MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
55. WITHOUT ME


__ADS_3

...WITHOUT ME...


...(TANPA KEHADIRANKU)...


...●...


...●...


...●...


BANTAL beserta boneka mengudara di kamar Aurel. Serangan demi serangan dia lakukan kepada makhluk tak kasat mata yang mencoba mendekatinya. Segala benda dilemparnya ke arah hantu—meski ia pun tersadar bahwa tak satu pun dari hantu itu yang bakal merasakan sakitnya terkena benda itu. Jangankan merasakan sakitnya, bahkan tersentuh benda itu pun menjadi hal tabu bagi mereka.


Aurel tidak naif. Dia bahkan mengakui dirinya bersedih usai mengakhiri hubungan dengan Danial. Ada banyak kenangan manis bersama pria itu. Tentu sulit melupakannya dalam sekejap. Disaat-saat seperti ini Aurel tidak ingin siapa pun mengganggunya. Yang Aurel butuhkan hanyalah ketenangan dengan berdiam diri di kamar, bukan hiburan dari siapa pun. Apalagi hiburan dari hantu-hantu yang mendiami kamarnya.


Risiko dalam menjalin hubungan asmara sudah pasti jawabannya adalah patah hati. Sejatinya manusia tidak bisa memprediksi bagaimana jalan hidup kedepannya. Jangankan orang yang berpacaran. Bahkan pasangan yang sudah jelas terikat dalam hubungan pernikahan pun bisa berpisah. Berpikir positif mungkin hubungan antara Danial dan Aurel berakhir karena Tuhan ingin menghindarkan Aurel dari orang yang salah. Danial mungkin bukan orang yang tepat untuknya.


Tetap saja. Sudah banyak cara yang ditempuh oleh Aurel dalam hal mencoba membuat pikirannya membaik, namun sekelabat bayangan yang berputar di kepalanya tidak memberikannya izin. Tiap kali perasaannya mulai tenang pasti kenangan manisya saat berduaan dengan Danial datang meracuki kepalanya.


Ponsel yang tergeletak di sampingnya diambil. Sudah lebih dari dua puluh panggilan masuk. Bukan dari Danial, tapi dari Leana. Kemungkinannya gadis itu sedang dilanda cemas karena Aurel tidak memberinya kabar bahwa dia pulang dengan taksi setelah perdebatannya dengan Danial tadi.


"Astaga, kenapa gue sampai lupa sih buat ngabarin Leana," sesal Aurel. Ia bisa merasakan kepanikan yang mendiami sahabatnya lewat pesan serta serangan panggilan yang tak sempat dijawab oleh yang bersangkutan.


Aurel mencari kontak Leana di ponselnya. Setidaknya dia harus memberi kabar jika dirinya sudah ada di rumah dan kondisinya baik-baik aja.


"Kenapa baru angkat telepon dari gue sekarang? Lo gak tau gimana paniknya gue pas nyariin lo tapi kagak ketemu-ketemu," begitu sambungan telepon terhubung Leana segera memaki sahabatnya.


Aurel terdiam bukan karena kehabisan kata-kata atau mungkin takut menjawab. Dia masih diam karena tangannya sibuk mengelap sisa-sisa air matanya dengan tisu.


"Halo Rel? Kok diem sih? Lo baik-baik aja kan?" cecar Leana.


"Maaf," singkat Aurel. Sialan! Batin gadis itu seraya memukul-mukul jidatnya. Harusnya dia menyetel suaranya agar terdengar santai, namun yang terlepas dari bibirnya barusan malah kedengeran parau. Aurel yakin sebentar lagi Leana akan memberi pertanyaan terkait dengan perasaannya saat ini.


"Kenapa suara lo kek gitu Rel? Lo abis nangis?" sesuai dugaan Leana langsung merasa curiga setelah mendengar jawaban Aurel sebelumnya. Aurel bahkan merasa sahabatnya itu punya kepekaan yang luar biasa.


"Jangan ngaco An! Gue gak nangis kok. Gue lagi flu. Makanya suara gue agak bindeng."


"Eh, jangan coba bohongin gue deh lu, gak mempan. Gue kenal lo bukan dari kemarin sore Rel. Gue bisa bedain mana suara lo pas lagi flu, dan mana suara lo pas lagi sedih atau habis nangis."


