
...YOU BROKE ME FIRST...
...(KAMU YANG LEBIH DULU MENYAKITIKU)...
...●...
...●...
...●...
"AKU MAU MINTA PUTUS!"
Di detik itu juga Leana merasa waktu seperti berhenti berputar. Sangat di luar dugaan alasan kenapa Haris mendekati mejanya adalah untuk menyampaikan kalimat itu. Padahal ada dugaan yang tercetus di dalam hati Leana bahwa tujuan Haris mendekat adalah untuk meminta maaf atas kejadian kemarin.
Leana masih bergeming. Tidak tahu harus merespon seperti apa karena saat ini hatinya terasa tertusuk mendengar yang Haris sampaikan. Sungguh, tak ada sedikit pun kesiapan untuk menerima yang pria itu sampaikan.
"Kamu denger kan yang mau aku sampaikan? Aku minta putus."
Rasa sakit Leana seperti berlipat-lipat kali rasanya karena Haris menyampaikannya di depan teman-teman kelas yang lain. Mau ditaruh di mana mukanya. Apalagi di kelas juga ada Maurine yang pastinya akan senang sekali karena apa yang dia mau telah terwujud.
"Aku sebenarnya gak masalah kalau memang kamu ingin mengakhiri hubungan di antara kita. Toh, aku juga gak punya hak untuk melarangmu melakukannya. Aku hanya menyesalkan kamu yang harus mengungkapkannya di depan kelas," suara Leana terdengar parau. Kesedihannya sudah di ujung tanduk tetapi dia berusaha sekuat tenaga menahannya.
"Aku rasa udah gak ada lagi jalan tengah di antara hubungan kita. Satu-satunya cara yang tepat hanyalah mengakhirinya."
"Lantas apakah harus diungkapkan di depan teman sekelas?" tuntut Leana. "Jika memang tujuan kamu ngelakuin ini untuk mempermalukanku di depan teman sekelas, maka aku akui kalau kamu berhasil melakukannya." Leana memilih pergi meninggalkan kelas. Dia pergi dengan terburu-buru karena ia tak memiliki kekuatan untuk membendung air matanya lebih lama lagi.
"Ris. Lo punya otak gak sih?" Aurel yang tidak senang melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu lantas maju dan langsung menyemprot Haris tanpa ampun.
"Punyalah," jawab Haris.
"Kalau emang punya kenapa enggak lo pakek? Hah?"
"Maksud lo apa sih?"
"Pakek nanya lagi. Harusnya lo sadar kalau yang lo lakuin ke Leana itu enggak bener."
"Maaf ya Rel sebelumnya. Tapi gue rasa ini sama sekali bukan urusan lo. Terlepas dari lo sahabatnya dia, bukan berarti lo bisa ikut campur sama segala hal yang bersifat privasinya dia."
__ADS_1
Aurel terkekeh singkat. Sangat lucu rasanya mendengar Haris menyinggung-nyinggung masalah privasi. "Apa lo bilang? Privasi kata lo?" kontan kedua tangan milik Aurel terangkat kemudian terlipat tepat di depan dadanya. "Kalau memang lo berpikir masalah ini adalah privasi, terus kenapa lo ngumbar-ngumbar masalah putus lo? Di depan kelas lagi."
Kali ini Haris terdiam.
"Dengan ngelakuin itu ke Leana sama aja kalau lo mau mempermalukan dia. Gue sih awalnya gak ada niatan buat ikut campur. Tapi gue berubah pikiran pas gue ngeliat lo yang terlalu berlebihan. Padahal kan bisa lo ngungkapinnya pas lo berduaan doang sama dia."
...●●●●●...
MAURINE baru saja berjalan hendak ke kantin saat seseorang sedang menyentuh bahunya. Disusul oleh sebuah panggilan yang menyerukan namanya. Bahkan sebelum memutar tumit, Maurine sekiranya sudah tahu siapa orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Haris pacarnya Leana. Eh, ralat. Maksudnya Haris mantannya Leana. Kan hubungan di antara mereka sudah resmi berakhir pas di kelas tadi.
"Ada apa ya Ris?" adalah pertanyaan pertama yang tergulir dari bibirnya pasca memutar posisi badan menghadap pria itu. Sedikit menyipitkan mata saat sedang bertanya. Ia juga sempat menautkan rambutnya ke atas daun telinga. Bertingkah sok cantik.
"Ada hal penting yang mau gue sampein sama lo."
Dibanding sebelumnya. Kali ini pandangan perempuan itu kian meredup saja. Rasa penasaran semakin menghujani dirinya saat Haris menyinggung kata 'penting.'
"Hal penting?" Maurine mengulang kata yang sebelumnya diucapkan duluan oleh Haris. "Ada apa ya, Ris?"
"Gue suka sama lo, Rin."
"Apa?"
