
...KILL THIS LOVE...
...(MEMBUNUH CINTA INI)...
...●...
...●...
...●...
SEBUAH senyuman terbit dari bibir Danial setibanya dia di kelas. Aurel menyadari kehadiran senyuman itu ketika matanya dengan Danial bertemu. Mempercepat langkahnya Danial mengambil posisi duduk di kursinya—berderet dengan kursi tempat di mana Aurel duduk.
Lebih dulu menyimpan ranselnya di atas meja. Danial mengadu mata dengan sang pacar yang tampak lebih sehat dibanding kemarin-kemarin. "Udah sembuh kok tapi gak bilang-bilang sama aku. Tahu gitu kan aku mampir dulu ke rumah kamu buat jemput sebelum barengan ke sekolahnya."
"Sengaja," singkat Aurel menjawab kemudian gadis itu mengulum bibir bagian bawahnya, menahan agar senyumnya tidak terbit.
"Kok sengaja?" tanya Danial.
"Iya, biar kejutan."
"Berarti kejutan kamu berhasil dong. Soalnya aku benar-benar kaget pas awal liat kamu udah masuk sekolah."
"Baguslah kalau berhasil."
"Ngomong-ngomong, aku kangen banget sama lo!" kata Danial mendadak.
"Ih apasih, masih pagi-pagi udah ngegombal aja!"
"Bukan gombal sayang, itu serius. Aku beneran kangen berat sama kamu."
"Aku penasaran, Dan. Cewek berambut cokelat itu murid baru ya?" Aurel mengalihkan topik pembicaraan. Menggunakan dagunya Aurel menunjukkan pada Danial terkait orang yang dimaksudnya.
Danial mengikuti arah pandang pacarnya. "Oh itu.... Dia baru pindah beberapa waktu yang lalu."
"Bule ya?"
"Bokap dia asli Australian dan kalau nyokapnya asli jawa."
"Kok kamu tahu soal itu?" tanya Aurel. Meskipun dia sudah tahu dari Leana tentang hubungan pacarnya dengan Maurine adalah mantan pacar, akan tetapi Aurel ingin mengetahui fakta itu dari sudut pandang pacarnya. Aurel ingin melihat sejauh mana Danial akan mengungkapkan kebenarannya.
"Aku tahu banyak soal dia karena dulu aku dan Maurine pernah pacaran."
"Oh ya?" sahut Aurel memasang tampang seolah terkejut. Padahal dalam hati dia tak henti mengucap syukur karena Danial mengungkapkannya secara langsung alih-alih menutupinya.
"Waktu SMP aku sama Maurine sempet pacaran selama beberapa bulan. Tapi akhirnya putus saat dia dan keluarganya mutusin buat pindah ke Australia."
"Pasti dia ya yang mutusin kamu!" tuduh Aurel diakhiri oleh senyum meremehkan.
"Enak aja," sahut Danial. Dari nada suaranya kedengeran jelas kalau dia tidak setuju dengan kesimpulan yang diungkapkan oleh Aurel. "Gak ada sejarahnya seorang Danial Wirawan diputusin, yang ada justru aku yang mutusin dia."
"Aku kok gak percaya."
"Kalau gak percaya sama aku, kamu bisa kok ngomong secara langsung sama orangnya."
...●●●●●...
SEPERTI sudah jadi kodratnya tiap kali bel tanda istirahat terdengar ke seluruh penjuru sekolah, pasti semua siswa berbondong-bondong menghamburkan diri menuju ke kantin. Bagi penghuni SMA Angkasa Raya, kantin itu adalah surga alias tempat melepaskan kepenatan setelah bergelut dengan materi-materi yang diajarkan oleh guru di kelas.
Haris, Danial, Aurel, dan juga Leana sudah terduduk di salah satu meja. Keempatnya kompak memesan bakso dan juga jus jeruk. Setelah mangkuk berisikan bakso telah ada di depan masing-masing, mereka pun mulai bergerak tuk meraciknya dengan memberi kecap, sambel, dan perasan jeruk nipis sesuai takaran kesenangan masing-masing.
__ADS_1
"Can I sit here!" keempatnya kompak menolehkan muka menanam fokus perhatian kepada seseorang yang baru saja bergabung bersama mereka. Dia Maurine. Sambil menunggu permintaannya dikabulkan oleh salah satu di antara mereka, Maurine hanya diam mematung membiarkan matanya yang bergerak menatap keempat orang di sana secara bertahap.
Danial memberi perhatiannya kepada Aurel. Danial tidak ingin pacarnya merasa terganggu dengan kehadiran Maurine. Terlebih karena alasan bahwa Danial dan Maurine pernah terikat dalam hubungan asmara sebelumnya.
"Kalau misalkan kalian keberatan, I'll go find another seat."