Aurel menghirup udara bebas di sekitarnya, membuangnya segera. "Hubungan gue sama Danial udah berakhir An," aku Aurel. Tidak ada hal yang dapat disembunyikan lagi. Leana adalah sahabatnya, dia berhak tahu soal ini. Selain itu lambat laun juga bakal kesebar juga. Sebelum Leana mendengarnya dari orang lain, Aurel kiranya memilih mengatakannya secara langsung.


"Sumpeh lo, Rel?" kaget gadis di seberang sana.


"Sumpah An. Gue ketemu sama Danial pas di mini market tadi. Bukannya bareng adeknya, dia malah berduaan sama Maurine."


"Kan, apa yang gue bilang jadi kenyataan. Dari gelagatnya aja udah bisa kebaca kalau Maurine itu masih punya perasaan sama pacar lo."


"Mantan lebih tepatnya," koreksi Aurel.


"Itu maksud gue."


"Tapi ini bukan salah Maurine kok."

__ADS_1


"Cukup ya Rel lo belain dia lagi, gedek telinga gue ngedengernya," kesal Leana.


"Bukan bermaksud ngebelain tapi kenyataannya memang bukan karena Maurine. Gue putus sama Danial karena gue gak tahan lagi dibohongin sama dia. Katanya jalan bareng adeknya, tapi yang terjadi malah jalan bareng Maurine."


"Tetep aja Maurine ikut andil dalam putusnya hubungan lo sama Danial."


"Danial dong An yang salah. Kalau pun misalkan Maurine ngajakin dia jalan berdua kayak tadi harusnya Danial nolak atau mungkin ngabarin ke gue dulu soal itu. Tapi yang dilakuin Danial apa? Dia malah bohongin gue dengan mengatasnamakan Davina alias adeknya. Sekali pun gue gak pernah tuh An, ngebatasin pertemanan Danial sama siapa pun, gue bahkan gak pernah ngelarang dia buat pergi sama siapa aja. Gue cuma minta dia buat jujur pergi sama siapa, tapi kelihatnnya berat banget buat dia terima."


"Gue ke rumah lo nih?" tawar Leana. "Itung-itung buat nenangin lo."


"Gak perlu. Udah tengah malam juga."


"Ya udah, lo langsung istirahat aja Rel. Gue gak mau kondisi lo nge-drop lagi mengingat lo baru aja sembuh."


"Iya, habis nelponan sama lo, gue janji langsung tidur kok."


"See you!!"


Sambungan telepon terputus.


...●●●●●...


DANIAL terduduk sembari melipat tangannya di depan dada. Pandangannya nyalang ke depan memperhatikan suasana lingkungannya yang dibungkus oleh gelapnya malam. Sudah jadi kebiasaannya tiap kali sedang ada masalah selalunya dia mendatangi tempat ini. Baginya tempat yang paling nyaman di rumahnya dalam artian menenangkan pikirannya adalah rooftop.


Beberapa penampakan aneh tak luput dari jangkauan matanya. Tapi Danial yang sekarang tidak sepenakut dulu. Meski terkadang dia akan merespon dengan sentakan tiap kali ada penampakan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kak!"


"Hmmm," lewat sebuah dehaman Danial merespon adiknya.


"Maaf ya Kak sebelumnya."


"Maaf..." belum sempat Danial menyudahi kalimatnya dan adiknya telah bertindak merampas rokok dari tangan kakaknya. Bukan hanya merampas, Davina turut serta mematikan rokok itu dengan cara menginjaknya menggunakan alas kaki yang digunakannya. Bukan hanya rokok sebatang itu. Kotaknya yang tergeletak di meja tak luput dari amukan seorang Davina. Dan sekarang sekotak rokok itu berakhir di tanah setelah Davina melemparnya. "Kok dibuang?"


"Kakak belum belajar bahaya merokok pada pelajaran biologi?" tanya Davina retorik, "Apa perlu Davina balik ke kamar ngambilin buku biologi, terus aku bacain ke Kakak efek sampingnya pada kesehatan?" cerocos Davina direspon decakan sebal oleh Danial.


"Gak perlu, Kakak udah tahu kok efek sampingnya."


Plak! Davina mengetuk kepala kakaknya. "Udah tahu efek sampingnya, terus kenapa masih dilakuin?"


"Kamu mulai gak sopan loh sama Kakak kamu."


