MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
65. BECAUSE OF YOU


__ADS_3

...BECAUSE OF YOU...


...(KARENA KAMU)...


...●...


...●...


...●...


BAGAS merasakan ada sesuatu yang ganjil. Saat ini pria itu sedang berdiri di depan cermin berukuran besar yang ada di kamar mandi. Pria yang badannya dililit handuk putih dengan keadaan rambut masih agak basah sedang menatap pantulan dirinya di cermin sambil menyikat giginya.


Nyaris sudah jadi kebiasaannya pria itu langsung mandi setelah pulang dari sekolah. Baginya aneh saja jika pulang sekolah tak langsung mandi. Terlebih karena tadi sore sebelum pulang bareng Aurel dia dan teman-temannya latihan dulu.


Tanpa alasan bulu kuduk Bagas meremang seolah saat ini pria itu sedang bertatap muka dengan sosok hantu. Perasaan pria itu mulai tidak enak. Sebagaimana yang ia tahu bahwa jika ada makhluk tak kasat mata di sekitar, bisa ditandai dengan bulu kuduk yang mendadak meremang. Aurel yang menceritakan Bagas soal itu.


Mencoba mengubur rasa takutnya Bagas berpura-pura tidak peduli. Meski sekarang ia bisa mendengar bunyi hentakan jantungnya yang tidak seirama. Bagas takut, benar-benar takut. Entah kenapa dia merasa yakin kalau di sekitarnya ada hantu.


Bagas mempercepat gerakannya menggosok gigi. Dan kini pria itu sedang membersihkan busa di mulutnya dengan cara berkumur dengan air bersih. Pokoknya tujuan Bagas saat ini lebih kepada ingin cepat-cepat meninggalkan kamar mandi.


Deg!


Detakan jantung milik Bagas kian terasa melebihi yang terjadi sebelum-sebelumnya. Jika semenit yang lalu hanya bunyi detakan jantung tak seirama, kini ketakutan yang mendiami diri Bagas juga berdampak pada desiran darah yang mengalir begitu dasar.


Bagaimana bisa pria itu bisa berpikir jernih sementara netranya mendapati sosok laki-laki berwajah hancur tengah berdiri di belakangnya. Bibir milik Bagas bergetar menahan takut. Bisa saja pria itu memekik keras menyampaikan ketakutannya. Akan tetapi Bagas memilih menggigit bibir bawahnya kuat sampai memutih daripada memekik menghadirkan kepanikan orang di rumahnya.


Masalahnya nanti jika dia memekik histeris, takutnya tetangga juga bakal ikut datang dan melabelinya sudah tidak waras.


Bibir milik pria itu tak henti berkomat-kamit memanjatkan doa. "Tolong, tinggalin gue!" Bagas memohon mencoba bernegosiasi dengan hantu yang masih memperlihatkan wujudnya. Pria itu membuka kelopak matanya pelan. Syukurlah, sosok hantu itu telah menghilang entah ke mana.


Di detik ini pria dengan handuk putih tersebut mencondongkan badannya ke depan. Kedua telapak tangan miliknya berakhir menyentuh tempurung lutut. Bagas menghela napas lega. Ia sadar, bertemu dengan sosok hantu tak ubahnya sedang berolahraga. Nyaris tidak ada bedanya sih menurut Bagas. Baik itu olahraga maupun bertemu dengan hantu sama-sama membutuhkan banyak energi.


...●●●●●...


SEBUAH pesan yang masuk segera dicek oleh Aurel. Usut punya usut ternyata pesan itu dikirimkan oleh Leana.


Rel, malam ini ada acara kecil-kecilan di rumahnya Haris. Lo datang ya! Plis, gak enak juga gue ke rumah calon mertua tanpa lo.


Aurel berpikir sebentar. Kedengarannya menarik juga ajakan Leana. Kebetulan banget malam ini Aurel merasa suntuk karena tak punya kegiatan. Selain alasan suntuk, malam ini juga tidak ada tugas yang musti diselesaikan. Dari pada terusan di kamar memperhatikan hantu-hantu tidak jelas mendingan dia bergabung saja dengan Leana ke rumah Haris.


Jangan cuma dibaca doang kali Rel, gue bukan jemuran yang bisanya digantungin terus!


Aurel tersenyum sesaat. Tak habis pikir lagi dengan Leana yang selalu menemukan cara-cara sederhana dalam membuat Aurel tersenyum. Misalnya kek sekarang. Hanya mengumpamakan dirinya sebagai jemuran dan itu cukup berhasil dalam menghadirkan lengkungan di bibir merah muda milik Aurel. Urusan lawak mah serahkan saja sama Leana. Dia andal di bidang itu kayaknya.


Aurel ih udah dibilangin jangan cuma dibaca doang!


Aurel mengetik dengan buru-buru membalas pesan sahabatnya.


^^^Iya deh.^^^


^^^Aku setuju ke rumahnya Haris^^^

__ADS_1


Yey *emotikon ketawa ngakak*


Gue jemput?