"Tunggu sebentar," Aurel bersuara. Maurine yang telah balik badan hendak pergi terpaksa menghadapkan badannya ke arah Aurel yang baru saja mengajaknya berinteraksi verbal. "Kamu boleh duduk di sini kok. Lagian kami gak punya hak ngelarang siapa pun untuk duduk di tempat ini," lanjut Aurel membuat perubahan di wajah Leana. Leana tampak membulatkan matanya dan menggeleng. Dia merasa tidak habis pikir dengan Aurel yang malah memperbolehkan Maurine bergabung bersama mereka.
"Ngapa lo biarin sih Rel," bisik Leana lewat nada kesal pada Aurel yang kebetulan terduduk di sebelahnya.
"Okey, thanks!" gadis berambut ombre cokelat itu duduk dengan tenang di salah satu kursi kosong. Saat terduduk dan mengaduk baksonya ia baru menyadari satu hal. "Oh iya, let me introduce my self," diikuti tangan kanan yang terulur Maurine mengatakannya, "My name is Maurine Christopher. But you can call me Maurine."
Aurel ikut mengulurkan tangannya. Keduanya kini saling berjabat tangan, "Salam kenal, nama gue Aurelia Stephanie Akash. Singkatnya Aurel."
"Kenapa gue baru ngeliat lo hari ini? Beberapa hari terakhir lo ijin ke mana sampai gak masuk sekolah?" tanya Maurine.
"Belakangan ini kondisi gue lagi kurang vit jadi baru hari ini gue balik sekolah lagi."
Maurine menganggukkan kepalanya mantap. Mengalihkan fokus dari Aurel, bola mata milik gadis itu tertanam di wajah Danial. Kala itu Danial sedang mencoba fokus menyantap baksonya dengan penuh kehati-hatian.
"Dan, ini buat lo," tanpa bertanya lebih dulu Maurine memindahkan bakso urat dari mangkuknya ke mangkuk milik Danial. Danial segera menatap perempuan itu singkat.
"Gak perlu, ini kan punya lo," dengan bantuan garpu miliknya Danial hendak mengembalikan bakso urat pemberian Maurine, tetapi saat hendak melakukan itu Maurine dengan cepat melakukan perlawanan.
"Gapapa, gue gak mungkin habisin semua. Gue tahu gimana sukanya lo sama yang namanya bakso urat. Waktu masih pacaran aja lo sering ngajakin gue makan bakso."
Danial mengembus singkat. Ia melirik Aurel melalui ekor matanya. Syukurlah pacarnya terlihat tenang dan tidak terusik dengan Maurine yang mengingat kejadian di masa lalu.
Berbeda dengan Aurel yang tampak tenang. Leana malah memperlihatkan raut sengit kepada Maurine. Gara-gara kehadiran dia, nafsu makan Leana tiba-tiba hilang. Kenapa harus ngebahas masa lalu sih? Sumpah nih bocah lama-lama bikin tensi gue naik aja! Batin Leana.
...●●●●●...
Aurel menoleh ke kanan, lalu ke kiri, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda Leana telah kembali dari toilet. Merasa bosan berdiri sendirian Aurel pun berinisiatif untuk menelpon Danial.
"Halo..."
"Iya, kenapa sayang?" jawab Danial di seberang sana.
"Kamu masih di mini market?"
"Iya, aku masih nunggu Davina yang belum datang juga. Kamu sendiri masih di toko buku?"
"Masih kok, baru aja keluar."
"Perlu kujemput?"
"Gak usah, aku pulang bareng Leana kok. Aku nelpon cuma pengin bilang hati-hati di jalan, jangan ngebut."
Pipi milik Danial bersemu merah. Kalimat yang terlontar dari bibir sang pacar berhasil membuatnya tersentuh. Hanya sebuah imbauan sederhana namun damage-nya seakan menyentuh hati yang paling dalamnya.
"Kamu juga sayang hati-hati di jalan."
"Siap," kata Aurel, "Karena Leana udah datang jadi teleponnya aku udahin dulu yah."
"Oke deh."
Meski dengan kenyataan bahwa sambungan teleponnya telah terputus. Efek yang ditimbulkannya masih terlihat nyata pada raut muka yang memancar dari wajah Aurel. Perempuan itu menatap ponselnya dengan seulas senyum.
"Rel, lo keberatan gak kalau misalnya aku mampir dulu ke mini market?" begitulah yang dikatakan oleh Leana setelah kembalinya dia dari toilet.
__ADS_1
"Gak masalah sih. Memangnya kamu mau beli apaan?"
"Beli camilan."
"Aku sekalian juga mau beli minuman jeruk, haus banget nih setelah setengah jam milih-milih buku."
