapa musti takut sama makhluk sebangsa lo sih,” ucap Danial menohok sambil geleng-geleng karena tak habis pikir dengan tingkah setan jaman sekarang.
“Sisil kan masih baru, lagian muka Sisil kan kelewat imut takutnya pas jalan sendirian malah digodain sama hantu-hantu yang ada di sekitaran sini.”
“Cih.” Danial baru saja berdecih. “Sok populer lu, pas masih idup aja gue gak tau tuh kalo ada adek kelas yang nyebelin kayak elu.”
“Kalo gak percaya tanyain aja sama temen seangkatan Sisil. Gue yakin gak ada satupun dari mereka yang gak kenal sama aku.”
“Semerdeka lo aja dah, gue kagak peduli.”
Karena takut semakin gelap Danial akhirnya mengantar Sisil ke tempat yang ia inginkan.
“Kak Danial gimana sih, katanya nganterin tapi nyuruh Sisil jalan duluan. Sama aja boong kali Kak. Tau gitu Sisil jalan sendirian aja ke sini.” Sisil mengerucutkan bibir setibanya ia di belakang sekolah.
Danial hanya memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi, “Hehehe, gue juga takut kali sama hantu. Harusnya lo bilang makasih karena gue udah baek nganterin lo sampai sini.”
“Iya deh, makasih.” Sisil mengucapkannya terpaksa.
Kemudian setelah mengantar Sisil ke belakang sekolah, Danial lantas mempercepat langkah untuk balik ke parkiran. Setahunya, maghrib merupakan waktu di mana hitungan seram akan di mulai. Diwaktu itulah gerbang ghaib mulai terbuka lebar-lebar.
__ADS_1
...~To be Continued~...