^^^Gak usah deh. Nanti gue coba bujuk Nakula buat nganterin.^^^


^^^Tapi kalau misalkan dia enggak mau nganterin gue bakal nelpon elo kok.^^^


Oke deh!


Tidak banyak waktu yang dibuang oleh Aurel saat bersiap-siap. Hanya memoles sedikit bedak bayi di pipi serta pelembab di bibirnya. Aurel bangkit meninggalkan meja rias menghampiri lemari yang di sisinya terdapat cermin. Di sana Aurel memperhatikan tubuhnya yang dibalut oleh kaos putih polos yang dipadukannya lagi dengan overalls. Sederhana namun tetap menggambarkan gaya khas anak muda.


Aurel memang tipikal orang yang jarang sekali dandan. Baginya dandan itu terlalu merepotkan dan pastinya akan membutuhkan banyak waktu. Kalau pun Aurel akan berdandan, tentu saja hanya saat ada acara penting yang sifatnya kekeluargaan atau misalkan acara resmi yang mengharuskan dandan.


...●●●●●...


LEANA tersenyum menyambut Aurel yang turun dari mobil yang dikendarai oleh Nakula. Ia segera menghampiri mobil dengan iringan senyum yang semakin merekah begitu matanya dengan Nakula bertemu. "Mampir dulu, Kak!" ucap Leana berbasa basi.


Pria di depan kemudi tersenyum, "Makasih tawarannya, tapi aku lagi ada tugas yang deadline-nya besok pagi."


"Oh iya, Kak, nanti Aurel pulangnya bareng aku kok. Jadi kak Nakula gak perlu datang ngejemput dia."


"Oke sip."


Tak lama setelah Aurel menutup kembali pintu tempatnya keluar, mobil yang dikendarai oleh Nakula pun melesat pergi dengan kecepatan penuh sebelum akhirnya menghilang ditelan belokan.


"Cantik banget sih pacarnya Haris, gue jadi insyekur loh."


"Bisa aja lo."


Kedua pipi milik Leana bersemu merah tak ubahnya tomat baru matang yang siap dipetik. "Apasih Rel, bikin gue salah tingkah aja lu."


"Kan emang bener, kan? Atau gue salah ngomong?"


"Enggak juga sih. Tapi... udah ah. Mending langsung masuk ke dalam sebelum soto dan ketupatnya dihabisin Vernon dan Irgi."


Oh god! Pekik Aurel dalam hati. Saat Leana menyinggung nama Vernon dan Irgi disaat yang bersamaan Aurel menyadari bahwa Danial juga merupakan bagian dari persahabatan mereka. Bodohnya Aurel baru ingat itu sekarang. Tentu saja Haris selaku tuan rumah bakal ngundang Danial. Danial adalah sahabatnya sejak kecil.


Saat masuk, ternyata di ruang keluarga sudah ada tiga orang yang berkumpul ditemani toples berisikan kue kering serta beberapa kaleng minuman bersoda. Mendapati suara langkah ketiganya pun serempak menolehkan muka. "Eh sayang. Kamu kapan datang?"


"Baru aja," jawab Leana terhadap Haris yang memberikan pertanyaan sebelumnya. Kemudian gadis itu terduduk di sofa berderet dengan Aurel dan berseberangan dengan sofa yang Irgi dan Vernon duduki.


Tak satu pun dari mereka yang sadar bahwa Aurel sedang diserang oleh perasaan cemas. Sejak awal duduk sampai detik ini gadis itu hanya memainkan jari-jemarinya. Hal tersebut sudah sangat lumrah dilakukan olehnya tiap kali sedang cemas seperti halnya sekarang.


"Lagi mikirin apa sih Rel, dari tadi gue perhatiin ngelamun mulu kerjaan lo?" tanya Vernon. Vernon menjadi orang pertama yang menyadari itu.


Aurel tersenyum sebentar. "Gak ada apa-apa kok, gue cuma mikirin apa gue udah nutup keran atau belum," bohong Aurel. Tidak mungkin juga gadis itu mengungkapkan kepada mereka tentang kecemasannya akan Danial. Jujur saja Aurel tentu akan merasa canggung jika Danial juga datang mengingat tadi sore dia sempat adu mulut dengannya.


"Oh iya, Danial ke mana? Kok datangnya gak barengan sama dia?" tanya Vernon.


"Lo ini kenapa sih," bisik Irgi sambil menyikut lengan milik Vernon yang kebetulan duduk di sebelahnya. "Mereka udah putus gila. Ngapa lo malah ngingetin lagi?"

__ADS_1


"S-S-So-rry Rel. Sumpah demi apa pun gue beneran gak tahu soal hubungan lo yang udah berakhir sama Danial," di wajah Vernon tercetak tampang merasa bersalah. Beberapa hari terakhir dia tidak masuk sekolah dengan dalih sedang sakit. Mungkin itulah alasan kenapa dia ketinggalan informasi tentang putusnya Danial dan Aurel.