Lima belas menit berikutnya mobil yang dikemudikan oleh sopir berhenti di depan mini market yang jaraknya tidak seberapa jauh dari toko buku. Dengan alasan tidak mau membuang banyak waktu Leana dan Aurel segera turun dari mobil. Baru beberapa langkah dan langkah mereka kembali terhenti. "Ini bukannya motor Danial ya?" tanya Leana menunjuk ke salah satu motor di parkiran.
"Yap, itu motornya."
"Ya udah deh, langsung masuk aja, gue juga gak sabar pengin ketemu sama Davina."
"Oh dia ke sini berduaan sama adeknya?"
"Iya, dia bilang gitu ke gue."
Sementara Leana mencari rak berisikan camilan, Aurel sendiri sibuk mencari di mana keberadaan Danial. Baru terlintas dalam benaknya untuk mengambil ponsel dari saku menelponnya namun matanya lebih dulu menjumpai pria itu mendorong troli.
Memang benar bahwa Danial tidak sendirian. Hanya saja perempuan yang berdiri di sebelahnya bukanlah Davina seperti yang dikatakannya lewat telepon tadi. Yang ada di sebelah pria itu adalah Maurine, si murid baru yang juga merupakan mantan pacar dari Danial.
Kenapa Dan? Kenapa kamu harus ngebohongin aku lagi? Aurel membatin. Niatnya untuk menghampiri pria itu telah lenyap. Selain mematung di tempatnya tidak ada lagi hal lain yang mampu dia lakukan. Sekali lagi Danial telah membohonginya dan secara tidak langsung pria itu mengingkari janji yang dibuatnya beberapa hari yang lalu.
"Bukannya itu Aurel, yah?" Maurine yang tak sengaja menemukan Aurel berdiri di ujung sana segera memberitahu Danial.
Danial mengikuti arah pandang Maurine. Ditemukannya Aurel sedang berdiri di ujung sana dengan tatapan kosong seakan kekecewaan mendominasi di dalam tubuhnya. Hanya beberapa sekon saat matanya beradu dengan mata milik Danial, dan gadis itu memilih pergi meninggalkan mini market dengan langkah dipercepat.
"Sayang," teriak Danial dari arah belakang. Tidak ada respon dari gadis yang dikejarnya. Malah gadis itu semakin menambah kecepatan memangkas jarak dengan Danial. Danial kembali mempercepat langkah dan akhirnya tangannya yang terulur berhasil mencekal tangan milik Aurel, membuat gadis itu terpaksa berhenti melangkah.
"Lepasin tangan gue!" kemarahan yang mendiami Aurel membuatnya tidak sadar mengubah panggilang aku-kamu jadi lo-gue.
"Dengarin penjelasan aku dulu!"
"Apa lagi yang mau dijelasin? Lo mau nutup kebohongan yang ini dengan kebohongan yang baru?"
"Rel..."
Aurel menarik tangannya dari kurungan tangan Danial. "Gue udah ngasih lo kesempatan untuk nggak ngulang kesalahan yang sama, tapi apa buktinya? Lo bilangnya mau ke mini market sama Davina, tapi bukan Davina yang gue liat, justru Maurine alias mantan kamu."
"Ini gak seperti yang lo bayangin...."
"Kepercayaan gue sama lo udah hancur Dan," potong Aurel.
Danial membuang muka dan mengambil napas panjang. Danial sudah habis kesabaran juga. Sekuat apa pun dia mencoba untuk menjelaskan, Aurel tetap tak ingin mendengarnya. Gadis itu tetap pada pendiriannya.
"Oke, gue gak bakal ngejelasin lagi. Terserah lo! Gue juga udah capek Rel," emosi pada diri Danial meluap juga pada akhirnya. "Lo gak pernah sekali pun percaya sama gue Rel. Lo cuma nganggep diri lo yang paling benar."
"Sekali lo bohongin gue okelah, tapi masalahnya udah lebih dari itu Dan. Bukannya dari awal gue udah jelasin ke elo kalau gue tuh paling gak suka dibohongin. Gue bahkan gak bakal ngelarang kalau dari awal lo bilang mau ke mini market sama Maurine."
"Cukup Rel," salah satu tangan Danial terangkat memperlihatkan bagian telapaknya, "Sekarang gue tanya, apa mau lo?"
"GUE MAU PUTUS!"
Danial merasa sesak untuk sesaat. Seperti ada bongkahan batu berukuran besar yang diarahkan di bagian dada sebelah kirinya. Namun apa boleh buat, Aurel sudah mengambil keputusannya, dan tidak ada alasan lagi bagi Danial untuk mempertahankan hubungan ini.
"Baiklah, mulai sekarang kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi."
...-To be Continued-...
...Note : Nyesek gak kalian bacanya???...
__ADS_1