"Justru karena Davina gak mau ngeliat Kakak sakit makanya aku kerasin. Memang sih kadang-kadang kak Danial nyebelin. Tetapi faktanya kak Danial adalah kakaknya Davina. Mana mungkin aku ngebiarin Kakak ngelakuin sesuatu yang bisa berdampak buruk pada kesehatan Kakak," sahut Davina. "Sudah lama sekali loh Davina gak ngeliat Kakak ngerokok kayak gini, ada masalah apa?"


"Kakak putus sama Aurel."


Davina merapikan poni yang sedikit menghalangi pandangannya, "Ih kok bisa?"


"Salah paham awalnya. Aku kan ngajakin kamu ke mini market tapi kamu malah gak datang. Eh tanpa disengaja kakak ketemu sama Maurine di sana, kebetulan dia juga beli sesuatu. Tapi sialnya Aurel juga datang dan akhirnya nge-gap kita berdua di sana. Aurel nuduh Kakak bohong karena pas dia nelpon aku bilangnya ke mini market bareng kamu, tapi di sana dia justru ngeliat aku berduaan sama Maurine."


"Maaf ya Kak, Davina harus nyelesain tugas makalah dulu makanya gak bisa datang. Tapi Davina janji kok bakal ngejelasin semuanya sama kak Aurel."

__ADS_1


Tangan Danial terangkat memperlihatkan bagian telapaknya. "Gak perlu, sepertinya putus emang pilihan yang terbaik."


"Kok gitu? Memangnya Kakak udah gak cinta lagi sama kak Aurel?"


"Jujur aja masih," jujur Danial menjawab sesuai kata hati kecilnya. "Tapi buat apa juga cinta tanpa dasar saling percaya?" sambungnya.


"Tapi Kak..."


"Udahlah. Biar ini jadi urusan Kakak aja."


"Sekali lagi maaf ya, gara-gara Davina..."


"Udah dong!" potong Danial, "Berhenti nyalahin diri kamu, ini semua udah suratan takdir."


...●●●●●...


NAKULA menyadari ada yang berbeda dengan adiknya. Saat di meja makan tadi dia tidak banyak bicara seperti yang sudah-sudah. Selain itu Nakula juga menyadari bahwa nafsu makan adiknya sedikit terganggu entah apa penyebabnya.


"Kakak serasa ada di kuburan loh sekarang," sambil memperhatikan jalan depan Nakula memulai percakapan dengan Aurel yang kebanyakan melamun saat mengambil posisi duduk di sebelahnya. "Hati-hati loh ngelamun mulu, ntar malah kesurupan."


"Gimana mau ngerasukin, hantu yang ada di mobil ini aja semuanya temen akrab Aurel."


Deg! Seketika bulu kuduk Nakula meremang. Sumpah demi apa pun Nakula menyesal menyinggung soal kesurupan pada adiknya. Andai kata istilah 'tarik pesan' berlaku di dunia nyata, sudah pasti Nakula akan menggunakannya sekarang juga.


"Oh iya, kenapa hari ini kamu ngebet pengin dianterin sama Kakak? Memangnya pacar kamu ke mana? Kok gak nganterin?"


"Gak usah dibahas, kayak gak ada pembahasan lain aja," ujar Aurel merasa malas membahas tentang Danial.


"Tunggu sebentar," mata Danial mendadak memicing. Dia seperti mengenali motor yang baru saja menyalip mobilnya dengan laju yang lumayan. "Itu bukannya motor Danial ya?"


Aurel menengadah memperhatikan jalan depan. Rasanya beban dihatinya semakin bertambah. Bagaimana bisa Danial secepat itu melupakannya? Terhitung sampai sekarang pun belum genap dua puluh empat jam saat Aurel memutuskan hubungan, tetapi Danial telah memperlihatkan kedekatannya dengan Maurine.


"Kok dia malah ngebonceng cewek lain, bukannya ngebonceng kamu? Cewek itu siapanya Danial?"


"Udahlah Kak terserah dia aja mau ngebonceng siapa," jawab Aurel acuh tak acuh.


"Apa perlu kakak ngejar dia dan bonyokin mukanya depan kamu?"


"Gak usah."


"Kamu gak cemburu digituin?" tanya Nakula.


"Enggaklah."


"Apa jangan-jangan kalian berdua..."


"Iya," potong Aurel diikuti hela napas singkat, "Aku sama Danial udah resmi putus."


"Kenapa?"


"Aku lagi malas cerita Kak, lebih baik fokus aja nyetir!" dingin Aurel. Gadis itu merogoh ransel mengambil earphone. 

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2