MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
35. THROUGH THE NIGHT


__ADS_3

...THROUGH THE NIGHT...


...(SEPANJANG MALAM)...


...●...


...●...


...●...


AUREL melihat mobil milik Danial terparkir rapi di pinggir jalan, tak jauh dari rumahnya. Sedari tadi ia berlari untuk mengecek bagaimana kondisi Danial saat ini.


“Lo kenapa Dan?” Aurel baru saja masuk ke mobil dan mendapati Danial sedang melamun di depan kemudi menghadap ke jalanan depan. “Danial, jangan bikin gue khawatir,” Aurel mengangkat tangan menyentuh dagu Danial, ia lalu memutar posisi kepala pria itu sampai menghadapnya.


Danial masih saja diam.


“Danial, plis jangan bikin gue khawatir,” Aurel membawa tangan yang satunya lagi untuk mengguncang bahu Danial yang masih diam mematung. Tatapannya kosong, tak ubahnya manusia yang sedang kemasukan jin.


Tiba-tiba tawa pria itu pecah hanya karena melihat kekhawatiran sedang tergambar di wajah Aurel.


“Danial,” tegur Aurel. “Jangan bilang kalo ini cuma becanda?” melihat pria di depannya tertawa puas sepertinya wajar Aurel akan berpikir sampai sejauh itu.


Danial memegangi perutnya saat tertawa, baru setelah tawanya reda, ia pun menggerakkan sudut bibirnya. “Cie yang katanya udah gak mau bantuin tapi akhirnya datang juga,” Danial mencibir.


Kedua tangan milik Aurel terangkat untuk memukuli Danial yang sudah seenaknya membuat khawatir. Pria itu tidak melakukan perlawanan, hanya melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya. Ia membiarkan Aurel melakukannya karena ia sadar bercandanya sudah melewati ambang batas kewajaran.


“Omong-omong, makasih ya udah khawatir sama gue!” pukulan yang menyerangnya semakin melemah seiring waktu berjalan. Dan akhirnya Aurel menurunkan tangannya.


“Jangan kepedaan! Gue sama sekali gak peduli sama lo, gue cuma…” ucapan Aurel baru saja terjeda. Ia menengok sekelilingnya. Danial baru saja melajukan mobilnya. Yang mengherankan, ia melajukan mobilnya menjauhi rumah gadis itu. “Dan, kita mau ke mana?” alih-alih melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda, Aurel memilih topik lain untuk ditanyakan pada yang bersangkutan.


“Gue laper pengin makan. Lo temenin gue ya!”


“Lo udah gila?” Danial masih fokus mengemudi saat Aurel menyemprotnya dengan kalimat setajam tombak.


“Enggak. Gue masih waras.”


“Kok gak bilang kalo lo pengin ngajakin gue keluar?”


“Barusan gue udah bilang,” jawab Danial. Ia melirik gadis di sampingnya melalui ekor matanya.


“Gak gini juga gilak! Ya kali gue keluar pakai piama kek gini,” lanjut Aurel dengan volume yang sama saat pertama kali menyemprot Danial. Ia juga sempat menunduk memperhatikan tubuhnya yang dibalut oleh piama bermotif mawar. “Bener-bener ya, lu emang manusia paling nyebelin yang pernah gue temui. Beruntung gue belum kepikiran nelpon polisi saking khawatirnya sama kondisi lo.”


Sebuah senyum manis terbit dari bibir Danial. Waktu di sekolah tadi, ia sudah yakin bahwa Aurel takkan pernah bisa mengabaikannya. Atas keyakinan itulah sampai Danial merencanakan sesuatu untuk membuktikan asumsinya. Nyatanya benar, Aurel tetap menghawatirkannya.


Lima belas menit selanjutnya mobil yang mereka kendarai terhenti di depan sebuah rumah makan. Setelah mematikan mesin mobil, Danial bergerak cepat melepaskan seatbelt. Mukanya menoleh menikmati tubuh Aurel dari samping. “Yuk! Gue udah laper banget nih.”


“Sorry, saat ini gue lagi kenyang,” sinis Aurel masih belum bisa menerima perlakuan Danial.

__ADS_1


Klik.


Danial membuka pintu, ia mengelilingi mobilnya dan membukakan pintu untuk Aurel. “Turun gak!”


“Enggak.”


“Mau digendong?” kata Danial dengan maksud terselubung mengancam.


Aurel menahan hawa panas di pipinya. Ia buru-buru turun dari mobil sebelum Danial berbuat gila menggendong tubuh mungilnya.


Sesampai di dalam Aurel langsung saja menyantap spageti yang dibawakan oleh pelayan. Seperti anak kecil ia tak memedulikan Danial yang sedang menatapnya. Ia juga tak peduli dengan cara makannya yang belepotan. Sepertinya ia juga sudah lupa saat Danial menawarinya makan, gadis itu berdalih sedang kenyang.


Aurel baru saja menjeda makanannya. Keningnya mengerut tatkala Danial mendorong kotak tisu ke depan gadis itu. “Kenapa?”


“Itu ada sesuatu di bibir lo! Nih ambil tisunya sebelum gue sendiri yang bergerak bersihin.”