Dalam hati, Maurine tak henti-hentinya berdecak kagum atas pencapaiannya. Sangat tak mengira jalannya untuk menghancurkan Leana kian terbuka lebar. Kalau boleh jujur Maurine tidak pernah memiliki ketertarikan dengan Haris. Bahkan sedikit pun tidak pernah. Kalau pun dia selalu mencari perhatian pria itu, itu karena dia ingin menghancurkan Leana. Itu saja.
"Its show time Leana. Ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang akan kamu rasakan nanti. Pokoknya gue baru akan berhenti mengusik kehidupan lo setelah lo ngerasain yang namanya kehancuran," ucap Maurine dalam hati.
"Kok diem aja. Sekali lagi maaf ya kalau gue udah bikin lo kaget dengan mengatakan kalimat ini. Tapi ini adalah perasaan yang gue rasain sama lo. I just wanna say I love you Maurine."
"Hmmm, its hard untuk gue jawab. Tapi sejujurnya I have the same feeling on you."
"Maksudnya lo juga suka sama gue?" Haris sedang bertanya namun kesannya seperti memaksakan kehendak agar Maurine menjawab dengan kata "Ya," atau mungkin dengan gerakan sederhana menganggukkan kepala.
"Gue suka sama lo."
"Mau gak jadi pacar gue?"
"Mau," jawab Maurine yang sontak membuat Haris memperlihatkan raut sumringah.
__ADS_1
...●●●●●...
IRGI dan juga Vernon saling mengadu pandangan merespon Danial yang misuh-misuh setelah kembalinya dari toilet. Bahkan setelah terduduk dan menyeruput jus jeruknya, tampilan muka Danial masih sama.
Karena penasaran dengan hal yang bikin Danial kesal. Irgi, mewakili Vernon pun menggerakkan bibir memberikan sebuah pertanyaan. "Kenapa lagi lo Dan? Pulang-pulang dari toilet muka lo ditekuk gitu. Udah kayak seprei lecek yang lupa disetrika aja lo."
"Berantem sama Aurel lagi lo pas diperjalanan dari toilet ke tempat ini?" Vernon ikut-ikutan menebak. Ya biasanya kan memang seperti itu. Walau pun kenyataannya mereka sudah tidak punya hubungan lain alias sudah putus, namun keduanya masih sering beradu verbal. Kalau diibaratkan, keduanya itu sudah seperti kucing dan tikus—yang tidak kenal tempat untuk berantem.
"Bukan sama Aurel, gue dibikin keselnya sama yang lain."
"Siapa yang udah bikin lo kesel?" tanpa direncanakan Irgi dan Vernon mengucapkannya secara serempak. Mungkin hal itu dikarenakan oleh rasa keingintahuaan mereka yang melebihi ambang batas seharusnya.
"Gue emosi kayak gini gara-gara setan yang jagain toilet."
"Diapain lagi lu sama setan penjaga toilet?" penasaran Irgi hendak menggali lebih lanjut inti cerita yang mendasari kehadiran raut menyebalkan di wajah sahabatnya.
"Lo diintipin lagi sama makhluk tak kasat mata penjaga toilet," sambung Vernon bahkan sebelum Danial sempat menjawab pertanyaan Irgi.
"Ho-oh, gue diintipin lagi sama dia. Kayaknya tuh setan urat malunya udah putus sampai-sampai ngintipin gue mulu."
"Ngefans kali Dan, itu hantu sama anu lo sampai-sampai dia ngintipin lo berulang kali," Vernon tersenyum tipis-tipis. "Tapi harus diakui kalau lo itu bener-bener keren. Kalau gue ada di posisi lo sih pastinya gue bakalan bangga banget sampai pencapaian gue," balas Vernon.
"Keren pala lo kotak. Yang namanya diintipin gak ada kesan bangganya sama sekali. Yang ada malah kena mental diintipin. Dipikirnya gue cowok apaan."
"Harusnya lo tuh bangga Dan. Kalau lo sampai diintipin setan. Itu artinya lo itu popular. Gila ya temen gue yang satu ini," ia mengangkat tangan menepuk punggung Danial seperti merasa bangga atas pencapaian Danial. "Gak hanya popular di kalangan manusia aja, ternyata lo juga popular di kalangan para makhluk yang asalnya dari dimensi berbeda."
"Gue tabok ya Ver pala lo kalau lo terus-terusan ngecengin gue!" ancam Danial.
"Oh iya hari ini Haris masuk sekolah gak sih?" penasaran Irgi. Karena sejak tadi ia tak kunjung menemukan batang hidung pria itu.
Danial yang merupakan teman sekelas Irgi memberikan jawabannya sesegera mungkin. "Masuk kok, gue tadi sempat nyontek tugas dia pas di kelas."
"Tumben gak nongol. Udah dari tadi gue sama Vernon nungguin dia di mari."
"Tadi juga pas bel bunyi dia udah gak ada di kelas. Gue kirain dia udah ada di sini. Tapi ternyata kagak ada."
"Mungkin lagi di taman sama pacarnya," celetuk Vernon asal.
__ADS_1
...●●●●●...
...MAAF UPDATE LAMA :)...