
...INCOMPLETE...
...(TIDAK UTUH)...
...●...
...●...
...●...
MURID SMA Angkasa Raya berhamburan keluar dari kelas setelah bel bertanda pulang terdengar memekakkan telinga. Semuanya merasa lega setelah pelajaran hari ini resmi berakhir.
"Ris gue boleh minjem catatan lo gak?" Aurel menoleh, fokus pada pria di sebelahnya. Sedari awal Aurel hanya termangu, ia mengabaikan pak guru yang tengah menjelaskan materi, "Lo nyatet kan?"
Haris mengangguk setelah itu menyengir, "Nulis sih, cuman maklum aja!"
"Maklum? Maksudnya?"
Haris menyodorkan buku catatan miliknya, "Soalnya tulisan gue acak-acakan, kalau kata nyokap gue mah kayak cakar ayam."
Aurel tersenyum merasa terhibur dengan lelucon yang dihadirkan oleh Haris. "Thanks ya. Kalo gitu gue balik duluan," Aurel memasang ranselnya di punggung, lanjut gadis itu meninggalkan kelas.
Aurel hanya berfokus pada tujuannya mengambil langkah di tengah sesaknya koridor. Aurel hampir tak peduli dengan suara riuh beberapa murid sebayanya sedang berceloteh satu sama lain. Tadi pagi setelah jam olahraga Leana ijin pulang lebih cepat karena ada urusan keluarga. Sangat disayangkan image Aurel akan terlihat menyedihkan saat Leana tak ada di sisinya.
"Kak, Aurel," di tengah sesaknya koridor, Aurel dengan jelas mendapati seseorang menyerukan namanya.
Aurel melakukan sedikit pergerakan memutar tumit mengubah arah badannya mencari pemilik suara bernada manis yang tengah menyerukan namanya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri terlihat seorang gadis mulai melambaikan tangan memperlihatkan keberadaannya. Seorang gadis berkucir dua dengan ransel warna ungu semakin mendekat. Dengan iringan senyum ramah, gadis yang diyakininya sebagai adik tingkat tengah memperlihatkan tata krama yang baik terhadap Aurel yang merupakan seniornya.
"Kenapa, dek?" Aurel menyunggingkan senyuman manis.
Gadis di depan Aurel mulai merogoh ransel yang sedari tadi menempel di punggungnya. Benda pipih diambilnya dari dalam sana.
"Tadi saya nemu ponsel di lapangan basket, sepertinya punya kakak," saat kalimat itu terlepas, disaat yang bersamaan pula tangan yang menggenggam ponsel terulur ke depan. Gadis itu baru saja memberikan ponsel ke tangan Aurel.
Aurel mengernyit memperhatikan ponsel yang kini berada di genggamannya. Dua huruf yang tergambar di belakang ponsel, DW. Entah kenapa Aurel familiar dengan itu.
Oh iya, Aurel baru ingat. Ponsel itu milik Danial. Seringkali ia mendapati Danial menggenggam ponsel tersebut.
"Makasih ya," Aurel memasukkan ponsel milik Danial ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Sama-sama, Kak."
Alih-alih melangkah lurus menghampiri gerbang, Aurel memilih berbelok menuju parkiran. Tujuannya untuk memeriksa apakah Danial masih ada di sana atau tidak. Kalau memang masih ada, maka Aurel akan langsung memberikan ponsel miliknya tanpa harus repot-repot datang ke rumah pria itu.
Lagipun Aurel masih merasa tidak enak untuk datang ke rumahnya setelah menyampaikan keinginannya untuk bertingkah seperti halnya orang asing.
Ada pertanyaan dalam kepalanya yang membuat Aurel terpaksa menghentikan langkah kaki saat itu juga. Di menit yang lalu, lebih tepatnya saat bertemu dengan si penemu ponsel Aurel menemukan kejanggalan.
Kenapa juniornya begitu yakin kalau ponsel tersebut milik Aurel? Bahkan inisial yang tertulis di belakang ponsel tak ada kaitannya dengan nama Aurel.
Aurel mulai menggigit kukunya, sudah jadi kebiasaannya tiap kali sedang berpikir kritis. Rasa penasarannya membawanya untuk mengecek isi ponsel di genggamannya.
"Kok...." ucapan Aurel terjeda karena sebuah senyum baru saja diperlihatkan olehnya. Saat jemarinya menekan tombol kunci, saat itu juga layar ponsel yang tadinya gelap memperlihatkan foto Aurel. Aurel membuang muka, rasa salah tingkah menghadirkan bercak merah melihat gambar dirinya di layar ponsel.
Definisi sederhananya kebahagiaan dirasakan oleh gadis itu. Hanya karena melihat fotonya dijadikan layar utama membuatnya senang tak ketulungan. Aurel ingat betul bahwa malam itu ia menyuruh Danial menghapusnya, tetapi diam-diam pria itu menyimpan sekaligus menjadikannya layar utama.
Langkah Aurel berlanjut sampai akhirnya ia bisa melihat Danial yang sedang terburu-buru memasang helm membungkus kepalanya.
"Danial!"
Pekikan Aurel membuat pria di atas motor berdecak tanda sebal. Ia bahkan telah bersusah payah untuk menghindar tetapi si gadis tetap saja mendekatinya.