Saat sedang membersihkan sudut bibirnya, perhatian gadis itu diambil oleh suara jepretan kamera yang berasal dari ponsel Danial.


“Lo ngapain ngambil gambar gue!” protes Aurel.


Bibir Danial membentuk huruf O. Niatnya adalah mengambil gambar gadis itu secara diam-diam. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia bahkan tak mengira suara jepretan kamera ponselnya akan sekuat itu.


“Anu…” Danial panik memikirkan jawaban yang cocok untuk diungkapkan, “Gue cuma pengin dokumentasiin gimana joroknya lo pas lagi makan.”


“Hapus gak!” titah Aurel dengan mata memelotot.


“Oh ya, abis ini kita ke kedai es krim ya!”


“Siap. Tapi lo yang bayar ya.”


Aurel mengedikkan bahunya, “Ogah. Kan lo yang ngajak, berarti elo dong yang harusnya neraktir gue!”


Rahang Danial jatuh mendengar ucapan Aurel.


Kembali keduanya duduk bersebarangan dengan pembatas sebuah meja kayu berwarna merah muda, kali ini hidangan yang ada di depannya adalah es krim dengan varian rasa. Aurel memesan es krim strawberi dan juga vanila, sementara Danial hanya memesan es krim rasa coklat.


“Liat deh Dan. Kok gadis-gadis di pojok belakang liatin gue melulu. Apa karena gue pakai piama? Yuk ah balik aja, gue gak enak diliatin.” Sejak kedatangannya Aurel sudah merasa risi dengan tatapan yang menjurus padanya, ia bisa menilai tatapan itu sebagai bentuk intimidasi.


“Selow aja! Mereka liatin, karena lo lagi jalan sama cowok sekeren gue,” belagu Danial.


“Ih Danial. Gue lagi serius.”


“Udah ah, gak usah dipikirin. Mereka mungkin iri karena salah satu dari mereka gak ada yang bisa nyaingin cantiknya elo.”


Jarang sekali kalimat semanis itu terlepas dari bibir seorang Danial Wirawan. Wajar saja jika siapa pun akan melting saat mendengarnya. Saat ini Aurel hanya menahan diri supaya perasaan salah tingkahnya tak diketahui pria itu.


Suara dentuman dari pengeras suara ruangan kecil itu semakin menakjubkan. Aurel menyukai tempat seperti ini, tidak terlalu ramai, juga tak terlalu sunyi. Perpaduannya benar-benar pas untuk sekadar mengistirahatkan tubuh dari persoalan duniawi yang tak ada habisnya.

__ADS_1


Aurel memejam sembari tersenyum sesaat setelah ia memasukkan benda dingin berwarna putih susu ke dalam mulutnya. Sensasi itu membuatnya merasa sangat senang.


“Enak es krimnya?”


Aurel mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Danial.


“Ya sudah habisin gih, ntar makin larut.”


“Mampus gue belum bilang sama orang rumah kalo lagi keluar,” Aurel menepuk jidatnya. Ia baru saja kepikiran tentang hal sepenting itu.


“Tenang aja, gue udah minta ijin sama Nakula. Tapi kalo dia nanya lo ke mana, lo jawab aja kalo lo habis ngerjain tugas sekolah bareng gue!”


“Ntar kualat bohong sama orang yang lebih tua.” Aurel menegur.


“Lain kali gue bakal jujur sama Nakula pas ngajakin lo keluar.”


Aurel merasa upayanya menjauhi Danial jadi sia-sia. Semakin ia menjauh, takdir seakan kembali merekatkannya.


15 menit selanjutnya keduanya telah bersiap untuk kembali ke rumah. Malam semakin larut menjadi alasan pertemuan tersebut berakhir.


“Lo tunggu di sini dulu, gue mau ngambil mobil di parkiran.” Danial meninggalkan Aurel sendirian di depan kedai es krim.


Aurel baru saja mengambil ponsel dari saku piamanya. Ternyata dering itu berasal dari ponselnya. Ia melihat layar yang memperlihatkan nama Leana sedang melakukan upaya sambungan telepon.


“Halo, An.”


“Halo Rel. Sekarang lo ada di mana?”


Pertanyaan Leana ibarat bom atom yang meletus tepat di bagian hati Aurel. Cukup lama gadis itu memilih membungkam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari sahabatnya. “G-G-Gue baru aja mau tidur nih An.”


“Oh…”


“Ada apa An?” satu alis Aurel terangkat.


“Berarti yang gue liat saat ini bukan elo dong!”


Seketika sambungan telepon terputus.


Aurel mengangkat dagu, ia melihat gadis di seberang jalan sedang menatapnya. “Leana,” ujarnya spontan terdengar seperti bisikan. Aurel memutuskan untuk menghampiri tetapi sebuah pesan masuk malah merampas perhatiannya.


Satu buah pesan masuk dari Leana.


Gimana? Seru ya jalan sama Danial?


Aurel mengurungkan niatan untuk menyeberang menghampiri Leana. Ia merasa berdosa pada orang yang menganggapnya sahabat sekaligus menerima segala kelebihan dan kekurangannya.


Aurel melihat gadis di seberang sana menghentikan sebuah taksi. Selang beberapa detik Leana telah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


...~To be Continued~...


__ADS_2