"Gak apa-apa kok," Aurel memaksakan senyumnya. "Lo kan gak tahu."


"Sekali lagi gue minta maaf ya, Rel," seakan tak puas dengan permintaan maaf sebelumnya, pria itu kembali melantunkan permohonan maaf.


"Gue jambak ya Vernon mulut lo kalau terus-terusan minta maaf," geram Leana menceletuk mulai naik pitam. "Budek kuping lo? HAH? Gak denger kalau Aurel udah maafin."


"Galak banget sih lu. Orang Aurelnya aja kalem kok situ yang misuh-misuh,"


"Iya. Kayak emak tirinya Cinderella aja lu," sambung Irgi seolah menyimpan dendam kesumat dengan Leana.


"Lo jangan ikut campur ya!" peringat Leana. Telunjuknya hampir tertanam di wajah Irgi.


"Eh tumben Danial gak ada?" suara itu terlepas dari seorang wanita yang baru saja datang dari arah dapur seraya membawa nampan berisikan pisang goreng bertabur susu dan parutan keju. Wanita itu adalah ibunya Haris alias calon mama mertua Leana.


Leana menautkan anak rambut ke atas daun telinga, dia sedang dalam mode sok cantik. "Sini Tan, biar Leana yang bantuin," gadis itu berujar dengan lembut sambil meninggalkan sofa demi untuk membantu mamanya Haris meletakkan nampan ke atas meja.


"Tiba-tiba sok baik dia," bisik Irgi kepada Vernon.


"Maklum lagi nyari muka sama calon mertuanya," jawab Vernon berbisik tepat di depan telinga Irgi.


"Makasih banyak cantik," komentar mama Haris pada Leana. Leana cuma tersenyum ditemani kehadiran rona merah pada kedua sisi pipinya.


"Mah, nama dia Leana. Pacar Haris."


Semburat merah makin kentara di wajah Leana. Ia sungguh tak siap dilabeli pacar oleh Haris tepat di depan sang mama.


"Serius ini pacar kamu?" wanita itu memandang putranya seperti tidak percaya dengan pengakuannya.


"Serius lah Mah. Masa Haris bohong sih. Kalau gak percaya tanya aja sama orangnya langsung!"


Memalingkan muka dari putranya, kini wanita itu saling mengadu pandangan dengan Leana yang tampak malu-malu di detik ini. "Cantik banget astaga," puji wanita itu terhadap Leana. "Kamu gak khilaf kan pas nerima cinta anak saya?"


Rahang bawah milik Haris terjatuh. "Kok gitu Mah ngomongnya. Kesannya kayak Haris gak pantes banget sama Leana. Padahal kan Haris gak jelek-jelek amat."


Wanita itu hanya terkekeh singkat. "Kalian silakan nikmatin camilannya. Tante mau ke dapur dulu," katanya bersamaan dengan fokusnya yang diarahkan kepada teman-teman Haris satu persatu.


Tak berselang lama terdengar suara langkah. Mereka yang ada di ruang keluarga secara serempak menolehkan muka. Ternyata Danial adalah orang yang baru saja datang. Dalam waktu sepersekian detik Aurel segera membuang muka.


Tidak sendirian. Rupanya Danial datang diikuti oleh gadis berambut ombre cokelat. Ya, tak lain dan tak bukan gadis itu adalah Maurine.


"Lo ngundang Maurine juga?" bisik Leana kepada Haris yang dijawab Haris oleh sebuah gelengan bertempo cepat. Dia juga sempat kaget pas ngeliat Marine mengekori Danial.


Danial terduduk, dia juga memberi kode agar Maurine ikut terduduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya. "Oh ya sorry gue telat datang karena gue ngejemput Maurine dulu. Kalian gak keberatan kan kalau misalkan ada Maurine?"


Semuanya kecuali Leana dan Aurel memberi anggukan tanda tak terusik dengan kehadiran Maurine. "An, gimana? Lo gak keberatan, kan? Kalau misalkan lo keberatan juga gak apa-apa sih, gue sama Maurine bisa balik."


Leana meneguk ludahnya dengan kasar. Jujur dia keberatan dengan kehadiran Maurine. Namun dia bisa apa lagi? Kalau misalkan dia mengakui tentang keberatannya, niscaya suasananya bakal berubah jadi tegang. Leana terpaksa mengubur dalam-dalam rasa tidak sukanya dengan Maurine. "Kata siapa gue keberatan?"


Danial mengalihkan muka dari Leana menuju Aurel yang tampak sibuk dengan ponselnya. "Lu yang lagi main hape belum ngasih jawabannya," ucap Danial. "Lo setuju atau enggak kalau misalnya Maurine gabung di sini?"

__ADS_1


Masih dengan tatapan yang tertanam di layar ponsel, Aurel pun memberikan jawabannya. "Gue gak keberatan kok."


...-To be Continued-...


__ADS_2