"Gak konsisten," cibir Danial melihat gadis di ujung sana mulai berlari-lari kecil menghampirinya.
Danial terpaksa membuka helm dan menyimpannya di atas spion, suara decakan tanda kesal terdengar, mengiringi raut tak suka yang bersemayam di wajahnya. "Gue gak punya banyak waktu," Danial baru saja mengangkat tangan membentuk siku-siku, ia melirik jam mewah yang melingkar di bagian pergelangan. "Kalau gak ada yang mau lo omongin lebih baik menyingkir dari depan gue!"
Tidak ada sepatah kata pun yang terlepas dari bibirnya, Aurel hanya mengulurkan tangan memperlihatkan tangannya yang menggenggam ponsel.
"Makasih."
Aurel mengangguk, "Gue mau sekalian nanya, kenapa lo jadiin foto gue..."
"Karena gue suka sama lo!" sambung Danial sebelum Aurel lebih dulu menyelesaikan apa yang hendak ia katakan.
Aurel memasang tampang terkejut.
"Kenapa? Kaget? Lo gak pantas masang tampang terkejut kayak gitu, lagipula gue udah pernah ngomong kayak gini sebelumnya. Kecuali kalo saat ini lo lagi amnesia." Danial menutup kalimat tajamnya dengan menarik bibir ke samping memperlihatkan senyum meremehkan. "Oh ya maaf, gue telat ngehapus foto lo dari ponsel gue."
Aurel terdiam lagi. Tidak ada tanda-tanda pergerakan di sudut bibirnya.
Danial membuang muka, "Tenang aja, gue udah berusaha untuk ngelupain perasaan gue sama lo! Gue juga gak lupa sama keinginan lo untuk bertingkah seperti orang asing."
__ADS_1
Timbul dalam benaknya untuk mengakui perasaannya pada pria itu. Menceritakan alasan dibalik dirinya memberikan penolakan pada saat itu.Tetapi Aurel tak mampu melawan rasa takut yang menyerangnya. Rasa takut yang berbaur dengan rasa bersalah membuat kedua sisi bibirnya terkatup. Aurel menyayangkan dirinya tak memiliki keberanian untuk bercerita jujur.
"Tentang kejadian di lapangan basket gak usah lo jadiin beban. Anggap aja gue sebagai orang asing yang kebetulan lewat saat lo hampir celaka. Jangan anggap gue sebagai Danial alias orang yang suka sama lo."
Aurel menelan rasa getir yang bersarang di tenggorokannya. Hatinya sedang tersayat setidaknya setelah mendengar ucapan Danial.Terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini.
Lo kuat Rel! Aurel melampiaskan perasaan kalutnya dengan meremas tali ranselnya.
"Kalau urusan lo udah selesai, lebih baik minggir! Gue mau lewat soalnya." Danial memberikan kalimat setajam tombak, membuat Aurel bergerak lambat memberi akses untuk Danial pergi dengan motornya.
Rasanya sakit sekali mendengar kalimat semacam itu terlepas dari orang yang kita cintai. Hidup memang tak semudah yang dibayangkan, dan Aurel tahu itu. Tadinya Aurel ingin membendung, namun air mata itu menerobos ketika menyaksikan Danial semakin menjauhinya.
...●●●●●...
DAVINA mengulum bibir bawahnya. Tanda tanya besar menghantamnya. Danial sedang duduk pada ayunan besi menghadap kolam renang. Tampaknya suasana hati pria itu sedang tidak baik.
"Kak," Davina bersuara di tengah heningnya suasana, "Maaf, Vina gak ada maksud untuk ngagetin," sambungnya melihat sang kakak mengedikkan bahu tanda sedang kaget.
"Belum tidur? Udah larut loh, besok sekolah." Danial mengingatkan.
"Kakak sendiri kenapa belum tidur?" Davina mengembalikan dengan pertanyaan. Gadis dengan piama sedang memberi tatapan penuh selidik.
"Lagi banyak pikiran."
"Mikirin Kak Aurel?"
Terlihat pergerakan kepala Danial, naik-turun-naik-turun. "Kakak ditolak," jelas Danial.
"Kakak nyerah?"
"Bukan Kakak yang nyerah, Aurel yang nyerah. Kakak udah berusaha tapi Aurel gak mau liat perjuangan kakak." Danial hanya tak mau dipersalahkan. Dalam hal ini ia telah berusaha semaksimal mungkin.
Tiba-tiba saja Davina teringat cerita mamanya yang terjadi puluhan tahun silam, "Kakak inget kan cerita mama sama papa yang dijodohin."
Danial mengangguk mantap, membiarkan matanya menatap kolam renang.
"Kakak tahu kan kalau papa sama mama awalnya gak saling suka?" Davina bertanya, "Tapi kenapa sekarang mereka bisa bahagia?"
"Karena papa berjuang buka hatinya untuk mama," jawab Danial.
"Nah, harusnya kakak juga ngikutin itu!"
__ADS_1
Danial mengeluarkan bunyi decakan. "Untuk apa berjuang sendirian? Toh orang yang kakak suka gak bakal luluh. Justru sebaliknya, Aurel ingin kakak bertingkah layaknya orang asing." Danial tak memiliki semangat. Rasa percaya dirinya menghilang sejak Aurel memintanya untuk bersikap seolah tak saling kenal.
...~To be Continued~...